KESAH.IDPergeseran dari ritual “ngodok wedang” di atas tungku kayu bakar menuju ketergantungan absolut pada air minum dalam kemasan (AMDK) adalah salah satu revolusi budaya paling drastis dalam sejarah domestik Indonesia. Hanya dalam kurun waktu lima dekade, air yang dulunya merupakan hak publik gratis telah bertransformasi menjadi komoditas bisnis bernilai tinggi, mengubah standar kenyamanan nasional sekaligus menyisakan tantangan ekologi yang pelik.

“Ngodok wedang” atau “Masak banyu” adalah kosakata yang dulu sangat akrab dengan saya. Mengingat kata itu, akan muncul visual ceret atau dandang aluminium yang sudah penyok dengan bagian bawah menghitam karena kerak yang ditimbulkan oleh kayu bakar. Asap dapur hampir dipastikan selalu mulai dan berakhir mengebul demi ritual memasak air minum.

Kini, setelah dapur tak lagi punya tungku kayu bakar—diganti dengan kompor gas, kompor listrik, atau induksi—ritual memasak air minum sepertinya tak ada lagi. Anak-anak zaman sekarang telah kehilangan kosakata “ngodok wedang”. Bahkan di daerah tertentu, istilah “masak air” telah berubah maknanya; digunakan untuk menyebut aktivitas mengonsumsi sabu-sabu.

Bagaimana kebiasaan memasak air minum itu hilang ternyata sangat khas Indonesia. Di banyak negara lain, kebiasaan memasak air hilang karena kemajuan layanan publik terkait air bersih. Umumnya di negara Eropa dan juga negara-negara Asia seperti Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura, air keran bisa langsung diminum. Di negara-negara ini, layanan air bersih identik dengan air minum karena air yang dialirkan ke rumah-rumah mempunyai standar kebersihan dan kesehatan yang tinggi.

Singapura adalah salah satu contoh terbaik; negeri yang tak punya cukup sumber air ini mampu memproduksi air bersih yang sangat aman untuk dikonsumsi langsung berdasarkan standar WHO. Air yang dialirkan melalui keran ini bahkan sebagian bersumber dari air daur ulang. Sementara Indonesia, yang mempunyai sumber air melimpah dan mata air alami yang tak kalah banyak, ternyata dari zaman kemerdekaan sampai mendekati era Indonesia Emas belum mampu memberi layanan air keran yang layak minum melalui PAM (Perusahaan Air Minum).

Kenapa air PAM di Indonesia belum layak langsung diminum padahal terlihat jernih? Mungkin saja air olahan PDAM sebenarnya layak minum, namun kualitasnya menurun pada fase distribusi. Pipa-pipa yang menghubungkan pengolahan air ke rumah-rumah bukanlah pipa yang ditujukan untuk distribusi air minum, melainkan hanya untuk air bersih. Selain itu, distribusi air belum bisa dijamin bebas dari kontaminasi bakteri.

Teknologi untuk mengolah air layak minum bukanlah hal asing. Di Yogyakarta, kini di sepanjang jalan Malioboro terdapat sekitar lima titik di mana wisatawan bisa minum langsung dari keran atau mengisi tumbler. Fasilitas ini dikelola oleh PDAM Yogyakarta. Selain itu, di beberapa bandar udara seperti Balikpapan dan Samarinda juga ada fasilitas serupa, meski nampaknya dikelola oleh perusahaan air kemasan, bukan PDAM.

Hanya saja, secara psikologis, meminum air langsung dari keran nampaknya masih menghadapi hambatan. Masyarakat Indonesia belum terbiasa, atau malah tidak yakin. Maka bisa dipastikan, keran air siap minum di Malioboro lebih sering dipakai untuk cuci tangan atau cuci muka.

BACA JUGA : Dunia Tipu

Secara umum, inisiatif menyediakan air keran siap minum masih merupakan eksperimen, pencitraan, atau bahkan iklan bagi perusahaan air kemasan. Dalam benak sebagian besar warga Indonesia, air putih siap minum adalah air yang dimasak. Meminum air langsung dari keran atau bak dianggap sebagai kondisi terdesak—seperti zaman saya kanak-kanak dulu yang sesekali minum air sawah atau sungai jika kehausan.

Jika kini kebiasaan memasak air minum hilang, hal ini tak lepas dari nama Tirto Utomo, atau jika diterjemahkan: “Air yang Utama”. Tirto Utomo adalah pengusaha asal Wonosobo yang sangat visioner, atau lebih tepat disebut “gila” pada zamannya. Bagaimana tidak, di saat air putih tersedia gratis di warung-warung, ia punya ide menjual air putih dalam kemasan.

Awalnya, Tirto Utomo menyasar ekspatriat yang bekerja di Indonesia atau pekerja lepas pantai di rig pengeboran minyak. Karena menyasar orang asing, ia menamai perusahaannya Golden Mississippi. Pada saat pertama dijual, harganya tak masuk akal—lebih mahal dari seliter bensin. Namun perlahan, seiring dikuranginya subsidi bensin (Premium), popularitas air kemasan bermerek Aqua makin meningkat dan harganya dianggap masuk akal.

Diversifikasi kemasan pun berkembang, dari galon, botol, hingga gelas. Penetrasi ini makin dalam hingga air putih gratis di warung makan hilang, diganti dengan Aqua gelas atau botol. Sebagai pionir, Aqua bukan sekadar merek, melainkan menduduki puncak kerajaan air. Nama Aqua identik dengan air minum kemasan (AMDK). Sebagai market leader, tantangan Aqua semakin besar, terutama soal sampah plastik. Tirto Utomo kemudian melepas kepemilikannya kepada perusahaan internasional asal Prancis, Danone.

Bisnis air yang legit memunculkan pesaing baru. Grup usaha consumer goods mulai melirik. Yang paling cepat menggebrak adalah Le Minerale, disusul merek lain seperti Vit yang juga langsung melejit.

BACA JUGA : Urus Politik

Apa yang dimulai oleh Tirto Utomo telah menjadi salah satu pergeseran budaya paling ekstrem dalam sejarah konsumsi rumah tangga di Indonesia. Fenomena AMDK dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun telah mengubah budaya “merebus air” menjadi “membeli air”. Apa yang semula dianggap gila di era 70-an kini menjadi standar kenyamanan nasional.

Penetrasi AMDK makin merasuk setelah hadir dalam bentuk air gelas yang kini wajib ada dalam setiap hajatan, menggantikan sajian gelas kaca yang harus dicuci. Perkembangan teknologi dispenser bahkan mempermudah akses air panas dan dingin secara instan. Karena membeli AMDK bermerek terus-menerus menguras kantong, revolusi berlanjut dengan munculnya Depot Air Isi Ulang yang harganya lebih demokratis.

Pada titik ini, masyarakat di berbagai level kelas sosial bergantung pada air yang diproses secara mekanis tersebut. Air kemasan botol pun menjadi simbol mobilitas; air putih kini ada di mana saja dan kapan saja. Kepercayaan terhadap air tanah juga menurun karena kekhawatiran akan rembesan septic tank di pemukiman padat.

Meskipun praktis, kebiasaan mengonsumsi AMDK membawa dampak lingkungan besar, terutama sampah plastik yang menjadi kontributor utama pencemaran di sungai hingga laut. Dampak lainnya adalah komodifikasi sumber daya air. Air yang dulunya merupakan hak publik yang gratis kini menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan korporasi. Budaya beli telah menggeser budaya memasak.

Kini, beberapa anak muda mulai bersikap kritis. Muncul gerakan perlawanan dengan membawa tumbler untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. Apa yang dulu dianggap sebagai lambang kemajuan, ternyata pada saat yang sama menjadi pertanda ancaman bagi lingkungan.

Hilangnya kepul asap dari ceret di dapur kita bukan sekadar tanda kemajuan teknologi, melainkan simbol menyerahnya kedaulatan domestik kita kepada industri. Kita telah menukar kemandirian merebus air dengan kenyamanan botol plastik, sambil perlahan mengubur keyakinan pada tanah dan air kita sendiri.

Namun, ketika generasi muda kini mulai bangga menenteng tumbler isi ulang, ada sebuah pesan tersirat yang sedang dikirimkan: bahwa masa depan tidak seharusnya dibeli dalam kemasan sekali pakai. Mungkin sudah saatnya kita berhenti memuja kepraktisan yang merusak dan mulai menuntut kembali hak atas air bersih yang bisa memancar langsung dari keran rumah kita—sebagaimana mestinya sebuah bangsa yang merdeka di tanah yang kaya air.

note : sumber gambar – SUARA