KESAH.ID – Tik Tok beberapa waktu terakhir ini memang menjadi barometer. Apa yang viral di Tik Tok akan viral di media sosial lainnya. Salah satu yang kini sedang viral di Tok Tok adalah lagu Joko Tingkir ngombe dawet.

Peta streetfood Samarinda sekitar 6 sampai 7 tahun lalu sebelum teh dua daun, thai tea, boba, kopi susu aren ngehits, jalanan diwarnai oleh penjual Es Nona dan Dawet Ayu.

Menurut Asean Food Network, Es Nona adalah jenis minuman legendaris dari Kalimantan Barat. Sekilas seperti es campur, es teler atau es dogger. Namun yang membedakan, Es Nona memakai es serut berwarna merah muda dengan isian kacang merah, serutan kelapa muda dan agar-agar berwarna-warni.

Di Samarinda yang terkenal adalah Es Nona Melda. Bisa jadi Melda adalah nama panggilan Imelda, anak penjualnya. Atau mungkin Melda sendiri yang jualan. Merujuk pada nama Nona Melda, kemungkinan besar dia masih nona-nona, perempuan muda yang belum menikah.

Tapi nona tidak selalu masih muda dan belum menikah. Sebab di Manado atau Minahasa ada banyak yang diberi nama Nona. Maka Nona bisa jadi memang masing nona-nona, namun banyak pula yang sudah dua kali menjanda sehingga panggilannya Tante Nona.

Dan Tante Nona, anaknya sudah besar dan telah menikah. Alhasil tak lama kemudian akan dipanggil Oma Nona oleh cucunya.

Sedangkan Dawet Ayu, konon merupakan kuliner khas Banjarnegara. Hanya saja yang terkenal di Samarinda adalah Dawet Ayu Pati. Ya nggak apa-apa, sama seperti pecel, ada pecel pincuk, pecel ponorogo dan juga pecel Mpok Siti.

Dawet Ayu dikenal melalui lagu yang diciptakan oleh seorang seniman bernama Bono. Lagu ini populer lewat grup seni calung dan lawak Banyumas, Peang Penjol. Judul lagunya ‘Dawet Ayu Banjarnegara’.

Kisah Dawet Ayu konon bermula dari seorang penjual dawet, namanya Pak Munardjo. Istrinya yang sering membantu jualan cantik. Maka dawetnya dijuluki Dawet Ayu karena yang menjual memang ayu rupawan.

Intinya adalah dawet, sebutan Dawet Ayu, Dawet Ijo, Dawet Ireng dan lain-lain hanyalah deferensiasi dari minuman berbahan tepung beras {ketan} yang diberi santan dan juruh {gula dicairkan}. Kalau digigit terasa kenyil-kenyil dan kalau diteguk terasa gurih manis. Jika ditambah es akan terasa dingin segar.

Oh, iya, ketika Dawet Ayu sedang nge-hype, saya nggak ikut larut lalu latah membeli. Buat saya dawet yang sensansional dan rindukan tetap Dawet Ireng Purworejo.

Dawet Ireng lebih sensansional terutama bagi yang sempat mengicipinya di kios depan Kantor Pos Purworejo. Vibe-nya terasa banget, sebab untuk menikmati semangkok dawetnya mesti memakai nomor antrian.

Walau disebut ireng sebenarnya juga tidak hitam-hitam amat. Karena warna hitamnya berasal dari air yang diberi arang bakaran jerami.

Tampilan Dawet Ireng memang lebih menggoda, apalagi jika ditambahkan dengan tape ketan yang berwarna kehijauan. Sungguh, amboy di mata.

BACAJUGA : Media Sosial Menghubungkan Dunia Tapi Memisahkan Kita

Dionisius Prasetyo sebelum meninggal oleh kalangan milenial digelari sebagai ‘Godfather of Broken Heart’.

Kurang lebih 30 tahun berkarya, nama panggungnya diperoleh ketika jaman masih susah. Bermula dari kebiasaan mengamen untuk mencari nafkah dari satu bus ke bus lain di terminal. Terbentuklah sebuah group ngamen bernama Kelompok Penyanyi Trotoar yang disingkat Kempot.

