KESAH.IDDi balik kemegahan Ibu Kota Nusantara yang sedang sibuk “menanam semen” dan membangun menara beton, Bukit Tengkorak menyimpan narasi yang jauh lebih organik sekaligus ironis. Di tengah ketidakpastian status lahan dan bayang-bayang megaproyek, warga lintas Borneo di sana justru lebih dulu meresmikan kedaulatan pangan mereka lewat panen padi gunung yang melimpah. Peladang di Bukit Tengkorak membuktikan bahwa di atas tanah yang masih dianggap buram secara administratif, kemandirian hidup justru tumbuh subur dari sebuah tugal kayu dan keyakinan pada kemurahan langit.

Ini kali ketiga saya ke Bukit Tengkorak, Suko Mulyo, Sepaku. Ritualnya masih sama; begitu sampai, saya disambut dengan “air kata-kata”. Hanya saja kali ini berbeda, bukan Cap Tikus dari Manado, melainkan Arak Bali yang sama-sama jernihnya.

“Dapat tangkap satu kontainer,” ujar salah seorang di antara orang-orang yang duduk di teras rumah.

“Tak apalah, toh sama-sama keras hantamannya,” ujar saya dalam hati.

Seteguk pertama menjadi pembuka yang indah untuk memulai perbincangan tentang padi yang sudah menguning dan mulai dipanen. Sejarah memang bergerak cepat di Bukit Tengkorak—sebuah nama yang terdengar menyeramkan dan membuat orang mudah keliru menyebutnya Gua Tengkorak. Nama itu seolah menyimpan kelamnya masa lalu, berawal dari cerita warga yang mencari sesuatu di dalam hutan lalu menemukan tulang-belulang berserak bersama perlengkapan tentara. Kemungkinan besar tentara Jepang yang menyingkir karena kekalahan.

Kini, itu hanya sebutan yang makin populer seiring kedatangan warga lintas Borneo yang ingin membangun kehidupan baru di antara rimbunnya wilayah yang dilepaskan dari Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto. Area Bukit Tengkorak mulanya adalah bagian dari paru-paru hijau yang dilepaskan menjadi Area Peruntukan Lain (APL) untuk transmigrasi lokal. Namun sebelum program itu berjalan, sejarah berbelok. Sepaku diumumkan menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Bukit Tengkorak pun berada di garis depan, tepat di bibir Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Rencana transmigrasi urung, namun Bukit Tengkorak telanjur ramai diduduki warga dari berbagai penjuru. Setidaknya ada 300 KK yang kini mengklaim lahan di sana. Kawasan ini bertetangga dengan Bukit Soeharto, dipisahkan jalan tanah yang di beberapa titik hampir putus, dan terbagi dalam blok-blok berdasarkan ketua rombongan. Tak semua blok berpenghuni; sebagian hanya menyisakan pondok kosong. Pernah ada rencana pembangunan PLTS komunal, namun batal karena jumlah warga yang menetap tak sebanyak daftar pengklaim lahan.

Salah satu ciri menonjol di sini adalah “Hutan Pinang”. Konon bibitnya dari Thailand, jenis pinang genjah yang cepat berbuah. Warga menanamnya karena diiming-imingi seseorang dari Kalimantan Barat yang berjanji akan membeli dan membangun pabrik pengolahan untuk ekspor. Sayangnya, janji itu tak terbukti. Buah pinang dibiarkan bergelantungan hingga jatuh berserakan. Pemiliknya bahkan tak keberatan memberikan pinang itu secara gratis kepada siapa pun. Pinang telah menorehkan luka kecil di antara pemukim yang tengah membangun asa di IKN.

Pondok huma, tempat berteduh dari panas dan hujan serta pusat kendali untuk mengusir burung yang menyukai bulir padi.

BACA JUGA : Warung KMP

Bukit Tengkorak sebenarnya tak jauh dari jalan negara, namun terasa terisolasi karena aksesnya adalah bekas jalan angkut (hauling) tambang ilegal. Wilayah ini menyisakan lubang-lubang besar dan longsoran di lerengnya. Setelah tambang batu bara ditertibkan, tambang pasir justru masih berjalan. Setiap kali ke sana, saya selalu berpapasan dengan truk pengangkut pasir.

