KESAH.IDIsrael dan Amerika Serikat selalu memakai alasan pengayaan atau pengembangan nuklir untuk senjata pemusnah massal oleh Iran sebagai alasan untuk menyerang. Baik Israel maupun Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan pusat-pusat pengembangan nuklir Iran. Maka tak ada alasan lagi bagi Israel untuk menyerang Iran, dan bagi Amerika Serikat untuk terus mengembargo Iran. Tapi sebenarnya kita tak pernah tahu ada udang apa di balik batu kepala Benyamin Netanyahu dan Donald Trump.

Saling serang antara Israel dan Iran sebelum tahun 2025 terjadi dalam ‘bayangan’. Konfliknya tidak terlihat secara langsung atau istilahnya perang dalam proxy.

Israel selama ini tidak menyerang obyek atau wilayah di dalam negeri Iran, melainkan sosok-sosok yang dianggap penting dalam strategi dan pengembangan senjata nuklir Iran.

Saling gertak dan saling ancam kerap mewarnai hubungan antara Israel dan Iran.

Aksi Israel dimulai tahun 2010 lalu dengan melakukan sabotase siber terhadap sistem komputer di pusat nuklir Natanz. Lewat serangan virus, sistem komputernya dilumpuhkan dengan virus Stuxnet. Aksi ini dicurigai sebagai kerja bareng antara Israel dan Amerika Serikat.

Berikutnya Israle membunuh ilmuwan nuklir Iran di Damaskus dengan serangan lewat drone.

Amerika Serikat memang sering membantu Israel melemahkan Iran. Seperti pembunuhan atas Panglima Pengawal Revolusi pada tahun 2020 dengan serangan drone atas perintah Presiden Donald Trump.

Iran tidak pernah membalas secara langsung. Balasan dilancarkan oleh Iran melalui kelompok Milisi Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza dan Gerilyawan Syiah di Irak, Suriah dan Yaman. Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan mengirimkan 300 rudal dan drone ke langit Israel ketika konsulat Iran di Damaskus diserang Israel.

Dunia sempat menarik nafas dalam, tercekam oleh kekhawatiran akan ada perang besar yang memicu peperangan global, perang dunia ke 3. Joe Biden yang khawatir akan eskalasi perang terbuka mencegah Israel melancarkan serangan balasan.

Israel tetap memendam keinginan untuk menghancurkan pusat pengembangan nuklir Iran. Dan serangan itu kemudian diwujudkan dengan mengerahkan ratusan jet tempur dan rudal untuk menyerang sekurangnya 6 lokasi, termasuk ke sistem pusat pertahanan penangkal serangan udara.

Iran membalas serangan Israel. Dan nampaknya tidak memilih menyerang ke instalasi strategis militer, melainkan ke kota-kota besar. Kerusakan yang ditimbulkan di Israel cukup besar. Iran memainkan teror, agar timbul kepanikan di Israel sehingga warganya mengutuk kebijakan perang dari pemerintahnya.

Oleh Iran, situasi Israel dibuat mencekam, sirene darurat dibuat terus meraung-raung.

Sementara di dalam negeri, Iran menjadikan serangan Israel sebagai energi untuk membakar nasionalisme. Kaum opisisi sekalipun tidak memakai kesempatan ini untuk menyerang pemerintahnya sendiri.

Situasi berbeda sebagai respon atas serangan ditunjukkan oleh warga Iran yang tidak panik dan ramai-ramai lari masuk ke bunker perlindungan.

Iran memang tidak menyembunyikan dampak serangan. Menyebut dengan gamblang apa saja yang ditimbulkan oleh serangan Israel. Strategi ini dimaksudkan untuk menunjukkan betapa brutalnya Israel. Iran tidak menganggap kerusakan dan korban atas serangan Israel sebagai kelemahan. Atau justru kelemahan dipakai untuk memperoleh simpati.

Sebaliknya Israel selalu menyembunyikan kelemahannya. Kelemahan adalah celah bagi musuh yang mengelilinginya. Ibarat hidup bertetangga, Israel adalah tetangga yang tidak disukai oleh sekelilingnya.