Didi Kempot kemudian menjadi nama keren untuk panggungnya dalam genre musik campursari. Ratusan lagu ditulis olehnya, bertema kisah cinta wong cilik yang kerap dikhianati, tak terbalas, berharap dan menanti tanpa kepastian.

Tema yang sangat digemari dan relate dengan sadboys dan sadgirls, para fansnya yang menamakan diri sebagai Sobat Ambyar.

Media sosial membuat Didi Kempot melewati batas pengemar tradisionalnya, masyarakat yang berbahasa Jawa. Hingga kemudian anak-anak muda, bukan penutur bahasa jawa tak canggung menyanyikan lagunya.

Sampai di Papua sana, anak-anak mudanya dengan khusyuk dan syahdu menyanyikan lagu Pamer Bojo, ekpresinya tak kalah dengan anak-anak Yogya yang fasih berbahasa Jawa.

Pamer Bojo memang menguncang, terutama bagian reff-nya yang akan disambut oleh koor rancak cendol dawet.

Aslinya tak ada bagian itu, koor cendol dawet muncul dari pertunjukkan panggung.

Entah apa yang ada dalam benak sobat ambyar ketika mengucapkan cendol dawet. Tahukah mereka persamaan dan perbedaan antara cendol dan dawet itu?

Cendol dan dawet bisa dikatakan serupa tapi tak sama. Sebutan cendol lebih dikenal di masyarakat Sunda, sedangkan dawet di masyarakat Jawa.

Perbedaan lainnya adalah pada bahan. Dawet terbuat dari tepung beras {ketan} sedangkan cendol terbuat dari tepung sagu atau tepung hunkwe dan diwarnai dengan perasan daun suji atau pandan.

Dawet bertekstur lebih lembut sedangkan cendol cenderung lebih kenyal. Cetakan cendol dan dawet juga berbeda sehingga kalau diperhatikan bentuk ujung cendol cenderung tumpul sedangkan dawet meruncing.

Soal penyajian, baik cendol atau dawet akan ditambahkan santan dan juruh atau sirup gula. Sedangkan tambahannya, cendol biasa diberi tambahan potongan buah nangka, sedangkan dawet diberi tambahan tape ketan.

Cendol dan dawet kemudian menyebar ke seluruh nusantara, bisa ditemukan dimana-mana. Yang membeli tak terlalu pusing dengan perbedaan, buat mereka yang penting enak dan lebih baik lagi kalau harganya murah.

Cendol dan dawet kemudian dipertukarkan tanpa masalah. Penjual cendol nggak akan marah kalau yang membeli berkata “Dawetnya 3, bungkus ya,”. Urusan penjual adalah laku, bukan definisi atau gineakologi.

Ngapain mikir cendol atau dawet, kalau saingan saja sudah ruwet.

Belum lagi urusan diferensiasi, bagaimana tampil beda dengan yang lainnya. Maka tak usah heran kalau kemudian ada dawet atau cendol dicampur dengan buah naga. Namanya juga bersaing kalau tidak kreatif dan inovatif ya nggak bakal laku.

Persis sama ketika ada penjual Martabak Banjar ditanya “Kenapa sebutannya Martabak Banjar?. Apa bedanya dengan martabak lainnya?.

“Kada paham juga om ae, amun menurut ulun, ngarannya Martabak Banjar lantaran yang jual urang Banjar,”

BACA JUGA : Bakar Uang Ala Start Up dan Politisi

Dari antara media sosial, akhir-akhir ini yang ampuh untuk membuat viral adalah Tik Tok. Segala sesuatu yang viral di Tik Tok kemudian akan viral di media sosial lainnya.

Kembali ke dawet, beberapa waktu terakhir ini Tik Tok berjasa besar mempopulerkan sebuah lagu yang salah satu liriknya melantunkan ‘Joko Tingkir ngombe dawet’.

Saya tak tahu siapa yang menyanyikan hingga kemudian populer. Namun kalau tidak salah Deni Caknan. Dan biasanya juga populer kalau Ndar Boy ikut menyanyikan.

