KESAH.ID – Hanya sedikit ekonom berbakat yang mampu menyuarakan nyanyian kritisnya secara lengkap. Faisal Basri adalah salah satu sosok yang mampu menyuarakan nyanyian yang bukan sekedar tajam dari sisi ide ekonomi namun juga disertai nada moral yang dalam tentang keadilan sosial. Dengan rasionalias yang kukuh, pengetahuan yang dalam dan pemahaman yang kuat atas ekonomi dan moral, Faisal Basri dengan cermat bisa menyuarakan bagaimana cara terbaik bagi negara untuk mengelola ekonominya secara adil.
Setiap argumen mesti diuji utamanya yang menjadi dasar dari sebuah kebijakan publik. Dan batu ujian dari sebuah kebijakan publik adalah kritik, suara kritis terhadapnya yang menyasar substansi maupun perilaku pengambil dan pelaksana kebijakan.
John Stuart Mill salah satu pemikir liberalisme klasik paling berpengaruh menyatakan “Orang yang hanya tahu sisi pandangannya sendiri soal satu isu, ia sesungguhnya tidak tahu banyak soal isu itu. Ia boleh saja merasa argumennya soal isu itu sangat kuat. Tapi jika ia belum mendengar pandangan lain yang berlawan soal isu itu, kuat atau tidak argumennya belumlah teruji.”
Dan kita tahu kapitalisme sebagai anak liberalisme dalam ekonomi berkembang pesat dan menjadi model ekonomi yang paling terkemuka karena terus menerus dikritik dan menerima dengan terbuka semua kritik terhadapnya.
Padahal menerima kritik bukanlah sesuatu yang enak atau menyenangkan seperti diungkapkan oleh Winston Churcill, perdana menteri yang memimpin Inggris memenangkan perang dunia kedua. Dia mengatakan “Kritik mungkin tidak menyenangkan, tapi itu rasa tak menyenangkan yang penting. Kritik itu berfungsi seperti rasa sakit dalam tubuh kita. Kritik memberi tahu kita bahwa ada yang tidak beres dalam kebijakan publik.”
Paska reformasi 98 ada angin segar dalam demokratisasi di Indonesia. Kritik pada kebijakan publik semestinya menjadi hal yang biasa. Hanya saja seiring dengan waktu, kritik semakin dianggap berbahaya. Kekuasaan yang berdasar pada ‘citra’ lewat reka persepsi selalu terganggu oleh kritik. Mengkritik kerap dianggap menista dan menghina.
Sepuluh tahun terakhir ini kritik kerap dianggap sebagai suara berisik. Dan entah disadari atau tidak penguasa kerap memakai para cerdik pandai untuk memadamkan suara berisik ini. Mereka yang berilmu justru kerap menjadi saklar ‘noise cancellation’ dengan keilmuan mereka. Kalau cara ini tak menpan maka akan dikerahkan pasukan penyerang di dunia maya. Entah resmi atau tidak, pengambil kebijakan kerap dilengkapi dengan sekelompok buzzer.
Menjadi orang atau kelompok yang selalu menyuarakan nyanyian kritis menjadi tidak mudah. Harus tahan banting karena sering diserang secara personal. Sementara pengkritik yang terpeleset menyerang secara personal dengan mudah akan dipenjarakan.
Rocky Gerung salah seorang yang gencar menyuarakan nyanyian kritis dalam beberapa tahun terakhir ini kerap kali mengalami hal semacam itu. Rocky sering dilaporkan kepada pihak berwajib dan bolak-balik diperiksa. Dia juga sering diintimidasi dan dipersekusi, kehadiran di sebuah tempat atau acara kerap dihalang-halangi.
Baru-baru ini dalam sebuah acara talkshow di televisi, Rocky Gerung bahkan mengalami kekerasan. Diserang dengan kata-kata kasar yang akan disertai serangan fisik oleh mereka yang tersinggung dengan nyanyian kritisnya.
Dalam 3 pemilu terakhir ini para calon pemimpin kerap diperlakukan sebagai idol layaknya dalam dunia seni dan olahraga. Muncul kelompok seperti supporter atau fans yang mudah tersinggung jika pujaannya dikritik.
Gejala parasocial disorder telah memasuki ranah politik.
Kelompok jelas menganggu kesehatan sosial dalam masyarakat karena mereka dengan ponggahnya kerap mengatakan “Kami adalah pemenang,” ketika terpojok saat beradu argumentasi.
Berkali-kali Rocky didegradasi dengan pertanyaan “Apa peranmu untuk bangsa ini?”
Nyanyian kritis selalu dianggap bukan sebagai peran. Walau kita semua sejak bangku sekolah dasar selalu diajarkan tentang perlunya oposisi dalam pemerintahan sebagai penyeimbang agar kekuasaan tak jatuh dalam sikap dan perilaku otoriter.
BACA JUGA : Mudiko Ergo Sum
Walau tak seseleb Rocky Gerung, kita juga mengenal Faisal Basri seorang ekononom yang teguh menyuarakan nyanyian kritisnya sejak jaman reformasi.
Faisal dalam kiprahnya diruang publik, pemikirannya bisa diberi label oposisi seumur hidup.
Sosok yang selalu tampil dengan sepatu sandal dan topi golf ini tak canggung berbicara dengan suara serak dan lirih di ruang seminar internasional hingga ladang dan sawah petani-petani yang tersingkir. Suara dan pemikiran kritisnya tetap sama dalam ruang-ruang yang berbeda.