Maka perang bukan soal rudal yang dikirimkan dan menghantam sasaran lawan, atau sistem pertahanan yang mampu merontokkan semua peluru dan drone yang dikirim lawan melainkan juga tentang narasi. Siapa yang ceritanya paling meyakinkan yang akan mendapat simpati, didukung untuk menjadi pemenang. Walau sebenarnya dalam perang tak ada yang kalah dan tak ada yang menang, mau menang atau kalah semua menderita.

BACA JUGA : Pembunuh Massal 

Israel memang sering digambarkan sebagai negara kecil yang memiliki banyak kekuatan. Mulai dari kekuatan teknologi sampai dengan lobi. Orang Israel dianggap punya kecerdasan yang tinggi. Walau begitu Israel juga kerap dianggap sebagai negara yang usil, berupaya memperluas wilayah, suka menduduki lahan negeri lain.

Dengan sangat serius mengembangkan sistem pertahanannya, Israel juga mempunyai pasukan perang udara yang besar. Dengan bekal itu, Israel kerap mengambil inisiatif menyerang lebih dahulu. Apapun yang dianggap sebagai faktor yang mengancam keamanan Israel akan dihantam lebih dahulu.

Israel tak segan menyerang teritori negeri lain untuk memastikan keamanan dalam negerinya sendiri. Prinsipnya adalah mencegah lebih baik daripada mengobati, karena Israel sadar posisinya geografisnya memang tidak menguntungkan. Israel bisa diserang dari segala arah, terlebih jika tetangganya kompak.

Selain sistem pertahanan dan persenjataan perang, Israel juga mengembangkan senjata lain yang tak kalah kuat yakni lobi. Lobinya tentu bukan omon-omon, janji manis kanan kiri, melainkan gelontoran uang atau segala sesuatu yang bernilai uang.

Meski tak disukai tetangganya, banyak negeri tetangga Israel yang segan untuk terang-terangan mengutuk Israel, lalu menolong negeri yang diserang Israel. Umumnya tetangga menyesalkan serangan, prihatin dan berharap agar saling serang dihentikan. Mereka umumnya menonton, sambil mengingatkan jangan sampai saling serangnya mengenai halaman mereka.

Salah satu perangkat kuat untuk mendukung lobi Israel kepada para tetangganya adalah teknologi. Kepada tetangga yang keamanan dalam negerinya tidak mumpuni, Israel menawarkan sistem pertahanan.

Israel juga menawarkan teknologi pertanian, salah satu kawasan yang kemudian sangat terbantu dengan teknologi pertanian dari Israel adalah Afrika.

Israel selalu dikutuk-kutuk, dan yang diserang selalu mendapat simpati. Tapi kebanyakan kutukan dan simpati itu hanya omon-omon belaka. Hampir tak ada upaya konkrit dari negara-negara tetangga untuk membantu Iran menambah kekuatan serangan.

Sekutu tradisional Iran, yakni Suriah regimnya sudah lebih dahulu runtuh. Regim pengganti Bashar al-Assad bahkan terang-terangan ingin memulihkan hubungan dengan Israel. Kebanyakan negara-negara di Timur Tengah memang tak ingin wilayahnya ikut-ikutan terkena dampak konflik antara Israel dan Iran.

Sekutu global Iran, seperti China, Rusia dan Pakistan juga mengambil sikap serupa. Karena kekhawatiran pada dampak ekonomi, China lebih memilih mengajukan penyelesaian diplomatik. Menurut China negosiasi dalam persoalan nuklir masih bisa dilakukan.

Rusia juga mengambil langkah sama dengan menawarkan diri sebagai penengah. Perjanjian kerjasama antara Iran dan Rusia tidak memasukkan klausul memberikan dukungan militer jika terjadi perang.

Demikian juga dengan Pakistan yang menyatakan mereka memberi dukungan moral pada Iran. Bahkan ditengah ketegangan yang meningkat, Pakistan menutup pintu perbatasan dengan Iran agar tidak kebanjiran pengungsi.

Iran memperoleh banyak simpati tetapi berjuang sendiri.

BACA JUGA : Bagnaia Mugello

Walau mulanya Presiden Donald Trump ogah-ogahan membantu Israel, tapi omongan Donald Trump tetap tak bisa dipegang. Lobi terkuat Israel memang kepada Amerika Serikat, Uang dari Israel mengalir melalui lobi-lobi yang dilakukan di gedung putih.

Israel jelas butuh bantuan Amerika Serikat untuk menghancurkan fasilitas pengembangan nuklir Iran, utamanya fasilitas yang terpenting di Fordow. Fasilitas pengembangan nuklir ini berada di bawah tanah.

Fasilitas yang tersembunyi seperti ini yang gagal dihancurkan oleh Israel, karena keterbatasan teknologi bom Israel yang tak mampu menghancurkan sasaran bawah tanah.

Yang jadi harapan Israel adalah Amerika Serikat.

Dan kebetulan dengan berbagai dalih, Amerika Serikat punya alasan untuk menyerang sasaran itu.

Amerika Serikat memang mempunyai pangkalan-pangkalan pertahanan di Timur Tengah dengan jumlah personil yang besar yang harus dijamin keamanannya. Ini bisa dipakai sebagai alasan yang dicari-cari untuk alas serangan kepada Iran.

Saking kuatnya lobi Israel di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump sampai tak percaya pada informasi intelejennya sendiri. Petinggi intelijen Amerika Serikat yang diangkat oleh Donald Trump mengatakan bahwa Iran tak bermaksud mengembangkan nuklir sebagai senjata pemusnah massal.

Trump bukan hanya tak percaya pada penasehatnya sendiri, informasi dari lembaga pengawas nuklir dunia juga diabaikan. Amerika Serikat bahkan keluar dari organisasi ini sehingga bisa abai pada informasi yang diberikan olehnya.

Akhirnya Amerika Serikat cawe-cawe dan ikut membantu serangan Israel secara aktif. Atas perintah Donald Trump, Angkatan Udara Amerika Serikat mengirim pesawat pengangkut bom yang mampu menghancurkan bunker ke wilayah Iran untuk menghancurkan fasilitas pengembangan nuklir di bawah tanah.

Bantuan dari Amerika Serikat akan disusul oleh Jerman. Lobi Israel membuat Jerman terjerat untuk terus membantu kepentingan Israel. Sejarah masa lalu Jerman saat dipimpin Hitler, membuat Jerman tak bisa berpaling untuk membantu Israel.

Donald Trump mengumumkan telah menjatuhkan bom di fasilitas pengembangan nuklir terpenting Iran. Tapi tak ada kabar yang menghebohkan dari Iran sendiri, semua seperti tenang-tenang saja. Padahal mestinya ada radiasi yang luar biasa, jika benar instalasi yang dibom adalah pusat pengembangan senjata nuklir.

Iran membalas serangan Amerika Serikat dengan meluncurkan rudal multi hulu ledak ke Israel.

Sebab yang diserang oleh Israel dan Amerika Serikat adalah pusat pengembangan nuklir, bukan pusat produksi rudal dan hulu ledaknya.

Dan Israel serta Amerika Serikat tak punya alasan lagi untuk membalas serangan Iran karena pusat-pusat pengembangan nuklir diklaim oleh Israel dan Amerika Serikat sudah dihancurkan.

Dengan hancurnya fasilitas pengembangan nuklir Iran, mestinya Amerika Serikat segera mencabut embargo atas Iran, toh tak ada lagi kekhawatiran tentang pengembangan senjata pemusnah massal di Iran. Tak ada lagi alasan untuk mengisolasi Iran.

Tapi kita tak pernah tahu persis isi kepala Benyamin Netanyahu dan Donald Trump perihal Iran. Jangan-jangan mereka berdua hanya memakai senjata nuklir sebagai alasan untuk mengulingkan pemerintahan di Iran saat ini. Mereka ingin mengganti pemimpin Iran dengan sosok yang lebih ramah dan akomodatif terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Perang ini bukan tentang menang dan kalah, karena ada udang di balik batu.

note : sumber gambar – SINDONEWS