KESAH.ID – Rumah roboh, tersapu arus dan porak poranda. Akese apapun terputus, listrik padam, sinyal hilang hingga hidup harus bergantung pada bantuan darurat. Gambaran derita massal itu terjadi di wilayah banjir bandang yang menimpa Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Semua terjadi bukan karena bumi renta, karena dalam hitungan manusia bumi sudah renta dari lama. Sumbangsih perilaku terbesar yang menyebabkan banjir bandang adalah perilaku baik masyarakat maupun kebijakan yang abai membayar hutang lingkungan.
Pagi itu saya memilih biji kopi Bener, bukan kopi robusta dari Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, melainkan arabika yang ditanam di Dataran Tinggi Gayo, tepatnya di Kabupaten Bener Cerah.
Ditanam di ketinggian lebih dari 1000 meter, kopi Bener ini mempunyai karakteristik yang kuat, dengan ciri keasamaan atau acidity yang rendah. Aroma dan rasanya memiliki sentuhan nutty seperti kacang-kacangan dan buttery atau ada sentuhan rasa mentega. Aromanya wangi dan ada manis-manisnya.
Soal kekentalan atau body jangan ditanya, kuat sensasi kentalnya saat diteguk. Dengan profil seperti ini tak mengherankan jika kopi Bener menjadi salah satu yang ternama diantara kopi dataran tinggi Gayo lainnya.
Saya memilih kopi Bener karena bisa jadi biji yang tersedia merupakan stok terakhir dan besok-besok akan langka. Mengingat daerah penghasilnya menjadi salah satu daerah yang menjadi korban bencana keairan, banjir bandang yang menimpa wilayah Sumatera, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Banjir bandang yang terjadi bersamaan di tiga provinsi ini menjadi salah satu bencana banjir terparah dalam sejarah banjir di Indonesia. Sebagian warga disana mengambarkan sebagai tsunami daratan.
Kejadian di akhir November ini memang mengejutkan, terjadi hampir bersamaan di tiga provinsi dan kurang lebih 9 kabupaten. Banjir yang membawa lumpur dan material organik seperti batang-batang pohon membuat lumpuh. Ditambah dengan longsoran membuat daerah-daerah terdampak bencana itu terisolasi.
Media sosial kemudian dipenuhi dengan gambar dan video tentang dahsyatnya banjir yang terjadi. Semua visual itu menunjukan betapa dahsyatnya kekuatan air menghancurkan semua yang dilewati.
Yang kebetulan merekam pasti tak berdaya melihat apapun yang perlu diselamatkan namun tersapu oleh banjir. Pasukan terlatih sekalipun akan kesulitan jika harus melawan banjir bandang, karena semua tak bisa diduga sebelumnya.
Ada banyak duka, pun juga luka yang tak mudah untuk segera disembuhkan.
Seteguk demi seteguk saya nikmati seduhan kopi Bener dengan V60, saya memilih yang panas, bukan ice atau japanese. Diseduh panas akan membuat saya menikmati seruput demi seruput, hingga dalam setiap tegukannya saya bisa menyelami kejadian banjir di pulau seberang sana.
Saya sendiri tak pernah punya pengalaman tentang banjir bandang, yang biasa adalah banjir rutin di Kota Samarinda, air tergenang. Sesekali saja di daerah tertentu genangan air itu ada aliran derasnya.
Di Samarinda banjir bandang biasanya terjadi kalau ada tampungan air jebol, biasanya bekas lahan tambang. Kejadian seperti ini rasanya pernah menimpa daerah Simpang Pasir, Loa Bakung, Ring Road dan lain-lain. Tapi banjir bandang di Samarinda tak sedramatis yang terjadi di wilayah lainnya.
Sambil meneguk kopi Bener yang mulai dingin, saya bertanya-tanya apa penyebab banjir bandang besar seperti itu?.
Saya jawab pertanyaan saya sendiri. Penyebabnya adalah air.