Gelisah dengan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang makin tak seimbang, Faisal Basri pernah memutuskan untuk berjuang secara politik. Faisal bergabung dengan Partai Amanat Nasional yang waktu dalam perencanaan akan dinamakan sebagai Partai Amanat Bangsa.
Faisal Basri bersedia bergabung dengan PAN karena ada Amien Rais disana, tokoh yang waktu itu dianggap paling validatif untuk mengusung semangat reformasi.
Hanya saja Faisal Basri tak bertahan lama di PAN. Partai yang mengabungkan antara semangat nasionalisme, sekuler dan religi itu dibawah kepemimpinan Amien Rais cenderung memakai pondasi religi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Faisal Basri emoh dengan kecenderungan seperti itu.
Tak lagi berpartai, Faisal Basri juga semapat didorong-dorong untuk mengikuti kontestasi politik di Pilkada DKI Jakarta.
Namun politik praktis sepertinya memang tak cocok bagi Faisal Basri untuk menyuarakan nyanyian kritisnya. Menjadi orang yang bebas merdeka atau masyarakat biasa justru membuat Faisal Basri tetap nyaman mengungkapkan semua keresahan atas semua rencana dan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.
Dengan suara yang tak selantang kebanyakan kaum kritikus lainnya, Faisal Basri berupaya bersuara gamblang soal kebijakan yang disuarakan oleh pemerintah akan mendongkrak ekonomi bangsa dan negara. Sebagai seorang ekonom Faisal Basri tak serta merta terperdaya oleh hitungan-hitungan ekonomi semata. Kebijakan ekonomi pemerintah dalam mata Faisal Basri adalah soal keadilan dan masa depan bangsa serta negara.
Rencana pemerintah yang terbilang wah selalu dikuliti oleh Faisal Basri dengan basis argumen yang kuat karena didasari oleh data dan fakta yang tak kalah kuat hasil dari riset dan perjumpaan-perjumpaannya tanpa batas.
Ekonom yang kemana-mana selalu naik mobil umum ini orbitrasinya luas. Faisal tak hanya diundang oleh panitia-panitia seminar nasional atau internasional, dia biasa berada di pelosok negeri atas undangan warga, warga yang menderita karena kebijakan pemerintah yang dalam pidatonya selalu mengatakan ingin mensejahterakan warga bangsa dan negara.
Buat Faisal Basri sehebat apapun rencana atau bahkan grand desain ekonomi pemerintah selalu harus dinilai dari sisi kemanfaatan dan keadilan untuk masyarakat banyak serta masa depan bangsa serta negara.
Faisal Basri selalu berefleksi dalam atas sebuah kebijakan sehingga uraian analisisnya bisa setajam silet yang mengiris lembut semua potensi pemburu rente, kronisme dan keuntungan untuk kelompok tertentu dibalik kebijakan itu.
BACA JUGA : Tanpa Partai
Kamis, 5 September 2024 karena masalah jantung Faisal Basri berpulang. Kita kehilangan seorang ekonom yang kritis dan sarat pertimbangan moral dalam usia 65 tahun.
Beruntung selama hidupnya Faisal Basri tidak sibuk memperkaya diri walau hal itu tak sulit untuknya. Untuk semua pemikirannya banyak pihak yang bersedia membayar dalam jumlah besar. Tapi Faisal Basri tidak memilih untuk itu.
Semua bakatnya justru digunakan untuk memperkuat landasan berpikir yang dalam dan tajam lewat berbagai macam organisasi yang kini dikenal kritis menyuarakan keadilan, anti korupsi dan anti kronisme.
Di dalam berbagai organisasi yang teguh melakukan pendidikan, penyadaran dan advokasi untuk masyarakat kecil ada jejak-jejak pemikiran Faisal Basri. Faisal Basri selalu menekankan lapangan riset dan advokasi ekonomi adalah yang utama jika bangsa Indonesia ingin jadi bangsa besar dan berkelanjutan.
Kita kehilangan salah satu pemikir ekonomi yang berbakat. Kitapun akan rindu suaranya yang serak dan lirih namun membawa kedalaman emosi yang tak ditutup-tutupi. Sebagai ilmuwan bukanlah hal haram bagi Faisal Basri untuk menyuarakan kalimat-kalimat emosional terlebih tatkala para pemangku dan pengambil kebijakan berperilaku tak masuk akal dalam mengelola ekonomi negara.
Beruntung kita telah memasuki jaman digital dan virtual. Meski telah pergi, Faisal Basri meninggalkan banyak jejak yang bisa terus mengingatkan kita semua atas suara dan nyanyian kritisnya.
Nyanyian kritisnya bisa terus diresonansi, diamplifikasi sehingga semakin banyak yang mendengarnya dan mempertimbangkannya dalam kebijakan.
Demokrasi adalah jalan legal mengantar seseorang ke tampuk kekuasaan, namun demokrasi tak menjamin mereka yang terpilih tidak ugal-ugalan dalam menentukan dan mengeksekusi kebijakan. Disitulan nyanyian kritis tetap diperlukan.
Terima kasih Bang Faisal Basri karena telah menjadi oposisi yang teguh menyuarakan nyanyian kritis sepanjang hidupmu. Yakinlah suaramu akan terus bergema sampai cita-citamu terwujud walau dikau tak lagi bisa menyaksikannya.
note : sumber gambar – KONTAN








