Catatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari tahun ke tahun kejadian bencana alam cenderung meningkat. Tahun 2016 terjadi 2306 kejadian bencana, tahun 2017 terjadi 2392 kejadian bencana, tahun 2018 terjadi 2564 kejadian bencana dan tahun 2019 tercatat sebanyak 3721 kejadian bencana alam.
Meski disebut sebagai kejadian bencana alam namun sebagian besar bencana itu terjadi akibat kesalahan manusia yang gagap dalam berhubungan dengan alam. Manusia menyumbang atau berkontribusi pada bencana alam karena melakukan perusakan atau menganggu keseimbangan ekologi.
Bencana alam setelah tahun 1950-an disumbang oleh pertumbuhan manusia yang sangat cepat. Manusia menjadi mahkluk di muka bumi yang punya kemungkinan paling rendah untuk punah karena dalam 50 tahun terakhir bertambah dengan cepat, melampaui pertambahan yang dicatat oleh jaman sebelum hingga masa sebelum masehi.
Konsekwensi dari pertumbuhan jumlah manusia adalah ruang, ruang hidup, ruang tinggal, ruang infrastruktur dan lain sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi manusia maka yang pertama dikorbankan adalah hutan dan bentang alam lainnya seperti rawa, badan air dan lain sebagainya.
Karena jumlah penduduk yang bertambah cepat, kota-kota berkembang dimana-mana, terjadi pembangunan besar-besaran yang tentu saja dilakukan dengan merusak bumi. Hutan ditebang, bukit diratakan, laut direklamasi, rawa diuruk, sungai disempitkan dan seterusnya. Bahkan lahan pangan atau area pertanian yang tadinya dibuka dengan cara membabat hutan lama kelamaan juga berubah menjadi daratan untuk fasilitas permukiman dan fasilitas publik lainnya.
Cermin dari perusakan bumi akibat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan perkotaan adalah banjir. Semakin hari semakin banyak kota-kota mengalami kebanjiran. Jakarta sebelum menjadi menjadi Batavia adalah perkampungan air dan rawa. Begitu disebut Batavia dilakukan pembangunan yang menjadikan kota itu menjadi daratan. Sejak saat itu Jakarta terus berkutat dengan masalah banjir.
Pembangunan di Indonesia memang bukan pembangunan yang sensitif air. Sebagai negara yang luas lautnya lebih besar dari daratan, dan didaratan juga banyak badan air mulai dari sungai, danau, rawa, rawa gambut dan lainnya, pengetahuan dan kesadaran kita tentang air adalah sangat rendah. Mereka yang menyebut diri sebagai ahli air sekalipun akan sangat mengemari konsep drainase dalam berhadapan dengan air. Mereka gemar mengeringkan. Kota-kotapun tidak dibangun dengan citra arsitektur yang sadar air.
Maka jamaklah permasalahan kota-kota di Indonesia yaitu kelebihan air di musim hujan, kekurangan air di musim kemarau dan mengalami masalah air bersih sepanjang musimnya. Kota di Indonesia selalu berada dalam krisis air karena air terlalu banyak, terlalu sedikit dan terlalu kotor.
Menyepelekan Sumberdaya dan Kearifan Lokal
Indonesia adalah negara yang dikelilingi oleh cincin api (ring of fire) sehingga kerap mengalami kejadian gempa bumi. Masyarakat setempat yang secara turun temurun melakukan adaptasi pada kondisi gempa telah mengembangkan arsitekturnya yang ramah gempa dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Rumah dibangun dengan model tertentu berbahan kayu, bambu, rotan, daun dan lain sebagainya.
Sementara kota tidak dibangun dalam perspektif kebencanaan meski banyak ahli pembangunan, ahli rumah di perkotaan. Akibat trend rumah beton yang menular hingga ke desa-desa bahkan ke masyarakat tradisional, kejadian gempa dari tahun ke tahun semakin bertambah jumlah korbannya. Yang membunuh bukan gempa melainkan bangunan yang runtuh akibat gempa. Bangunan beton yang lebih berat dari bangunan yang berbahan lokal membuat korban gempa semakin tahun semakin bertambah.
