KESAH.IDDulu media masa menyediakan kanal tertentu untuk menampung keluh kesah warga, di media cetak biasanya ada kolom surat pembaca, sementara di media elektronik disediakan nomor hotline. Masa media menjadi jembatan suara rakyat sudah lewat, dan kemudian lebih digantikan oleh konten kreator, kaum influencer. Masyarakat lebih mudah menyampaikan keluhan di media sosial, kemungkinan menjadi viral lebih besar ketimbang menghubungi media massa. Meski mempunyai slogan tinggi-tinggi, perusahaan media massa dianggap kurang berempati ketimbang kanal-kanal yang dikelola oleh orang per orangan di Youtube. Denny Sumargo kini lebih sering menerima pengaduan dan menjadikan podcastnya sebagai saluran untuk menyuarakan permasalahan yang menimpa orang atau kelompok tertentu.

Imaji tentang kelas menengah telah berubah. Dulu kelas menengah serung dinarasikan sebagai seseorang yang pagi-pagi duduk di teras, menikmati secangkir teh atau kopi panas sambil membaca koran.

Kini tak ada lagi yang mengambarkan kelas menengah seperti itu lagi, sebab koran sudah digulung oleh media baru, bukan media online tetapi podcaster, kaum influencer.

Podcast semula dikenal sebagai file audio yang diunggah atau disiarkan secara online di platform Spotify. Istilah ini merupakan gabungan dari iPod dan Broadcast.  Pada dasarnya mirip radio namun bisa didengarkan kapan saja atau on demand.

Namun kemudian istilah Podcast lebih dikenal sebagai bincang-bincang baik tunggal maupun group di youtube untuk membahas topik tertentu. Deddy Corbuzier yang mempopulerkan istilah itu.

Deddy yang semula dikenal sebagai mentalis atau magician, kemudian bertransformasi menjadi pembawa acara yang populer di televisi, talk show atau reality show Hitam Putih.

Sewaktu masih menjadi pembawa acara, Deddy mulai membuat konten, mulanya dengan youtuber youtuber ternama waktu itu seperti Reza Arab, Agung Hafsah, Andovi dan Jovial Da Lopez serta lain-lainnya.

Setelah bereksperimen dengan beberapa konten, Deddy kemudian mantap memutuskan untuk membuat ‘talk show’-nya sendiri di Youtube yang diberi nama Close The Door.

Dengan bekal pengalaman di televisi, konten yang disajikan oleh Deddy Corbuzier segera memperoleh perhatian penonton. Tahun-tahun ketika Deddy memulai talk show Close The Door, youtube sedang menjadi media sosial yang paling banyak diakses oleh warga Indonesia. Youtube mulai menggantikan televisi.

Percakapan-percakapan yang kemudian disebut sebagai podcast itu meledak, konten Close The Door selalu menjadi trending topik. Viewer atau pemirsanya segera menyentuh angka jutaan, walau baru diupload beberapa jam.

Obrolan Deddy disukai karena mengangkat tema dan sosok yang mungkin sulit untuk bicara blak-blakkan di layar televisi. Dengan rentang waktu antara 30 menit hingga 1 jam yang disajikan Deddy Corbuzier lewat Close The Door menjadi eklusif.

Beberapa pembicara terutama yang kompeten atau ahli, suka datang ke podcast Close The Door karena bisa leluasa menyampaikan informasi, tidak seperti talk show di televisi yang sering menampilkan narasumber yang bertentangan sehingga cenderung melahirkan debat kusir.

Perbicangan di Close The Door bisa seru, Deddy termasuk orang yang kritis, namun tidak mendebat seperti banyak host-host talk show televisi.

Pengaruh Deddy Corbuzier dengan Close The Door-nya makin meluas karena Deddy kemudian aktif ‘mengakuisisi’ kanal podcaster lain. Kanal-kanal itu kemudian dimasukkan dalam brand Close The Door. Kanal yang umumnya diajak bergabung adalah yang berbasis video esai dengan berbagai tema.

Kanal-kanal itu antara lain Ferry Irwandi, Rheinald Khasali, Indrawan Nugroho, Detektif Aldo dan lain-lain. Tidak semua yang diincar oleh Deddy Corbuzier mau bergabung, salah satu yang menolak adalah Guru Gembul.

