KESAH.ID – Marc Marquez belum habis, bahkan menjadi tua-tua keladi. Empat race terakhir membuktikan setelah didera cidera panjang ternyata Marc mampu bangkit dan menunjukkan kemustahilan karena empat kali berturut mampu meraih podium dengan posisi start di jauh di belakang. MM bukan hanya singkatan dari Marc Marquez, tapi juga Marc Mustahil.
Moto GP makin menarik, namun magnetnya tetaplah satu orang yakni Marc Marquez.
Mengawali seri balapan di Catalunya dengan buruk, Marquez dalam sprint race mengulang kembali kejadian seri sebelumnya di Le Mans Perancis.
Di Le Mans, saat sprint race Marc Marquez yang start dari posisi 13 bisa finish di podium ke 2. Saat ditanya apa kuncinya, dia menjawab tidak tahu. Dia merasa beruntung dan keberuntungan itu sulit untuk diulang.
Nyatanya pada saat race utama, Marquez kembali lagi melakukan start yang fantastik dan kembali bisa finish di podium kedua karena berhasil mengejar dan kemudian melewati Francesco Bagnaia yang tadinya sudah jauh di depan.
Race utama di Le Mans akan diingat karena balapan itu menjadi saksi persaingan antara Jorge Martin, Pecco Bagnaia dan Marc marquez, tiga pengendara Ducati terbaik untuk bersaing menjadi juara.
Kembali Marc Marquez menyebut itu sebagai keberuntungan yang berulang. Dan dia menegaskan keberuntungan itu hanya akan terjadi satu atau dua kali dalam setahunnya, atau semusim.
Tiba di sirkuit Catalunya, Marc Marquez menyebut sirkuit ini bukan favoritnya. Bahkan ketika menaiki Honda, Marc Marquez tidak bisa mempraktekkan stop and go sebagai kelebihannya. Sirkuit Catalunya punya karakter tikungan tajam yang panjang.
Dan terbukti Marc Marquez merana. Marc yang selalu ingin start dari posisi depan gagal mewujudkannya. Posisi startnya bahkan lebih buruk dari Le Mans. Di Catalunya, Marc Marquez harus memulai balapan dari posisi 14.
Sebelum balapan, Marc menyebut finish di posisi 6, 7 atau 8 adalah yang paling masuk akal.
Sprint race Catalunya berkata lain. Meski benar berbau keberuntungan namun lagi-lagi Marc Marquez menunjukkan ‘kemustahilan’. Satu putaran pertama Marc Marquez sudah menyodok 6 posisi keatas. Memasuki lap kedua, Marc Marquez berhasil di posisi 8.
3 pembalap yang sedang memimpin berturut terjatuh. Pertama Raul Fernandez, lalu Brad Binder dan kemudian Pecco Bagnaia. Namun lagi-lagi menjelang lap pemungkas, Marc memperbaiki posisinya dengan menyalip Pedro Acosta, mirip kejadian di Le Mans dimana posisi kedua diperoleh dengan menahklukkan Pecco Bagnaia.
Sekali lagi meski berbau keberuntungan karena pemimpin balapan berguguran, capaian Marc Marquez di Catalunya layak diberi bintang karena sejak lap awal Marc Marquez kehilangan salah satu aeronya.
Ketika berada dalam kerumunan, Marc terlalu dekat dengan Jack Miller sehingga winglet kirinya menyentuh ban belakang Miller lalu copot dan terpental.
Konsekwensinya motor menjadi tak seimbang dan saat digeber dengan kecepatan tinggi akan melaju seperti ditarik-tarik dari sebelah. Kehilangan winglet juga akan membuat motor cenderung mengalami wheely atau ban depan sering terangkat jika berakselerasi.
Namun Marc Marquez berhasil mengendalikan motornya dengan baik dan menyalip banyak pembalap lainnya. Marc bahkan tidak melakukan kesalahan, hanya sedikit melebar hingga menyentuh batas track limit.
Padahal sirkuit Catalunya dikenal licin, aspalnya kurang mencengkeram sehingga membuat motor mudah tergelincir. Luar biasa, Marc Marquez bisa tampil sempurna meski dengan motor yang pincang karena kehilangan perangkat aeronya.
Seorang Jorge Martin yang dikenal cepat sekalipun bahkan mencari aman agar tidak tergelincir. Hingga Jorge yang selalu digdaya dalam sesi sprint race kehilangan podium karena hanya finish pada posisi ke 4.
BACA JUGA : Ducati Pusing
Saat Sunday Race atau balapan utama, start Marc Marquez tidak terlalu spektakuler. Memasuki lap kedua posisinya memang naik ke posisi 11, loncatannya tidak setinggi race-race sebelumnya.
Sementara pembalap di depan langsung ngacir, Pecco Bagnaia dan Pedro Acosta langsung membuat jarak, baru disusul oleh Jorge Martin. Ketiganya membuat rombongan depan berjarak dengan rombongan berikutnya.
Persaingan Pecco, Pedro dan Jorge berakhir ketika Pedro Acosta mengalami crash, terjatuh saat membelok ke kiri. Pecco Bagnaia dan Jorge Martin memimpin di depan, jauh meninggalkan lawan-lawannya.
