KESAH.IDIstilah politik ”Angsa Hitam” muncul sudah sejak lama: tahun 1600-an. Di Eropa ada keyakinan bahwa semua angsa berwarna putih. Sejak orang Eropa ke Australia, mereka terkejut karena menemukan kenyataan bahwa tidak semua angsa berwarna putih. Istilah Angsa Hitam kemudian dipakai menjadi istilah politik untuk mengambarkan keadaan yang mengejutkan, tidak biasa atau tak bisa diprediksi. Selain Angsa Hitam dalam politik juga dikenal istilah Bebek, seperti membebek dan bebek pincang.

“Indonesia sedang tak baik-baik saja”, keluhan, kekhawatiran atau bahkan kesimpulan seperti ini ada di mana-mana, bukan hanya di kalangan oposisi atau kelompok kontra pemerintah. Sepak terjang Purbaya Yudhi Sadewa yang dar der dor menunjukkan hal itu juga diamini oleh pemerintah.

Slogan “Bangga Melayani Bangsa” yang menyertai branding ASN yang Ber-AKHLAK juga menunjukkan kelakuan birokrat sebagai mesin pembangunan sedang tidak baik-baik saja.

Presiden Prabowo baru-baru ini juga melantik Tim Percepatan Reformasi Polri yang diketuai Jimly Asshiddiqie. Pembentukan tim selain Tim Transformasi Polri ini menunjukkan Polisi sebagai tonggak penegakan hukum juga sedang tidak baik-baik saja.

Karena banyak yang sedang tidak baik-baik saja, ada sekelompok orang yang kemudian mempopulerkan hastag #KaburAjaDulu. Hastag ini mencerminkan kekecewaan orang muda terhadap situasi sulitnya mencari lapangan kerja, rendahnya upah dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat.

Hastag #KaburAjaDulu digunakan untuk mengungkapkan keinginan pindah ke luar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Menyertai hastag ini banyak netizen kemudian membagikan informasi terkait studi dan kesempatan kerja di luar negeri.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, yang sedang tidak baik-baik saja bukan hanya Indonesia, tetapi dunia.

Memakai Black Swam Theory yang diungkapkan oleh Nasim Nicholas Taleb, dunia terus menerus dikejutkan oleh berbagai peristiwa yang menunjukkan ada banyak kejadian global yang tidak terantisipasi.

Angsa ternyata tidak semuanya putih, ada juga yang hitam.

Dalam konteks politik, istilah Angsa Hitam merujuk pada peristiwa politik yang mempunyai tiga karakteristik, yakni : sangat tak terduga, berdampak besar, dan hanya bisa dijelaskan setelah kejadian {sulit diprediksi atau diantisipasi}.

Ada banyak contoh peristiwa politik yang dianggap sebagai angsa hitam ini.

Yang paling populer tentu saja keruntuhan Uni Soviet, beserta pembubaran Pakta Warsawa, tandingan NATO.

Meski secara bangunan Uni Soviet dianggap punya kelemahan struktural, namun kecepatan dan cara bubarnya yang tiba-tiba, tanpa perang besar atau revolusi berdarah membuat kejadian ini pantas disebut sebagai angsa hitam.

Dalam aksi terorisme, serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat bisa dianggap sebagai angsa hitam. Menggunakan pesawat sipil dengan jumlah korban yang besar, sama sekali diluar imajinasi dan model ancaman yang sebelumnya dikenal.

Brexit di Inggris juga bisa disebut sebagai angsa hitam karena hasilnya tidak sesuai prediksi. Diyakini masyarakat inggris ingin berada dalam Uni Eropa, namun referendum ternyata menghasilkan pilihan leave lebih banyak. Hasil ini membawa dampak ekonomi, politik dan konstitusional yang berkepanjangan.

Namun angsa hitam terbesar adalah Donald Trump yang dalam pemilu presiden Amerika Serikat berhasil menggalahkan Hilary Clinton. Dan kemudian angsa hitam makin membesar setelah Trump kembali menang dalam come backnya.

Setelah berhasil menduduki jabatan Presiden Amerika Serikat yang kedua kali dengan jeda kekalahan melawan Joe Biden, kelakuan dan kebijakan Trump sebagai Presiden Amerika Serikat sungguh tak terduga. Trump bukan hanya mengejutkan, melainkan menguncang kehidupan dalam berbagai sendi di dalam negeri dan luar negeri.

BACA JUGA : Ijazah Pahlawan

Dalam karakter animasi bebek, Donald Bebek, dikenal 3 sosok kemenakan yang dalam bahasa Indonesia dinamai Kwik, Kwek dan Kwak. Dalam versi aslinya anak Dumbella atau Della Duck, adik perempuan Donald Duck bernama Huey, Dewey dan Louie. 3 trio ini selalu terlibat petualangan dengan paman mereka yakni Paman Gober.

Dalam politik dunia, ada 3 angsa hitam yakni Xi Jinping, Putin dan Trump. Trio Kwik, Kwek dan Kwak ini kerap menguncang dunia, interaksi ketiganya sering menyebabkan kekhawatiran lintas batas.

Xi Jinping dan Putin adalah presiden yang sangat kuat, mampu merubah konstitusi. Sedangkan Trump adalah presiden negara kuat yang kebijakannya susah ditebak.

