KESAH.IDSetiap kali menjelang pemilu, NU selalu menjadi bintang. Ormas Islam terbesar se Nusantara bahkan sedunia ini anggotanya melewati separuh jumlah pemilih di Indonesia. Andaikan aspirasi politiknya tunggal niscaya, siapapun yang didukung oleh NU akan memenangkan pemilu dalam satu putaran. Untungnya aspirasi politik NU selalu tidak tunggal, secara struktural NU juga membebaskan diri dari politik dukung mendukung. Namun karena jumlah massa yang besar, suara NU selalu menjadi magnet untuk diperebutkan.

Saya yang baru ketika baru beberapa saat brojol lahir ke dunia segera dibaptis oleh Romo Misionaris dari Brasil, sudah sejak lama sering merasa menjadi bagian dari Nahdatul Ulama. Awalnya mungkin sepele, karena urusan saya suka melek dan merokok.

Bagi saya waktu itu yang tak mudah keluar rumah di waktu malam, ritual dan kebiasaan masyarakat NU menjadi cara untuk mentas dari kegabutan terkurung dalam rumah begitu matahari tenggelam.

Kendurenan dan lek-lek-an kalau ada yang meninggal menjadi acara favorit saya. Menyenangkan karena selain bisa menghabiskan malam di luar rumah, di acara itu saya juga bisa merokok dan minum kopi dengan nyaman. Sesuatu yang saya lakukan dengan curi-curi kalau di rumah.

Namun lama kelamaan saya merasa nyaman dalam lingkungan NU bukan hanya karena itu. Seiring dengan perkembangan cara beriman dan beragama saya, rasanya apa yang dipraktekkan oleh jamaah NU dalam beriman dan beragama tak berbeda jauh dengan saya.

Berada dalam lingkungan NU, saya tak pernah merasa resah sebagai minoritas. Sebagai orang Katolik yang tak katolik-katolik amat, sampai sekarang saya merasa aman dan nyaman sebagai orang Katolik 100 persen sekaligus Indonesia 100 persen karena lingkungan pergaulan sosial dan kultural saya yang lebih dekat pada masyarakat NU.

Tapi bukan itu yang ingin saya kesah-kan, melainkan tentang NU yang kemudian menjadi bintang dalam setiap pemilu. Dalam amatan saya dari pemilu ke pemilu, posisi NU makin hari justru makin menguat walau secara politik formal NU selalu menegaskan tidak berafiliasi ke organ politik manapun.

Lihat saja ketika nama capres mulai mengerucut, terkunci pada 3 calon giliran berikutnya adalah siapa cawapresnya. Dan clue yang paling kuat adalah NU. Seperti apapun makanannya minumannya Teh Botol Sosro, begitu juga siapapun capresnya, cawapresnya NU.

Beberapa sosok yang sering di-endorse oleh Joko Widodo sebagai capres potensial namun kurang dekat dengan NU kemudian mulai merapat. Yang paling strike tentu saja Erick Thohir, November 2021, Erick masuk Banser, resmi menjadi Banser Bersertifikat.

Banser adalah lembaga semi otonom dari GP Ansor, organisasi kepemudaan NU.

Sementara Sandiaga Uno, karib Erick Thohir memakai cara yang tidak langsung. Sandiaga melipir dengan merapat ke PPP.

Seperti diketahui antara PPP dan NU punya hubungan sejarah yang panjang. Kedekatan antara PPP dan NU dalam praktik politik terjadi saat Ketua Umum PBNU Idham Cholid menjadi Presiden {Ketua} PPP. Sampai sekarang PPP masih menjadi saluran aspirasi untuk sebagian masyarakat NU.

Audisi cawapres yang dinilai punya hubungan dengan NU juga aktif dilakukan oleh para capres. Prabowo sejak dini sudah lebih dahulu mengandeng Cak Imin, Ketum PKB yang juga punya sejarah kedekatan dengan NU.

Anies Baswedan juga melakukan hal yang sama dengan mendekati Khofifah Indar Parawansa.

Daftar cawapres yang punya relasi dengan NU makin panjang ketika nama Mahfud MD, Yenny Wahid dan Nazaruddin Umar banyak disebut-sebut.

