Cobalah minta nasehat pada penulis terkenal tentang writer block. Pingin nulis tapi kemudian macet, tidak bisa meneruskan tulisan. Nasehatnya pasti banyaklah membaca, karena macet biasanya disebabkan oleh kehilangan mood, kehabisan bahan dan ide.
Konon memang semua diawali dari membaca. Dengan membaca orang punya pengetahuan dan pengetahuan itu bisa dibagikan lewat tulisan. Maka penulis yang baik mestinya adalah seorang pembaca yang baik.
Saya bukanlah pembaca yang baik. Sebuah buku hampir tak pernah saya baca secara lengkap. Saya hanya membaca bagian-bagian yang saya anggap perlu. Maka saya tak mungkin hafal isi sebuah buku, apalagi sampai titik dan komanya.
Namun saya tetap bisa menulis meskipun bukan pembaca yang baik. Mungkin karena hal itu kemudian tulisan saya tak cukup baik. Benar bahwa tulisan saya memang berisi hal-hal yang remeh temeh, yang nggak penting untuk orang penting. Karena saya kerap kali menulis apa yang saya dengar. Itulah kenapa saya kemudian rajin nongkrong di warung kopi, mendengarkan kisah dan kesah dari banyak orang.
Apa yang saya dengar itulah yang kemudian saya tulis. Beberapa tulisan bisa menjadi juara, itu bukan hasil saya membaca melainkan menguping pembicaraan orang.
Tak heran jika kemudian ada yang memperhatikan dan berkata “Hati-hati kalau ada dia ini, nanti yang kita obrolkan tahu-tahu jadi tulisan,”
Karena saya doyannya nguping maka jangan tanya buku apa yang bagus. Jangan meminta rekomandasi saya untuk judul dan pengarang yang layak dibaca bukunya.
Tentu saja saya ingin menjadi seperti penulis-penulis terkenal. Yang tulisannya asyik dan menghanyutkan, punya irama, punya nuansa, karakter dan berdampak.
Meski saya tak begtu getol membaca, jika ada yang bertanya bagaimana bisa menulis setiap hari, maka saya juga akan menjawab baca setiap hari. Tetapi saya akan menambahkan yang dimaksud dengan membaca itu bukan hanya membaca buku, membaca dengan mata. Melainkan juga melihat dengan dalam, dengan hati bukan hanya ke buku tetapi juga pada lingkungan sekitar kita.
Bahan tulisan tidak selalu terbaca dari buku, tapi dari banyak tempat lainnya. Lingkungan kita adalah buku besar, kalau kita mampu melihat dengan dalam ada banyak masalah di jalanan, di got, di pasar, di sekolah, di tempat ibadah, di terminal, di sungai dan seterusnya. Dan bahkan kita tak perlu keluar rumah untuk melihat dan membaca masalah. Dalam rumah kita sendiri sudah banyak masalah, mulai dari air PDAM yang tak mengalir, alirannya banyak anginnya, begitu mengalir lancar yang dibawa adalah lumpur. Atau lstrik yang mati-mati, sehari tiga kali kayak makan obat. Tarif yang tiba-tiba melonjak seperti kita memakai listrik untuk menghidupkan pompa penyedot air guna memandikan gajah dan dinosaurus.
Dan masalah-masalah itu adalah pengetahuan kita. Pengetahuan yang kita bisa bagi atau suarakan untuk melakukan perbaikan. Jadi biar bisa menulis setiap hari, jadilah orang bermasalah, maksudnya cepat melihat masalah. Namun kalau tidak ada masalah buatlah masalah, permasalahkan segala sesuatu. Toh tidak ada yang sempurna di dunia ini jadi semua hal tetaplah bisa disoal.
Namun jika ingin tulisan kita menjadi inspirasi, maka bacalah lingkungan kita jangan hanya dengan mata melainkan dengan hati. Bacalah lingkungan dengan empati, kompasion atau merasa senasib dengan mereka yang menderita. Bangun preferensi kita untuk punya opsi kepada mereka yang menderita, tersisih dan tersingkir. Suarakan mereka yang tidak bisa bersuara.
Membaca dengan hati berarti kita punya interest pada kemanusiaan. Dan hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan selalu menarik perhatian orang. Karena keingintahuan yang paling dalam dari manusia adalah ingin tahu kehidupan orang lain.
Seorang teman yang tentu saja adalah penulis terkenal mengatakan bahwa tulisan yang menarik itu selalu tentang cairan tubuh. Bacalah realita dunia dengan analisa cairan tubuh.
Ar mata adalah tentang penderitaan yang dalam tetapi juga tentang kasih yang besar, kegembiraan yang meluap-luap. Air mata tidak selalu tentang kesedihan tetapi juga kegembiraan dan keriangan.
Keringat akan berhubungan dengan kerja keras, semangat juang dan ketahanan mental. Tapi juga tentang pengkhianatan, tidak berkeringat tapi ikut menikmati.
Darah akan berhubungan dengan perjuangan hidup dan mati, kekerasan, daya hidup, emosi dan kejahatan.
Dan cairan-cairan tubuh lainnya yang berhubungan dengan nafsu, cinta dan seterusnya.
Jadi jangan berkecil hati untuk mereka yang tak rajin membaca buku tapi ingin bisa dan terus menulis. Rajin-rajinlah membaca lingkungan hidup kita, membaca dengan mata dan hati. Dan apa yang kita baca dengan mata dan hati akan lebih lengkap apabila dilengkapi dengan apa yang kita dengar. Jadi satu lagi yang perlu dilakukan untuk menjadi orang yang bisa menulis, jadilah pendengar yang baik. Pendengar bukan penguping yang suka mencuri dengar apa-apa yang seharusnya tidak didengarkan.