Ya pasti banjir disebabkan oleh hujan, intensitas hujan yang lebat dan waktu yang cukup panjang.
Tapi jawaban tak boleh berhenti disitu, karena hujan lebat dan lama tidak selalu menyebabkan banjir.
Jadi apa?.
Salah satu penyebab utama banjir bandang terutama di daerah-daerah yang mempunyai banyak anak sungai adalah sungai yang tidak terawat dan terpelihara.
BACA JUGA : Memanen Coklat
Salah satu ciri khas dari banjir bandang adalah airnya yang datang tiba-tiba, dalam jumlah besar dan berarus kencang itu akan membawa material berupa batuan dan kerikil, batang kayu, lumpur dan tanah longsoran.
Ketika datang tak terdengar suara layaknya aliran air, bunyinya mengelegar seperti bukit runtuh, suara yang sulit dideskripsikan karena kebanyakan baru mendengar untuk pertama kalinya.
Hampir tak ada kesempatan untuk menghindar, kalaupun bisa yang dibawa hanya seadanya. Kembali untuk mengambil sesuatu, atau menolong kerabat lainnya sama artinya dengan bunuh diri.
Ketika banjir bandang datang, airnya seperti binatang buas dengan gigi dan taring yang tajam. Merobek, mematahkan dan melumat apa saja yang diterjangkan. Semua porak poranda, banjir bandang tak pandang bulu.
Banjir bandang selalu menyebabkan luka yang dalam, yang selamat melihat apapun yang dipunyai dan siapapun yang dicintai, terseret arus, digulung material penyertanya, rapuh tanpa daya. Teriakan minta tolong jadi seperti ucapan salam perpisahan.
Kekuatan air saat banjir bandang memang tak terperi, debit airnya sangat besar. Volume air yang mengalir meningkat drastis melebihi kapasitas sungai. Airnya juga keruh dan pekat karena tercampur dengan lumpur dan juga tanah longsoran, ditambah lagi kerikil, batuan dan pasir sungainya yang ikut hanyut.
Campuran antara volume air yang tinggi, arus deras, dengan semua material yang turut serta membuat banjir bandang yang gelombang awalnya bisa mencapai 3 sampai 6 meter mempunyai daya rusak yang tinggi. Walau sapuannya tak lama, tapi bekas yang ditinggalkan selalu membuat merana dan nestapa yang melihatnya.
Secara teori setiap peristiwa selalu mengirimkan tanda-tandanya terlebih dahulu. Pun demikian dengan banjir bandang. Tanda-tanda umum yang biasanya muncul menjelang kejadian banjir bandang adalah air sungai mendadak keruh. Jika sebelumnya air sungainya jernih, air berubah warna menjadi keruh pekat karena mulai membawa lumpur atau tanah, dan ranting atau dahan-dahan yang ringan.
Ada suara gemuruh atau raungan aneh dari arah hulu. Akan terdengar suara deru keras dan konstan dari arah hulu, sering diibaratkan seperti suara kereta api barang yang mendekat. Suara ini berasal dari gesekan batu, kayu, dan material yang terseret oleh arus deras.
Air sungai tiba-tiba surut di bagian tertentu. Ini menandakan ada bendungan karena longsoran atau material lainnya sehingga aliran sungai terhambat. Lalu bendungan itu jebol dan datanglah air bah.
Pertanda lain yang mesti diwaspadai oleh mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai adalah awan pekat dan hujan deras di hulu.
Sama seperti tsunami, jika melihat tanda-tanda yang mengarah pada kejadian tsunami maka langkah awal yang harus diambil adalah segera pergi ke tanah yang lebih tinggi, jauhi pantai sejauh mungkin. Begitu juga dengan mereka yang melihat tanda-tanda banjir bandang, segera jauhi sungai dan pergi ke dataran yang lebih tinggi.
Hanya saja selama ini kita tak pernah diajari soal tanda-tanda alam seperti ini. Meski melihat atau mendengar, bisa jadi kita tak tahu kalau itu adalah tanda-tanda banjir bandang.
Nanti kita tahu setelah kejadian.
BACA JUGA : Digoyang Botol
Bicara soal penyebab bisa saja kita akan terus berdebat.
Tapi pada dasarnya banjir tidak pernah terjadi karena penyebab tunggal.
Cepat-cepat mengatakan banjir terjadi karena cuaca ektrim, hujan dalam intensitas tinggi dan waktu yang lama di hulu memang benar tapi tak lengkap.
Pasti ada penyebab lainnya.
Penyebab yang bukan buatan atau karena dinamika alam.
Banjir hari ini apapun itu namanya banjirnya selalu ada campur tangan manusia sebagai penyebabnya, entah manusia yang memegang jabatan atau tidak. Kebijakan baik resmi maupun tidak resmi kerap kali turut memberi kontribusi besar memanggil banjir.
Perilaku entah perilaku masyarakat maupun perilaku kebijakan kerap membuat tanah kehilangan daya tangkap, daya tampung dan daya serap air hujan. Akibatnya run off atau air permukaan dikala hujan menjadi meninggi. Hampir semua curahan air hujan akan menjadi run off dan mengalir di permukaan. Jika daerahnya berada dalam ketinggian, air ini akan membanjiri sungai atau anak-anak sungai di wilayah itu.
Dan umumnya sungai-sungai di negeri kita tak terpelihara. Tidak ada pengawasan atau pemantauan, perawatan dan pemeliharaan sungai dari hulu ke hilir. Badan atau institusi yang mempunyai mandat menjaga sungai lebih asyik melakukan pembangunan sungai lewat mahzab normalisasi sungai.
Di wilayah dengan kegiatan alih fungsi lahan yang tinggi, bukaan tutupan lahan berhutan berganti menjadi kebun, tambang, permukiman dan lainnya akan membuat sungai-sungainya dipenuhi dengan material organik seperti batang kayu dan lain-lainnya. Material ini bisa menumpuk di satu titik dan kemudian membuat bendungan alami di sungai. Di satu alur sungai bisa terjadi beberapa bendungan. Ketika air permukaan datang, volume air meningkat dan bendungan ini jebol, maka banjir bandang akan terjadi.
Jika dimulai dari hulu, makin ke hilir kekuatan airnya semakin besar, daya rusaknya makin meninggi.
Banjir bandang adalah bencana hidrologi, selain karena penyebab alam yakni cuaca ektrim yang tidak lagi terduga, akibat perubahan iklim. Di hulu atau tengah selalu ada jejak deforestasi yang panjang, pengundulan atau alih fungsi hutan yang tak tersembuhkan.
Ada peradaban hutan yang runtuh sehingga menyebabkan tanah rapuh, tak lagi mampu menangkap, menyerap dan menahan air.
Kita punya hutang yang disebut hutang ekologis.
Jebakan ekonomi hutan dengan cara membabat hutan yang kemudian menguntungkan orang-orang tertentu dalam jangka panjang adalah tabungan penderitaan untuk orang lain yang sebagian besar tak tahu apa-apa, tak menikmati apa-apa dari ekploitasi sumberdaya alam di Daerah Aliran Sungai.
Kita tahu bahwa mereka yang mempunyai konsesi, terhubung dalam rantai pasok logistik pendukung ekploitasi alam tinggal di tempat-tempat nyaman yang jauh dari jangkauan banjir bandang.
Mereka bahkan setelah banjir bandang lewat, datang bak pahlawan. Menerjang lumpur, memikul sembako untuk memberi bantuan kepada mereka yang kehilangan segalanya.
Padahal semua derita warga ini disebabkan oleh kelakuan mereka yang tak mau membayar hutang ekologis karena semua yang didapat dari alam disimpan dalam rekening-rekening bank.
note : sumber gambar – KOMPAS








