“Sendirian saja bang, mau pesan apa, bir putih atau bir hitam?”.

“Ladiesnya ya Bang, gak asyik minum sendirian. Nanti Mami carikan yang pintar ngobrol dan bahenol, atau abang pilih saja sendiri”.

“Gimana bang, mau ya, ayuk?”.

Begitulah jurus Mami sebuah cafe dangdut saat menyambut dan merayu tetamu yang datang untuk mem-booking ladies yang dalam keremangan malam terlihat seksi dan menarik mata laki-laki. Cara Mami menawarkan, keakrabannya akan membuat tetamu yang beberapa diantaranya masih gugup dengan suasana cafe segera akan mengiyakan tawarannya.

Begitu tamu setuju, mami akan segera mencari anak asuhnya yang dipandang pas untuk menemani sang tetamu itu.

“Ini Bang, sip kan. Namanya Dina”.

Dan tentu saja nama yang disebutkan oleh Mami pastilah bukan nama sebenarnya.

“Oh, iya Bang, 1 jam 60 ribu, tapi minimal harus 3 jam jadi 180 ribu. Tapi Abang nyesal kalau cuma tiga jam. Malam ini buka sampai pagi Bang, jadi bisa 5 jam”.

Jadi meski tamu sudah setuju untuk mem-booking, Mami masih saja terus berusaha memaksimalkan waktu booking-an.

Dan Mami kemudian berlalu ketika urusan booking-mem-booking sudah selesai untuk kemudian mencari mangsa yang baru.

Sang tetamu mulai mengobrol dengan ladies yang menemaninya. Mengaku bernama Dina dan berumur 25 tahun. Katanya berasal dari Sumatera dan belum lama bekerja di café dangdut itu.

“Saya awalnya datang untuk bekerja di M,” begitu Dina menyebut sebuah tempat hiburan malam yang ternama.

“Tapi kalah saingan, disana harus tampil sexy,”

Ketika tetamunya menyanggah bukankan disini juga mesti berpenampilan sexy, Dina kemudian bertutur kalau yang disebut sexy di tempat hiburan M itu berarti pusarnya harus kelihatan.

“Itu yang nggak mungkin untuk saya, perut saya tidak langsing lagi,” ujar Dina sambil tersenyum.

Rerata ladies di cafe atau karaoke dangdut memang bukan gadis lagi, kebanyakan sudah janda. Janda yang masih muda-muda, menikah pada usia dini dan kemudian kandas.

“Perempuan kalau sudah melahirkan susah untuk mengecilkan perutnya”.

Ketika bertutur, Dina yang mengaku dari Sumatera itu ternyata berlogat seperti orang Sunda.

“Teman-teman saya disini, di mess kebanyakan dari Sunda, jadi saya terpengaruh, ikut-ikutan bicara seperti mereka,”

Apa yang diungkap oleh Dina adalah gambaran tentang pergeseran ladies-ladies di Kota Samarinda dan Kalimantan Timur pada umumnya. Dulu di awal tahun 2000-an, gadis-gadis pendamping tamu kebanyakan dilabeli berasal dari Manado. Disebut Manado meski sebenarnya berasal dari Bolaang Mongondow, Minahasa atau bahkan Siau dan Sangihe.

Namun perlahan-lahan digeser oleh ladies-ladies dari Jawa Barat , Sunda yang sepintas penampilannya tidak begitu berbeda, sama-sama putih dan ramah.

Dalam industri hiburan pergeseran seperti itu memang jamak adanya. Tak heran jika kemudian dikenal istilah “Muka Baru Stok Lama”. Adanya wajah-wajah baru di sebuah tempat hiburan, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh baru sebab mereka sebelumnya telah bekerja dalam industri hiburan namun di tempat yang berbeda.

Industri hiburan memang ditujukan untuk menghasilkan kesegaran, maka terus menerus perlu penyegaran. Ladies, pendamping tamu adalah unsur utama penyegar, sehingga perlu dilakukan rolling, pertukaran dari satu tempat ke tempat lainnya.

Suburnya industri hiburan akan menyuburkan pula kegiatan trafficking, perdagangan manusia terutama perempuan. Suka atau tidak para ladies adalah korban perdagangan manusia, meski mereka setuju untuk melakukan pekerjaan itu sebelumnya. Disebut sebagai perdagangan manusia karena para ladies-ladies ini terus diekploitir demi keuntungan kelompok tertentu.

“Dari 60 ribu itu kami hanya dapat 27 ribu Bang. Dan sebulan targetnya mesti 30 jam. Kalau tidak maka kami tak akan dapat gaji pokok,”

“Makanya kalau tamu yang booking pulang dan tak memberi tip, bisa menangis sampai bengkak mata kami ini di WC”.

Inilah kondisi yang diciptakan oleh industri hiburan, sebuah kondisi yang akan memancing para ladies untuk bertindak lebih tidak hanya menemani tamu duduk dan minum-minum belaka. Perjanjian kerja antara ladies dan pemilik tempat hiburan malam akan menghasilkan keadaan yang dapat menjerumuskan ladies dalam situasi “penglacuran secara sistematis”.

Para ladies secara perlahan-lahan akan mengambil pilihan ‘rasional’ menerima permintaan lebih dari tetamu demi menghasilkan uang untuk kepentingan ‘anak-anak’ para ladies yang tinggal bersama kakek neneknya di kampung.

“Bang Dina minta coklat ya. Ini Dina kumpulkan untuk oleh-oleh buat anak. Dua minggu lagi Dina pulang karena kontraknya sudah selesai. Nanti Dina akan kembali lagi satu atau dua minggu kemudian,”

“Dina minta nomor telepon abang ya”.

Malam telah bergeser dan dini hari menjelang. Tetamu pulang ke rumah dengan langkah agak sempoyongan. Ketika sampai dirumah, perlahan mengendap masuk ke kamar dan tidur disamping istrinya dengan membuang muka, agar bau alkohol dari mulut tak membangunkan istri dari tidurnya.

Dan esok ketika terbangun sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel “ Abang sayang, nanti malam datang ya,”

Dan segera dihapus pesan itu dengan rasa sesal bahwa semalam telah menghabiskan uang untuk sesuatu yang membuat dirinya tak bugar kala bangun pagi.

kredit foto : Med Mhamdi – unsplash.com

artikel pernah diterbitkan di kompasiana tahun 2013