KESAH.ID – Dalam kebudayaan Nusantara, kerbau menyimbolkan kekuatan dan kerja keras. Namun Sukarno menganggap kerbau tidak revolusioner. Lambang banteng kemudian dipilih sebagai tanda gambar partainya. Pun demikian dengan tempe yang menyelatkan rakyat di masa itu dari kekurangan gizi, oleh Sukarno dianggap lambang kelembekan. Kini kerbau dan tempe beda nasib. Kerbau masih dianggap binatang bodo dan tak cukup nikmat sebagai sumber protein, sementara tempe sudah mulai mendunia.
“Awas tlethong,” teriakan itu akrab dengan telinga saya saat jalan ramai-ramai dengan teman sepermainan dulu, lalu ada satu atau dua orang diantaranya tak memperhatikan jalan.
Ya, jalan raya yang sering saya dan teman-teman lewati untuk pulang pergi ke sekolah dengan jalan kaki memang tak hanya dilewati kendaraan bermesin, melainkan juga gerobak yang ditarik sapi, dokar atau kereta kuda, serta rombongan kerbau, wedhus gembel dan bebek pulang pergi dari kandang ke ladang gembalaan.
Maka kalau tak hati-hati, saat melewati jalan bisa-bisa menginjak tahi binatang. Dan telek atau kotoran binatang yang paling besar adalah tlethong {teletong,telepong} kerbau.
Dalam keseharian, saya cukup akrab dengan kerbau. Kebun besar yang menjadi antara belakang rumah dan sawah, sering menjadi tempat untuk mengembalakan kerbau. Sepulang sekolah, jika tak ada permainan menarik, saya dan beberapa teman sering bermain menunggang kerbau yang sedang digembalakan.
Tapi yang paling mengasyikkan adalah menaiki garu yang ditarik oleh kerbau untuk meratakan tanah sawah setelah di-wluku atau dibajak. Rasanya seperti naik kereta perang jaman Romawi.
Kerbau memang dipelihara sebagai hewan pekerja, terutama untuk membajak sawah dan menarik gerobak/kereta barang. Berbeda dengan sapi, meski ada yang dipakai untuk menarik gerobak {grobak sapi racuk} namun kebanyakan untuk diambil susu atau dagingnya.
Seingat saya, sewaktu kecil dulu tak pernah ada pengalaman memakan daging kerbau. Ada anggapan kalau daging kerbau seratnya besar-besar sehingga alot untuk ukuran daging konsumsi. Padahal bisa jadi anggapan daging kerbau yang tidak nyaman itu muncul karena umumnya kerbau disembelih setelah tua.
Di Manado baru saya makan daging kerbau, bukan daging segar tapi dendeng oleh-oleh dari Toraja.
Sebenarnya kehidupan tradisional di berbagai wilayah Nusantara memang lekat dengan kerbau. Jejaknya selain dalam wujud artefak, juga ditemukan dalam aktivitas kebudayaan seperti di Tanah Toraja dan Minangkabau. Pun juga di Kalimantan Timur, dalam upacara Kwangkai, upacara kematian masyarakat Tunjung Benuaq, binatang yang dikorbankan adalah kerbau.
Di Sumatera Selatan, pada masa Kesultanan Palembang, fementasi susu kerbau dan gula yang disebut puan, merupakan sajian mewah dan istimewa dalam istana. Kini kerbau yang pada masa itu didatangkan dari India beserta pengembalanya, turunan dan hasil silangannya bisa ditemui di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Dikenal dengan nama Kerbau Pampangan, masyarakat memelihara kerbau di rawa-rawa gambut. Hal serupa ditemui di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, dimana banyak masyarakatnya masih memelihara kerbau rawa.
Meski menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Nusantara namun di masa Indonesia modern, kerbau kalah bersaing dengan sapi dalam hal daging dan susunya. Daging dan susu kerbau bukan sesuatu yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia modern.
Bagaimana bisa, kerbau dalam pandangan masyarakat tradisional Nusantara melambangkan keuletan, kerja keras dan kekuatan dianggap kalah enak, kalah bergizi dibanding dengan sapi?.
Bisa jadi perlakuan atau anggapan kita pada kerbau dipengaruhi oleh pandangan Sukarno. Meski tak menolak simbolisasi kerbau dengan semua kekuatannya, Sukarno menganggap kerbau terlalu jinak, apalagi yang sudah dicucuk hidungnya.
Kerbau yang kuat itu menjadi lembek dan patuh. Maka simbolisasi kerbau kemudian ditransformasi menjadi banteng. Dalam situasi perjuangan merebut kemerdekaan, Sukarno berpandangan banteng lebih revolusioner, lebih berani melawan serta punya ambisi.
