KESAH.ID – Banyak sekali seminar, simposium atau tawaran training aktivasi otak kepada para orang tua. Termakan oleh iklan kemudian para orang tua berbondong-bondong membawa anaknya untuk diaktivasi otaknya. Padahal sejak dalam kandungan otak sudah aktif, aktif seratus persen.
Aktivasi otak itu opo seh? Itu cuma iklan motivator atau trainer saja, tak lebih dari jualan yang seolah-olah masuk akal. Ya masuk akal untuk yang kurang punya pengetahuan soal otak.
Kesenjangan pengetahuan memang kerap dijadikan modus untuk menjadi komoditas, dimonetisasi lewat seminar-seminar atau training-training yang judulnya wow.
Padahal otak, mau otak depan, tengah, belakang, kanan atau kiri, semua sudah aktiv sejak lahir. Jadi yang namanya aktivasi otak itu tidak perlu, otak bukan simcard atau aplikasi yang perlu diaktivasi.
Jadi yang disebut dengan otak itu sudah built in, begitu lahir otak sudah jalan dan bekerja optimal. Jika tidak pasti ada bagian tubuh atau fungsinya yang kurang.
Hanya saja otak juga seperti bagian tubuh lainnya, bisa dilatih untuk menguasai hal-hal tertentu dengan latihan.
Karena fabrikasinya berbeda, otak tiap orang akan berbeda-beda. Kemampuan bawaan otak biasa disebut dengan bakat. Dengan bakat seseorang akan lebih cepat menguasai hal tertentu dibandingkan dengan orang lain pada umumnya.
Tapi biar bakat atau tidak, tetap saja yang namanya latihan perlu.
Lionel Messi yang punya bakat bawaan sepakbola, kalau tidak pernah bergabung dengan sekolah bola juga nggak akan jadi apa-apa, nggak bakal meraih ballon d’or sampai 8 kali.
Sebaliknya kalau nggak punya bakat namun rajin berlatih dan sudah melampaui angka 10.000 jam pada umumnya orang akan disebut sebagai ahli.
Maka soal yang disebut keahlian, kemampuan atau ketrampilan pada dasarnya adalah pembiasaan. Seperti pepatah allah bisa karena biasa.
Orang Jawa juga sering mengatakan witing tresno jalaran saka kulino.
Pengetahuan, sikap, persepsi dan perilaku yang berbeda-beda itu bukan produk aktivasi otak tapi pembiasaan. Religiusitas misalnya adalah pembiasaan, dimana orang dibiasakan untuk meyakini bahwa tidak ada hal yang mustahil di dunia ini.
Makanya masyarakat religus cenderung menurun logikanya, karena mempercayai tidak ada hil yang mustahal. Padahal ada banyak hal yang mustahil di dunia ini, tak heran jika kemudian survey menunjukkan masyarakat religus IQ-nya cenderung lebih rendah dari masyarakat non religius.
“Yakin kamu bisa,” begitu affirmasi yang sering diucapkan oleh para motivator untuk mendrive perubahan dalam diri seseorang.
Benarkah?.
Ya nggak bakal. Kita nggak bisa sampai ke puncak gunung kalau hanya berbekal keyakinan bisa sampai. Untuk bisa sampai ke puncak gunung perlu latihan, kaki perlu dilatih untuk menahan beban tubuh saat menanjak atau menurun dalam jarak tertentu.
Tiba-tiba mendaki gunung hanya berbekal keyakinan bisa jadi pulang hanya sekedar nama.
BACA JUGA : Predasi Penyakit
Istilah aktivasi otak muncul dari anggapan bahwa fisik terpisah dari psikis, sebuah pandangan lama yang masih bertahan hingga saat ini. Padahal raga dan jiwa bukanlah dua entitas yang berbeda. Seperti deru motor dari knalpot tidak terpisah dari mesinnya.
Bunyi raungan motor adalah hasil dari kerja mesin, pun dengan jiwa {perasaan, sikap, mental, perilaku, dll} adalah hasil dari kerja raga.
Jadi otak tak perlu diaktivasi, begitu seseorang dilahirkan otaknya sudah aktif, bekerja 100 persen. Jika otak tak bekerja 100 persen, seseorang akan mengalami kekurangan karena ada organ-organ tubuh yang tidak akan bekerja sempurna.
Pandangan bahwa perilaku, sikap, kecerdasan dan lainnya bersifat psikologis adalah sisa-sisa dari pengetahuan lama saat ilmu pengetahuan belum memahami cara kerja otak. Semua penjelasan terhadap otak lebih bernilai filosofis ketimbang ilmiah.
Pemahaman para ilmuwan tentang otak berkembang setelah tahun 60-an saat komputer ditemukan. Ternyata cara kerja otak mirip komputer, walau algoritmanya lebih rumit karena memori tersimpan di banyak tempat.
Kembali ke aktivasi otak, tidak perlu otak diaktivasi seperti simcard handphone. Namun otak seperti bagian tubuh lainnya bisa dilatih. Seperti seseorang yang tidak bisa bermain gitar, lalu berlatih dan kemudian bisa. Kalau amat rajin bakal jadi mahir atau ahli.
Aktivasi benar jika dimaknai sebagai latihan. Tapi kalau aktivasi adalah mengaktifkan bagian otak yang dianggap belum aktif atau belum dimanfaatkan adalah salah besar. Tidak ada bagian otak yang tak aktif dan perlu diaktivasi.
Intinya agar optimal yang paling penting adalah membiasakan. Segala sesuatu perlu dibiasakan.
Dan pembiasaan itu tidak bisa dengan nasehat, meski dilatih terus menerus.
Kenapa orang Indonesia menjadi sangat religius, apakah karena bakat yang diaktivasi?. Tidak, masyarakat Indonesia menjadi religius karena dibiasakan. Menu keseharian kita sangat religius, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dimana-mana semua berbau religius.
Karena terbiasa dengan hal-hal yang berbau religius maka masyarakat Indonesia menjadi religius.
Sebagai masyarakat religius kita kemudian kerap kali berpikir berdasarkan keyakinan. Akibatnya cara berpikir masyarakat Indonesia kerap tidak logis, kurang rasional.
Sehingga kalau kita mau bicara soal aktivasi otak agar bangsa ini maju seperti bangsa-bangsa lain yang sering dipakai sebagai ukuran, maka latihan atau pembiasaan yang diperlukan adalah berpikir logis atau rasional.
Lagi-lagi motivator memang kerap lebay. Mereka kerap mengatakan bahwa manusia multitalent. Padahal ya tidak, bahwa ada satu dua orang bisa tak berarti semua orang bisa. Jumlah orang hebat itu sedikit, kebanyakan lainnya hanya rata-rata. Sehingga orang hebat tidak bisa dipakai sebagai ukuran.
Bagaimana seseorang bisa melakukan atau memikirkan berbagai hal dalam satu kesempatan itu sangat sulit. Sebab rata-rata manusia sulit untuk fokus, kemampuan fokus pada satu hal tidak lama. dan kalau sudah fokus maka yang lain akan diabaikan.
Kalau tidak percaya, bisakah kita masak sambil nonton televisi atau menjawab telepon?.
Atau main bola sambil menghafal pelajaran karena besok mau ujian?. Pasti tidak bisa.
BACA JUGA : Ibu Bumi
Kita memang cenderung melebih-lebihkan jaman ini, jaman penuh pengetahuan sehingga merasa bahwa otak manusia sekarang lebih hebat dari otak manusia lampau.
Padahal temuan membuktikan bahwa otak kita tidak beda jauh dengan otak nenek moyang, tidak cerdas-cerdas amat. Bahkan dalam banyak hal kecerdasannya malah menurun.
Kalaupun jaman kita makin canggih, makin banyak teknologi yang tidak terbayangkan sebelumnya itu bukan karena kita secara kolektif lebih hebat dari nenek moyang kita. Yang disebut pengetahuan dengan segala teorinya dan kemudian diimplementasikan dalam teknologi, tidak dihasilkan oleh banyak orang. Cukup satu penemu saja dan yang lain bisa mempelajari, meniru atau mengembangkan. Dan yang lebih banyak adalah memakainya.
Seperti Games, tidak banyak orang Indonesia yang jago mengembangkan Games tapi amat banyak yang pintar memainkannya. Karena untuk pintar main Games tak perlu tahu kode-kode dibalik permainan itu, yang paling penting banyak bermain.
Dengan banyak bermain seseorang membiasakan mengkoordinasi antara tangan, mata dan pikiran. Memorinya makin banyak dan tertanam menjadi memori implisit sehingga reaksinya menjadi cepat. Yang melihat akan mengatakan sebagai mahir.
Memori implisit hasil latihan ini yang kemudian sering kita anggap sebagai kecerdasan. Apalagi jika dibandingkan dengan binatang, sehingga kita merasa lebih cerdas.
Tapi itu perasaan saja, sebab yang kita anggap sebagai kecerdasan itu adalah pengetahuan kognitif. Pengetahuan yang kita pelajari lewat sarana akademis atau lainnya.
Alhasil kita selalu menganggap mereka yang nilainya tinggi adalah cerdas. Padahal sebagian besar yang nilainya tinggi itu karena rajin belajar.
Yang disebut sebagai kecerdasan adalah kemampuan untuk mempertahankan hidup selama mungkin.
Maka manusia secara individual menjadi mahkluk yang tidak lebih cerdas dari ayam.
Kalau tidak percaya, bawa anak ayam dan anak manusia ke dalam hutan lalu tinggal sendirian. Siapa yang akan bertahan hidup?. Anak ayam yang punya kemungkinan lebih besar untuk hidup karena ayam tidak lama setelah menetas, bisa berdiri, lari-lari dan mulai cari makan sendiri.
Sementara anak manusia sampai umur puluhan tahun masih tergantung pada orang tuanya.
Dan itu bukan karena otaknya belum diaktivasi.








