KESAH.IDSetelah penemuan komputer yang kemudian berkembang menjadi teknologi informasi dan komunikasi dunia seperti berputar lebih cepat. Perkembangan terasa lebih ekponensial, banyak hal tak lagi relevan. Nasehat, nilai atau wejangan yang dulu-dulu memang penting dan terbukti menjadi pondasi perabadan kemudian dengan cepat melampau. Sebagai bagian dari generasi tua, saya mesti tahu diri untuk memandang hidup adalah jalan pembelajaran terus menerus. Berhenti menjadi pembelajar akan membuat kita menjadi pemberi nasehat, padahal nasehat makin hari makin tak punya daya ubah.

Bapak ibu saya Jawa, sayapun lahir dan dibesarkan di Jawa. Namun saya menyadari kalau saat ini cara hidup saya tak njawani lagi. Misalnya, dalam keseharian tak lagi berbicara bahasa Jawa. Sayapun tak menurunkan kebiasaan berbahasa Jawa pada anak saya. Kosa kata Jawa yang kerap diucapkan oleh anak saya hanyalah turu dan wareg.

Sampai tamat SMA saya tinggal di daerah yang masyarakatnya berbahasa Jawa. Diajari untuk menguasai tingkatan bahasa ngoko, kromo dan kromo inggil. Saya ingat kalau ada yang pergi ke Jakarta beberapa waktu lalu pulang dan mulai memakai kata loe gue, bakal diolok-olok. “Awas muntah telo,” begitu salah satu olok-olok kami dahulu.

Sebagai anak-anak, bocah remaja yang menuju pemuda maka saya masuk dalam kasta rendah di tingkatan sosial masyarakat Jawa. Dianggap belum makan asam dan garam kehidupan. Maka dalam komunikasi dengan orang yang lebih tua sering kali dijejali dengan nasehat-nasehat, petitah-petitih.

Dan budaya Jawa memang canggih, punya buku nasehat dalam hal apapun yang sangat tebal. Salah satunya buku primbon.

Buku primbon bukan sembarang buku, meski tergeletak diatas meja saya yang masih dianggap belum cukup umur dilarang membaca sendiri.

Ada banyak nasehat yang berasal dari kebudayaan Jawa yang pernah saya dengar. Sebagian saya baca karena ada banyak yang dituliskan lalu ditempel di dinding rumah. Rukun Agawe Santoso, Ojo Dumeh dan lain-lain memang kerap dijadikan typografi yang kemudian menjadi hiasan ruang tamu.

Tapi dari sekian nasehat termasuk yang dibukukan oleh Presiden Suharto sebagai warisan luhur budaya Jawa, hanya segelintir yang kemudian saya pegang untuk menjadi tuntutan dan tuntunan bagi laku diri saya.

Nasehat itu tentang tahu diri dan tepo seliro. Mungkin dalam bahasa umum, nasehat tentang tahu diri adalah mengingatkan untuk tidak mengukur segala sesuatu dari diri kita sendiri, sedangkan tepo seliro adalah nasehat untuk bertenggang rasa. Dua hal ini berhubungan erat karena dalam dunia yang beragam kita kerap menyempitkan banyak hal hanya pada ukuran kita sendiri.

Saya yakin setiap kebudayaan mengajarkan dua hal itu sebagai nilai-nilai utama.

Di Manado saya sering mendengar ucapan “Bakaca ngana”, orang diminta untuk melihat dirinya sendiri, berefleksi. Namun kalau yang diingatkan masih bebal maka akan muncul ucapan “Bakaca di panta belanga ngana”.

Manusia walau disebut mahkluk sosial, namun dalam lingkaran sosialnya tetap selalu tergoda untuk kelihatan berbeda dari yang lainnya. Selalu ingin lebih sukses, lebih kaya, lebih cantik dan lebih-lebih lainnya daripada teman atau kelompok sebayanya.

Dan pingin lebih ini yang kemudian kerap membuat seseorang menilai terlalu tinggi dirinya, sombong, kurang rendah hati dan lain-lain.

Adalah wajar seseorang ingin berubah, menjadi lebih baik. Tapi jika berhasil itu tak boleh jadi alasan untuk merendahkan yang lain atau kemudian tampil dalam perilaku yang berbeda.

Salah satu guru spiritual saya pernah mengingatkan dengan memakai perumpaan “Kere munggah bale” atau orang miskin yang kemudian tidur di peraduan raja.

Dia lagi-lagi mau mengingatkan untuk tahu diri, jangan sombong, jangan berubah karena kedudukan, sebab dalam setiap pelantikan sumpah jabatan selalu ada nilai yang dijunjung kalau kedudukan, jabatan atau apapun hanyalah amanah.

BACA JUGA : Batu Putih

Tapi beberapa waktu terakhir ini saya merasa kurang tahu diri, tapi tak berarti saya sombong atau tinggi hati. Bukan begitu karena tak ada sesuatupun dalam diri saya yang pantas untuk disombongkan.

Ini bermula dari masa-masa ketika pandemi Covid 19. Saya kehilangan beberapa teman, teman sebaya yang sehari-hari menjadi teman tongkrongan.

