KESAH.IDAda banyak persoalan di negeri ini yang tidak tuntas-tuntas semenjak puluhan tahun lalu padahal terus menjadi prioritas dalam program pemerintah. Ini menunjukkan ada yang salah dalam cara berpikir dan bertindak dalam mengatasi masalah. Hingga kemudian soal banjir atau sampah ada yang bilang justru masalah itu tetap dipertahankan agar dapat diproyekkan terus menerus. Di saat semua berlomba untuk memutuskan berdasarkan data, ada banyak kebijakan tidak mencerminkan first principle thinking.

Negeri-negeri lain berlomba untuk mengejar kemampuan teknologi. Tiongkok yang dulu dikenal sebagai negeri petani, kemudian merevolusi diri, bukan lewat revolusi mental ala-ala Jokowi, melainkan melalui industrialisasi.

Bertahun-tahun dikenal sebagai negeri penjiplak dan peniru hingga dipandang sebagai Negeri KW, Tiongkok kini menjadi salah satu negeri yang terdepan dalam teknologi. Amerika pun mulai ketar-ketir karena supremasinya dalam teknologi perlahan digeser oleh Tiongkok.

Dalam hal gadget, peralatan elektonik untuk keperluan harian dan gaya hidup, Amerika Serikat kini hanya tinggal menyisakan Aple, lewat Mac dan Iphone. Tapi Tiongkok memimpin dengan berlapis-lapis, ada Lenovo, Asus, Infinix dan lain-lain. Sementara HP lebih banyak lagi, ada Huawei, Oppo, Vivo, Realme, Itel, Honor, Infinix, ZTE dan lain-lain.

Meski Tesla terkenal sebagai pioner mobil listrik massal, namun kini BYD, Omoda, Wuling dan lain-lain dari Tiongkok menenggelamkan mobil Amerika Serikat yang terkenal karena kontroversi foundernya itu.

Lalu dimana posisi Indonesia.

Wapres Gibran Rakabuming Raka memang sempat punya keinginan mengenjot anak-anak Indonesia agar melek teknologi. Dia mengusulkan sejak sekolah dasar diajari coding. Seolah coding adalah ibu dari teknologi.

Lain Gibran, lain pula Prabowo sebagai Presiden. Prabowo masih ada dalam jalur cita-cita lama, swasembada pangan.

Padahal yang disebut pangan mestinya tak boleh lagi jadi prioritas unggulan, itu adalah program rutin yang mestinya sudah dicapai karena sudah lebih dari 75 tahun merdeka. Kenapa swasembada pangan terus diulang-ulang, menjadi program unggulan yang gagal terus seperti kita gagal membuang sampah dengan benar.

Pangan seharusnya tak lagi menjadi tantangan, sebab dari profil sampah kita terlihat jelas materi buangan terbanyak adalah bahan sisa pangan. Artinya kita sudah berlebih-lebih dalam soal makan.

Banyak penyakit yang menjadi pembunuh masyarakat disebabkan oleh makan berlebihan. Kelebihan karbohidrat, kelebihan lemak dan kelebihan gula.

Seorang kawan di Facebook dalam statusnya menyebut, cita-cita ketahanan pangan yang digaungkan oleh Prabowo sampai berniat membentuk satuan tugas tersendiri di TNI, bakal membawa kita kembali ke status sebagai negara miskin.

Sepertinya baik Pak Wapres maupun Pak Pres punya masalah dalam memandang persoalan, persoalan utamanya adalah kerangka berpikir.

Cara Presiden maupun Wakil Presiden untuk menghadapi persoalan tidak memakai prinsip menyelesaikan persoalan dasar. Tidak berusaha memecahkan masalah sampai ke komponen dasarnya dan kemudian membangun solusi dari sana.

Sayangnya tipe menyelesaikan persoalan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Presiden dan Wakil Presiden, model ini model umum para pemimpin dan pemangku kebijakan di Indonesia.

Seorang teman bilang kalau wawasan pemimpin Indonesia itu luas, sehingga cara menyelesaikan masalahnya kesana-kemari.

Coba soal pendidikan seperti yang diusulkan oleh Bapak Gibran. Ini tujuan pendidikan kita “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab,”.

Selain kepanjangan dan terlalu banyak tujuannya, jelas sekali kalau tujuan itu tak bakal dicapai dengan mewajibkan peserta didik belajar Coding.

BACA JUGA : Sembilan Kilometer

Saya ingat ketika mulai belajar filsafat puluhan tahun lalu.

Dalam pengantarnya, dosen yang memberi materi tentang apa itu filsafat memberikan penjelasan yang sangat baik dan runut. Sebagian besar tentu saja saya sudah lupa. Tapi yang masih saya ingat adalah salah satu pendekatan filsafat adalah bertanya hingga paling dalam, sampai tak ada lagi jawabannya.

Maka filsafat kemudian buat saya pribadi agak bertentangan dengan teologi dan agama, sebab para tokoh agama selalu mempunyai jawaban. Tak ada pertanyaan yang tak dijawab oleh tokoh agama.

Bertanya hingga paling dasar menjadi salah satu prinsip dari filsafat. Makanya filsafat sering disebut sebagai ibu dari semua ilmu pengetahuan.

Maka saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Elon Musk yang mengatakan “Fisika adalah kerangka yang paling solid untuk memahami dunia,”.

