KESAH.ID – Bagnaia adalah anak emas Ducati, tumbuh dan besar bersama Ducati. Namun kedatangan Marc Marquez membuat suasana kebatinannya berubah. Hubungannya baik dan tidak terpengaruh sejarah relasi antara gurunya dengan Marc Marquez. Namun Marc yang baru menaiki motor Ducati langsung tampil dominan bahkan mencatatkan rekor setiap kali memenangi balapan. Francesco Bagnaia kemudian terkena mentalnya, tak percaya diri dengan motor yang ditungganginya.
Perjalanan Ducati untuk melewati rekor Honda yang memenangkan 22 kali balapan berturut terhenti. Persis sama mencapai angka 22, rekor Ducati terhenti di Sirkuit Lemans, Perancis lewat kemenangan Johan Zarco dari LCR Honda.
Tak ada yang menyangka Zarco akan menang. Yang digadang-gadang justru Fabio Quartararo yang mampu back to back meraih pole position.
Yang namanya balapan memang tak selalu bisa diduga. Kebingungan dengan kondisi cuaca membuat para pembalap dan tim ragu terhadap pemakaian jenis ban.
Johan Zarco yang adalah warga lokal yakni benar dengan cuaca di Perancis, bersama timnya sudah menetapkan kalau akan memakai ban basah, walau menjelang start langit baru mendung dan hujan kecil yang turun.
Sementara kebanyakan pembalap dan tim lain masih bingung.
Menjelang start, saat melakukan warm up lap, race director mengibarkan bendera putih. Artinya pembalap diperkenankan mengganti motor. Tak diduga banyak pembalap yang kemudian masuk pit dan akan melakukan start dari pit lane. Banyaknya pembalap yang mengganti motor membuat race director memutuskan mengibarkan bendera merah, start ditunda.
Dan ketika start akan dimulai kembali, saat sighting lap, banyak pembalap masuk kembali ke dalam pit untuk mengganti motor. Salah satu yang memulai adalah Alex Marquez yang kemudian diikuti oleh Alex Marquez.
Masuknya Marc Marquez menjadi patokan bagi pembalap lain. Mereka mengikuti, situasi kembali menjadi kacau. Sebagian pembalap lain tetap di garis start.
Dan semua pembalap yang masuk kembali ke pit lane dan kemudian ganti motor diganjar hukuman, doble long lap pinalty.
Balapan dimulai, yang berganti motor nampak bisa melakukan start dengan baik. Sementara yang memakai ban basah seperti kedodoran, harus berhati-hati. Di tikungan awal ada insiden, Bagnaia tersenggol Enea Bastianini, meeka terjatuh, membuat Johan Zarco melebar dan Johan Mir ikut terseret hingga cidera.
Fabio, Marc, Alex dan Fermin Aldequere bertarung di depan. Hujan nampaknya makin deras dan yang memakai ban basah mulai mendapat kecepatannya. Karena banyak pembalap yang harus menjalani long lap pinalty dan ada pula yang masuk ke pit lane untuk berganti motor, Johan Zarco akhirnya memimpin didepan tanpa harus menyalip pembalap lain. Posisi terdepan diperoleh tanpa pertempuran.
Hingga kemudian ketika pembalap lain yang kena hukuman sudah selesai menjalankan hukuman dan berganti motor, Johan Zarco bisa membuat jarak cukup jauh dengan Marc Marquez yang berada di posisi kedua.
Dengan dua kali long lap pinalty dan satu kali berganti motor Marc sudah kehilangan kurang lebih 30 – 40 detik. Namun jarak dengan Johan Zarco hanya sekitar 8 detik.
Tapi buat Marc Marquez lawannya di Moto GP bukan Johan Zarco. Yang menjadi saingan terdekat adalah Alex Marquez dan Francesco Bagnaia. Kalaupun ada ancaman baru itu datang dari Yamaha, yakni Fabio Quartararo.
Pecco jatuh, Fabio kemudian juga terjatuh. Jadi lawan Marc hanyalah Alex Marquez.
