KESAH.ID – Memperingati Hari Sungai Nasional 2025 tanpa banyak persiapan GMSS SKM, XR Bunga Terung, Susur Gang Samarinda 2.0 dan Komunitas Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan melakukan aksi di Sungai Karangmumus. Sebuah peringatan yang menyenangkan, meski harus tercebur ke sungai yang keruh, dan mencium bau busuk sampah yang diangkat. Upaya kecil ini untuk mendidik diri sendiri menanamkan pesan bahwa Karangmumus Mesti Diurus.
Sebenarnya sudah cukup lama saya jarang main lagi ke Sungai Karangmumus. Namun ketika Susur Gang 2.0 yang butuh jalur susur lebih banyak mulai bergulir, saya mulai kembali melirik Karangmumus.
Mulanya menjadikan area Karangmumus seputar Jembatan JB hingga Jembatan Satu atau Selili jadi jalur susur. Start dari Jembatan Kehewanan, atau Pangkalan Pungut GMSS SKM, Kawan Susur sebutan untuk para peserta Susur Gang Samarinda 2.0, berjalan kaki melewati pinggiran Sungai Karang Mumus, dengan mode spiral melintasi Jembatan JB, Jembatan Lambung, Jembatan Kehewanan, Jembatan ‘Guru Udin’, Jembatan Arief Rahman Hakim, Jembatan Sungai Dama, Jembatan S dan Jembatan Selili atau Jembatan Satu.
Susur sungai dari sisi darat ini ternyata menarik untuk Kawan Susur sehingga ada yang pingin susur sungai melalui jalur air.
Sembari ngopi-ngopi di Kedai Kebabom, kedai kopi yang menyatu dengan Warung Gorengan Abdul Muthalib yang lengendaris itu, saya mulai bercengkrama dengan Pak Iyau, panggilan akrab Bachtiar yang tekun menjaga dan merawat Pangkalan Pungut GMSS SKM. Pak Iyau mengiyakan saja jika Kawan Susur ingin susur sungai lewat jalur air dengan tujuan ke Sekolah Sungai Karangmumus, Sesukamu yang ada di Muang Ilir.
Bertepatan dengan kedatangan Padlleboard yang dibeli oleh Krisdiyanto yang ingin mengembangkan sport tourism di Sungai Karangmumus, dia menawarkan untuk menguji SUP, Stand Up Padlleboard di Sesukamu.
Sayapun langsung mengiyakan dan menawarkan ke Kawan Susur siapa yang ingin ikut.
Di Sesukamu, di aliran Sungai Karangmumus yang diapit rerimbunan dan hijau riparian itu saya dan beberapa Kawan Susur untuk pertama kali mencoba SUP, jenis wahana air yang amat disukai oleh Susi Pujiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan jaman Jokowi.
Dan setelah itu, sekali atau dua kali seminggu, saya dan beberapa Kawan Susur mulai rutin bermain SUP, di Sungai Karangmumus, di area Pangkalan Pungut GMSS SKM.
Saya kembali mendekat dengan Sungai Karangmumus, yang di masa pemerintahan Walikota Andi Harun kembali melanjutkan proses normalisasi. Walau begitu memasuki tahun 2025 ini nampaknya tersendat. Hingga beberapa segmen yang rumah di tepiannya sudah dibongkar, terbiar begitu saja, belum ditanggul dan diturap.
Ketika Hari Air Sedunia, teman-teman XR Bunga Terung, kelompok yang mengusung Non Violence Direct Action, NVDA, kemudian ingin melakukan aksi di Sungai Karangmumus. Karena harus memakai perahu, Pak Iyau kemudian membantu mengorganisir teman-temannya untuk menyediakan dan membawa perahu.
Aksi peringatan Hari Air XR Bunga Terung kemudian dilakukan dengan membentang spanduk raksasa, dibentang dari atas Jembatan Selili, ke arah Sungai Mahakam dengan ditarik perahu.
Foto dan video yang diperoleh dari aksi itu mengejutkan, banyak yang wow sehingga ketika diposting mendapat banyak reaksi dari publik.
