Siapa yang tak mengenal sungai? Buat kita warga Indonesia pasti sungai bukan sesuatu yang asing. Tidak di kota maupun di desa selalu akan kita jumpa dengan sungai meski wajahnya berbeda-beda. Banyak kota yang dilewati atau dibelah oleh sungai besar sehingga jembatan menjadi salah satu penanda atau landmark dari kota itu.
Samarinda adalah salah satu kota yang dibelah oleh sungai besar yaitu Mahakam. Ada beberapa jembatan panjang membentang diatas sungai. Yang paling terkenal adalah Jembatan Mahkota (Mahakam Kota) satu dan dua serta disusul oleh Jembatan Kembar. Banjarmasin, kota di provinsi tetangga bahkan menyebut diri sebagai Kota Seribu Sungai.
Pasti jumlah sungai di Banjarmasin tidak sampai seribu, namun sebutan seribu adalah sebutan hiperbolis untuk mengatakan banyak. Makna lainnya Banjarmasin mau mengatakan diri sebagai kota sungai, kota yang menghargai, menghormati dan menjaga sungai sebagai bagian dari kebudayaan kotanya. Sungai bukan capital melainkan asset kehidupan bersama.
Jumlah sungai di Samarinda juga tak kalah banyaknya. Kebudayaan Samarinda juga erat kaitannya dengan sungai. Terbukti banyak daerahnya dinamai berdasarkan hubungan yang dekat dengan sungai. Ada banyak daerah dinamai dengan sei (sungai) seperti sungai pinang, sungai kerbau, sungai kapih, sungai keledang. Ada juga yang dinamai dengan loa,lok atau loh seperti loa janan, lok bahu dan loh buah. Pun juga ada beberapa daerah yang dinamai dengan karang, seperti karangmumus, karangasam dan karangpaci. Belum lagi daerah lain yang diawali dengan muara, teluk dan tepian. Semua nama-nama itu pasti berhubungan dengan sungai.
Tapi apa yang dipelajari oleh masyarakat Samarinda dari sungainya?. Umumnya masyarakat Samarinda dan juga pemerintah serta para ahlinya hanya belajar bahwa sungai di Samarinda adalah penyebab banjir.
Amatlah jarang yang mempelajari sungai sebagai bahan pembelajaran tentang air. Padahal kita semua tahu bahwa kehidupan bermula dari air. Dan terlebih di Samarinda, air bersih bersumber dari air baku yang diambil dari sungai.
Nenek moyang Samarinda dan tentu saja Kalimantan pada umumnya bahkan hingga seluruh Nusantara telah mengajarkan pendekatan pada air terutama lewat keutamaan moral dan budaya. Moralitas soal air adalah kenyataan bahwa air adalah salah satu material esensial untuk kehidupan. Penghormatan pada moralitas ini ditunjukkan lewat aspek kultural dimana para pendahulu kita mempunyai komitmen yang dalam untuk menjaga, merawat dan menghormati air. Air oleh mereka kerap disebut sebagai air kehidupan. Sesuatu yang berharga hingga disebut sebagai tirta kencana, banyu urip, ranam kaharingan dan seterusnya.
Mahakam misalnya bukan sekedar nama melainkan mencerminkan bagaimana sungai yang panjang dan lebar itu adalah tempat berkumpulnya air dari segala penjuru. Di Mahakam air yang mengalir dari perbukitan dan dataran di sekitarnya akan berakhir menjadi air yang abadi untuk menjadi sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat di sepanjang alirannya. Maka Mahakam menjadi satu dari sedikit sungai permanen, sungai yang airnya selalu ada sepanjang musim, sepanjang tahun.
Secara ilmu pengetahuan kita juga diajarkan bahwa sungai adalah bagian dari siklus hidrologi. Sungai adalah tempat untuk memanen air hujan baik yang mengalir dari mata air hasil dari air hujan yang diresapkan maupun dari air permukaan, air yang tidak meresap saat musim hujan. Sungai juga menjadi pengantar air permukaan masuk ke laut untuk diuapkan sehingga menjadi awan dan kemudian turun kembali dalam bentuk hujan.
