KESAH.ID – Hantu, setan, dedemit, lelembut dan mahkluk halus lainnya masih terus menjadi narasi yang digemari di negeri kita. Kisah tentang mereka kerap kali secara sengaja digunakan untuk melakukan ‘social experiment’ dan ‘social engineering’ demi kepentingan tertentu, termasuk menghasilkan cuan.
Di belahan dunia manapun, dalam kebudayaan suku bangsa apapun selalu dikenali adanya keyakinan akan keberadaan hantu.
Dan sepanjang pengetahuan saya yang pendek ini, masyarakat Jawa menjadi salah satu kelompok yang mempunyai perbendaharaan hantu-hantuan yang cukup banyak.
Jejak sejarah hantu dalam masyarakat Jawa bahkan terdokumentasi dalam banyak manuskrip kitab jawa kuno dan ilustrasinya bisa ditemui pada relief-relief yang ada di beberapa candi.
Hantu dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah hantu yang memang tercipta sebagai hantu. Dan yang kedua adalah manusia yang sedang menjalani kutukan. Jenis yang kedua ini apabila terbebas dari kutukannya maka akan kembali menjadi manusia.
Beberapa nama hantu yang tertulis dalam Kakawin Sena antara lain adalah Butha Dengen, Banaspati, Kamangmang, Badalungan, Tengis, Tetekan, Tendas Buntit, Tatangan, Hanja Sirah, Wewedon, Jejengklek, Gandaruwa, Bajang Langka, Popoting Komara, Hencok, Huci Huci, Kukuk Bawil, Laweyan dan lain-lain.
Semua kisah tentang memedi atau hantu dan mahkluk halus ini tidak selalu menakutkan dan menyeramkan.
Seperti yang diungkap oleh Prof. DR. Merle Calvin Ricklefs dalam buku Sejarah Asia Tenggara Dari Masa Prasejarah Sampai Masa Kontemporer, dalam khazanah dunia lelembut menempatkan mahkluk halus dalam tiga kelompok, yakni :
- Kelompok penunggu, lelembut ini mendiami kawasan atau obyek tertentu seperti gunung, mata iar, sungai, pohon, gua dan lain-lain.
- Kelompok leluhur, lelembut ini merupakan jelmaan dari arwah leluhur yang biasanya dipuja {punden}.
- Kelompok pelindung, lelembut ini menjaga keluarga, desa dan lainnya.
Dengan demikian kehadirannya sebenarnya tidak menakutkan atau menakut-nakuti. Sesuatu yang menakutkan akan terjadi apabila ada syarat atau ketentuan tertentu yang dilanggar. Lelembut bisa menampakkan diri, merasuki atau menunjukkan tanda-tanda kemarahan lainnya.
Sistem pengetahuan dan kepercayaan ini masih terus bertahan sampai masa kontemporer, masa kecil saya. Walau rajin ikut Sekolah Minggu, saya percaya dan takut pada hantu.
Di masa itu hantu-hantu yang masih populer antara lain Genderuwo, Wewe, Kemamang atau Hantu Api, Banaspati, Thetekan, Ongklek Ongklek, Welwok, Jerangkong, Glundung Pringis atau Cumplung, Umbel Molor, Lelepah, Lampor, Chitnonong, Thongtongsot, Hantu Krutuk dan lain-lain.
Hantu umumnya menakutkan di malam hari, namun di siang hari saya dan teman-teman lain juga kerap ketakutan kalau lewat tempat-tempat tertentu yang sepi dan wingit atau angker. Meski hantunya tak kelihatan namun kami bisa kesambet atau kerasukan. Tahu-tahu sampai rumah sakit atau meriang.
Meski selalu berlari jika ada yang teriak hantu, tapi dari dulu sampai sekarang saya belum pernah benar-benar melihat hantu-hantu itu. Yang ada hanyalah merasa seolah-olah melihat hantu.
Karena tak pernah melihat hantu dengan mata kepala sendiri, orang bilang saya tak bermata tajam. Konon yang bermata tajamlah yang bisa melihat hantu.
Nanti saya melihat hantu ketika mulai menonton film yang dibintangi oleh Suzzana, yang dalam dunia film kemudian dikenal sebagai Ratu Horor.
Filmnya antara lain Beranak Dalam Kubur, Ratu Ilmu Hitam, Sundel Bolong, Nyi Blorong, Telaga Angker, Malam Jum’at Kliwon, Ratu Buaya Putih, Malam Satu Suro, Titisan Dewi Ular, Ajian Ratu Laut Kidul dan lain-lain.
Karena Suzzana khasanah hantu kontemporer menjadi lebih luas dan diikuti dengan film-film lainnya jumlah hantupun semakin bertambah. Masyarakat kemudian mengenal Hantu Pocong, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Kuntilanak, Hantu Kramas, Hantu Ancol, Hantu Jeruk Purut, Hantu Casablanka, Hantu Keramas dan lain-lain.
BACA JUGA : Jokowi Presiden Ketujuh Telah Tujuh Kali Menaikkan Harga BBM
Hantu, memedi atau lelembut ada sejak dahulu kala. Hanya saja masing-masing kelompok masyarakat mempunyai hantunya sendiri-sendiri. Dan biasanya satu kelompok masyarakat tidak takut pada hantu dari kelompok masyarakat lainnya, tidak takut karena tidak kenal dan tak ada dalam memorinya.
Hantu akan terkait dengan kisah atau cerita pada tempat-tempat tertentu. Hantu ada dalam cerita yang kemudian dipercaya. Segala sesuatu yang tidak ada sekalipun kalau dipercaya sebagai ada maka aka nada.
Dan percaya pada yang tidak ada terbukti telah membantu manusia dalam evolusinya.
Kisah tentang hantu adalah bagian dari apa yang disebut sebagai tahayul.
Dalam dunia modern salah satu yang punya peran besar dalam memproduksi kisah hantu adalah jurnalis.
Di tangan jurnalis kisah tentang hantu menjadi kisah yang menyenangkan sekaligus menenangkan untuk menghentikan gunjingan.
Kembali ke Suzzana misalnya, selain dikenal sebagai bintang horor, cara hidup Suzzana sendiri agak horor karena senang memakan bunga, suka berpuasa dan konon sering mendengar suara-suara tertentu dari langit.
Begitu Suzzana meninggal segera bermunculan cerita tentang arwahnya. Hantu Suzzana muncul di berbagai tempat.
Kisah tentang arwah orang yang sudah meninggal lalu muncul dalam wujud seperti saat masih hidup adalah cerita biasa. Banyak yang melihatnya malah bersyukur karena dianggap sebagai pamitan, atau datang membawa pesan.
Tapi sebagian lain mengatakan bahwa arwah yang gentayangan itu belum rela meninggalkan dunia. Ada yang belum selesai dikerjakan, ada dendam yang harus dibalaskan dan lain sebagainya.
Munculnya kesaksian beberapa orang atas kemunculan arwah Suzzana kemudian diberitakan oleh media sebagai akibat dari suaminya yang akan menikah lagi. Berita itu kemudian menjadi gunjingan.
November 2021 lalu, Samarinda digemparkan dengan berita tentang tukang bakso yang hilang. Hilang dua hari dan kemudian ditemukan. Dari mulutnya muncul kisah bahwa dia diajak jalan oleh sosok orang tua.
Ceritanya semakin menyakinkan karena tukang bakso mengatakan kalau dalam perjalanan dengan orang tua itu dia diberi wejangan. Salah satu nasehat yang diberikan adalah sedekah, sebab menurut orang tua itu dirinya kurang sedekah.
Dan oleh jurnalis cerita tukang bakso itu diberitakan begitu saja tidak dilakukan check dan recheck sebagaimana berita lainnya.
Sebab dalam dunia jurnalistik berlaku sikap dasar skeptis. Jurnalis tidak boleh percaya begitu saja pada apa yang dikatakan oleh narasumbernya. Apa yang disampaikan mesti dikonfirmasi, dicari pembandingnya pada mereka yang punya kualifikasi ahli.
Masalahnya memang tak ada ahli hantu. Jadi konfirmasinya kerap kepada orang-orang setempat. Yang tentu saja akan mengamini dengan mengatakan kalau tempat itu memang angker. Mitos tentang tempat itu kembali hidup dan muncul cerita-cerita lainnya, misalnya anak hilang disitu dan lain sebagainya.
Jika ada seseorang melihat hantu di satu tempat, maka akan ada orang lain yang mengaku melihat hal yang sama. Entahlah melihat betulan atau merasa melihat, sama seperti saya ketika berjalan malam-malam lalu ada yang berteriak hantu dan saya ikut lari.
