KESAH.ID – Obsesi pada orisinalitas kerap membuat masalah. Klaim-klaim sebagai yang paling asli yang berkaitan dengan SARA kerap bisa memicu konflik internal maupun eksternal. Sedangkan yang berkaitan dengan barang atau komoditas, kerap memunculkan produk kloningan, asli tapi palsu. Bergaya dengan yang palsu, KW, tiruan dan lainnya menjadi biasa. Tapi yang tiruan tetapi diklaim sebagai asli, bukan semata merugikan dari sisi nilai ekonomi, melainkan juga dari sisi manfaat. Obat palsu, minyak palsu, oli palsu, BBM palsu jelas merugikan karena merusak kesehatan, mesin dan lain sebagainya.
Bagaimana sih ciri-ciri madu yang asli?.
Ada sih ciri madu asli versi guyonan, tapi nggak perlu saya tuliskan disini nanti pasti ada yang mbatin “Ah, gurauan bapack-bapack”.
Memang benar banyak orang yang kecewa karena membeli madu. Pembelinya pasti meyakinkan kalau yang dijualnya asli, sampai-sampai banyak yang menyertakan sarang lebah dalam ember yang ditentengnya.
Dulu ketika jalan Tol Balsan belum dibangun, dengan mudah disaksikan di jalan Balikpapan – Samarinda yang melewati Bukit Suharto, ada deretan penjual madu yang melengkapi kios sederhananya dengan tulisan ‘Madu Asli’.
Entahlah asli benar atau tidak, tapi banyak yang berbisik-bisik kalau sebagian diantaranya adalah madu nanas. Madu palsu yang terbuat dari sirup gula dan diberi pewarna hingga tampilan dan rasanya mirip madu asli.
Atau ada juga yang memalsu setengah hati, menjadi madu oplosan. Toh, pertalite saja bisa dioplos menjadi pertamax.
Sebagai makanan atau minuman suplemen madu dianggap jos untuk kesehatan, nilai gizinya tinggi sehingga bukan hanya bikin sehat melainkan juga berstamina kuat.
Dan madu enak dicampur dengan apa saja. Maka pasar madu besar.
Pasar yang besar artinya cuannya juga gede, persaingan juga menjadi tidak ketat. Madu bisa dijual dimana saja, mulai dari pinggir jalan hingga mall-mall mewah yang segala isinya mahal.
Kata teman saya yang pernah berjualan madu “Untung 300 persen saja masih terasa kecil,”
Jangan-jangan madu itu karya seni, sampai harganya subyektif sekali seperti patung yang terbuat dari plastik bekas dan kardus yang nilainya milyardan itu.
Tentu ada banyak petunjuk di internet soal langkah dan cara membedakan madu asli dan madu palsu. Tapi tetap saja masih banyak yang tertipu. Membaca tutorial tak mungkin langsung berhasil menerapkannya.
Jangankan yang membaca, yang menulis saja tak bisa dipastikan kompetensinya. Jangan-jangan tulisan 7, 12 atau 15 langkah membedakan madu asli dan madu palsu juga hasil memunggut dari internet. Bukan berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya sendiri.
Jadi bagaimana cara memastikan kalau madu itu asli?. Silahkan pergi sendiri ke sarang lebah atau kelulut lalu sedot sendiri dari kapsul madunya.
Tentang yang asli-asli ini kita memang punya obsesi. Dan obsesi pada originalitas ini dalam banyak kasus kerap bikin masalah.
Sebab dalam konteks tertentu yang disebut sebagai asli sebenarnya tak ada. Banyak hal di dunia ini memang isi atau wujudnya adalah campuran, hasil silangan, bahkan silang sengkarut.
Ambil contoh soal suku, siapa yang bisa menyebut diri sebagai Jawa Asli?.
Yang mendirikan dan mengetuai Paguyuban Jawa sekalipun tidak terjamin keasliaannya sebagai Orang Jawa.
Dari penelusuran sejarah masa lalu, para ahli umumnya sepakat bahwa yang disebut pribumi di Indonesia, orang atau masyarakat yang mendiami nusantara sejak lama berasal dari kaum pendatang.
Konon bangsa tertua yang menghuni nusantara adalah Homo Erectus, yang bermigrasi dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun lalu. Mereka yang datang terbagi dalam dua golongan, Melanisia dan Austronesia.
Jadi Jawa Asli itu sebenarnya lebih pada harapan, tentang bagaimana menjadi orang Jawa yang seharusnya.
BACA JUGA : Turun Naik Kebudayaan
Tapi soal asli dan palsu ini pada dasarnya adalah hal yang biasa. Dunia memang penuh dengan kepalsuan. Apapun yang punya ‘pasar’ dan bernilai tinggi selalu saja dipalsukan.
Yang barusan paling menghebohkan adalah BBM palsu. Kabarnya yang dijual sebagai pertamax ternyata pertalite yang dioplos dengan bahan tertentu. Menurut para penyelidik dan penyidik, untungnya selama 5 tahun bakal cukup untuk membiayai MBG, Makan Bergizi Gratis tanpa harus melakukan efisiensi disana-sini.
Pemalsuan BBM ini jelas bukan hanya menjengkelkan seperti madu palsu yang rasa tertipunya mungkin tak sampai berhari-hari. Masalahnya BBM palsu bisa bikin mobil mengelitik, dan gelitikannya bisa bikin yang punya merenggang dompet dengan lebar.
Yang tertipu madu palsu bisa jadi banyak, tapi yang merasakan akibat BBM palsu jelas lebih banyak lagi.
Masalahnya yang memalsu ini justru orang-orang yang mestinya menjaga keaslian BBM itu. Kalau yang mesti menjaga keaslian saja adalah manusia tukang palsu, siapa lagi yang bisa dipercaya?.
Satu lagi contoh pemalsuan yang menyakitkan adalah uang palsu. Menyakitkan karena pemalsuannya terjadi di jantung intelektualitas, di sebuah ruang perpustakaan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, itu adalah ruang perpustakaan dari sebuah universitas yang berlatar agama.
Dalam agama pemalsuan itu bukan hanya jahat atau kriminal karena melanggar undang-undang hukum pidana, melainkan juga dosa besar karena melanggar Hukum Allah.
Saking jengkelnya dalam sebuah talkshow televisi, seorang pembicara sampai-sampai menyebut para pemalsu ini sebagai dajjal.
Ah, dajjal sampai terbawa-bawa. Padahal siapapun yang merasa tertipu oleh dajjal patut disebut halu.
Ya, memang banyak orang kerap mencari alasan dengan menyebut setan, jin, roh halus, dajjal dan lain-lain sebagai penyebab. Padahal mana ada setan, jin dan saudara-saudari sebayanya bisa melakukan itu, untuk apa mereka punya uang. Rawon setan saja ramai pembelinya adalah orang.
Penipu, pemalsu, pengoplos itu bukan jin, dajjal dan lain-lain. Kelakuan mereka adalah kelakuan manusia normal, manusia pada umumnya. Kalau dalam pemeriksaan mereka menyebut disuruh oleh dajjal, itu hanya alasan. Dan alasan selalu dibuat-buat.
Mirip seseorang yang hamil diam-diam lalu melahirkan. Dan ketika ketahuan oleh lingkungan sekitarnya lalu bercerita kalau dia hamil karena digauli oleh gendruwo. Padahal yang disebut gendruwo itu adalah hubungan gelap.
Dalam pemalsuan yang besar dan berlangsung lama alias Terstruktur, Sistematik dan Massiv memang selalu ada ‘gendruwo’. Sosok-sosok yang sangat berkuasa dan tak terlihat. Tapi percayalah itu adalah orang. Orang yang orang lain takut menyebutkannya.
BACA JUGA : Hari Perempuan Sedunia 2025, Transisi Energi Berwatak Patriarki Sistemik
Deretan yang palsu-palsu itu panjang sekali. Bahkan sebagian sudah dinormalisasi, sampai-sampai ada istilah KW, mulai KW 1 dan seterusnya. Yang disebut ORI sekalipun bisa palsu, palsu karena dibuat oleh yang bukan punya hak. Kualitas barang, bahan dan lainnya sama persis, hanya yang membuat bukan pemilik hak cipta.
Banyak produk sebenarnya dibuat bukan oleh pemilik merek. Nah pabrik pembuatnya atau oknumnya bisa saja berlaku curang. Mereka bisa saja membuat lalu menjual sendiri, bukan menyerahkan yang dibuat kepada pemilik merek. Menjual tanpa otoritas, itu palsu juga, palsu dimata hukum tapi pembelinya senang karena harganya lebih murah.
Beberapa pemalsuan memang menghebohkan. Karena yang terkena dampaknya amat banyak. Yang begini ini pasti ramai diberitakan, karena berdasarkan kaidah jurnalistik mempunyai nilai berita yang tinggi.
Kenapa manusia yang punya obsesi orginalitas atau otentik ini gemar memalsu.
Dokter Ryu Hasan, seorang ahli bedah saraf dan neurosains sering mengatakan kalau ketrampilan pertama yang dipelajari oleh manusia ketika mulai pintar berbahasa adalah mengatakan hal yang tidak sesungguhnya.
Secara evolutif kebiasaan ini menguntungkan karena membuat ikatan kelompok menguat, kelompok kemudian merasa berbeda dengan kelompok lainnya karena narasi yang tidak sebenarnya itu. kemudian muncul ‘kebanggaan pada kelompok’ nya. Ikatan menjadi menguat, seseorang rela mati atau mengorbankan diri untuk kelompoknya. Kelompok menjadi solid.
Yang tidak sebenarnya memang membuat orang kemudian mampu bekerjasama dengan orang lainnya. Dunia terkoneksi oleh kisah-kisah yang tidak sebenarnya.
Ketika peradaban berkembang, subsistensi semakin menciut karena peradaban masuk pada produksi dan konsumsi, muncul yang disebut pasar. Pasar dikipasi dengan narasi, hingga terkadang muncul kebutuhan yang tidak sebenarnya. Disitulah ruang untuk barang-barang yang tidak sebenarnya diperdagangkan.
Karena perkembangan moda ekonomi, manusia kemudian mempelajari ketrampilan baru. Dari ketrampilan mengatakan yang tidak sebenarnya menjadi menghasilkan barang yang tidak sebenarnya. Dari pembohong menjadi penipu.
Bohong tidak merugikan, tapi menipu jelas merugikan.
Merugikan karena seseorang mendapat hal yang tidak semestinya, atau bahkan yang membahayakan.
Dan yang dirugikan bukan hanya konsumen, tetapi juga produsennya. Seperti pertamaz rasa pertalite itu, yang rugi bukan saja pemilik kendaraan, tetapi juga produsen kendaraan yang memberi garansi sampai tahunan. Selain itu tentu saja Pertamina sebagai pemilik merek.
Masalahnya Pertamina bukan saja rugi, karena yang melakukannya juga orang Pertamina, entah orang di anak perusahaan atau mitra usahanya.
Ah, jangan-jangan Pertamina juga palsu, seperti madu.
note : sumber gambar – KOMPAS