Dan pernyataan itu diperkuat oleh Jansen Huang, CEO NVDIA yang menganjurkan anak-anak muda untuk belajar atau mendalami fisika.

Kenapa kedua tokoh terkemuka teknologi terkini begitu terpesona pada fisika.

Jawabannya hanya satu karena sebuah pendekatan yang khas fisika yang disebut sebagai first principle thinking.

Prinsip ini sendiri berasal dari filsafat Aristoteles.

Bagaimana filsafat kemudian akrab dengan fisika?.

Dulu yang disebut filsuf memang seorang ilmuwan. Mereka sebenarnya ahli matematika, fisika, kimia, biologi, astonomi dan lain-lain.

Kalau pemikiran mereka waktu itu masih terasa spekulatif, karena belum banyak alat bantu atau teknologi untuk membuktikan asumsi-asumsi tertentu. Yang disebut sains pada waktu itu masih mengkonsumsi filsafat, bahkan teologi.

Kelak, matematika, fisika, kimia dan biologi kemudian memisahkan diri dari filasafat dan menjadi sains, ilmu pasti.

Fisika masih membawa prinsip yang sudah ditemukan pada masa Aristoteles. Prinsipnya adalah memecahkan masalah sampai komponen dasarnya dan dari sana kemudian dibangun solusinya.

Dengan memakai first principle thingking, langkah yang pertama adalah membongkar asumsi-asumsi yang biasa dipakai, atau sudah diterima mentah-mentah. Lalu dibangun pemahaman baru berdasarkan logika dan fakta yang paling fundamental.

Memakai prinsip ini berarti tidak meniru praktek lama, tambal sulam dengan asumsi baru, melainkan membongkar persoalan hingga ke akar yang paling dalam lalu membangun ulang dari nol.

BACA JUGA : Pajak Palak

First principle thinking ini berguna bukan hanya untuk memecahkan persoalan yang terkait dengan teknik, melainkan juga untuk menilai kebijakan-kebijakan publik.

Bertahun-tahun atau bahkan dari satu presiden ke presiden lain kita mempunyai mekanisme bantuan sosial atau sosial safety net. Tapi kita tahu program yang dianggap mulia dan punya cita-cita tinggi itu sering menguap begitu saja.  Selalu ada muatan pemberdayaan dalam program bansos, tetapi ternyata dari tahun ke tahun masyarakat miskin atau rentan tak berkurang signifikan.

Dalam konteks ini program bantuan sosial yang berganti-ganti nama, sering hanya meng-copy metode lama, tanpa pernah dipertanyakan lagi apakah metode itu efektif atau tidak, masih relevan atau tidak.

Kebijakan yang direncanakan oleh PPATK yakni akan memblokir rekening yang dorman, bisa juga dinilai dengan metode first principle thinking.

PPATK berniat memblokir rekening dorman karena sering dipakai untuk kejahatan atau judi online.

Pertanyaannya benarkah semua rekening dorman dipakai untuk kejahatan atau apakah semu areking dorman berbahaya?. Apakah rekening yang aktif atau e-wallet tidak pernah dipakai untuk kejahatan atau judi online?.

Lalu mana bukti empiris yang menunjukkan korelasi antara dormansi dan kriminalitas?.

Dan yang paling penting apa sebenarnya tujuan utama kebijakan ini?. Dan benarkah memblokir rekening adalah yang paling efektif?.

Mungkin memang benar rekening dorman berpotensi disusupi untuk menjadi alat bantu kejahatan. Tapi jelas tidak bisa dipukul rata.

Pertama, pemerintah sendiri yang mempunyai kebijakan agar transaksi keuangan selalu melalui perbankan agar mudah ditelusuri atau transparan.

Semua harus membuat rekening.

Karena tidak semua rekening dibuat atas kesadaran sendiri untuk bertransaksi, akibatnya banyak yang kemudian menjadi pasif karena hanya dipakai untuk program, proyek atau bantuan tertentu.

Nah, makanya tidak bisa dipukul rata, bahwa yang dorman atau pasif selalu berbahaya.

Mencegah memang lebih baik dari pada mengobati. Tapi langsung memblokir semua rekening yang dorman jelas tidak tepat, tidak adil dan bisa bikin panik masyarakat.

Polisi rajin sekali mengatakan presisi. Namun PPATK justru mengambil kebijakan yang tidak presisi dan tidak adil.

Langsung menutup begitu saja atau menonaktifkan tanpa komunikasi dengan yang mempunyai rekening jelas tindakan semena-mena. Mereka yang rekeningnya ditutup bisa saja merasa dirinya seperti jadi tersangka.

Rakyat diminta membuat rekening, setelah membuat rekening lalu dibekukan dengan asumsi rekening yang tak aktif digunakan untuk kejahatan. Begitu semena-mena PPATK menuduh, tanpa pilih-pilih. Padahal dengan teknologi AI, mestinya tak susah mana rekening dorman yang berpotensi untuk digunakan dalam kejahatan dan mana yang hanya tak aktif.

PPATK ini jelas aneh bin ajaib, cara berpikirnya amburadul. Karena mau memberantas kejahatan dengan cara mencurigai semua rakyat. Negara ini tak akan menang berperang melawan kejahatan selama rakyatnya sendiri yang malah diperangi.

note : sumber gambar – PIKIRAN RAKYAT