Dan ketika ketemu orang lalu bertanya kenapa saya lari, saya akan jawab ada hantu.
Media massa memang terbukti telah menciptakan banyak kisah hantu, hantu setelah kecelakaan besar, rumah hantu, hantu terowongan dan lain-lain.
Hantu ada karena orang percaya pada cerita begitu saja.
Termasuk cerita-cerita dari buku fiksi yang jelas-jelas hanya imajinasi dari penulisnya.
BACA JUGA : September Hitam – Bulan Kelam Dalam Sejarah HAM Indonesia
Sekarang tentu saja masih banyak orang ketakutan pada hantu, tapi lebih banyak lagi yang menyukainya.
Bisnis hantu menjadi salah satu yang paling menghasilkan cuan. Bentuknya macam-macam mulai dari eksebisi atau wisata rumah hantu, museum hantu, kedai bernuansa hantu, program televisi, channel berburu hantu, novel dan film hantu.
Film Pengabdi Setan besutan Joko Anwar yang diluncurkan baru-baru ini telah meraup pemirsa lebih dari 6 juta orang. Sebelumnya ada KKN Desa Penari yang dalam waktu 75 hari penayangan telah ditonton lebih dari 9 juta orang.
Dibandingkan dengan film-film nasional lain yang bertema percintaan, laga, komedi dan lainnya dengan jelas terlihat pengemar setan, hantu-hantuan atau memedi jelas lebih banyak.
Tidak hanya di film, setan, hantu, memedi dan lainnya juga subur dalam bisnis lainnya. Bisnis perdukunan, peralatan atau benda mistis, jimat, pawang dan lain-lain, peredaran uangnya juga besar. Meski rawan dengan penipuan, toh tetap banyak yang percaya dan mencari layanannya.
Menariknya kemunculan hantu, mahkluk halus atau jadi-jadian kerap berkaitan dengan situasi politik, sosial dan ekonomi tertentu. Setiap terjadi krisis dalam masyarakat biasanya akan disertai dengan berkembangnya cerita hantu tertentu.
Tahun 2000 hingga 2006, Indonesia mengalami krisis dimensional, kehidupan begitu sulit waktu itu. Dalam situasi seperti ini muncullah cerita tentang hantu yang digambarkan bertubuh pendek, berkepala botak, telanjang dada dan mempunyai kuku yang panjang. Mahkluk berkuping caplang ini menggunakan kolor ijo.
Cerita kolor ijo bermula dari daerah pinggiran Kota Jakarta dimana ada seseorang mengaku diperkosa oleh mahkluk ini didepan anak dan mertuanya. Dari situ kemudian cerita menyebar dan muncul banyak pengakuan serupa, diperkosa dan dirampas hartanya oleh Kolor Ijo.
Bisik-bisik di berbagai kalangan menyebut kemunculan cerita tentang kolor ijo dan juga hantu-hantu nasional lainnya tidak lepas dari social experiment yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghadapi situasi tertentu.
Entah untuk mengenali kecenderungan dalam masyarakat atau mengalihkan perhatian masyarakat dari isu tertentu yang tengah berkembang sebelumnya.
Rasa takut sebenarnya bisa ditanamkan. Dan cerita-cerita hantu sering kali merupakan sebuah kisah yang sengaja dikembangkan dalam masyarakat untuk menumbuhkan suasana takut yang massal.
Saya ingat di jaman pemerintah menggalakkan siskamling. Keberhasilan siskamping tak lepas dari desas-desus adanya hantu dan mahkluk halus lainnya yang berkeliaran. Ketakutan akan hal itu membuat banyak orang berdiam di rumah dan yang diluar rumah adalah mereka yang berjaga atau ronda.
Kalau tak punya keperluan mendesak orang tak akan keluar rumah. Masyarakat jadi lebih tertib, tak banyak kegiatan yang tak perlu di malam hari. Suasana jadi lebih tenang, bunyi-bunyian di malam hari hanyalah bunyian yang ditabuh kelompok peronda yang tengah keliling kampung.
Dengan hantu, setan, dedemit dan lelembut pihak tertentu yang berkepentingan berhasil mengendalikan masyarakat.
Dan menyebarkan ketakutan dengan hantu tentu saja lebih ‘terhormat’ ketimbang membuat masyarakat tunduk dengan todongan senjata.
note : sumber gambar – NEWS.DETIK.COM