Adalah biasa bagi Israel untuk melakukan tindakan acak demi menjaga stabilitas keamanan negaranya. Namun aksi Israel itu akan jauh mengkhawatirkan jika Xi Jinping, Putin dan Trump bereaksi. Persoalan domestik Israel akan menjadi ancaman global, andai ketiga negara itu kemudian jadi berseteru.

Dalam soal Israel, ketiga negara ini menjadi penentu, jauh diatas kemampuan lembaga internasional macam PBB untuk mewujudkan perdamaian dan kedamaian.

Angsa hitam dalam politik global, salah satunya adalah kekuatan atau pengaruh lembaga-lembaga internasional yang makin mengecil. Lembaga-lembaga ini bahkan dikerdilkan oleh pembuat kebijakan negeri penyokongnya.

Trump misalnya segera setelah dilantik mulai mengebiri dana bantuan untuk lembaga internasional, termasuk lembaga dalam negerinya sendiri yakni USAID.

Kisah angsa hitam bukan hanya milik politik di luar negeri. Di dalam negeri kita juga mempunyai cerita angsa hitam.

Kalau diputar kembali rekam jejak Jokowi, saat terpilih sebagai Presiden, Joko Widodo mengatakan keluarganya atau anak istrinya tak akan berpolitik. Anak-anaknya akan berbisnis.

Namun rupanya itu hanya glembuk Solo, menurut Bambang Pacul sang pencetus teori Korea dalam politik.

Gibran Rakabuming Raka tiba-tiba ingin menjadi Walikota, Solo. Keinginan ini merepotkan para pengurus PDI-P Kota Solo. Hingga menimbulkan kisruh.

Gibran kemudian main atas, pencalonannya mulus dengan dukungan dari pengurus PDI-P tingkat provinsi dan nasional. Di PDI-P jika Megawati sudah berkenan, tak ada aturan, konsensus atau komitmen yang bisa menghalangi. Titah Megawati adalah perintah yang tak boleh diganggu gugat oleh barisan anggota PDI-P.

Gibran pun mulus terpilih menjadi Walikota Solo, melawan calon boneka seorang tukang jahit.

Angsa hitam keluar dari kandang dan membesar.

Angsa hitam gemuk ini ditiup-tiupkan oleh konsultan politik. Dia merubah Projo menjadi Prabowo – Jokowi.

Menjelang akhir masa jabatannya, seorang pemimpin biasanya memasuki fase lame duck atau bebek lumpuh. Jokowi justru sebaliknya, makin kuat popularitasnya. Entah yang pintar siapa, Joko Widodo atau penasehat politiknya.

Yang jelas menjelang lengser Joko Widodo dibuat relevan dengan opini yang seolah-olah mengambarkan kalau presiden berikutnya adalah hasil cawe-cawe Joko Widodo.

Dan ini mengejutkan, karena tidak pernah ada preseden sebelumnya di republik Indonesia, presiden ikut cawe-cawe untuk menentukan siapa presiden berikutnya.

BACA JUGA : Tentang Uang

Dan benar cawe-cawe Joko Widodo melahirkan angsa hitam. Pertama Joko Widodo meninggalkan PDI-P, Joko Widodo yang dulu terima-terima saja disebut sebagai petugas partai, kemudian memantati Megawati dan PDI-P.

Kepak sayap angsa hitam dengan segala manuvernya kemudian membawa Gibran ke kursi calon wakil presiden. Mestinya secara konstitusional Gibran tak mungkin jadi wakil presiden, tetapi aturan bisa dirubah, selama ada jalan untuk melakukannya.

Gibran Rakabuming Raka yang belum punya prestasi besar sebagai Walikota ternyata punya pengemar rahasia, pengemar yang ingin Gibran menjadi wakil sosok anak muda yang berada di tampuk kekuasaan tertinggi Republik Indonesia.

Gibran dibukakan jalan dengan pengajuan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Setelah rangkaian drama, jalan Gibran untuk menjadi wakil presiden terbuka. Digaet oleh Prabowo, pasangan ini kemudian menang secara meyakinkan.

Kehidupan dan dinamika politik di Indonesia menjadi semakin tak terprediksi.

Setelah melakukan gebrakan dengan meluncurkan kanal Lapor Mas Wapres, sepak terjang Gibran sebagai wapres tidak terlalu terdengar. Mungkin angsa hitam sedang mengeram, entah akan menetaskan angsa hitam lagi atau angsa putih bahkan angsa emas.

Yang pasti setelah peristiwa penjarahan pada rumah anggota DPR dan Menteri, kejadian yang baru terjadi pertama kali dalam sejarah republik, ada angsa hitam baru yang lahir dan mahir memainkan drama. Adalah Purbaya Yudhi Sadewa, sang angsa hitam, menteri keuangan yang tak irit bicara.

Purbaya rajin mengeluarkan pernyataan yang membuat ekonomi politik di Indonesia terguncang-guncang.

Sepertinya angsa putih belum lahir di Indonesia, yang banyak justru angsa hitam berbulu putih, mirip srigala berbulu domba.

Angsa putih justru lahir di Amerika Serikat, terbukti angsa hitam bisa bertelur putih. Presidennya Donald Trump tapi yang terpilih jadi Walikota New York adalah Zohran Mamdani. Zohran disebut oleh Donald Trump sebagai komunis.

note : sumber gambar – INDONESIANA