KESAH.ID – Bumi selalu baik baik saja, tapi tidak dimata manusia dan kepentingannya karena perubahan iklim akan membuat bencana potensi bencana ekologis makin membesar, makin sering terjadi. Kemajuan pengetahuan dan teknologi bisa membantu manusia memitigasi bencana. Namun tanpa perubahan paradigma dari antroposentris ke antropomorfis dalam berhubungan dengan alam, kita akan tetap menuai dan akrab dengan kebencanaan lingkungan.

Saat berada di luar yang agak jauh dari rumah lalu turun hujan deras selalu membuat perasaan menjadi cemas. Saya mesti berpikir keras mencari rute yang paling tidak beresiko menyebabkan mesin motor mati ketika harus menerjang genangan di jalanan.

Meski posisi rumah saya tidak berada di titik banjir, namun berada di wilayah yang terkepung oleh daerah yang teramat rawan banjir jika hujan deras dalam waktu yang cukup lama.

Salah satu titik yang pasti banjir adalah ruas jalan KS Tubun Dalam.

Mulanya saya heran dari mana datangnya air yang mengenangi jalanan itu, namun setelah sering jalan-jalan sore naik turun perbukitan di daerah Argamulya luar maupun dalam, auto genangan di ruas jalan KS Tubun dalam itu bisa dimengerti.

Hampir seluruh perbukitan itu dipenuhi rumah, rumahnya bahkan lebih padat dari yang kelihatan di kanan-kiri jalan. Tutupan atap bangunan dan perkerasan lahan gang dan anak-anak gang serta halaman rumah membuat air hujan hampir seluruhnya menjadi air liaran, air yang mengalir di permukaan.

Hanya sedikit sisa tanah terbuka dan lebih sedikit lagi yang ditutupi oleh vegetasi, tetumbuhan yang besar dan menghijau. Bahkan tanah lapang yang tak telalu luas, cukup untuk bermain bulu tangkis pada umumnya juga sudah ditutup oleh semen.

Beberapa tahun lalu, saat air yang diproduksi oleh Perumdam sering mota-mati dan lebih banyak mengalirkan angin daripada air, saya sering menampung air hujan. Sewaktu hujan deras dari satu talang air di depan dapur saya bisa menabung air kurang lebih enam drum, sebenarnya bisa lebih tapi drum untuk menampungnya terbatas.

Bayangkan jika dipukul rata setiap rumah dengan lahan rata-rata 10 kali 12 meter menghasilkan air permukaan sebanyak 10 drum, berapa banyak air tumpah dan mengalir di permukaan yang bisa dihasilkan oleh rumah-rumah diatas perbukitan itu.

Bagaimanapun juga saluran air, got pembuangan di sepanjang gang yang umumnya bermula dengan nama Wira yang lebarnya rata-rata satu meter kotor itu pasti tak akan cukup tertampung di saluran air yang ada di sepanjang jalan KS Tubun Dalam yang mengalir menuju Pasundan menuju Sungai Mahakam.

Sekencang-kencangnya air mengalir tetap saja ada air yang tumpah, air yang tak tertampung dalam saluran dan kemudian akan mengenangi jalan. Kencangnya aliran air di saluran air dari KS Tubun Dalam ke Pasundan lalu Sungai Mahakam bahkan berkali-kali menelan korban. Korban yang terakhir bahkan belum berhasil ditemukan.

Genangan air tidak pada tempatnya selalu menimbulkan kecemasan. Meski tak merendam berhari-hari namun tetap menganggu mobilitas. Kendaraanpun menjadi cepat rusak apabila sering dipaksa untuk menerjang banjir.

Melewati jalan yang digenangi air sering kali juga menjengkelkan terutama ketika pengendara yang lain anteng saja mengeber gas untuk menahan deru mesin agar tak mati, tanpa menyadari bahwa laju yang cukup tinggi membuat air genangan mengguyur pengendara lainnya.