Dalam kejadian gempa ada banyak bukti bahwa kebanyakan rumah tradisional tidak rusak karena gempa. Rumah yang terbuat dari kayu, bambu, tanah dan daun terbukti tahan gempa bumi.
Namun pemerintah kita yang gemar berpidato tentang kearifan tradisional ternyata justru memasukkan rumah berlantai kayu atau tanah, berdinding bambu atau pelapah batang pohon dan rotan serta beratap daun sebagai rumah tidak layak huni. Rumah-rumah tradisinal semakin hilang karena ada program bedah rumah. Rumah tradisional yang merupakan pencapaian kejeniusan masyarakat lokal yang tidak kuliah teknik sipil di universitas, bentuk kekayaan budaya dan kearifan lokal ternyata tidak dihargai sebagai pencapaian, bahkan dianggap ketinggalan jaman.
Akibat perubahan arsitektur tradisional menjadi arsitektur modern, ketergantungan masyarakat pada hutan untuk membangun permukiman mengakibatkan masyarakat merasa tak perlu menjaga hutan. Antara rumah, permukiman dan hutan kehilangan ketergantungan. Akibatnya bahan-bahan alami yang sangat melimpah untuk membangun rumah menjadi terabaikan atau bahkan dimusnahkan.
Hal yang sama terjadi dalam soal pangan. Bangsa Indonesia sebelum masuknya padi dan singkong dari India dan Amerika makanan pokoknya adalah sagu. Hampir seluruh pohon atau hutan sagu ada di Indonesia. Dan pohon sagu bukan hanya untuk keperluan pangan melainkan juga bangunan dan infrastruktur lainnya. Di Maluku kita bisa menemukan rumah gaba-gaba, rumah berbahan pohon sagu. Di Sangihe kulit batang sagu ternyata dipakai sebagai bahan tulangan untuk jembatan.
Sejarah sagu di Jawa sampai dengan 1500 tahun yang lampau diabadikan dalam nama nasi. Di Jawa Barat atau Sunda, nasi disebut dengan nama Sangu. Sementara di Jawa Tengah disebut Sego. Sangu atau Sego adalah sagu.
Tapi ketika masyarakat Jawa dan Sunda kemudian terbiasa makan nasi dan berprofesi sebagai petani sawah, lama kelamaan pohon sagu hilang. Pohon sagu tidak diperlukan lagi. Kini pasti sulit sekali mencari pohon sagu di pulau jawa.
Sementara di Maluku Utara, rumah-rumah yang berbahan pohon sagu juga mulai langka. Sabua Gaba-Gaba sulit ditemukan lagi. Kelangkaan rumah berbahan pohon sagu terjadi seiring dengan semakin terbiasanya masyarakat mengkonsumsi beras.
Rumah berbahan pohon sagu menjadi semakin sulit dipertahankan karena bahan bakunya menjadi langka. Pohon sagu bukan tak lagi dipelihara melainkan telah disingkirkan karena tak lagi menjadi bahan pangan pokok. Kini makanan bebahan sagu sulit ditemukan di rumah-rumah, jika mau makan sagu mesti pergi ke warung.
Seiring dengan menurunnya kebiasaan membangun rumah dari bahan lokal, pengetahuan tentang sumberdaya lokal itu juga tidak lagi diturunkan kepada anak cucunya. Akibatnya dalam pandangan masyarakat lokal terkini membangun rumah dengan bahan dan kearifan lokal adalah sesuatu yang mahal dan menghasilkan bangunan yang tidak awet. Masayrakat secara kolektif kemudian kehilangan pengetahuan dan kemampuan membangun arsitektur lokal yang berbasis pada bahan lokal.