Pikiran Sukarno ini diwujudkan dalam lambang PNI berupa banteng yang sedang menyeruduk.
Kelak banteng yang menyeruduk ini dipenggal oleh Suharto, menjadi PDI yang lambangnya mirip kepala banteng yang dipenggal lalu ditempel di dinding sebagai hiasan. Banteng yang mati itu kemudian dibangunkan kembali oleh putri Sukarno, Megawati Sukarno Putri.
Mega mendirikan PDIP yang berlambang Banteng bangkit, dengan mata merah dan moncong putih.
Sementara kerbau tetap tak berubah, bahkan semakin terpinggirkan. Di sawah supremasi kerbau telah diganti oleh traktor. Ada upaya untuk memasyarakatkan daging dan susu kerbau, namun industri pangan tak mendukung hal itu, sehingga kerbau tetap tak populer sebagai sumber protein.
BACA JUGA : Sensasi Ngopi Di Tengah Kebun Kopi
Dalam masa revolusi yang dianggap sebagai simbolisasi ke’lembek’an oleh Sukarno bukan hanya kerbau melainkan juga tempe.
“Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”
Dalam pidatonya Sukarno menegaskan bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lembek, seperti tempe. Olehnya tempe dipakai untuk analogi hal-hal negatif seperti cengeng, mudah menyerah, atau lembek. Muncul istilah ‘mental tempe’, ‘pasukan tempe’ dan ‘pemuda kelas tempe’ sebagai sindiran untuk mereka yang dianggap lemah.
Tempe adalah makanan asli yang mulai populer di Nusantara sejak abad ke 16. Makanan rakyat yang murah meriah. Mungkin hal ini yang membuat tempe kemudian dipandang sebelah mata. Padahal kalau melihat sejarah, tempe adalah penyelamat bangsa dari bahaya kelaparan dan kurang gizi di jaman penjajahan Jepang serta masa-masa awal kemerdekaan.
Meski mengolok-olok tempe, Sukarno adalah pengemar tempe. Konon di meja makannya selalu ada tempe goreng dan gulai daun singkong.
Lain Sukarno, lain pula dengan Rustono. Lelaki kelahiran Grobogan ini punya cita-cita memperkenalkan tempe ke seluruh dunia. Untuk mengejar cita-cita, Rustono yang lulusan Akademi Perhotelan memilih bekerja sebagai doorman.
Menjadi penjaga pintu lobby hotel, Rustono berharap akan berkenalan dan memikat wanita dari negeri seberang. Dimana dia akan meneruskan hidup bersama untuk membuat dan menjual tempe disana.
Rustono belajar bahasa Jepang karena banyak tamu dari Jepang di hotel tempatnya bekerja. Dan penguasaan bahasa Jepang membuatnya menjadi terkenal. Rustono menjadi doorman favorit untuk tamu-tamu dari Jepang.
Jala yang ditebarkannya berhasil membuat seorang gadis Jepang terpikat. Adalah Tsruko Kuzumoto yang berhsil dipinang menjadi teman hidupnya. Rustono kemudian pindah ke Jepang untuk memulai hidup baru bersama Tsruko. Berjuang untuk mewujudkan mimpinya agar tempe mendunia.
Bersama Tsruko Kuzumoto, Rustono mengalami jatuh bangun. Membuat fermentasi kedelai di negeri yang jauh dari tempat lahirnya tempe. Dari pintu ke pintu, Rustono dan Tsruko memperkenalkan tempe buatan mereka, mengedukasi para tetangga untuk menyakinkan bahwa tempe adalah sajian yang nikmat sekaligus bergizi.
Perlahan-lahan diplomasi tempe ala Rustono berhasil menembus selera rasa orang Jepang. Tempe Rustono kini bisa ditemui di berbagai supermarket, toko, café, bahkan juga rumah sakit, restoran dan hotel untuk melengkapi kebutuhan gizi masyarakat Jepang.
Mengusung merek “Rusto’s Tempeh’ dengan tagline “Hadiah Indonesia untuk dunia”, Rustono yang dibantu oleh enam pegawai dalam satu minggu berhasil mengolah 2,4 kedalai menjadi kurang lebih 10.000 lempeng tempe.
Tempenya telah diedarkan di kurang lebih 200 kota di Jepang dengan harga jual antara 40 hingga 66 ribu rupiah.
Di Jepang, tempe yang diperkenalkan oleh Rustono telah membuat café atau restoran mengembangkan menu yang berbahan tempe. Muncul sajian dengan nama Taco de tempeh al pastor, Albondigas de tempeh, Fried tempeh with guacamole, burger tempeh dan lain-lain. Di Jepang juga telah terbit buku resep masakan berbahan tempe.
