KESAH.ID – Persaingan di panggung tertinggi sepak bola dunia selalu melahirkan narasi yang kontras antara para megabintang. Di saat usia mulai mendikte fisik, perdebatan mengenai siapa yang terbaik tetap menyala lewat catatan rekor baru di atas lapangan. Selama fase grup Piala Dunia dinamika performa Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi membuktikan bahwa meski peran dan efisiensi bermain mereka telah berubah, magis dan pengaruh keduanya bagi tim nasional masing-masing belum benar-benar habis.
Ketika melawan Uzbekistan di pertandingan fase grup, Portugal berhasil mencukur gundul dengan kemenangan 5-0. Ronaldo berhasil mencetak dua gol hingga membuat asanya kembali naik. Atas hasil ini banyak yang mulai mereka-reka kalau Portugal dan Argentina akan ketemu di final yang seru karena mempertemukan Ronaldo dengan Messi.
Tapi mungkin itu duga-duga yang terlalu berlebihan, karena di pertandingan terakhir di fase grup ternyata Portugal ditahan imbang oleh Kolombia dengan skor kacamata. Ronaldo kembali ompong, bermain penuh selama 90 menit tanpa menghasilkan gol.
Dengan satu kali menang dan dua kali seri, Portugal mengakhiri fase grup sebagai runner-up. Walau begitu, Ronaldo masih mencatatkan prestasi yakni menjadi pemain yang mencetak gol dalam 6 kali keikutsertaannya dalam piala dunia.
Situasi Messi berbeda dengan Cristiano Ronaldo, di fase grup Argentina berhasil mencetak 3 kali kemenangan dengan produktivitas gol yang cukup tinggi. Sepanjang pertandingan fase grup, Argentina telah mencetak 8 gol, di mana 6 golnya dicetak oleh Lionel Messi. Messi pun tercatat sebagai pencetak gol terbanyak untuk sementara. Messi meninggalkan Mbappe, Dembele dan Haaland yang telah mencetak 4 gol.
Memastikan lolos ke babak selanjutnya dan menjadi pemuncak di fase grup, Argentina dalam pertandingan terakhir diduga akan mengistirahatkan Lionel Messi. Namun ternyata Messi masuk lapangan sebagai pemain cadangan.
Tanpa Messi, Argentina berhasil mencetak 2 gol ke gawang Yordania. Walau begitu Yordania terbukti mampu memberi perlawanan yang sengit sehingga mampu menjebloskan bola ke gawang Argentina.
Masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, Messi kembali berhasil mencetak gol pamungkas yang membuat Yordania terpuruk dan pulang karena tak berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya.
Gol yang dicetak Messi untuk mengunci perjalanan mulus Argentina di fase grup membuat Messi tercatat sebagai pemain yang berhasil mencetak gol dalam tujuh pertandingan berturut-turut di piala dunia. Satu gol tambahan membuat Messi makin mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia.
Pada umumnya produktivitas seorang penyerang dalam dunia sepak bola akan menurun drastis setelah memasuki usia 35 tahun. Pemain umumnya akan pensiun atau berlaga di kompetisi yang tidak ketat persaingannya.
Namun pandangan ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai mitos, atau keyakinan yang tak usang. Karena berbagai kompetisi atau liga yang terkenal masih mempertontonkan para penyerang yang tetap produktif.
Tentu saja dengan bertambahnya umur, tenaga, stamina dan kebugaran tubuh mungkin akan berkurang. Keyakinan seorang bintang akan meredup memasuki usia 35 tahun ke atas seperti tak berlaku untuk Messi. Perpindahan dari liga Prancis ke liga MLS atau Amerika Serikat dibaca oleh publik sepak bola sebagai tanda-tanda meredupnya kebintangan Lionel Messi, Messi bukan alien lagi.
Tapi tengara itu salah besar. Messi mempunyai bintang yang lain yang membuat namanya tetap bersinar di sepak bola. Bahagia bermain di liga MLS Amerika Serikat mungkin menjadi kunci Messi tetap bersemangat bermain bola dan ingin terus memberi kontribusi untuk Argentina.
Bermain untuk timnas Argentina selalu membuat Messi bahagia. Memulai sebagai starter maupun pemain cadangan sama saja, Messi tetap menjadi badai bagi lawan-lawannya. Masuknya Messi ke lapangan hijau selalu mempunyai dampak, membuat pemain Argentina makin bersemangat dan pertahanan lawan langsung diobrak-abrik.
BACA JUGA : Teater Intimidasi
Memasuki bagian akhir fase grup, penampilan Argentina di Piala Dunia 2026 bisa disebut sebagai penampilan awal yang memikat. Messi langsung on sejak awal, keganasan Argentina tak perlu menunggu sampai mesinnya panas. Argentina langsung tampil dalam mode turbo, bukan diesel yang tunggu panas dahulu.
Penampilan Messi di usia ke-39 tahun terasa konsisten dan konstan sejak pertandingan pertama. Meski lebih sering terlihat berjalan-jalan di lapangan, sepakan kaki Messi lebih punya magis. Tendangannya ke arah gawang lebih taktis, hampir setiap sentuhannya selalu melahirkan peluang gol.
Tanpa perlu mengejar bola sampai ke belakang dan menggiring bola dengan kecepatan tinggi sambil meliuk-liuk untuk mengecoh lawan, efisiensi permainan Messi bahkan terlihat meningkat berkali-kali. Setiap mendapatkan bola, Messi hanya melakukan sentuhan satu-dua, entah untuk memberi umpan atau langsung mengarahkan bola ke gawang lawan.
Messi masih menunjukkan kecermatan dalam mengarahkan bola sehingga bola mampu menerobos di antara kaki-kaki lawan sehingga sulit diantisipasi oleh penjaga gawang.
Gol Messi hampir selalu mempermalukan pemain belakang lawan dan penjaga gawang.
Tampil tanpa Messi, Argentina mampu menekan Yordania dan melesakkan gol ke gawangnya. Namun Yordania yang dianggap lemah ternyata mampu membalas. Posisi 2-1 jelas berbahaya. Lengah sedikit kemenangan Argentina bisa tercoreng walau tak mengubah posisinya sebagai pemuncak klasemen grup.
Messi yang duduk di pinggir lapangan kemudian dimainkan sebagai pemain pengganti. Dan benar saja, gol kemudian kembali lahir dari kakinya untuk memastikan kemenangan Argentina yang sempurna sepanjang fase grup.
Satu gol Messi ke gawang Yordania membuat Messi kembali mencatatkan rekor yakni sebagai pemain yang mencetak gol terus-menerus dalam 7 pertandingan terakhir di Piala Dunia.
Setiap gol Messi di Piala Dunia bukan sekadar mengalahkan lawan melainkan juga melahirkan catatan-catatan baru melampaui para legenda terdahulu. Mereka yang pencapaiannya digeser oleh Messi bukannya sedih karena rekornya runtuh. Mereka tetap senang karena dikalahkan oleh seorang pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Jangankan penonton, pelatihnya sendiri sudah kehabisan kata-kata untuk menggambarkan pencapaian Messi dalam Piala Dunia kali ini.
Publik sendiri tetap terhibur, karena Messi selalu mempertunjukkan penampilan yang langka. Seorang pemain yang dianggap sudah berada di penghujung kariernya, ternyata mampu menampilkan standar permainan di level tinggi secara konsisten. Apa yang ditampilkan oleh Messi bahkan sulit untuk dilakukan oleh para pemain yang sedang berada di puncak masa keemasannya.
BACA JUGA : Ducati Spanyol
Menghadapi Yordania, pelatih Argentina merombak habis-habisan susunan tim. Argentina turun hanya dengan menyisakan dua pemain regulernya yakni Lautaro Martinez dan Emiliano Martinez. Messi duduk di bangku cadangan.
Gol pertama Argentina tercipta dari tendangan bebas yang indah. Messi tersenyum seolah merasa mempunyai seorang penerus yang andal dalam mencetak gol lewat bola mati.
Sedangkan gol kedua tercipta lewat tendangan penalti. Lautaro Martinez mengeksekusi penalti dengan skill yang lebih jago dari Messi. Messi memang dikenal sebagai salah satu pemain yang sering gagal melakukan tendangan penalti.
Posisi 2-0 kemudian dikejar oleh Yordania. Memasuki babak kedua, pelatih Argentina meminta Messi melakukan pemanasan. Messi berlari-lari di pinggir lapangan dikawal oleh pemain lainnya. Nama Messi bergema.
Dan Messi kemudian memperoleh kesempatan mengeksekusi bola, tendangan bebas dari luar kotak penalti. Posisi tendangan bebas yang jaraknya sangat disukai oleh Messi. Messi dicatat sebagai pemain dengan sukses terbanyak mengonversi tendangan bebas menjadi gol dari luar kotak penalti.
Dan kiper hanya bengong ketika bola tendangan Messi yang mendatar di atas lapangan, masuk tanpa bisa dihalangi oleh pagar betis pemain Yordania. Setelah tendangan bebas yang indah untuk membuka kemenangan Argentina, Messi menutup pertandingan dengan gol tendangan bebas yang lebih indah.
Peluit panjang tanda pertandingan berakhir dibunyikan, mata dunia kembali tertuju pada papan skor dan statistik turnamen. Messi mengakhiri fase grup dengan bertengger sebagai pencetak gol terbanyak.
Apa yang ditunjukkan Messi membungkam ramalan para pengamat sebelum peluit Piala Dunia ditiup. Banyak yang tak yakin dengan kebugaran Messi yang beberapa tahun terakhir ini bermain di liga santai.
Namun nyatanya dalam setiap pertandingan Messi mengumpulkan pundi-pundi golnya dengan cepat. Bahkan di saat bermain dari bangku cadangan, Messi ternyata masih menghasilkan gol yang indah.
Rekor-rekor baru terus dipahat oleh Messi, walau Messi tak perlu apa pun lagi untuk memvalidasi dirinya sebagai pemain terbesar sepanjang masa.
Messi tidak lagi mengejar rekor, tapi rekor yang selalu membuntutinya.
Lagi-lagi Messi masih tetap menunjukkan magisnya di usia yang sudah tak terbilang muda lagi. Ada yang hilang dari diri Messi, tetapi Messi berhasil melakukan adaptasi yang tidak membuat dirinya kehilangan ketajaman dalam mengoyak gawang lawan.
note : sumber gambar – DAILYNEWS