Maka yang dilakukan oleh Marc Marquez adalah menjaga jarak dengan Alex, bukan mengejar Johan Zarco yang sudah makin nyaman di depan.
Bahkan ketika Alex juga terjatuh, Marc tidak berusaha untuk mengejar Johan Zarco guna merebut posisi pertama. Buat Marc Marquez memaksa motornya dalam kondisi basah untuk merebut posisi pertama justru beresiko akan kehilangan poin.
Balapan di sirkuit yang basah selalu beresiko terjatuh.
BACA JUGA : Negeri Preman
Asa Ducati untuk melewati rekor Honda terhenti. Ducati hanya berhasil menyamai rekor 22 kemenangan berturut. Yang menghentikan langkah Ducati ternyata juga Honda yang lima tahun terakhir ini hampir tak mencatat prestasi.
Pahlawan Honda adalah Johan Zarco, yang sebelumnya pernah menunggangi Ducati namun kemudian tersingkir.
Ducati gagal memperpanjang rekor karena jagoannya, pemegang gelar juara dunia Moto GP dengan Ducati yakni Pecco Bagnaia bernasib buruk.
Pecco jatuh berturut-turut di GP Perancis, mengalami crash di lap-lap awal.
Memasuki musim 2025 ketika Pecco Bagnaia bertandem dengan Marc Marquez, Pecco belum menunjukkan tajinya. Berhasil satu kali memenangkan podium pertama di Sirkuit COTA, Amerika Serikat, kemenangannya berbau keberuntungan karena Marc Marquez mengalami crash.
Pecco sering dianggap sebagai pembalap yang tidak cepat panas. Sehingga belum menang di seri awal masih dimaklumi. Marc berjaya diawal seri Moto GP 2025 karena dianggap cocok dengan tiga sirkuit pembuka yakni Thailand, Argentina dan Amerika Serikat.
Balapan di Qatar kemudian ditunggu-tunggu sebagai awal kebangkitan Bagnaia. Namun ternyata lain ceritanya, Marc Marquez justru memenangkan balapan di Qatar. Bagnaia bahkan kalah dari Alex Marquez.
Marc Marquez bahkan mencatatkan rekor, memenangi balapan sprint race enam kali berturut-turut. Podium pertama dalam balapan utama gagal diraih juga bukan karena kalah dalam pertempuran melainkan karena terjatuh.
Pun begitu juga ketika balapan di Perancis. Strategi yang diterapkan oleh Marc Marquez untuk memenangkan balapan sudah benar. Namun strategi itu terganjal karena ada Zarco yang sejak awal balapan tidak mengganti motor dan ban.
Marc pun kehilangan banyak waktu untuk mengejar Johan Zarco dalam balapan yang membingungkan itu.
Meraih podium kedua untuk pertama kalinya dalam seri Moto GP 2025, Marc nyaman memimpin klasemen sementara dengan jarak cukup jauh. Alex Marquez yang berada di peringkat kedua tertinggal 22 poin, sementara Pecco yang berada di tempat ketiga tertinggal 51 poin.
Marc Marquez menantap GP Inggris dengan tenang. Namun Pecco justru semakin kurang percaya diri pada motornya.
Sejak awal Pecco selalu mengeluhkan Ducati GP 2025. Menurut Pecco dia lebih merasa nyaman dengan GP 2024 yang kemudian dikendarai oleh Alex Marquez, Fermin Aldequer dan Franco Morbideli. Faktanya Alex, Fermin dan Morbideli memang tak mengecewakan. Alex pernah menang, Fermin dan Morbideli juga berhasil podium.
Sepertinya Trio GP 2024 justru lebih baik dibandingkan dengan Trio GP 2025.
Dua kali terjatuh dan gagal meraih poin selama balapan di Perancis membuat Pecco makin terpuruk. Banyak yang mengatakan Pecco mulai kena mental gara-gara Marc Marquez tampil dominan.