Di Kalimantan Timur, pohon bernilai bangunan yang kemudian juga diabaikan adalah nipah-nipah. Kini semakin langka rumah yang memakai atap nipa-nipah. Atap yang lebih dingin dari seng. Memakai atap nipah-nipah selain ketinggalan jaman juga dianggap tidak awet. Kenapa?. Karena pengetahuan tentang atap nipah yang bisa bertahan tahunan tidak diturunkan lagi dari generasi ke generasi. Begitu kita tidak tergantung kepada material alami maka pengetahuan tentang material alami itu akan hilang.
Membangun Kembali Interdependensi
Dalam film dokumenter yang diproduksi oleh Wacthdoc dari Ekspedisi Indonesia Biru yang berjudul The Mahuzes, masyarakat asli Papua heran dengan cara bertanam pangan orang Jawa. Menurut mereka masyarakat Jawa aneh karena harus menanam padi, menunggu sampai lebih dari 3 bulan untuk kemudian bisa panen dan memakan beras.
Lalu kalau tak punya beras selama tiga bulan menunggu padi yang ditanam mereka akan makan apa?.
Sementara orang Papua, jika hari ini ingin makan dan tak punya bahan makanan tinggal pergi ke hutan sagu, menebang dan kemudian memangkurnya. Dan tak lama mereka sudah punya bahan pangan. Makanan langsung bisa didapat pada hari itu juga. Dan sebatang pohon sagu besar cukup untuk memberi makan satu keluarga kecil selama 3 bulan.
Tapi kini pohon aau hutan sagu yang menjadi sumber pangan itu terancam oleh pembangunan satu juta hektar lahan sawah di tanah Papua.
Dibanding dengan padi, sagu punya banyak keistimewaan. Ditanam sekali dan terus dipanen tanpa perlu pemupukan, pengairan yang khusus dan lahan yang tak seluas sawah untuk menamam padi agar menghasilkan bahan pangan yang cukup. Satu pohon besar hanya butuh lahan tidak lebih dari satu meter persegi. Bandingkan dengan padi, ukuran satu meter persegi bisa dapat hasil seberapa banyak?.
Karena masih makan sagu maka orang Papua mempertahankan kebun atau hutan sagu, meski perlahan-lahan kini mulai tersingkir akibat mereka juga semakin terbiasa mengkonsumsi beras.
Hutan atau kawasan tutupan lahan akan tetap dijaga selama masyarakat membutuhkan baik untuk kepentingan pangan maupun papan dan lainnya. Seperti ditunjukkan oleh masyarakat Badui Dalam. Mereka tetap menjaga hutan larangan, lahan pangan dan permukiman agar tidak saling mengokupasi. Dengan hutan dan lahan pangan mereka bisa memenuhi kebutuhan sendiri.
Kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh hutan yang menyediakan bahan untuk bangunan dan keperluan lainnya, dan ladang untuk kebutuhan pangan mereka. Dengan membangun interdependensi atau saling ketergantungan dengan alam masyarakat Badui Dalam bisa membuat alamnya lestari. Maka dalam sisi artsitektur, rumah tradisional bukanlah sekedar kearifan tradisional, romantisme budaya melainkan juga wujud dari saling ketergantungan dengan alam sehingga membuat hutan dan sumberdaya alam lainnya menjadi lestari.
Tanpa membangun interdependensi dengan alam maka makin lama sumberdaya alam akan makin hilang. Penemuan berbagai material yang mirip kayu misalnya bisa ditujukan untuk mengurangi penebangan hutan. Namun justru karena merasa sudah ada penganti kayu orang malah akan semakin tak peduli dengan hutan dan dengan mudah akan memotong kayu, bukan untuk dimanfaatkan melainkan ingin membuka lahan hutan untuk keperluan lainnya. Jika kita tak butuh kayu maka kita tak akan menanam pohon kayu dan menjaganya.
Oligarki dan Penyingkiran Masyarakat Kecil
Melemahnya kesalingtergantungan dengan alam pada akhirnya menyebabkan ketimpangan ekonomi. Karena ekonomi tergantung pada industri, fabrikasi dan pertumbuhan sektor jasa maka kendali ekonomi hanya ada pada kelompok tertentu. Penguasa ekonomi hanyalah sebagian kecil orang namun menguasai hampir sebagian besar uang atau kekayaan.
