Peristiwa banjir, kekeringan, longsor dan kebakaran lahan bisa terjadi secara bersamaan di pelbagai penjuru Indonesia. Berita tentang hal itu juga selalu menghiasi halaman dan layar media. Semua selalu menimbulkan derita dan kepiluan.

Secara garis besar iklim di Indonesia sama, namun sebagai negeri kepulauan, tiap-tiap pula mempunyai karakter iklim masing-masing berdasar kondisi geografisnya. Panjang pendeknya musim hujan dan musim kemarau berbeda.

Dalam beberapa dekade terakhir ini kita kerap mendapati kejadian kekeringan di berbagai belahan bumi Indonesia. Kekeringan yang menyebabkan petani gagal panen dan masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Sungai dan sumber air lainnya mengering.

Namun ketika di satu daerah tengah mengalami kekeringan, daerah lainnya bisa saja tengah mengalami kebanjiran.

Iklim memang telah berubah. Yang dimaksudkan dengan perubahan iklim yang paling nyata adalah musim penghujan menjadi musim banjir dan musim kemarau menjadi musim kekeringan. Kebanjiran dan kekeringan memang merupakan saudara kembar karena penyebabnya interdependen. Yaitu tata air kelola air hujan. Kebanjiran dan kekeringan acap kali merupakan bukti bahwa kita gagal menjaga siklus hidrologi. Daerah yang mengalami kejadian banjir besar selalu punya resiko untuk mengalami kekeringan yang kerontang.

Kebanjiran dan kekeringan masih punya saudara lainnya yaitu longsor dan kebakaran lahan.

Bagaimana banjir bisa bersaudara dengan kekeringan, longsor dan kebakaran lahan?.

Banjir saat ini umumnya bersifat antropogenetik atau karena pengaruh perilaku manusia. Banjir adalah cermin dari perilaku kita menyia-nyiakan air hujan. Luas dan dalamnya genangan banjir adalah bukti nyata seberapa banyak air yang kita buang.

Intinya banjir saat ini adalah pertanda dari tingginya koefisiensi air permukaan (runoff) atau air hujan yang tidak berhasil ditampung dan diresapkan ke dalam tanah untuk mengisi kantong-kantong air di dalamnya.

Nah cara mengatasi banjir umumnya adalah dengan membuang air laut secepat mungkin lewat drainase yang lalu bermuara di sungai. Sungaipun diluruskan, didalami dan ditembok kanan kirinya agar dapat mengalirkan air secepat mungkin ke laut. Di tempat-tempat tertentu kalau perlu dipasang pompa air agar air lebih cepat masuk ke sungai.

Akibat dari pola mengatasi banjir semacam ini, peresapan air ke dalam tanah menjadi berkurang. Jika musim kemarau cadangan air dalam tanah menjadi berkurang, baik air dangkal maupun dalam. Sumur atau sumber air kemudian menjadi mati. Tanah kemudian kehilangan kelembabannya. Pohon atau tumbuhan diatas tanah menjadi mengering karena tidak ada pasokan air dari dalam tanah. Kondisi seperti kemudian memicu terjadinya kebakaran lahan.

Tanah yang kering sering menjadi retak-retak karena tidak saling mengikat. Jika kemudian tiba-tiba hujan deras turun maka pertahanan tanah menjadi lemah sehingga akan menyebabkan bencana longsor.

Kini menjadi jelas bahwa kesalahan dalam pengelolaan air hujan bukan hanya akan berdampak pada banjir melainkan juga bencana susulan lainnya. Berfokus semata-mata hanya mengatasi banjir dan mengambil langkah yang salah, meski banjir bisa diusir namun itu sama artinya dengan memanggil bencana lainnya pada musim yang berbeda.

Belajar dari hal itu janganlah mudah percaya pada narasi yang hebat soal mengatasi banjir, selama narasi itu tidak menyertakan pencegahan terhadap kekeringan, kebakaran lahan dan longsor maka sehebat apapun narasinya hal itu tidak akan membebaskan kita dari bencana.

Mengatasi banjir tanpa mencegah kekeringan, kebakaran lahan dan longsor menunjukkan bahwa upaya itu bukanlah upaya yang integratif dan komprehensif. Bahkan tak lebih dari sekedar menjadikan banjir sebagai proyek, proyek yang terus menerus dan tak akan pernah berakhir. Seperti yang terjadi dalam proyek yang bernama normalisasi sungai.