Lewat aksinya, XR Bunga Terung ingin mengajak publik menyadari kalau air sungai adalah air kehidupan namun kemudian ternoda dan ternista oleh investasi yang merusak, yakni pertambangan batubara.
Sungai Karangmumus adalah satu dari sekian banyak sungai yang menderita dan merana karena dampak pertambangan batubara.

BACA JUGA : Oven Gas Merdeka, 100 Persen Listrik Tenaga Surya

Minggu, 27 Juli 2025, tanpa ropat-rapat yang panjang GMSS SKM, XR Bunga Terung, Susur Gang Samarinda 2.0 dan Komunitas Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan, berkolaborasi memperingati Hari Sungai Nasional 2025.
Sejak tahun 2011, lewat Peraturan Pemerintah Nomor 38, tanggal 27 Juli ditetapkan sebagai Hari Sungai Nasional. Peringatan ini dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat agar lebih peduli pada sungai.
Dengan modal 4 SUP dan 3 perahu, mulai jam 8 pagi, rekan GMSS SKM, XR Bunga Terung, Susur Gang Samarinda 2.0 dan Komunitas Jurnalis Warga mulai berdatangan.
Beberapa mulai melakukan pemanasan dengan memompa SUP, pompa tangan hingga kemudian tekanan angin di SUP mencapai minimal 11 psi.
Satu persatu SUP diturunkan ke Sungai Karangmumus. Di bagian depan ditaruh keranjang plastik untuk menampung sampah yang dipunggut.
Pagi itu kebetulan air Sungai Karangmumus mulai pasang. Dan biasanya kalau pasang, ke dalam aliran Sungai Karangmumus akan masuk sampah dari Sungai Mahakam, sampah yang terperangkap dalam pulau-pulau ilung atau kumpai yang kadang gumpalannya cukup kuat untuk menahan beban badan berdiri diatasnya. Selain itu air pasang dari Sungai Mahakam juga sering membawa dan mendorong batang kayu atau pokok rumpun bambu atau nipah ke Sungai Karangmumus.
Tak ada niat sama sekali untuk menghabisi sampah yang terapung di aliran Sungai Karangmumus saat itu. Tindakan memungut sampah di Sungai Karangmumus dihayati sebagai bentuk latihan untuk memperlakukan sungai dengan benar. Jangan sekali-kali membuang sampah di sungai, dan jika ada sampah di sungai pungutlah, bukan malah dihanyutkan.
Beberapa teman baru sekali memungut sampah di Sungai Karangmumus. Mereka segera merasa kejutannya. Pertama sampah yang dikemas dalam plastik, terasa berat ketika diangkat. Dan kemudian segera tercium bau ‘semerbak’ yang membuat wajah mesti berpaling dan mulut bergejolak dan tenggorokan bergejolak, seperti ingin muntah.
Walau begitu tak ada yang mukanya masam. Bau menjadi hiburan pada sejengkal hari yang menyenangkan di Sungai Karangmumus.
Setelah dirasa cukup mengambili sampah, giliran awak XR Bunga Terung, Kawan Susur dan Jurnalis Warga beraksi dengan poster-poster yang telah disiapkan oleh XR Bunga Terung.
Diatas paddleboard dan perahu, poster ditunjukkan untuk didokumentasikan menjadi bahan kampanye.
Aksinya sungguh menyenangkan, walau tak mudah karena beberapa teman belum terbiasa mendayung sehingga padlleoard terputar-putar.
Saking antusiasnya, Bella tak mampu menahan gejolak sebagai anak sungai. Lahir di tepi Sungai Mahakam membuat Bella tak ragu berpindah dari SUP ke batang hanyut. Duduk diatas batang membuat separuh bajunya basah, tapi Bella tak risih dan semangat menunjukkan dua poster di tangannya, demi Karangmumus.
Salah satu poster yang dicetak oleh XR Bunga Terung berisi pesan bahwa Karangmumus Harus Diurus. Selain itu juga mau mengingatkan kalau air bersih yang dinikmati oleh warga Kota Samarinda bersumber dari sungai.

