KESAH.IDMenyikapi tabu budaya Indonesia bicara uang (seperti kasus dosen yang merasa tak dihargai karena honornya kalah jauh dari influencer), artikel ini menyerukan agar para profesional terhormat, khususnya akademisi, berani pasang tarif di awal. Sebab, di era di mana uang adalah penentu pengaruh, keengganan menyebut angka hanya akan berujung pada makan hati dan menjadikan mereka sasaran empuk para pengundang yang hanya menghargai hiburan sesaat ketimbang pengetahuan yang berisi daging.

Mario Teguh, fix, banyak orang sudah lupa sama motivator dengan titel super ini. Dia yang dulu ngoceh soal super sekali sebelum ending-nya terbukti, ambyar, ternyata masa lalunya nggak seindah caption Instagram. Nggak inspiratif blas, jauh dari kata-kata motivasional yang ngalir dari lambe-nya yang licin itu.

Tapi, jujur aja, sebagai orang yang pernah nonton dia di TV—sebelum TV kita dilumat habis sama Netflix, YouTube, dan segala macem OTT—saya inget satu wejangan dia yang lumayan masuk akal: Soal pasang harga pada diri sendiri.

Seingat saya, Pak Mario ini nerjemahin harga diri dengan cara yang vulgar: Dikonversi ke nilai uang. Harga diri itu = kemampuan + pengalaman + track record. Dan itu, cuy, harus dihargai orang lain. Dalam konteks kerja, harga itu ya gaji, honor, fee, atau amplop tebal yang dikasih sama mereka yang make jasa, waktu, dan keringat kita.

Mario Teguh tahu betul penyakit umum orang Indonesia: Malu-malu kucing kalau disuruh nyebut harga. Job seeker kalau ditanya “Berapa gaji yang diinginkan?” Jawabannya pasti ala ketoprak atau wayang: Nggak mau nyeplos duluan, malah balik nanya, “Berapa yang ditawarkan?”

Ini bukan soal nggak tahu diri, tapi sistem nilai dan moralitas kita yang sudah terlanjur mendidik kita untuk tabu bicara uang. Orang Jawa bilang, “Trima ing pandum,” rezeki sudah ada yang ngatur, nggak usah kemaruk dikejar-kejar. Terus terang soal uang, auto dicap mata duitan.

Meskipun pelajaran bahasa Inggris dari SD sudah koar-koar “Time is Money,” itu nggak cukup kuat buat ngalahin moralitas yang sudah mendarah daging.

BACA JUGA : Tapak Raja

Di media sosial, kita semua sok bijak bilang, “Bahagia itu sederhana,” seolah kebahagiaan itu nggak bisa dibeli pake Rupiah.

Padahal, dalam obrolan private di warung kopi atau grup WhatsApp, realitasnya diamini: Orang yang duitnya banyak, peluang bahagianya jauh lebih gede.

Alhasil, kita hidup dalam masyarakat paradoks:

Di Ruang Publik: Mengejar uang itu tabu. Kalau ketahuan ngejar duit, auto dinista: “Ah, ujung-ujungnya duit!” Pengejar uang disebut hedon.

Kelompok Terhormat: Dokter, guru, ilmuwan, agamawan, seolah haram ngomongin nominal fee yang pantas buat mereka. Mereka nggak boleh kelihatan “dagang” ilmu.

Padahal, sekarang terbukti: Tanpa uang, sulit punya pengaruh. Lihat influencer, mereka cepat viral karena give away dan hadiah. Penceramah agama populer pun sering bagi-bagi uang (walau mungkin titipan jemaah), yang intinya: Uang adalah alat penggerak massa.

Jadi, enggan bicara uang tapi ngarep uang. Itulah gambaran batin kaum terhormat di Indonesia. Ujung-ujungnya? Banyak yang makan hati.

Contohnya dosen atau akademisi. Mereka curhat merasa nggak dihargai karena rewards-nya cuma piagam, plakat, atau selembar ucapan terima kasih atas materi yang disiapkan sampe begadang.

Lebih miris, sang pengundang yang pelit sama narasumber itu, eh, malah berani bayar mahal influencer atau selebgram yang cuma buat nambah-nambahin engagement.

BACA JUGA : Ijazah Pahlawan

Sebuah status media sosial pernah viral (ngerundel):

“Dihargai 300 ribu {emot sedih campur heran}. Saya dosen diundang ke acara mahasiswa yang pesertanya berbayar. Mereka undang influencer puluhan juta (honor plus riders). Ini bukan tentang duit 300 ribu, tapi menghargai waktu saya. Extra info, gelar S3 Monash University saya nyambung banget sama acaranya, followers IG saya 101 K. It’s not about the money. Not at all.”

Ini kan namanya curhat sambil ngode. Ngeluh soal penghargaan, tapi risih bicara soal uang. Merasa nggak pantas negosiasi di depan.

Padahal, buat akademisi atau ilmuwan, bertanya besaran bayaran itu nggak haram, apalagi kalau acaranya profit oriented. Kalau acara itu non-profit dan sudah dipaketkan donatur, ya monggo pasrah. Tapi kalau panitia jelas cuan, kenapa harus malu?

Ilmu itu mahal. Sayangnya, banyak penyelenggara acara yang nggak nganggep itu. Yang besar cuma terimakasihnya. Dan si pemberi ilmu, karena idealisme, malah malu-malu ngomong uang. Padahal, sekali lagi, “Time is money.”

Belajar dari kasus dosen Monash itu: Dia ngerundel karena bandingin honornya sama influencer. Kenapa? Karena dia nggak masang harga atau rate card di awal, beda sama influencer. Jadi, si pengundang bisa suka-suka kasih amplop.

Rhenald Kasali, dosen yang kaya raya, rate bicaranya konon lebih tinggi dari gaji tahunan kebanyakan orang Indonesia. Kenapa? Karena dia berani pasang tarif.

Memasang tarif bukan kerakusan. Itu adalah tanggung jawab para penjaga pengetahuan untuk mendidik publik agar menghormati pengetahuan dengan imbalan yang pantas. Kalau nggak, bangsa ini akan mending menghargai hiburan sesaat ketimbang pengetahuan yang isinya daging semua.

Bicara uang di depan itu bukan kelakuan menjijikkan. Yang menjijikkan itu adalah pelacur pengetahuan: Mereka yang njual kompetensinya ke penguasa, dan dalil-nya disesuaikan dengan selera bos. Mereka ini yang pantas dicap tak punya harga diri.

note : sumber gambar – EPOSDIGI