Diplomasi tempe Rustono terus berlanjut. Franchise Rusto’s Tempeh telah merambah ke Meksiko, Rusia, China, Korea Selatan, Austria, Polandia, Perancis dan Lithuania. Dan dalam semua kemasan yang dihasilkan oleh Franchiser-nya, Rustono selalu mewajibkan ada semboyan dalam bahasa nasional masing-masing yang bunyinya “Hadiah Indonesia untuk dunia”.
BACA JUGA : Dugem Semalam Tanpa Mabuk Di Panrita Lopi
Majalah Tempo menyakinkan pembacanya dengan tagline “Tempo enak dibaca dan perlu”, dan Rustono berhasil memplesetkan menjadi “Tempe enak dimakan dan perlu”. Tidak main-main karena Rustono mengelorakan itu di Jepang, negeri yang punya tradisi makan yang tidak sembarangan. Bangsa yang amat bangga pada produk dan kebiasaan makanannya sendiri.
Di negerinya sendiri, tempe yang oleh Rustono juga diperjuangkan agar diakui sebagai warisan dunia dari Indonesia oleh Unesco, nasibnya ternyata tak beda-beda jauh dengan kerbau.
Bisa jadi dulu Sukarno mengolok-olok tempe bukan soal kandungan gizi atau kenikmatannya melainkan karena tempe dibuat dari kedelai yang diimport dari Amerika Serikat. Dan kita tahu, semangat revolusioner Sukarno salah satunya adalah melawan Amerika Serikat dan sekutunya.
Sukarno pernah berucap Amerika Serikat kita setrika dan Inggris kita linggis.
Terbukti sampai sekarang, tempe yang dikenal sejak jaman Majapahit itu ternyata tidak becus kita urus. Sebagai makanan favorit dan paling terkenal di bumi Nusantara, tidak satupun presiden setelah Sukarno yang kemudian serius mengurusi tempe.
Ketika semua presiden berbicara soal ketahanan dan kemandirian pangan, hampir tak pernah terdengar ada upaya serius untuk mandiri dalam urusan kedelai. Makin hari kesenjangan antara kebutuhan kedelai dengan tingkat konsumsi tempe makin jauh. Produksi kedelai dalam negeri tidak berkembang, petani semakin jarang menanam kedelai.
Padahal seperti halnya gandum, yang konsumsinya juga makin hari makin naik, kedelai lebih mungkin dikembangkan di Indonesia. Sebab petani kedelai dan berbagai jenis kedelai telah ditanam sejak lama, sementara gandum tidak. Jadi tak ada alasan bahwa kedelai tidak cocok dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman produksi sama halnya dengan gandum.
Faktanya masyarakat petani di berbagai wilayah Indonesia telah mengenal dekat kedelai, bahkan punya sebutan lokalnya sendiri-sendiri. Di Madura disebut kedhele, di tanah Pasundan disebut sebagai kacang jepun atau kacang bulu, di Minang namanya kacang rimang, orang Bima menyebut dengan jawui, di Makassar sebutannya kadale, sedangkan orang Jawa menyebutnya dengan dele, dekeman atau dengsul.
Seperti halnya Suharto, sampai dengan Joko Widodo, semua presiden Indonesia hanya sibuk mengurus sawah. Suka sekali membuat sawah baru karena tak becus menjaga sawah lama menjadi perumahan. Dalam pangan kebanggaannya hanya satu, swasembada beras.
Alhasil petani tak sudi mempertaruhkan nasib bertanam kedelai. Karena meski kebutuhan kedelai tinggi namun tata niaga kedelai tidak ditangan rakyat. Kuasa kedelai ada di tangan para importir, sehingga kedelai produksi petani tidak bisa masuk dalam rantai distribusi bahan pokok yang dibutuhkan oleh pengrajin tempe dan tahu.
Rustono berhasil membuat wajah tempe ‘kinclong’ di negeri seberang. Tapi di negeri sendiri tempe berwajah muram. Pengrajin tempe selalu dag-dig-dug perihal ketersediaan kedelai karena selalu menjadi bahan akrobat dari para importir untuk menimba cuan.
Petani enggan berinovasi dengan kedelai agar hasilnya berlimpah seperti halnya Pak Mukibat yang berhasil melipatgandakan panenan ubi kayu. Sebab kedelai yang akan diserap oleh pengrajin tempe tahu adalah kedelai yang ditanam di gudang-gudang gelap importir yang bisa jadi sebagian mendatangkan juga dari pasar gelap luar negeri.
Kedelai ini jauh lebih subur dari kedelai yang ditanam oleh petani. Karena petani tak bisa memberi ‘fee’ pada mereka-mereka yang punya kuasa mengetok palu untuk menentukan kran kuota import kedelai dari luar negeri.
note : sumber gambar – FIMELA.COM