Lewat Close The Door, Deddy Corbuzier kemudian menjadi pemengaruh paling sukses dari sisi jangkauan sekaligus pendapatan. Pengaruh yang kemudian membawa Deddy memperoleh gelar Kolonel Tituler.

Kanal Deddy Corbuzier juga berkembang, tidak hanya Deddy yang muncul, melainkan juga ada Pras Teguh dan Ebel lewat Goyang Lidah, Vidi Aldiano dan Deddy Corbuzier lewat PodHub dan Habib Jaffar serta Onad di Log In yang khusus tampil di bulan puasa.

BACA JUGA : Marc Kelewatan

Kerajaan talk show Close The Door jelas mengalahkan televisi. Talks show televisi mulai dari yang serius sampai yang menghibur tumbang, kehabisan penonton. Kalaupun ada satu dua yang menarik, menjadi kontroversial karena televisi dianggap sebagai ruang siaran publik, gampang diprotes oleh publik. Berkreasi di televisi tidak seleluasa berkreasi di youtube.

Setelah menumbangkan radio, koran, majalah, internet dengan semua platformnya siap mengubur televisi.

Media tumbang bukan hanya karena persaingan antar mereka, melainkan juga karena pesaing dari luar, arus media baru yang tumbuh di internet.

Dan banyak media arus utama kemudian makin terpuruk karena memulung berita-berita yang bersumber dari konten-konten di internet.

Konten kreator kemudian menjadi lebih mudah memperoleh kepercayaan pada dari publik. Hubungan antara pemirsa dan pembuat konten menjadi lebih personal ketimbang hubungan antara konsumen dengan media arus utama.

Di luar itu problemnya tentu saja kue iklan atau monetisasi.

Media arus utama tumbuh dari iklan-iklan konvensional. Sementara media baru memperoleh pendapatan dari adsense dan monetisasi pada platform tertentu.

Kue iklan media arus utama juga makin sempit karena kini pengiklan lebih memilih melakukan kampanye iklan lewat endorsan pada influencer tertentu, atau memasang iklan langsung di podcaster, berkolaborasi dengan konten kreator dan lain-lain.

Media arus utama yang kemudian berusaha mengikuti jaman dengan berpindah platform ke media online terpaksa harus memenuhi halaman dengan iklan, bahkan muncul iklan-iklan pop up yang membuat pembaca enggan untuk membuka.

Media arus utama baik yang dalam versi cetak, elektronik maupun online makin merana.

Memang ada beberapa yang mampu bertahan dan memperoleh pembaca, pemirsa atau pengaruh yang cukup besar. Seperti Tempo yang kemudian membuat kanal Bocor Alus. Kanal ini menjadi populer diantara banyak kanal yang dibuat oleh Tempo Group.

Memadukan antara konten tradisional dengan konten audio visual tidak bisa menjadi resep umum, sebab tak semua berhasil. Kompas juga melakukan itu, tapi tak ada yang meledak, pun juga media-media lainnya.

Jurnalis yang kata-katanya kerap diumpamakan lebih tajam dari pedang, kini mulai tumpul.

Hampir setiap hari ada berita yang menyedihkan, media tutup, bangkrut dan jurnalis di PHK.

Yang bertahan kemudian harus mengandalkan uang dari pemerintah, uang APBD atau APBN yang diakses lewat pejabat tertentu. Dan anda tahu, produk atau konten mereka hampir tidak dibaca, dilihat atau dinikmati oleh konsumen media.

Konten audio visual yang diproduksi dengan sumber dana negara lewat program podcast dan live event sejenisnya miskin pemirsa. Mencari viewer ribuan saja susah. Dari sisi unit cost, jika diaudit jelas tidak efektif dan tak layak dibiayai.

Satu kelemahan dari semua produk-produk ini para kreatornya asik dengan diri mereka sendiri atau yang membiayai. Apa yang disampaikan tidak dinilai dari penting tidaknya untuk publik.