Kapitalisme kroni atau oligarki akan tumbuh dalam masyarakat yang tidak lagi mengantungkan diri dan menjaga sumberdaya alam. Kini kebutuhan mereka dipenuhi oleh industri yang dipunyai oleh kaum pemodal yang umumnya terhubung dengan penguasa. Oligarki adalah tangan pengusaha dan penguasa yang bersatu dan menguasai sebagian besar ruang dan lahan hidup yang harusnya berada dalam tangan masyarakat. Namun masyarakat telah dibuat tak berdaya karena mereka tak lagi tergantung dan butuh bahan lokal. AMbil contoh saja kini kerajinan tradisional sekalipun bahannya dibuat oleh industri.
Cengkraman oligari atau kapitalisme kroni bukan hanya soal uang melainkan juga penguasaan lahan. Kaum oligarki inilah yang menguasai sebagian besar lahan entah lewat konsensi maupun ganti rugi.
Masyarakat kecil selalu meminta perlindungan dari pemerintah agar tanah atau ruang hidup serta ruang kelola mereka dilindungi dari caplokkan investor. Tapi pemerintah justru menjawab dengan mengundang investor yang lapar lahan.
Masyarakat adat atau masyarakat tradisional adalah salah satu kelompok yang paling rentan tersingkirkan. Di lahan atau di ruang kelola mereka selalu ada bahan galian atau bahan tambang. Industri ekstraktif dan perkebunan besar selalu menjadi musuh utama mereka.
Meski terus mengatakan peduli pada rakyat, ingin memberdayakan rakyat dan membangun ekonomi kerakyatan namun rencana pembangunan selalu berpihak pada kaum pemodal. Banyak kota berambisi menjadi aerocity. Dibangun bandara besar yang umumnya mengusur lahan produktif berupa ladang atau lahan pertanian rakyat kecil. Namun mengelola bandara sulit untuk mendapatkan untung sehingga perlu dibangun fasilitas lain yang lebih luas untuk dijual hingga mendatangkan keuntungan.
Desa yang kemudian berubah menjadi aerocity bukan hanya menyingkirkan warga dari lahan atau ruang hidupnya melainkan juga dari persaingan untuk mendapat pekerjaan. Desa yang berubah menjadi kota tidak akan ramah pada wrga setempat yang tidak mempersiapkan sumberdaya manusianya untuk menjadi pegawai perkotaan.
Warga desa yang tersingkir kemudian akan menjadi kaum migran. Pergi ke kota-kota dan menjadi pekerja atau pengusaha informal. Mereka umumnya akan menjadi pedagang kaki lima.
Pedagang kaki lima sesungguhnya salah satu penyelamat ekonomi perkotaan. Pekerja mall, pekerja hotel dan lainnya tentu saja tidak bisa makan di tempat kerja mereka, mereka tak cukup uang untuk makan hari-hari di restoran yang ada di mall. Maka tempat makan favorit mereka pastilah lapak-lapak makanan pedagang kaki lima.
Namun lapak kaki lima di perkotaan selalu dianggap aib. Mereka akan terus diburu dan digusur. Di desa lahan hidup mereka hilang karena dicaplok investor dikota mereka dianggap sebagai musuh adab perkotaan. Di desa mereka tersingkir di kota mereka tergusur.
Padahal pedagang kaki lima diperlukan oleh kota, kalau taka da yang butuh pasti mereka tak akan berdagang. Tapi taka da satupun perencanaan di perkotaan yang menyertakan rencana untuk memberi ruang bagi pedagang kaki lima dalam rencana pembangunannya.
Namun PKL meski terus digusur tetap akan selalu ada. Dan terus ada selama pemerintah belum mampu merubah paradigm pembangunan, belum mampu mengatasi kesenjangan ekonomi dan penguasaan lahan antara investor dan masyarakat kebanyakan.








