KESAH.IDBukit Tengkorak di Suko Mulyo, Sepaku, awalnya merupakan lokasi penambangan batu bara ilegal yang telah merusak ribuan hektare lahan. Meskipun namanya terdengar menyeramkan, tidak ada bukti yang jelas tentang keberadaan tengkorak di tempat ini. Kini, Bukit Tengkorak termasuk dalam kawasan lindung di peta Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai Lokasi Rimba Kota, beralih fungsi dari area tambang menjadi kawasan yang dilindungi. Lokasi ini penting dalam konteks pengembangan IKN dan menjadi simbol transformasi dari kerusakan akibat penambangan ilegal menuju pelestarian lingkungan

Nama yang seram benar ini mulai saya bincang berbulan lalu. Bukit yang masuk dalam wilayah Desa Suko Mulyo, Sepaku ini dikenal sebagai area permukiman baru masyarakat Dayak. Bukan hanya dari Kaltim, tetapi juga dari Kalteng bahkan dari Kalbar.

Karena belum kesana saya hanya bisa membayangkan, bayangan berdasarkan memori dari beberapa kampung masyarakat Dayak yang pernah saya datangi. Pasti rumahnya kayu, panggung, dengan teras di depan dan belakang serta ruang tengah yang longgar yang biasa dipakai untuk menerima tamu, makan atau menjamu dan kalau malam bisa dipakai untuk tidur behampar.

Saya berusaha untuk pergi kesana, mencari-cari cara.

Jalan terbuka ketika pergi ke Lung Anai, ternyata sebagian warga Lung Anai mempunyai petak lahan lahan disana. Mereka mengklaim beramai-ramai lewat kelompok tani. Saya jadi ingat reklaiming di jaman paska reformasi. Tapi yang di Bukit Tengkorak ini tak pakai demonstrasi lebih dahulu dan juga tak didatangi bertruk-truk polisi.

Menurut kisah yang dituturkan oleh beberapa orang nama Bukit Tengkorak ada berbagai versi. Biasanya orang akan membayangkan disana ada gua dengan tengkorak berserakan, tapi ternyata tidak demikian. Gua tengkorak ada di tempat lain.

Wilayah ini mulanya masuk dalam Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Suharto, tidak berpenghuni dan tak juga ada yang beraktivitas disana. Namun pada suatu ketika ada sekolompok orang kesana dan mereka menemukan tumpukan tengkorak, lebih tepatnya tulang belulang dan aksesories lainnya. Aksesories yang ditemukan menunjukkan yang telah menjadi belulang adalah tentara, kemungkinan tentara Jepang.

Kawasan itu kemudian dikenal dengan sebutan Bukit Tengkorak.

Sebutan ini kemudian populer setelah kawasan ini dilepaskan dari Tahura Bukit Suharto. Kalau tidak salah lewat Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur. Gubernur karena Tahura Bukit Suharto ada di dua wilayah kabupaten yakni Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Area seluas 3000 hektar menjadi APL, Area Peruntukan Lain, salah satunya adalah konsesi tambang.

Tapi wilayah itu kemudian dicadangkan juga sebagai area transmigrasi lokal oleh Pemerintah Daerah Penajam Paser Utara.

Rencana itu urung karena Kecamatan Sepaku kemudian ditetapkan sebagai Ibu Kota Baru yang kemudian dinamakan Ibu Kota Nusantara.

Sebelum ada penetapan Sepaku sebagai Ibu Kota Nusantara, sudah ada desas-desus yang berkembang bahwa Ibu Kota akan dipindah kesana. Waktu itu sudah mulai ada mobilisasi warga ke Bukit Tengkorak, termasuk warga dari Kalimantan Tengah.

Warga digerakkan oleh kelompok dan individu, termasuk oleh wakil rakyat untuk menjadi bagian dari masyarakat Ibu Kota Negara.