Itulah kehidupan yang harus diterima. Sebagian warga telah mempertaruhkan segalanya hingga tak ada jalan pulang ke kampung halaman. “Kami sudah habis-habisan. Di sinilah tanah harapan kami,” ujar salah satunya. Maka, hal pertama yang harus diamankan adalah pangan. Padi ladang pun disemai dan dirawat agar cukup untuk persediaan setahun, bahkan lebih.

Di lereng Bukit Likon, hamparan padi ladang tampak melambai. Bulirnya padat menguning, siap dipetik dengan ani-ani. Berbekal ani-ani dan lanjong—yang kini dianyam dari tali plastik, bukan rotan—kaum lelaki dan perempuan beriringan ke ladang. Memetik dengan ani-ani butuh kesabaran; tangkai demi tangkai dipetik hati-hati dengan mata pisau cutter yang tajam. Bertani memang jalan yang penuh “ekologi kesabaran”. Petani sepenuhnya bergantung pada semesta; soal panas dan hujan tak ada yang bisa dipengaruhi.

Di sinilah moral ekologi kesabaran dibangun. Namun, kesabaran itu berbuah manis. “Padi ini cukup untuk dua tahun,” jawab mereka. Mereka tak terbiasa menghitung volume secara komersial karena padi ditanam untuk kehidupan, bukan komoditas. Terik mentari menyengat, namun bau harum dari dapur mulai menggoda. Bidawang (labi-labi) rica-rica menebarkan aroma eksotis hasil biodiversitas Kalimantan. Sebelum angan semakin melayang karena Arak Bali, alangkah baiknya Bidawang itu segera disantap.

Dipetik tangkai demi tangkai dengan ani ani, panen padi adalah ujian kesabaran dan konsistensi

BACA JUGA : Moyang Ayam

IKN diperkirakan akan berpenduduk jutaan jiwa nantinya, meski saat ini baru berkisar 200–300 ribu jiwa. Kota yang terbilang kecil ini ternyata punya masalah besar dalam ketahanan pangan; ia belum berdaya menyediakan kebutuhan warganya sendiri. Berjuang sendiri karena secara administratif belum tercatat sebagai warga IKN, penduduk Bukit Tengkorak hidup mengikuti ritme alam di tengah deru mesin.

Jika di pusat kota ada kesibukan besar “menanam semen”, di Bukit Tengkorak warga bergiat menanam padi gunung dengan cara paling tradisional. Tanpa proyek cetak sawah atau irigasi canggih, mereka hanya mengandalkan kemurahan langit. IKN adalah masa depan yang dijanjikan, namun realitas adalah hari ini. Kemandirian pangan lewat menugal adalah cara paling mujarab untuk memastikan kehidupan.

Hari yang dinanti tiba. Bulir padi menguning bukan sekadar pertanda panen, tapi pernyataan bahwa petani bisa membangun kedaulatan selama ruang kelolanya dijamin. Tanpa blueprint ketahanan pangan perkotaan, warga Bukit Tengkorak secara organik membuktikan kemandiriannya. Panen ini adalah prestasi sekaligus ironi, mengingat status lahan mereka yang masih menggantung. Mereka mulai menyatu dengan tanah, namun secara administratif masih dianggap “okupan”.

Negara boleh saja menyebut mereka sebagai okupan atau penduduk tanpa alas hak, namun tanah tidak pernah berbohong. Bulir padi yang menguning di Bukit Tengkorak adalah bukti sah kemanunggalan rakyat dengan buminya—sebuah sertifikat alamiah yang lebih tua dari aturan administrasi mana pun. IKN tak boleh dibangun di atas awan buram ketidakpastian bagi warganya. Sebab, ketahanan pangan yang sejati tidak lahir dari cetak biru di meja birokrasi, melainkan dari rasa aman para petani yang tahu bahwa tanah yang mereka cangkul hari ini tidak akan dirampas esok hari. Kedaulatan pangan tanpa kedaulatan lahan hanyalah sebuah ilusi.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM