Esai dengan judul Aku Pensil merupakan sebuah karya yang sangat terkenal dari Leonard Read, pendiri Foundation for Economic Education, lembaga yang ditujukan untuk menyemai dan menebarkan gagasan, pemikiran tentang kebebasan dan kemerdekaan di Amerika Serikat. Aku Pensil ditulis oleh Leonard Read pada tahun 1958 dan kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Lewat esai pendeknya, Leonard memakai seluk beluk pembuatan pensil sebagai bentuk tuturan yang fasih dan luar biasa untuk merubah paradigma pembacanya tentang ekonomi. Mengambil kisah tentang pensil, Leonard hendak memberikan pesan bahwa ekonomi tak akan bisa ‘direncanakan’ tanpa seseorang tahu dan ahli dalam membuat pensil.

Bagi banyak orang pensil kelihatannya adalah barang atau perkakas yang sederhana. Namun dibalik sebatang pensil itu sebenarnya terangkum sebuah perjalanan panjang, kayu dan grafit yang bermula dari hutan dan lokasi pertambangan.

Material yang dipotong dan digali oleh orang yang tak peduli mau dipakai untuk apa kayu dan batu grafitnya itu nanti. Kayu dan grafit kemudian dibawa ke tempat pengolahan, dipotong-potong sesuai ukuran tertentu, mulai disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

Dari tempat pengolahan, kayu dan granit dibawa ke pabrik pembuatan pensil. Kayu kembali dibelah dan dipotong-potong sesuai ukuran, sama dengan tingkat presisi yang tinggi, pun demikian dengan granitnya. Kayu dibubut sehingga berbentuk bulat panjang dengan ukuran sama, kemudian dibelah dua sama besar, ditengahnya diberi alur untuk meletakkan grafit yang juga telah dibubut bulat. Kemudian dua bagian kayu dilekatkan erat dengan granit ditengahnya, ditekan kuat sehingga dua bagian kayu nampak menyatu. Semua ini dilakukan dengan penuh ketelitian sehingga pensil kelihatan sebagai satu batangan yang utuh.

Pensil, saya yakin semua dari kita mengenalnya. Cakrawala dan dunia pengetahuan kita dimulai dari pensil. Sebelum bisa menulis saya misalnya belajar terlebih dahulu untuk memegang pensil dengan benar. Kemudian belajar merautnya dan mengoreskan diatas kertas untuk meninggalkan tanda namun tak melukai kertasnya.

Dari jaman kecil dahulu hingga sekarang pensil masih tetap sama, tidak banyak berubah baik bentuk maupun pabrik yang menghasilkannya. Kalaupun ada yang mulai jarang saya temui adalah pensil tukang kayu yang bentuknya gepeng, agak lebar dan grafitnya cukup besar. Apa yang membedakan adalah dulu saya hanya punya dan membawa satu atau dua batang pensil ke sekolah, tapi sekarang anak saya membawa sekotak penuh pensil untuk pergi menuntut ilmu. Dan dulu saya memakai pensil hingga benar-benar pendek, bahkan terkadang disambung namun kini anak saya hanya memakai pensil sampai setengahnya saja lalu minta dibelikan yang baru.

Tentu saja itu bukan salah pensil melainkan karena perkembangan jaman dan perekonomian yang membuat pola-pola konsumtif sudah merasuk sedemikian dalam hingga kedalam diri anak-anak. Dulu saya tak bisa bermanja-manja, membeli pensil hanya karena tertarik pada warna kulit luarnya, atau suka pada hiasannya. Tapi anak-anak sekarang menjadi lebih mudah untuk memiliki sesuatu yang mungkin tidak terlalu dibutuhkan, anak-anak mulai membeli dan dibelikan sesuatu yang tidak dibutuhkan melainkan sekedar karena disukai atau diingini.

Paulo Coelho dalam kumpulan pemikiran dan renungnya menuliskan 5 manfaat yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup terkait dengan pensil. Paulo mengumpamakan manusia menjadi sebuah pensil untuk memberikan bahan renungan bagi pembacanya tentang apa dan bagaimana hidup itu.

  1. Selalu ada tangan yang membimbing.

Batang pensil yang sama saja itu bisa menghasilkan karya-karya besar karena ada tangan yang mengerakkannya, entah untuk menghasilkan tulisan atau coretan sketsa dan gambar.