BACA JUGA : Hutan Ramai

Kalau mesti disebut siapa yang mampu melawan dominasi Close The Door, jelas bukan Tempo, Kumparan, Tirto, Mojok atau Kompas. Sosok itu adalah Densu, Denny Sumargo yang dulu lebih dikenal sebagai atlet basket. Densu mulainya mengembangkan kanal yang berhubungan dengan basket, dikenal dengan sebutan Pebasket Sombong.

Namun ketika sudah mempunyai reach dan engagement yang cukup, Denny memperluas percakapannya untuk memperluas jangkauan. Denny Sumargo mereplikasi model percakapan Deddy Corbuzier dengan gaya yang lebih manusiawi, lebih akrab dan natural.  Pertanyaan Densu sering lebih polos, tapi mampu menggali lebih dalam.

Berkali-kali mampu membongkar fenomena, kanal Densu akhirnya sering dijadikan tempat lapor oleh netizen. Yang berkasus atau tengah bermasalah kemudian hadir atau dihadirkan dalam podcastnya. Kisah-kisah dalam podcast Densu adalah kisah orang biasa, sementara dalam podcast Close The Door masih ada nuansa elitis.

Denny mudah di-spil, padahal media juga. Jadi kenapa masyarakat lebih memilih lapor ke kanal Densu yang bukan media publik?. Apakah media sudah sedemikian rendah kredibilitasnya di mata masyarakat?.

Bisa jadi. Media yang seharusnya independen, kini terkesan berpihak terutama pada yang ‘membiayai’. Tak heran jika ada bisik-bisik tentang ‘ternak media’, media publik yang berafiliasi pada sosok penguasa, pemimpin atau elit tertentu. Kepada mereka jangan berharap aduan atau laporan tentang sosok tertentu akan diperhatikan.

Yang lapor ke Densu tentu paham jangkauan, bukan soal algoritma. Pada media-media arus utama jelas ada bagian yang paham soal optimasi, soal SEO, bahkan ada ahlinya. Tapi soal sesuatu menjadi trending atau tidak bukan soal itu. Jadi masalahnya bukan pada optimasi.

Agar netizen atau konsumen media melihat konten, bisa diakali, bahkan kalau tak punya ahli bisa saja membayar. Bayar saja google agar konten kita selalu ditampilkan di bagian atas kolom pencarian. Tapi yang terpenting bukan sekedar reach, atau menjangkau audience, melainkan audience mengkonsumsi, mengunyah dan mengudap kontennya.

Dulu sering kali pembaca atau pengkonsumsi media dijebak dengan judul atau konten click bait, tapi lama-lama tak percaya. Maka tampil pertama di halaman mesin pencari atau di kolom rekomandasi platform-platform media sosial tertentu bukan jaminan konten akan dibaca, dilihat atau dinikmati oleh konsumen media. Media gagal menciptakan ikatan dengan konsumennya.

Konten berupa teks, audio, grafis, video dan lainnya adalah produk. Dan sama dengan produk lainnya mesti dipasarkan. Dalam dunia marketing ada yang disebut user experience, pengalaman atau kenyamanan pengguna.

Portal berita umumnya tidak memperhatikan kenyamanan konsumen, terlalu banyak iklan dan link. Kesenggol sedikit saja masuk situs belanja, atau situs judi. Satu artikel dibuat beberapa kali klik, untuk memperbanyak jumlah link iklan. Sudah berjuang membaca artikel yang penuh gangguan, ternyata isinya tak sesuai judul.

Beli yang langganan dong, begitu kilah mereka menghadapi keluhan pelanggan. Masalahnya ngapain langganan kalau kebutuhan pelanggan hanya update, dan update berita bisa didapat dimana-mana, gratis.

Bahkan liputan yang dalam sekalipun banyak saingan yang gratis. Liputan otomotif, kanal Fitra Ery sudah cukup mumpuni. Apalagi liputan soal gaya hidup, kanal-kanal yang memberi informasi gratis teramat banyak.

Brand-brand sepatu lokal misalnya, naik daun bukan karena pemberitaan media tetapi para reviewer sepatu ternama.

Di tangan podcaster media nyaris sekarat. Selalu masih ada celah untuk bertahan dan menjadi bermakna, sayangnya perilaku media kerap kali justru membuat jalan kematian makin terbuka.

note : sumber gambar – SUARA