Dan kurang lebih 20 tahun tinggal di sekitar jalan KS. Tubun, titik banjirnya tambah berkembang demkian juga laju dan derasnya air. Dan yang paling mencolok, genangannya makin hari makin real time. Tak perlu menunggu lama, begitu hujan genangan langsung terjadi.

BACA JUGA : Indonesia Raya, Jangan Remehkan Musisi Cafe

Samarinda akrab dengan genangan air, banyu naik jauh sebelum berkembang menjadi kota. Saat kota ini masih ditutupi hutan berbagai penjurunya, genangan air biasa terjadi sewaktu hutan maupun pasang air Sungai Mahakam. Sebagian besar wilayah Kota Samarinda memang merupakan daratan rendah yang terbentuk dari sedimentasi.

Nama Samarinda yang berasal dari sama randah/rendah menunjukkan sejak semula daratannya sama tinggi atau sama rendah dengan permukaan sungainya.

Namun banyu naik atau calap kemudian menjadi bencana karena mengenangi tempat-tempat yang tidak semestinya. Area yang diiinginkan atau tidak direncanakan untuk digenangi air.

Petaka ini bermula ketika pembangunan di Kota Samarinda menjadi tidak ramah air, bangunan dan infrastruktur lainnya dibangun dalam konsepsi lahan kering. Dimana lahan-lahan basah berupa rawa permanen, rawa pasang surut dan dataran banjir {flood plain}, kemudian diuruk dengan tanah yang diambil dari perbukitan.

Hilangnya rawa-rawa, perubahan kontur perbukitan dan hilangnya tutupan vegetasi membuat Kota Samarinda kehilangan sebagian daerah tangkapan dan resapan airnya. Sebagian besar air hujan kemudian menjadi air liaran {run off} dan kemudian mengenangi area-area yang semestinya atau diinginkan kering.

Koefisiensi air liaran yang tinggi membuat saluran air alami maupun buatan tidak cukup untuk menampungnya. Selain itu semakin banyak lahan terbuka tanpa tutupan vegetasi juga membuat air permukaan meng-erosi lahan sehingga badan air dengan cepat mengalami pendangkalan. Daya tampung badan-badan air kemudian menurun.

Penurunan mutu atau daya dukung lingkungan yang terjadi secara global kemudian memperparah keadaan. Cuaca yang ekstrem terjadi bukan semata karena deforestasi dan pemanfaatan lahan yang tidak berkesesuaian dengan fungsi daerah tangkapan air dan daerah aliran sungai melainkan juga karena perubahan iklim.

Sudah sejak lama muncul peringatan soal dampak dari menurunnya mutu lingkungan, atau kemampuan lingkungan memperbaiki dirinya sendiri. Bukan hanya ahli atau aktivis lingkungan hidup yang bersuara melainkan juga para pendahulu kita, masyarakat tradisional dengan semua pengetahuan dan kearifannya.

Ada banyak cerita, mitos, legenda dan kepercayaan berbau mistik atau klenik yang mempunyai pesan bahwa alam itu adalah entitas yang hidup dan mempunyai daya swakendali. Bumi dan segala isinya terhubung satu sama lain untuk menciptakan keselarasan.

Namun evolusi biologi manusia dan revolusi pengetahuan serta kebudayaannya membuat manusia melampaui model hidup alamiahnya. Manusia berhasil meng-hack siklus alamiahnya untuk menghasilkan berbagai macam hal yang membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan menyenangkan namun pada sisi lainnya mengekploitasi alam secara berlebihan. Ekploitasi berlebihan ini selain menyakitkan untuk alam juga membunuhnya.

Manusia modern kemudian menempatkan diri sebagai mahkluk superior, merasa lebih dibandingkan dengan mahkluk dan unsur-unsur alam lainnya. Etika lingkungan manusia modern berwatak antroposentris, segala sesuatu di bumi ditujukan untuk manusia.