Joko Tingkir, tokoh ini akrab dengan saya sewaktu kecil lewat cerita susur sungai dengan gethek yang dikawal oleh buaya. Bukan hanya dituturkan lewat cerita melainkan juga tembang yang berjudul Sigra Milir.

Pemuda yang bisa menahklukkan buaya itu sesungguhnya bernama Mas Karebet. Namun kemudian dikenal sebagai Joko Tingkir karena setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuannya kemudian diasuh oleh Ki Ageng Tingkir.

Menurut cerita Joko Tingkir termasuk pemuda yang nakal, walau mungkin sakti dan pintar. Andai hidup pada masa sekarang, dia barangkali masuk golongan fuck boy. Buaya saja ditakhlukkan, apalagi wanita.

Kelak Joko Tingkir menikah dengan Ratu Mas Kencana, Putri Sultan Trenggana, pemimpin Kerajaan Demak.

Atas jasanya menahklukkan kerbau mengamuk di pesanggrahan raja, Joko Tingkir diberi kedudukan sebagai Adipati di Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya.

Ketika Sultan Trenggana meninggal terjadi kisruh dalam pemerintahan. Aryo Penangsang, adipati di Jipang ingin berkuasa dan melakukan berbagai pembunuhan terhadap keluarga serta kerabat raja yang mangkat.

Adiwijaya kemudian mengadakan sayembara, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan diberi wilayah di Pati dan Mentaok {Mataram}. Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan berhasil menahklukkan Arya Penangsang.

Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Pajang dan Adiwijaya menjadi Raja Pajang yang pertama. Namun janjinya untuk menyerahkan Mentaok {Mataram} diulur-ulur. Nanti setelah diingatkan oleh Sunan Kalijaga yang adalah salah satu guru dari Adiwijaya, baru kemudian Mentaok diserahkan kepada keluarga Ki Ageng Pemanahan.

Ketokohan Joko Tingkir sebagai pembesar atau tokoh kerajaan dan agama membuat tokoh masyarakat, ulama dan budayawan Lamongan keberatan dengan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet yang sedang viral itu.

Penyebutan nama Joko Tingkir dalam salah satu baris syair lagu dianggap tidak menghormati ketokohan Joko Tingkir.

Bait yang menyebutkan Joko Tingkir persisnya sebagai berikut :

Joko Tingkir ngombe dawet
Jo dipikir, marai mumet
Ngopek jamur nggone Mbah Wage
Pantang mundur, terus nyambut gawe
Pantang mundur, terus nyambut gawe

Lagu ini sama sekali tidak ada urusannya dengan Joko Tingkir. Penyebutan Joko Tingkir semata-mata demi keselarasan bunyi antara baris pertama dan baris kedua yang disusun seperti pantun.

Ya bisa saja Joko Tingkir diganti dengan Joko Kenthir, Joko Kliwir, atau Joko Wididir sehingga cocok dengan Jo dipikir.

Tapi lagu kan butuh kata yang ear cacthing sehingga Joko Tingkir lebih pas dan mungkin juga lebih kocak, karena watak lagu Jawa kerap disebut dolanan, main-main, satir, sindir dan lainnya.

Jadi nggak usah ditafsir berlebihan, toh sebenarnya juga nggak mungkin Joko Tingkir ngomber dawet, jika yang dipikirkan adalah Joko Tingkir yang Mas Karebet itu. Jaman itu belum ada dawet.

Baperan lalu mengelorakan cancel culture justru menunjukkan watak defensif. Padahal viralnya lagu ini malah bisa bermanfaatkan. Manfaatkan saja dengan menunggangi hype-nya. Pasti banyak yang kemudian bertanya “Siapa sih Joko Tingkir itu?”.

Ketika banyak orang bertanya maka itu akan menjadi kesempatan besar untuk mensosialisasikan kembali, siapa sesungguhnya Joko Tingkir itu.

Kan lebih baik lagunya populer, Joko Tingkirnya juga kembali populer.

Jadi jangan cari populer dengan melarang-larang, apalagi alasan sumir.

Suka melarang-melarang dengan alasan nggak terang dan baperan semakin membuktikan bahwa yang disebut kebodohan itu memang nggak ada batasnya.

note : sumber gambar – PARIWISATASOLO