Covid 19 merebut seorang teman sebaya saya yang merupakan animator atau dinamisator kumpulan. Karena dia tiada, kumpulanpun bubar.

Untungnya pada irisan waktu itu ada seorang teman lain yang masih cukup layak disebut sebaya mulai mengajak saya kumpul-kumpul. Selama beberapa waktu lebih sering berdua atau bertiga. Namun lama-lama lingkarannya membesar dan sebagian besar tak bisa lagi disebut sebaya karena usianya jauh lebih muda dari saya.

Andai saja saya menikah cepat, mungkin mereka seumuran dengan anak saya.

Faktanya mereka yang baru bertemu dengan saya di kumpulan akan memanggil saya dengan sebutan “Om”, dan yang lain akan tertawa. Lalu mengingatkan “Panggil Mas”. Saya biasa menimpali “Panggil njing juga gak apa-apa,”

Ini yang saya maksudkan kalau saya mulai tak tahu diri. Sebab mereka-mereka ini bukan murid saya, bukan mahasiswa saya. Tapi ada teman sebaya dalam tongkrongan.

Bukan sekali dua kali, teman lain yang tidak berada dalam lingkaran ini ketika melihat saya nongkrong di kedai kopi dari jauh akan berteriak “Wei, orang tua kurang-kurangi begadang,”

Teriakan itu nasehat yang benar.

Orang seumuran saya dengan perut mulai membuncit dan dada tumbuh mengelambir memang butuh istirahat dan tidur lebih banyak. Angin malam mulai mudah membuat masuk angin.

Jika kurang istirahat atau tidur kurang nyenyak, paginya bisa terbangun dengan rasa sakit atau nyeri-nyeri random disana-sini.

Apalagi minum kopi sekarang ini efeknya benar-benar terasa mengganjal mata. Minum kopi di malam hari membuat mata susah terpejam, taruhannya tidur di dini hari.

Tapi itulah konsekwensi dari tak tahu diri.

Tak apalah, karena kalau hanya diam dirumah dan kemudian mata terpaku di layar mata menjadi cepat lelah. Terlalu lama berinteraksi dengan gadget meski bisa berkelana ke seluruh penjuru dunia tak membuat wawasan terbuka dan cara pikir teruji.

Berada di tengah-tengah anak muda justru membuat saya yang tak tahu diri diingatkan untuk tahu diri.

Lho, kok paradoks?.

Hidup memang paradoksal, ada banyak hal yang kelihatan bertentangan sehingga membingungkan. Namun dibaliknya memang ada kebenaran.

BACA JUGA : Ompreng Bergizi

Yang konstan dalam hidup adalah perubahan. Tapi ada nasehat lain yang mendorong orang untuk mencari kemapanan. Mereka yang sudah berada di puncak biasanya tak mau berubah, kalau sudah duduk susah berdiri.

Mungkin yang lebih tepat hidup adalah pembelajaran sepanjang hayat, long life education.

Maka berada di tengah kumpulan anak-anak muda buat saya merupakan universitas kehidupan.

Disana saya terus memelihara semangat kalau hidup adalah terus belajar, terus menjadi pembelajar.

Berada di tengah anak muda mengingatkan saya untuk terus tahu diri, bahwa yang lebih tua tak boleh mengklaim lebih banyak makan asam dan garam dunia. Walau sering ada yang memanggil guru, tak berarti menjadi serba tahu.

Pengalaman, umur yang lebih panjang tidak linier dengan pengetahuan atau pemahaman yang besar. Semakin lalu, pengalaman hidup lebih banyak diwarnai oleh mitos-mitos dan authority based knowledge.

Makanya yang tua-tua kerap suka betul memberi nasehat. Padahal yang dilalui olehnya di masa lalu bukan merupakan pengalaman anak-anak generasi sekarang ini.

Dulu untuk sukses nasehat utamanya adalah kerja keras, sekarang ini untuk sukses yang dibutuhkan kerja cerdas. Itu salah satu misal.

Tantangan untuk saya sebagai old generation agar tetap tahu diri ialah tidak mudah memberi nasehat. Bahkan ketika diminta, tak berarti nasehat segera diobral.

Apapun dalam hidup selalu berkembang maka yang lalu-lalu tak selalu bisa menjadi patokan terkecuali sudah terbukti sebagai hukum alam, atau algoritma.

Ada banyak perkembangan yang tidak linier, jadi yang lalu tak lagi relevan.

Menjadi pembelajar adalah jalan untuk tetap menjadi relevan.

Berada di tengah anak-anak muda kemudian menjadi sebuah pembelajaran, walau dunia masih selalu dikuasai oleh yang tua-tua. Tapi dinamika jaman sesungguhnya berada di tangan anak-anak muda.

Anak muda merupakan penulis sejarah, sejarah mereka bukan tentang masa lalu tetapi tentang masa depan. Yang tua mestinya tahu diri tak usah terlalu banyak cerita yang lalu-lalu apalagi niatnya untuk mengatakan yang lalu selalu lebih baik.

note : sumber gambar – KOMPASIANA