Kenapa NU selalu menjadi bintang, apakah karena logo NU punya 9 bintang?

BACA JUGA : Politik Fosil 

Posisi NU yang dari pemilu ke pemilu semakin menanjak ternyata tak lepas dari dinamika pertumbuhan dalam NU sendiri.

Sebuah riset yang dilakukan oleh LSI Denny JA dibulan Agustus 2023 menunjukkan dalam 18 tahun terakhir NU menjadi komunitas yang terus tumbuh.

Data dari riset ini memperlihatkan respoden yang menyatakan “Ya, saya bagian dari NU,” pada tahun 2005 baru sekitar 27,5 persen, kemudian prosentasenya naik pada tahun 2014 menjadi 41,7 persen. Dan pada tahun 2023 ini ternyata naik lagi menjadi 56,9 persen. Lebih dari separuh populasi Indonesia menyatakan dirinya bagian dari NU.

Andai saja aspirasi politik warga NU terpusat niscaya pemilu apapun akan selesai dalam satu putaran.

Namun aspirasi politik warga NU berpencar karena penegasan bahwa NU netral, tidak dukung mendukung.

Dan dari survey LSI Denny JA maupun survey lainnya ternyata partai yang berbasis agama atau berbau agama bahkan bukan menjadi partai favorit di kalangan warga NU.

PKB yang kini dianggap paling dekat bahkan hanya menjadi pilihan sekitar 11,6 persen warga NU. Yang memilih atau menyalurkan aspirasinya ke Gerindra malah lebih banyak, 13,6 persen.

Uniknya lebih banyak lagi warga NU yang mengaspirasikan politiknya ke PDIP, jumlahnya sekitar 20,9 persen.

Kenapa demikian?.

Bisa jadi karena profil PDIP yang dulu dikenal sebagai partai wong cilik, entahlah kalau sekarang.

Secara sosiologis sebagian besar warga NU atau 62,8 persen adalah masyarakat yang hanya tamat SD dan SMP, tipe populasi mayoritas warga Indonesia. Kelompok ini umumnya memang mengidentifikasi sebagai wong cilik.

Meski menyebar di seluruh wilayah Nusantara namun 77,9 persen warga NU ada di tanah Jawa. Dan dengan hampir separuh berpenghasilan dibawah dua juta perbulan, tipikal mereka adalah warga yang sederhana dengan aspirasi politik yang tidak neko-neko.

Dengan postur sosiologis seperti itu, ideologi Pancasila tidak terlalu menjadi perdebatan di kalangan masyarakat NU. Sebagian besar warga NU setuju Pancasila dan selalu menjadi penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI Harga Mati.

Walau sebagian warga NU menyatakan “agama tak bisa dipisahkan dari politik” namun aspirasi Syariah Islam menjadi basis pemerintahan tidak populer di kalangan masyarakat NU.

Di darat NU jelas-jelas kuat, bagaimana di udara?. Soal media sosial warga NU cukup kuat, sebanyak 76,9 persen menyatakan memiliki handphone, dengan akses ke internet sebanyak 65,6 persen.

Akun media sosial terbesar yang dimiliki oleh warga NU adalah Facebook yakni 48,5 persen. Selain itu mereka juga menggunakan Twitter, Instagram, WhatsApp dan Tik Tok.

Meski dicitrakan sebagai organisasi masyarakat tradisional namun ketika dunia semakin modern toh NU tidak kehilangan relevansinya bahkan makin tumbuh. Hal ini tentu tak lepas dari kelahiran gagasan-gagasan besar dari tubuh NU.

NU mempunyai banyak pemikir, salah satu yang populer tentu saja Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Konsep pribumisasi Islam digeluti oleh Gus Dur hingga kemudian lahir Islam Nusantara dari rahim NU.

Dengan konsep Islam Nusantara ini NU kemudian menjadi organisasi yang paling kuat menjaga Islam moderat di Indonesia. Cara beragama dan beriman yang kemudian amat relevan dengan perkembangan jaman yang makin menghargai keragaman.