Berbeda dengan masyarakat tradisional yang kemudian kerap dipandang sebagai masyarakat tertinggal atau terkebelakang, mereka mempunyai etika lingkungan yang berwatak antropomorfis. Sebuah kesadaran atau cara hidup masyarakat yang memandang dirinya setara dengan mahkluk atau unsur-unsur alam lainnya.

Masyarakat tradisional meski tahu hewan, tumbuhan, gunung, sungai dan lainnya tidak bisa berbicara dalam bahasa manusia, namun dalam interaksinya masyarakat tradisional akan berbicara terhadap alam, tumbuhan dan juga binatang. Mereka akan minta ijin ketika masuk hutan, menyeberang sungai dan lainnya. Mereka akan minta maaf jika harus menebang pohon, membunuh binatang atau mengambil buah, daun dan lain-lain.

Bumi dan seisinya diperlakukan sebagai sesamanya.

BACA JUGA : Ribut Ribut Yang Berujung Sepi

Soal banjir kita bisa belajar dari Jakarta. Puluhan tahun lamanya, Jakarta berusaha membebaskan diri dari banjir, uang yang dikeluarkan sudah puluhan atau bahkan ratusan trilyun. Tapi pada akhirnya, Presiden sekalipun berkesimpulan bahwa banjir Jakarta sudah sulit untuk diatasi. Sehingga Presiden Joko Widodo lebih memilih untuk mewujudkan niat yang sudah diungkap sejak jaman Presiden Sukarno, memindahkan Ibu Kota Negara ke luar dari Jakarta, bahkan keluar dari pulau Jawa.

Kenapa Jakarta gagal menyelesaikan atau berdamai dengan banjir?. Persoalannya ada dalam pendekatan dimana air dianggap sebagai musuh yang harus segera dienyahkan. Dengan pendekatan teknik keairan, Jakarta kemudian mengerahkan para teknokrat lulusan universitas ternama untuk merancang proyek-proyek mengatasi banjir. Tujuannya untuk membuang air secepatnya kelaut.

Fokus proyeknya kemudian pada pengaliran, membuat infrastruktur pengaliran air. Sungai alami yang sebenarnya merupakan sistem alamiah untuk pengaliran dan pengairan kemudian dipaksa menjadi ‘jalan tol’ untuk mengirim air agar segera sampai laut. Ilmu mengatasi banjir adalah mengatakan pada air “kelaut aja lu,”.

Kalau ternyata sungai dan saluran air tidak mampu maka akan dibantu oleh pompa-pompa.

Dalam jangka pendek proyek semacam ini memang bisa membantu mengatasi masalah. Namun dalam jangka panjang justru menimbulkan masalah baru. Salah satunya jika tidak ada hujan, sungai akan kehabisan air, sungai kemudian hanya dialiri oleh air buangan rumah tangga atau limbah. Sungainya jadi bau dan airnya berwarna kehitaman.

Kita semua tahu bahwa salah satu unsur terbesar dari bumi adalah air. Namun hanya sedikit saja air yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Air hujan adalah salah satu sumber air baik jika jatuh ke permukaan bumi.

Maka mengalirkan dengan cepat air hujan yang jatuh ke permukaan bumi menuju laut sama artinya dengan menyia-nyiakan atau membuang ibu air yang baik. Air hujan mesti ditahan selama dan sebanyak mungkin di permukaan bumi dengan cara diresapkan ke dalam tanah, agar nanti bisa dipanen dalam bentuk air bersih lewat mata air, atau ditampung di wadah-wadah alamiah dalam bentuk daerah basah, seperti rawa dan danau, serta sungai-sungai yang berkelak-kelok sehingga air tidak segera sampai kelautan.

Dengan demikian kelebihan air di permukaan atau air liaran tidak menjadi bencana karena diberi wadah, mengenangi tempat yang semestinya yakni lahan basah dan badan air alamiah. Bahwa sungai akan meluap dikala hujan itu memang hal yang biasa, karenanya salah satu yang disebut ruang sungai adalah dararan banjir, tempat dimana air luapan sungai akan mengenang.

Namun proyek bernama normalisasi sungai, pada umumnya menghilangkan area yang disebut sebagai dataran banjir dan ripariannya. Kita kemudian hanya mengenal sempadan dan bantaran sungai, itupun juga terus kita langgar.

Proyek-proyek pembangunan kita memang mengenal istilah ganti rugi atau kompensasi. Tapi urusannya biasanya hanya soal uang. Padahal yang perlu dikompensasi bukan soal kepemilikan orang, melainkan juga ruang.

Rawa bisa saja dijadikan hunian atau daratan namun ruang airnya tetap harus dikompensasi. Ruang lebar kemudian dikompensasi dalam bentuk ruang panjang dan dalam, di rawa yang diuruk mesti dibangun kanal-kanal yang ruang panjang serta dalamnya jika ditotal mampu menampung jumlah air yang paling kurang sama dengan daya tampung sewaktu masih berupa rawa-rawa.

Tata guna lahan tidak bisa dihindari pasti akan berubah, namun ruang air harus dipastikan tetap terjaga. Abai pada hal ini akan membuat air permukaan kemudian akan mengenangi tempat yang tidak semestinya. Jika ini terjadi maka banjir adalah bencana.

Mari kita ingat kembali cerita atau kisah serta kebijakan para pendahulu kita yang bisa memanfaatkan alam, ambil contoh hutan secara sirkular. Nenek moyang masyarakat Kalimantan Timur yang hidup di lahan kering, membuka hutan untuk berladang, menanam tanaman pangan.

Ladang itu hanya ditanami satu dua musim kemudian dibiarkan, tidak ada proyek reboisasi atau penanaman kembali namun dalam jangka waktu 5 atau 10 tahun kemudian akan kembali menjadi hutan. Bekas ladang akan lebih cepat menghutan jika tidak ada campur tangan manusia. Pengetahuan ini kemudian dilembagakan dalam bentuk aturan berupa larangan. Bekas ladang dilarang untuk dilintasi oleh manusia, tidak boleh ada aktivitas manusia disana.

Kini banyak proyek reboisasi atau penanaman kembali gagal karena terlalu banyak campur tangan manusia. Hutan yang direboisasi andai berhasil menjadi hijau juga tidak berhasil kembali menjadi hutan karena yang tumbuh adalah tanaman penghijauan. Ekosistem hutan sebelumnya tidak akan pulih, karena tegakan tetumbuhan yang menghijau, daun, kulit, bunga dan buahnya bukanlah sumber pakan bagi mahkluk yang sebelumnya menghuni tempat itu.

Ilmu pengetahuan dan teknologi boleh saja maju tapi jika kita terus berlaku antroposentris dalam berhubungan dengan alam, bencana lingkungan akan terus terjadi. Dan bencana lingkungan pada akhirnya akan menimbulkan ketidakadilan, karena kenyamanan dan keamanan lingkungan buatan harus dibayar dengan uang. Maka mereka yang kaya raya dan berlebih uangnya akan tetap hidup nikmat.

Yang kaya tidak terlalu terganggu karena jika daerah kebanjiran bisa segera mengungsi, tinggal di hotel yang tinggi. Namun mereka yang miskin papa akan menderita, berkubang dalam air dan ketika air surut harus membersihkan rumah serta lingkungannya dengan tenaga sendiri. Mereka yang kaya bisa membayar orang.

Maka memperlakukan alam, unsur dan penghuninya baik yang biotik maupun abiotik sebagai ‘sesama’ adalah jalan untuk membuat mewujudkan keadilan. Memperlakukan alam dengan baik akan membuat alam membalas budi secara gratis dalam bentuk layanan ekosistem atau jasa ekologis.

Dan apa yang diberikan oleh alam secara gratis bisa dinikmati oleh siapa saja. Alam tidak akan membedakan-bedakan dalam memberi, kala memberi dia juga tak berharap untuk kembali. Alam tak punya pamrih.

note : sumber gambar – BBC.COM