BACA JUGA : Candu Politik

Sungai Karangmumus memang harus diurus. Dan salah satu yang tekun mengurus Karangmumus adalah Misman. Selama sepuluh tahunan terakhir ini Misman bahu membahu dengan Iyau, mengurus Pangkalan Pungut GMSS SKM dan Sesukamu, menjadi roh dan pusat gerakan yang berslogan Menjaga, Merawat dan Memulihkan Sungai Karangmumus.
Sebelum memulai kegiatan memperingati Hari Sungai Nasional 2025, Misman memberi pengantar singkat. Menegaskan kembali visi besar GMSS SKM, yang tekun melakukan aksi-aksi kecil untuk cita-cita yang besar.
Misman selalu menegaskan kalau GMSS SKM tak punya niat menghabisi sampah di Sungai Karangmumus, karena pasti tak mampu. Yang diniatkan oleh GMSS SKM adalah menghabisi pembuang sampah ke Sungai Karangmumus dengan cara memungut sebagian sampah yang mereka buang.
Bagi GMSS SKM memungut sampah adalah edukasi, bukan mengejar target untuk ditimbang hasil pungutannya.
Ketekunan Misman, Iyau dan teman-teman lainnya yang datang serta pergi silih berganti telah membuahkan banyak penghargaan. Mulai dari tingkat kota, provinsi hingga nasional. Puncaknya Misman diberi penghargaan Kalpataru di tingkat nasional sebagai perintis.
Saya ingat, setiap kali Misman mendapat penghargaan, jika kemudian bertemu dengan Syafrudin Pernyata akan diolok-olok. Pasti ditanya “Penghargaannya kertas saja kah?”.
Dan Misman pasti tak menjawab, hanya tertawa.
Lalu Pak Espe, panggilan akrab Syafrudin Pernyata akan mengatakan “Kalau cuma kertas, saya bisa ngasih piagam satu tumpuk,”.
Misman memang sudah bosan dengan piagam penghargaan. Makanya yang diberikan biasanya hanya ditumpuk begitu saja, sebagian mungkin sudah hilang. Tak ada yang dipigura, terkecuali diberikan dengan piguranya sekalian.
Berkali-kali saya mendengar Misman mengatakan “Penghargaan Kalpataru itu artinya yang kita lakukan sudah purna, sudah ada hasilnya. Itu pengakuan kalau yang kita lakukan bermakna,”
Lalu dia mengeluh “Tapi Kalpataru yang diberikan oleh presiden itu tak ada gunanya,”
Setelah menerima penghargaan Kalpataru menurut Misman banyak yang datang untuk menawarkan bantuan. Tapi menurut Misman mereka selalu meminta proposal dengan syarat ini dan itu, seolah Misman sedang mau memulai sesuatu.
“Mau membantu kok malah bikin saya repot,” begitu biasanya Misman enggan mengikuti permintaan untuk membuat proposal.
Watak GMSS SKM dan Sesukamu sejak dulu memang begitu, tak pernah membuat proposal untuk melakukan kegiatan. Buat saja semampunya sendiri dan kalau ada yang membantu, silahkan membantu, syukur-syukur bantuannya sesuai dengan kebutuhan.
“Keperluan GMSS SKM dan Sesukamu itu sudah jelas, biaya untuk operasional menjaga agar yang terbangun tidak diduduki atau diganggu oleh pihak lain, sehingga lenyap atau kembali rusak,” ujar Misman.
Penghargaan yang nyata memang mestinya diberikan untuk Misman dan kawan-kawan. Dan rasanya tidak besar, sehingga Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Nasional pasti mampu memberikannya.
Dengan begitu Misman dan Iyau akan bisa terus mengurus Karangmumus. Sekurangnya agar Sungai Karangmumus tak semakin buruk rupa dan jelek kwalitas, kuantitas serta kontinuitas airnya.
note : sumber gambar – XR Bunga Terung