BACA JUGA : Kata Pak Jokowi Masih Banyak Drama Drama Sinetron 

Kebalikannya NU, Muhammadiyah menurut hasil survei dari LSI Denny JA justu menurun dari waktu ke waktu. Padahal amal usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah terus bertambah.

Saat ini Muhammadiyah mengelola sekurangnya 163 Universitas, 23.000 Taman Kanak-Kanak dan PAUD, 348 Pesantren. Selain itu Muhammadiyah juga memiliki 117 rumah sakit dan ribuan sekolah tingkat dasar dan menengah.

Hanya saja pertanyaan “Apakah Bapak dan Ibu merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah?” pada tahun 2005 dijawab  “Ya, kami bagian dari Muhammadiyah” sebesar 9.4 persen.  Jumlah ini turun menjadi 7,8 persen pada tahun 2014. Dan kini di tahun 2023, jumlahnya lebih menurun lagi men menjadi 5,7 persen.

Dalam jangka waktu 18 tahun, jumlah orang yang merasa menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah turun hampir separuhnya.

Menariknya pada tahun 2004 diatas 50 persen warga Muhammadiyah yang menyatakan “Ya, kami bagian dari PAN, Partai Amanat Nasional,

Tapi saat ini mereka yang mengatakan bagian dari PAN menurun hingga 17,5 persen. Sisanya menyebar ke aneka partai lainnya.

Dengan demikian aspirasi politik warga Muhammadiyah jauh lebih beragam, hampir tak ada partai yang menjadi pilihan utamanya.

Secara demografis basis warga Muhammadiyah lebih banyak berasal dari kalangan terpelajar. Tamatan SMA sebanyak 30 persen. Dari sisi  penghasilan juga lebih besar dibandingkan dengan warga NU. Warga Muhammadiyan 40 persennya berpenghasilan antara 2- 4 juta.

Bagaimana dengan basis demografis warga Muhammadiyah? Jika di NU lebih banyak mereka yang lulusan SMP ke bawah, Muhammadiyah lebih menyerap karangan terpelajar. Sebanyak 30% warga Muhammadiyah tamatan SMA.

Dalam konteks pemilu, mayoritas pemilih Muhammadiyah secara pendidikan dan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan warga NU..

Sedangkan dari teritori, warga Muhammadiyah yang menetap di Jawa sebesar 60 persen, sisanya tersebar di pulau-pulau lain. Sumatera termasuk pulau yang mempunyai jumlah populasi Muhammadiyah cukup besar, 35 persen warga Muhammadiyah menetap disana.

67,5 persen warga Muhammadiyah menyatakan agama dan politik tak bisa dipisahkan. Namun 95 persen setuju dengan Pancasila dan jumlah yang menyatakan “Syariat Islam jangan jadi basis pemerintahan,” ternyata besar yakni 82,5 persen.

Meski jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding dengan NU, namun persentase warga Muhammadiyah yang aktif bermedia sosial lebih tinggi dibanging warga NU dan rerata warga Indonesia lainnya.

90 persen orang Muhammadiyah mempunayi Handphone. Angkanya diatas rerata warga Indonesia yang kurang dari 80 persen. Angka akses ke internet juga tinggi, 85 persen padahal rerata warga Indonesia hanya 65 persen.

Persentase warga  Muhammadiyah yang bermain Tik Tok, Instagram Facebook, WhatsApp, juga lebih tinggi dibandingkan warga  NU dan warga Indonesia pada umumnya.

Dengan karakter yang sangat modern, pro kemajuan dan ilmu pendidikan kenapa jumlah orang yang secara ekplisit menyatakan dirinya bagian dari Muhammadiyah semakin menurun waktu ke waktu. Pun juga jumlah partai politik dan para calon yang memperebutkan pengaruh Muhammadiyah hampir tak terdengar.

Saya tak tahu jawabannya dan tak punya preferensi untuk menerka-nerka. Yang jelas andai bisa dilahirkan kembali saya akan tetap memilih untuk secara sosial, budaya maupun religius dekat dengan masyarakat NU. Tidak berubah.

Tapi soal sekolah, mungkin saya akan memilih sekolah di Muhammadiyah.

note : sumber ilustrasi gambar – KOMPAS.ID