Pecco bahkan tak mau dibandingkan dengan Marc Marquez karena menurut Pecco diberi traktor sekalipun Marc Marquez bakal tetap kencang. Sepertinya yang menjadi ukuran untuk Pecco bukan lagi Marc Marquez melainkan Alex Marquez.
BACA JUGA : Duka Petani Lempake Menjelang Panen Padi Terendam Banjir
Benarkah Pecco kena mental karena menjadi rekan se-tim Marc Marquez.
Dani Pedrosa, pembalap Honda yang kemudian menjadi pembalap penguji KTM menceritakan pengalamannya sebagai tandem Marc Marquez di Honda. Menurut Pedrosa, dimanapun Marc Marquez berada, rekan satu tim-nya akan tenggelam. Tidak ada pembalap yang berprestasi jika menjadi tandem Marc Marquez.
Dani Pedrosan, Alex Marquez, Paul Espargaro berada di bawah bayang-bayang Marc Marquez sewaktu di Honda. Jangankan menjadi juara dunia, menang di balapan saja sulit. Mereka selalu kesulitan membawa motor, padahal Marc lancar-lancar saja.
Begitu juga di Ducati. Marc yang baru bergabung ternyata langsung bisa nyetel dengan motornya. Sementara Bagnaia yang merupakan pembalap pengembang Ducati justru tak percaya diri dengan motornya hingga seri balapan ke enam. Dalam balapan terakhir di sirkuit Lemans bahkan Bagnaia mencatat nol poin. Bagnaia jatuh di sesi sprint race dan balapan utama.
Padahal secara fakta, pada seri balapan Moto GP 2025 ini Bagnaia mengalami peningkatan. Poin Bagnaia sampai balapan ke enam ini lebih besar dari tahun 2024 lalu, jumlah podium yang dicatatkannya juga lebih banyak.
Masalahnya, meski meningkat perfomancenya, namun rekannya lebih lagi. Marc dominan di seluruh balapan. Dan Marc Marquez di seri balapan Moto GP 2025 ini seperti tak ada lawan. Semua ingin melawan Marc Marquez tapi tak ada yang bisa mengejarnya.
Sampai-sampai Bagnaia pernah berujar kalau Marc sedang main-main dengan pembalap lainnya.
Marc Marquez seperti membalap di dunia lain dan semua sepakat yang bisa mengalahkan Marc Marquez adalah dirinya sendiri. Seng ada lawang, kata orang Ambon.
Marc Marquez memang agak lain, dia selalu berusaha menahklukkan motornya. Marc bisa dengan cepat menyesuaikan gaya balapnya dengan kondisi motor.
Gara-gara Marc Marquez banyak yang kemudian tak yakin dengan fungsi aerodinamik seperti winglet dan lain-lain. Dengan Ducati Marc masih tetap cepat ketika aeronya copot, bahkan ketika motornya tercabik-cabik sampai kelihatan mesinnya.
Sementara pembalap lain akan terjungkal kalau motornya kehilangan perangkatnya.
Mestinya Bagnaia tak perlu terpaku pada itu. Marc jenis mahkluk lain yang sulit ditiru. Meniru Marc Marquez hanya akan membuat Bagnaia akan semakin terpuruk.
Sewaktu Bagnaia kurang moncer di seri-seri awal, Ducati masih maklum. Balapan awal, memang dilakukan di sirkuit-sirkuit favorit Marc Marquez. Ducati menunggu kebangkitan Bagnaia mulai dari seri Qatar dan Eropa.
Tapi Marc Marquez ternyata kuat di Qatar dan menang, begitu juga di Jerez dan di Lemans. Marc Marquez menyapu semua kemenangan di sesi sprint race. Dan podium pertama gagal diraih penuh gara-gara jatuh. Sementara di Lemans podium pertama gagal diraih Marc Marquez akibat kekacauan balapan, berganti-ganti motor dan menjalani double long lap pinalty.
Bagnaia yang sudah benar dengan pilihan bannya sejak start justru terjatuh, padahal di Lemans Bagnaia punya potensi untuk menang.
Mungkin memang benar, Bagnaia tengah kena mental.