Namun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian dipraktekkan tanpa moralitas dan abai pada kebudayaan membuat pencapaian pengetahuan kita justru dipakai untuk merusak sungai. Memisahkan sungai dari kehidupan, merampas ruang sungai dari aneka mahkluk hidup lainnya hanya untuk kepentingan ekonomi dan politik kekuasaan. Sungai yang mestinya adalah berkah kemudian justru membawa musibah.
Berbagai pendekatan yang berbasih pada ilmu pengetahuan ternyata belum berasil memulihkan sungai sebagai sumberdaya alam agar lestari dan tetap dimuliakan. Salah satu yang dilupakan dalam semua pendekatan yang berbau positivistik adalah warisan luhur nenek moyang kita yaitu gotong royong. Padahal dalam gotong royong sesungguhnya telah terkandung aspek co management, partisipasi hingga hak mengatur diri sendiri atau otonomi.
Gotong royong tidak boleh dipahami sebagai aksi belaka melainkan juga komitment yang dilandasi atas semangat inklusi dan semangat partisipasi serta kerjasama dalam melakukan olah penghayatan terhadap budaya sungai. Kesadaran budaya yang memahami bahwa :
- Sungai adalah nadi alam yang hidup merajut alam benua dan samudera
- Sungai pusat peradaban manusia ldan pemicu ahirnya kota sungai
- Sungai melahirkan teknologi hebat
- Sungai sumber konflik dengan negara
- Sungai menimbulkan malapetaka
Agar sungai yang merupakan berkah itu tidak menjadi musibah maka hormatilah sungai, biarlah sungai tetap dengan kehidupannya, jangan matikan mahkluk-mahkluk yang ada di lingkungan sungai, hilangnya mahkluk itu yang merupakan saksi kebaikan sungai akan membuat sungai kehilangan fungsi essensial bagi kehidupan manusia.
Lalu apa ukuran yang bisa membuktikan bahwa kita mempunyai komitment untuk menjaga dan merawat sungai?. Sungai yang terawat dan digdaya adalah sungai yang tidak menampakkan adanya kemiskinan di kanan kirinya, sungai yang bisa menopang produksi pangan, sungai yang bisa menjadi sumber energy bagi masyarakat, sungai yang tidak membuat orang sakit, tidak sehat bahkan mati, ada tumbuhan, ada burung dan binatang lainnya, ada ikan udang,kerang, kepiting dan seterusnya. Dan tentu saja sungai yang menyumbang manfaat baik bagi iklim. Pada intinya sungai yang digdaya adalah sungai yang mampu menjawab permasalahan bumi saat ini.
Daya sungai harus dihidupkan. Sungai yang lestari adalah sungai yang menopang kehidupan (Kali Urip), Sungai yang sehat dengan segala habitat dan ekosistemnya (Kali Waras), Sungai yang pantas dalam bentuk dan kualitas airnya (Kali Wasis), Sungai yang menjadi sumberdaya substansial bagi masyarakat baik disekitarnya bahkan sampai yang jauh (Kali Digdaya) dan Sungai yang akan mendatangkan kemanfaatan bagi generasi ke generasi (Kali Rahayu).
Kualitas moral dan tingkat kebudayaan masyarakat akan tercermin lewat sungainya. Baik buruknya sungai adalah cermin dari baik buruknya masyarakat tempatan (termasuk pemerintahnya).
Kita semua mestinya menjadi bagian dari masyarakat peduli sungai, masyarakat pembelajar sungai yang selayaknya tidak membicarakan sungai lagi, melainkan menangkap apa yang disuarakan oleh sungai dan memberi jawaban dengan melakukan segala sesuatu yang diperlukan oleh sungai. Dan semua itu tak akan bisa terjadi tanpa landasan cinta kepada sungai, cinta kepada air dan cinta kepada kehidupan. Merawat dan menjaga serta memulihkan sungai menandakan bahwa kita adalah pecinta kehidupan.