Marc Marquez yang sadar dengan kecepatan motornya tidak berusaha memaksa, nampak jelas Marc berusaha menghemat ban untuk menyerang ketika lawan mulai kehilangan cengkraman.
Dan perlahan Marc Marquez bisa mengejar Brand Binder, Raul Fernandes dan kemudian beberapa lap menjelang balapan berakhir, Marc mem-push motornya untuk melewati Aleix Espargaro yang berada di posisi ketiga.
Keajaiban kembali berulang, Marc Marquez finish podium ketiga di Sirkuit Catalunya dari posisi start ke 14 dengan ditempel sangat dekat oleh Aleix Espagaro dalam 3 lap terakhir.
Aleix Espagaro yang sebelumnya telah memutuskan untuk pensiun di tahun depan, sebenarnya hendak menutup episode manisnya dalam balapan Moto GP di Spanyol ketika berhasil meraih pole position dan kemudian meraih podium di sprint race. Namun mimpi itu dikubur oleh Marc Marquez di sesi balapan utama. Marc tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih double podium di Sirkuit Catalunya.
Podium di Catalunya menjadi kali keempat Marc Marquez merangsek ke depan dari posisi di belakang secara berturut-turut. Meski memulai dari posisi start yang tidak bagus, dua race terakhir Marc Marquez selalu podium.
Empat balapan terakhir semakin membuktikan gaya membalap Marc Marquez dengan Ducati sudah jauh berbeda saat membalap dengan Honda. Marquez mulai menunjukkan kesabaran untuk maju ke depan secara bertahap dan menyerang di lap-lap terakhir menjelang balapan usai.
Saat mengendarai Honda, Marc Marquez tak peduli dengan kecepatan motornya. Dia selalu memaksa motornya agar cepat dan membuat keunggulan dengan melakukan late brake, pengereman yang sangat dalam sesaat sebelum menikung.
Stop and go menjadi andalam Marc Marquez di Honda. Namun di Ducati kelebihan itu tak bisa dipraktekkan. Meski masih piawai menyalip di tikungan, Marc Marquez mulai sering melewati pembalap lain saat di lintasan lurus sehingga tak menghabiskan ban.
BACA JUGA : Paling Samarinda
Jorge, Pecco dan Marc menjadi pembalap yang mengumpulkan poin diatas 100 setelah seri balapan keenam di Catalunya. Ducati menempatkan empat pembalapnya dalam peringkat atas, Enea Bastianini ada di peringkat empat.
Meski belum pernah meraih podium pertama atau juara race, penampilan Marc Marquez yang apik menempatnya dalam bursa tangga juara dunia.
Penampilan Marc Marquez dengan Ducati perlahan mampu membuat Moto GP memerah setelah pada masa sebelumnya cenderung dipenuhi atmosfir kuning. Tidak membalap di tim utama, ternyata pengaruh Marc Marquez justru membesar untuk marketing Moto GP.
Soal menjadi juara dunia, Marc Marquez tidak mau jumawa. Dia selalu menyebut ada dua pembalap yakni Pecco dan Martin sebagai kandidatnya. Marc menyebut dirinya sebagai orang ketiga yang berusaha namun sadar tidak bisa.
Walau bertalenta, Marc Marquez baru menaiki Ducati dibanding dengan Pecco dan Martin yang sudah bertahun-tahun. Dua seri terakhir membuktikan bahwa Pecco dan Martin lebih baik karena selalu berhasil memulai balapan dari grid depan, sementara Marc Marquez selalu kesusahan dalam kualifikasi.
Jadi tidaklah benar tuduhan Marc Marquez ngeprank atau melakukan sand bagging. Menyimpan kecepatan untuk kemudian diperlihatkan dalam balapan. Marc bukanlah Pedro Acosta yang masih sangat muda sehingga masih banyak waktu untuk meraih prestasi.
Lesatannya dari belakang merangsek kedepan untuk meraih podium bukanlah pertunjukan yang disengaja olehnya. Meraih podium dengan cara seperti itu sungguh beresiko karena pada awal-awal lap berpotensi untuk menyeruduk atau menyenggol lawan.
Maka sungguh konyol menuduh Marc Marquez sengaja menyimpan kecepatan yang sesungguhnya tidak dia punya. Data menunjukkan dalam dua balapan terakhir kecepatan tertinggi motor Marc Marquez dan waktu tempuh tercepat lap-nya tidak tinggi. Marc Marquez berada dalam ukuran rata-rata tengah sedikit atas.
Adalah benar, Marc Marquez akan sulit memenangi race jika tak memulai balapan dari garis depan. Akan terlalu banyak waktu terbuang untuk melewati banyak pembalap yang tentu saja bakal mengikis ban dan membuatnya tidak bisa mem-push motornya di akhir-akhir balapan.
Pintu untuk bersaing memperebutkan juara dunia memang sudah terbuka untuk Marc Marquez. Bukan mustahil memang, karena lintasan balapan sering menunjukkan tak ada yang mustahil untuk Marc Marquez. Marc adalah kemustahilan.
Gelar juara dunia memang dituju oleh Marc Marquez yang kemudian rela meninggalkan Honda yang telah memberi segala-galanya. Namun bukan tahun ini dan bersama Gressini. Perjalanannya bersama Gresini walau terasa istimewa hanyalah jalan untuk mendapat motor yang lebih baik tahun depan.
note : sumber