Pembiayaan ke Bukit Tengkorak selain dari sponsor orang tertentu juga dikutip iuran, iuran untuk pembukaan lahan. Konon dijanjikan sesampai di Bukit Tengkorak lahan sudah siap.

Hanya saja janji itu meleset, ternyata lahan masih belukar, jalanan masuk juga buruk dan tidak ada apa-apa disana.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, beberapa terus bertahan dan merintis lahan.

Tak mudah memasuki kawasan Bukit Tengkorak, butuh mobil yang joss dan gass poll

BACA JUGA : Jambu Air

Lokasi rencana pendirian Rumah Betang/Rumah Panjang

Kabar tentang lokasi yang di-APL-kan terdengar oleh berbagai kelompok. Dan dengan mengatasnamakan kelompok tani, beberapa kelompok merintis lahan disana. Juga individu-individu tertentu yang bisa memperkerjakan orang, baik untuk merintis maupun menjaga lahan disana.

Kawasan ini diluaran kemudian dikenal sebagai Kampung Dayak karena mayoritas yang merintis lahan adalah masyarakat dayak Ot Danum, Manyaan dan Bakumpai dari Kalimantan Tengah serta masyarakat Dayak Kenyah dari Lung Anai.

Lahan yang dirintis bervariasi antara 2, 4, 6 hingga sepuluhan hektar.

Dalam sebuah pemberitaan Kepala Desa Suko Mulyo sebelum yang sekarang ini pernah mengeluarkan surat tanah untuk ratusan orang, namun kemudian dibatalkan.

Ruang kosong ini kemudian menjadi perebutan, salah satunya adalah penambang.

Pertambangan di wilayah Bukit Tengkorak marak sebelum pemilu 2024 lalu. Tanda-tanda masih jelas, di kanan kiri jalan masuk menuju bukit tengkorak masih terlihat bekas-bekas sisa tumpukan batubara.

Di kanan kiri jalan juga terlihat bekas-bekas galian. Dan yang paling jelas adalah bangkai truk berkelir putih yang teronggok di pinggir jalan.

Setelah tambang batubara ditertibkan, muncul penambang galian c, menambang pasir.

Aktivitas pengangkutan hasil galian ini membuat jalan dusun berantakan. Warga mengeluh namun Kepala Desa enggan memperbaiki jalan karena bakal rusak lagi.

Di jaman marak pertambangan batubara banyak kelompok memasang portal untuk menarik biaya ini dan itu.

Situasi yang kemudian membuat warga dan pemerintahan Desa Suko Mulyo enggan jika diajak berbincang perihal Bukit Tengkorak.

Memang butuh perjuangan untuk memasuki Bukit Tengkorak. Ketika hari banyak turun hujan agak mustahil masuk ke sana dengan kendaraan biasa, butuh kendaraan double gardan. Memakai motor juga bisa tetapi dengan ban trail.

Jika mencoba masuk dengan kendaraan biasa lalu sesampai dalam hujan deras, pasti bakal tertahan untuk beberapa lama.

Setelah melewati jalan berliku, naik turun dengan beberapa titik kubangan, sampailah saya ke Bukit Likon. Di bukit itu ada gereja, Gereja Uikomene Bukit Likon. Tak jauh di seberang depannya ada masjid.

Gereja mempunyai halaman depan cukup luas, lapangan menghijau.

Saya singgah ke gereja itu sejenak, ternyata pendeta atau gembalanya adalah sepasang suami istri keturunan Minahasa. Pucuk dicinta ulam tiba, sayapun sedikit cas-cis-cus memakai logal melayu Manado.

Tak jauh dari gereja itu rumah Pak Enggo salah satu tokoh masyarakat di Bukit Tengkorak berada. Tak jauh dari rumahnya ada bangunan Balai Basarah, tempat ibadah untuk masyarakat Kaharingan yang dipimpin oleh seorang Damang dengan nama panggilan Irung.

Di teras rumahnya, Pak Enggo sedang bercengkrama dengan beberapa orang. Ada orang Jawa, Banjar dan Manado.