Pun demikian halnya dengan hidup seseorang yang mampu melahirkan karya besar, pengaruh untuk orang lain bahkan peradaban, semua itu terjadi karena ada tangan besar yang membimbingnya. Tangan yang membimbing itu yang disebut sebagai Tuhan.

Maka dengan mengibaratkan diri sebagai pensil, seseorang tidak akan takabur dalam memandang keberhasilannya, tak akan angkuh dan sombong karena merasa apa yang diperolehnya berkat dari bimbingan dan kehendak Yang Maha Kuasa.

  1. Derita melahirkan kebahagiaan.

Pensil akan berguna secara maksimal apabila diraut. Pensil dilukai dengan pisau yang tajam sehingga menjadi runcing.

Dalam hidup seseorang, untuk merasakan kegembiraan yang besar seseorang harus pernah merasakan penderitaan.

Keberhasilan selalu diawali dengan kerja keras, belajar menahan derita agar tertempa menjadi kuat. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Maka ibarat pensil seseorang harus berani menahan penderitaan, menahan sakit agar menjadi lebih tajam sehingga bisa dipakai untuk menulis atau mengambar kembali.

  1. Menghapus Kesalahan

Pensil berbeda dengan ballpoint, garis yang dihasilkan oleh pensil dengan mudah bisa dihapus jika ada yang salah, dihapus tanpa melukai atau merobek kertasnya.

Dalam hidup, manusia harus bersedia untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lampau. Menghapus tanda-tanda buruk, menghilangkan kebiasaan lama yang tidak baik dan menganti dengan perilaku-perilaku baru yang semakin mulia.

Sikap, persepsi, perilaku dan pandangan hidup ibarat garis yang dihasilkan oleh pensil, yang apabila kurang sempurna bisa dihapus untuk kembali diperbaiki. Menyediakan diri untuk menghapus kesalahan di masa lampau akan membuat hidup seseorang menjadi lebih berarti dan bermakna untuk diri sendiri dan orang lain disekitarnya.

  1. Inti hidup

Inti dari pensil adalah grafit yang ada di dalamnya. Grafitlah yang menentukan tebal tipisnya garis yang dihasilkan oleh sebuah pensil.

Hidup dan keberadaan diri manusia juga demikian. Orang menjadi berarti bukan karena penampakan luarnya, kecantikan dan ketampanan wajahnya, tinggi atau tegap badannya.

Keberadaan atau eksistensi seseorang juga ditentukan oleh dinamika di dalam diri, inner being-nya. Seseorang menjadi baik atau tidak, mulia atau busuk bukan karena tampakan luarnya melainkan nilai, keyakinan dan niat yang ada dalam dirinya.

Tak sedikit contoh yang menunjukkan perbuatan baik dipakai untuk mencari keuntungan diri sendiri bukan orang yang ditolongnya. Banyak orang memakai kemiskinan dan penderitaan orang lain untuk mengharumkan namanya sendiri.

  1. Hidup itu menyejarah.

Pensil menjadi pensil karena meninggalkan bekas ketika digoreskan pada permukaan kertas. Hidup seseorang juga selalu meninggalkan bekas, ada yang besar ada pula yang kecil.

Tak ada seorangpun yang lenyap begitu saja tanpa bekas, karena hidup selalu menyejarah. Tindakan baik maupun buruk selalu ada dalam kenangan orang lain.

Oleh sebab itu dalam hidup manusia harus menyadari bahwa apapun yang dilakukannya selalu meninggalkan bekas. Ada pepatah yang mengatakan gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang maka kalau ingin dikenang dengan segala kebaikan, berlakulah baik-baik, tinggalkan bekas yang tidak melukai siapapun.

Pensil adalah benda yang sederhana dan masih terus dekat dengan kita meski jaman terus berubah.

Mungkin sebagian dari kita tak lagi menggunakannya setiap hari, namun masih tetap mengenal detail dan penggunaannya.

Meski tak lagi menggunakan saya yakin kita semua tetap menghormati pensil yang mempunyai jasa besar dalam menghantar kita memasuki peradaban, gerbang pengetahuan yang membuat hidup menjadi semakin punya arti dan makna.

Pensil yang sederhana itu akan selalu abadi, karena lewatnya saya dan juga kita semua bisa terus belajar memaknai hidup yang sejatinya sederhana, sesederhana sebatang pensil.

kredit foto : Gaston Blaquier – unsplash.com

tulisan pernah dimuat di kompasiana tahun 2013