KESAH.ID – Fenomena main hakim sendiri di Indonesia semakin marak, dari Bali , Morowali hingga Samarinda, dengan korban tewas hanya karena dituduh mencuri ayam atau sepeda motor. Riset menunjukkan faktor ekonomi, lemahnya aparat, dan rendahnya empati sosial menjadi pemicu utama. Jika dibiarkan, masyarakat bisa tumbuh menjadi psikopat kolektif—kehilangan kemampuan merasakan penderitaan orang lain.
Media sosial kini menjadi dapur utama diet informasi masyarakat Indonesia. Sayangnya, menu yang tersaji lebih sering berupa junk food emosional—konten yang memancing amarah, ketakutan, atau kebencian. Algoritma platform mendorong berita yang paling mengusik hati, sehingga kasus kekerasan cepat menyebar dan menormalisasi perilaku brutal.
Data Komnas HAM mencatat bahwa sepanjang 2025–2026, laporan kekerasan warga terhadap warga meningkat signifikan, dengan lebih dari 200 kasus main hakim sendiri di berbagai daerah. Polri pun mengakui bahwa penganiayaan massa kerap berujung fatal, dengan korban luka berat hingga meninggal.
Contoh nyata: di Tabanan, Bali, seorang pria tewas dikeroyok karena dituduh mencuri ayam aduan. Video tangisan anak korban viral, memicu kecaman KemenHAM. Sehari kemudian di Morowali, Sulawesi Tengah, seorang pria tewas dihajar massa karena dituduh mencuri motor. Di Lamongan, Jawa Timur, dua orang dituduh mencuri besi bekas diikat, dipukul, bahkan disiram air garam. Kasus serupa juga terjadi di Cianjur, Jawa Barat, di mana seorang pencuri sandal dipukuli hingga babak belur.
Kekecewaan terhadap negara yang gagal menghadirkan rasa aman membuat masyarakat melampiaskan frustrasi kepada sesama. Negara absen, rakyat saling menghukum.
BACA JUGA : Hidden Gems
Fenomena main hakim sendiri adalah cermin dari negara yang gagal hadir. Aparat sering datang terlambat, sehingga masyarakat merasa berhak menghukum sendiri.
Guru Besar Kriminologi UI Adrianus Meliala menilai fenomena ini dipicu oleh tekanan ekonomi dan kevakuman aparat. Banyak pelaku kejahatan jalanan muncul karena sulit mencari pekerjaan, sementara polisi sering datang terlambat—disebut satir sebagai “Polisi India.” Sosiolog UGM Soeprapto menyoroti tiga faktor: rendahnya pengendalian emosi, keberanian massa karena jumlah banyak, dan rendahnya kecerdasan sosial sehingga tindakan irasional mudah terjadi.
Psikolog forensik Reza Indragiri menilai aksi vigilante sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap aparat penegak hukum. Namun, ia juga memperingatkan efek brutalisasi: kekerasan susulan yang terus berlipat ganda. Pemerintah melalui Menko Kumham Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa main hakim sendiri melanggar HAM. Ia meminta polisi meningkatkan patroli dan tokoh agama ikut mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terpancing amarah.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan pembiaran aparat membuat massa merasa berhak menghukum. Nyawa manusia dipertaruhkan hanya karena seekor ayam atau sepeda motor.
BACA JUGA : Londo Ireng
Riset terbaru menegaskan bahwa empati adalah fondasi interaksi sosial. Studi Universitas Indonesia (2024) menunjukkan bahwa empati dan kepedulian memperkuat kohesi sosial, mencegah konflik, dan mendorong perilaku prososial. Neurosains membuktikan empati bekerja melalui resonansi emosional dan perspektif kognitif. Jika kemampuan ini tumpul, masyarakat mudah berubah menjadi agresif dan kehilangan kepekaan moral.
Fenomena main hakim sendiri adalah alarm patologi sosial: masyarakat sedang tumbuh menjadi psikopat kolektif, tak lagi mampu merasakan penderitaan orang lain. Teriakan anak yang melihat ayahnya dipukuli, air mata ibu yang diikat di pasar, semua kalah oleh amarah kolektif yang salah sasaran.
Jika dibiarkan, bangsa ini akan kehilangan jantung sosialnya. Empati harus dilatih secara kolektif. Pendidikan karakter di sekolah perlu menumbuhkan empati sejak dini. Peran tokoh agama dan komunitas harus diperkuat dalam mengedukasi anti-kekerasan. Aparat harus hadir cepat, bukan sekadar mencatat setelah korban tewas.
Indonesia tidak boleh menjadi negeri di mana rakyat saling menghajar karena kecewa pada negara. Jika negara terus mengecewakan, maka rakyat harus saling menjaga, bukan saling melukai.
Empati adalah satu-satunya jalan agar kita tidak berubah menjadi bangsa psikopat. Alarm sosial sudah berbunyi—dan jika kita tak segera mendengar, yang hilang bukan hanya rasa aman, tapi juga rasa kemanusiaan itu sendiri.
Note : sumber gambar – DETIK