Pondok belum selesai, kosong tak berpenghuni

BACA JUGA : Lebih Mahal 

Kebun Pinang yang telah berbuah namun belum ada pembeli buahnya.

Bukit Tengkorak ternyata tak seseram namanya. Pemandangannya seperti pemandangan perkampungan biasanya. Kebun terhampar, rumah atau pondok berjauhan dan sepi.

Asyiknya di permukiman sekecil itu ternyata pluralitasnya tinggi.

Saya bisa bicara gado-gado, terkadang logal Manado, sesekali ditimpali dengan kosa kata Jawa dan bekesah dengan bahasa Banjar. Suasananya jadi akrab melunturkan bayang-bayang yang sebelumnya saya duga-duga dari luar.

Obrolan makin asyik, karena Welly yang orang Manado ternyata membawa tumbler berisi cap tikus. Di botol bening dengan air kata-kata yang bening itu seolah meronta ingin ditumpahkan di gelas sloki. Sayapun bergurau “Bisakah coba dua jari,”

Tak lama sebotol cairan bakar menyala itu tuntas, membakar obrolan yang makin seru.

In Vino Veritas, dalam anggur ada kebenaran.

Pun dalam cap tikus, kata-kata jadi lancar tak ada tedeng aling-aling lagi.

Dan mengalirlah informasi perihal siapa atau kelompok mana yang mengkapling-kapling lahan di Bukit Tengkorak. Ada beberapa kelompok tani, namun ada juga individu-individu yang berpengaruh, entah karena punya uang atau punya kedudukan.

Di balik cerita itu baru muncul keruwetan jika dilihat dari sisi konflik agraria.

Situasi di Bukit Tengkorak menyimpan konflik agraria yang berlapis-lapis.

Setahu saya kawasan Bukit Tengkorak yang terhubung dengan Taman Hutan Raya Bukit Suharto akan menjadi area hijau yang terhubung dengan KIPP. Wilayah ini akan menjadi area lindung, area konservasi atau rimba.

Melihat situasinya termasuk perkembangan di Tahura Bukit Suharto jelas ada tantangan besar di depan mata untuk OIKN mewujudkan kawasan itu tetap menjadi hutan yang lestari.

Bukan hanya ratusan melainkan ribuan orang yang telah meninggali kawasan itu. Bukan hanya pekebun, peladang atau spekulan lahan, tetapi juga permukiman permanen karena ada beberapa kelurahan di Kutai Kartanegara yang masuk dalam Kawasan Hutan Bukit Suharto.

Dan jumlah mereka yang kemudian merambah juga bertambah, karena pintu masuk ke dalam kawasan Bukit Suharto ada dari berbagai arah.

Melewati jalan poros Balikpapan – Samarinda yang lama menjadi sangat kentara betapa tutupan vegetasi di kanan kiri jalan makin tipis. Artinya bukaan lahan di Tahura Bukit Suharto makin masif justru setelah pengumuman pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Sepaku.

Keterlanjuran yang dulu terbiarkan bahkan menjadi makin kusut.

Kini siapa yang tak mau mendapat tawaran lahan di wilayah IKN?.

Pasti banyak yang mau entah apapun tujuannya.

Di Bukit Tengkorak saja kalau didata ada ratusan nama yang tercatat sebagai pemilik lahan, entah blok atau kaplingan. Telah ada puluhan pondok walau sebagian kosong.

Meski ada Gereja, Masjid dan Balai Basarah serta tiang-tiang Rumah Betang, tapi yang tinggal disana sebenarnya tak banyak.

Yang namanya tercatat sebagai pemilik lahan atau kaplingan juga ada yang tahunan sudah tak lagi menenggok lokasi lahannya.

Kelak kalau mereka ingat dan kemudian datang kembali mungkin lahan itu sudah berpindah tangan.

Pada akhirnya di tempat yang sepi itu memang sungguh ngeri.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM