KESAH.IDLebaran bukan hanya soal kemenangan, tapi juga tentang peta ingatan. Dari ritual sungkem di lereng Kaligesing hingga ‘air kata-kata’ di tanah Minahasa, setiap tegukan memori membawa saya pada satu kesimpulan: sejarah mungkin tak berulang, tapi kebetulan sering kali menyapa dengan rasa yang sama

Memori Lebaran paling seru itu terekam di zaman saya masih kanak-kanak, ketika kakek dan nenek baik dari pihak bapak atau ibu masih ada. Hari Lebaran yang biasanya disertai liburan panjang itu jarang saya lewati di rumah bapak dan ibu.

Sesekali saya memang ikut merayakan Lebaran tanpa pergi ke rumah kakek-nenek, entah Mbah Kulon atau Mbah Wetan. Mbah Kulon adalah sebutan untuk kakek-nenek, orang tua dari ibu saya. Kulon karena mereka tinggal di Kutoarjo. Sementara Mbah Wetan adalah sebutan untuk nenek, ibunya bapak yang tinggal di Kaligesing.

Sama-sama diawali dengan huruf K, namun dua daerah kecamatan di Purworejo itu sungguh kontras. Kutoarjo ramai, bahkan mungkin lebih ramai dari Purworejo karena di sana ada stasiun kereta api. Kutoarjo juga punya banyak perusahaan; seingat saya dulu ada perusahaan minyak kelapa dari kopra, nama pabriknya Sin Hin. Pendek kata, Kutoarjo layak disebut Kuto, atau kota.

Sedangkan Kaligesing biasa disebut gunung, ndeso. Dulu mobil angkutan umum hanya sampai di depan kantor kecamatan. Setelah itu perjalanan ke rumah Mbah Wetan dilanjutkan dengan jalan kaki. Kadang kalau Pakde atau Paklik punya waktu, mereka bisa menjemput dengan kuda.

Karena arahnya berlawanan, maka kalau Lebaran di rumah Mbah Kulon, dipastikan saya tidak akan berlebaran di rumah Mbah Wetan, begitu sebaliknya. Namun jika disuruh membandingkan, berlebaran di rumah Mbah Wetan terasa lebih menyenangkan karena lebih ramai dan banyak ritualnya.

Lebih ramai karena anak-cucu Mbah Wetan lebih banyak, sehingga kalau Lebaran terkumpul puluhan orang. Beberapa hari sebelum Lebaran, kesibukan sudah terasa. Yang paling seru adalah membuat jenang atau dodol. Malam menjelang hari Lebaran menjadi saat yang menyenangkan karena saya dan saudara-saudari yang lain dibebaskan ikut ramai sampai malam.

Selain ikut ramai mengerjakan ini dan itu yang sebenarnya lebih banyak ngerecokinya, tak lupa saya dan saudara lainnya mulai menghafalkan untaian kata untuk sungkeman keesokan harinya. Biasanya sesudah salat Id, Mbah akan duduk di kursi ruang tengah dan kami berurutan mlaku ndodok untuk sungkem.

Sungkeman adalah saat yang mendebarkan sehingga yang dihafal semalam kadang tak terucap, sehingga suara yang paling keras hanya pada bagian “Ngaturaken sembah sungkem……”. Setelah itu selanjutnya tak jelas karena lupa. Saat lupa, yang paling penting adalah menempelkan kepala di dengkul Mbah. Itu kode bahwa ucapan sembah sungkem sudah selesai dan menunggu wejangan dari Mbah.

Seperti rangkaian ucapan sungkem yang template, nasihat dari Mbah juga template adanya. Jarang Mbah memberi nasihat personal satu per satu untuk anak dan cucunya yang jumlahnya banyak. Pada intinya, Mbah akan mengatakan bahwa sebagai orang tua juga sering banyak salahnya. Jadi kesempatan Lebaran digunakan untuk saling maaf-memaafkan.

Kalau berlebaran di rumah Mbah Kulon rasanya lebih simpel, tak terlalu banyak ritual. Ritualnya bermain seperti kebanyakan anak-anak kota; bermain petasan atau kembang api di malam hari. Sementara kalau Lebaran di rumah, jauh lebih simpel lagi. Tetap masih ada sungkem, bukan ke bapak atau ibu, tetapi ke mbah-mbah tetangga rumah.

Yang pertama biasanya saya akan sungkem ke Mbah Kaji. Biasanya saya akan berkunjung ke rumah Mbah Haji Suparlan setelah utusan beliau datang ke rumah mengantar ketupat dan opor ayam. Kedatangan ketupat dan opor ayam menjadi pertanda pintu rumah Mbah Kaji sudah terbuka untuk kunjungan Lebaran.

Habis itu saya bersama teman-teman sepermainan akan keliling kampung. Salah satu yang wajib dikunjungi adalah rumah Mbah Mangun yang pintu depannya hanya akan dibuka di hari raya. Di luar hari raya, yang bertamu akan lewat pintu samping atau belakang. Kalau capek berkeliling, saya dan teman-teman akan ngepos di rumah Mbah Somo. Di kediaman Mbah Somo kami bebas untuk leyeh-leyeh dan istirahat.

BACA JUGA : Maling Bergizi

Ritual Idulfitri itu hilang ketika saya pindah ke Sulawesi Utara. Di sana tak ada sungkeman-sungkeman lagi. Merayakan Lebaran di Sulawesi Utara meski tak berkunjung ke banyak orang rasanya lebih intim. Yang dikunjungi benar-benar yang dikenal dan dekat.

Di Pineleng, Minahasa, Lebaran terasa unik. Rumah Pak Umar yang rutin saya sambangi ketika malam. Kebiasaannya memang begitu; Pak Umar selalu menyediakan waktu malam hari ketika tamu yang berkunjung mulai sedikit. Bukan apa-apa, karena di hari Lebaran itu ketika saya dan teman lainnya berkunjung ke sana, Pak Umar akan menyajikan bir dan minuman keras lainnya. Karena alasan itu pula, Pak Umar selalu berpesan agar kami datang di malam hari.

Di Pineleng tidak banyak rumah saudara muslim yang saya kunjungi, walau begitu tetap butuh waktu seharian karena kunjungannya terasa intim. Berkunjung bukan hanya singgah, tapi duduk dan bercerita berjam-jam. Namun pengalaman lain di Sulawesi Utara yang paling berkesan adalah Lebaran Ketupat.

Tradisi Lebaran Ketupat adalah warisan dari masyarakat Jawa Tondano (Jaton), kelompok masyarakat keturunan para pengikut Kyai Modjo yang diasingkan oleh kolonial Belanda ke Sulawesi Utara. Kyai Modjo diasingkan bersama kurang lebih 40 pengikutnya yang kesemuanya laki-laki. Para pengikutnya kemudian menikah dengan warga setempat. Dari pernikahan itulah lahir penerus yang disebut sebagai Jaton.

Selain mengajarkan pertanian sawah, Kyai Modjo dan pengikutnya yang merupakan kaum muslim meninggalkan tradisi perayaan Lebaran Ketupat. Di Jaton, Lebaran Ketupat berlangsung seperti pesta rakyat. Siapapun yang datang, kenal tidak kenal, bisa singgah ke rumah warga untuk bersilaturahmi. Tamu akan dijamu dengan ketupat lengkap dengan lauk-pauknya.

Memasuki tahun 2000-an, perayaan Lebaran Ketupat diadopsi oleh komunitas muslim di Kota Manado. Kampung-kampung muslim di sana merayakan Lebaran Ketupat secara komunal. Adaptasi ini membuat konsentrasi perayaan tidak lagi hanya di Jawa Tondano.

Keramaian Lebaran Ketupat kemudian terbagi. Perayaan di Kota Manado bahkan lebih meriah daripada di Jawa Tondano; benar-benar diset seperti pesta rakyat yang dilengkapi pertunjukan termasuk panjat pinang. Saya sempat beberapa tahun menikmati Lebaran Ketupat di Manado, dan sama seperti di rumah Pak Umar, saat merayakan Lebaran Ketupat di rumah teman-teman, mereka tak segan menyajikan “air kata-kata”.

BACA JUGA : Kedai Merana

Saya tak tahu persis perkembangan Lebaran Ketupat di Manado tahun-tahun belakangan ini. Kabar yang lebih terdengar justru keriuhan saat bulan puasa. Sejak tahun lalu, terdengar kabar Pasar Ramadhan malah diserbu oleh mereka yang tidak berpuasa, hingga yang berpuasa malah tak kebagian takjil. Pasar Ramadhan malah jadi festival kuliner umum.

Selepas dari Sulawesi Utara, saya berlebaran di Samarinda, Kalimantan Timur. Sekilas beberapa memori masa kecil kembali hadir karena saya tinggal di wilayah yang penghuninya sebagian masih fasih berbahasa Jawa. Saat Lebaran tiba, biasanya saya akan mengunjungi rumah warga sekitar, terutama yang lebih tua.

Setelah itu saya akan berkunjung ke rumah satu-dua orang teman yang biasanya menjadi tempat berkumpul teman-teman lainnya. Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dulu saat Lebaran Ketupat, ada rumah teman yang selalu kami kunjungi. Namun beberapa tahun terakhir tidak lagi karena ibu teman saya sudah wafat. Saya ingat kami selalu diundang dengan iming-iming lodeh terenak buatan ibunya.

Bukan hanya ibu teman yang berkurang, melainkan teman-teman saya juga. Beberapa teman yang dulu rumahnya menjadi tempat berkumpul dan senang mengumpulkan teman juga sudah berpulang. Walau ada yang berkurang, dalam hidup selalu muncul pengganti.

Di Lebaran kali ini, bahkan sampai hari keempat masih ada undangan untuk menghadiri open house. Bukan open house ala pejabat yang tak pernah sekalipun saya datangi, melainkan dari teman atau sahabat dekat.

Déjà vu, pengalaman yang saya alami di Manado hadir kembali pada Lebaran kali ini. Saya berlebaran ditemani Cap Tikus—yang jauh lebih modern dari yang pernah saya minum dulu. Botolnya estetik karena diproduksi secara legal oleh sebuah badan usaha yang ternyata beralamat di Jakarta. Cap Tikus ini istimewa karena punya rasa, yakni kopi.

Walau begitu, jelas tak bisa disandingkan dengan kopi beruap yang juga saya suka. Karena biarpun lebih lembut dan baunya tak menyengat, Cap Tikus rasa kopi tetap punya kandungan alkohol yang tinggi; setiap tegukannya tetap terasa menggigit.

Sejarah takkan berulang, yang lalu pasti akan berlalu. Namun terkadang ada kebetulan yang serasa mirip dalam memori sehingga apa yang telah lama berlalu seolah hadir kembali. Hidup memang kerap berisi kebetulan-kebetulan. Walau begitu, antara yang lalu dan sekarang, di sini dan di sana, sama sekali tak ada benang merah yang menghubungkannya.

Karena mengobrol sambil menikmati Cap Tikus rasa kopi, di masa Lebaran tahun ini saya mendapat kutipan yang menggelitik dari seorang teman yang tak lama lagi akan pergi umrah. Dia menggambarkan sebuah meme tentang seseorang yang berlebaran di tanah rantau. Karena tak bisa pulang, si perantau memposting status: “Biarlah jauh dari keluarga, yang penting tetap sungkem pada orang tua.”

Mulanya saya tak paham. Bagaimana bisa? Namun karena konteks perbincangannya adalah minuman, saya pun akhirnya tertawa karena yang dimaksud dengan “orang tua” adalah botol anggur merah cap Orang Tua.

note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM