KESAH.ID – Aksi pamer tidak pada tempatnya, terlebih pamer kekuatan atau kekuasaan bukan hanya menjengkelkan melainkan juga kerap membuat geger di masyarakat. Secara umum kebudayaan, sistem nilai, norma dan etika di Indonesia memang tak menyukai pamer, namun tidak bisa dipungkiri ada profesi, bidang usaha atau ekonomi yang menempatkan pamer sebagai faktor penting untuk meraih keberhasilan.
Dulu di kampung halaman saya banyak rumah yang ruang tamunya dihiasi dengan tulisan hanacaraka atau dalam huruf jawa yang berisi frasa “ojo dumeh”.
Ojo dumeh artinya jangan mentang-mentang, jangan sok-sok-an, jangan sombong. Intinya mau mengingatkan bahwa orang jangan jadi gede rasa karena kedudukan, kekuasaan, kekayaan, status sosial atau kelebihan-kelebihan lainnya.
Semua kelebihan atau privilege itu mestinya dimanfaatkan untuk kebaikan, kebajikan atau keutamaan, bukan untuk keuntungan dirinya sendiri maupun keluarga.
Sebagai sebuah nasehat atau ajaran “ojo dumeh” mau mengingatkan bahwa hidup itu dinamis, keadaan bisa berubah atau berputar. Seseorang bisa saja berada diatas namun besok atau lain waktu bisa terpuruk di bawah. Maka jalanilah hidup apa adanya, tak perlu memamerkan kekayaan saat masih kaya, jangan mentang-mentang saat berkuasa, jangan semena-mena pada bawahan waktu punya jabatan.
Falsafah ini kemudian diperdalam lagi dengan ungkapan “urip iku sadermo nglakoni” atau hidup itu hanya sekedar menjalani sesuatu yang sudah digariskan. Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur.
Kaya, miskin, senang, bahagia, gagal, sukses dan lainnya itu pemberian. Semua mesti diterima sama, bahwa keberhasilan itu menyenangkan tak perlu diingkari namun jangan sampai membuat lupa diri, sedangkan kegagalan itu menyedihkan ya tidak usah ditolak namun tak boleh membuat diri menjadi putus asa.
Hidup ini hanya sekali dan waktunya pendek. Lagi-lagi falsafah Jawa menyebut hidup itu hanya mampir ngombe atau minum. Maka gunakanlah waktu yang pendek itu sebaik mungkin, jangan menyia-nyiakan hidup hanya untuk mengejar kesenangan diri atau sebaliknya tenggelam dalam nestapa yang berkepanjangan.
Cara hidup atau cara laku yang ideal dalam tradisi Jawa memang mengedepankan unggah-unguh, sopan santun yang bertujuan untuk menjaga kesimbangan dan harmoni dalam hubungan sosial. dan dengan mudah falsafah-falsafah tradisionalnya bernuansa merendahkan materi dan mengagungkan ide, nilai atau norma tentang kesederhanaan, penerimaan, mengekang keinginan duniawi dan lainnya.
Cultural determinism semacam ini membuat mereka yang mengejar materi kerap disebut sebagai wong ngoyo uripe atau orang yang hidupnya memaksakan diri.
Ungkapan numpak mercy mbrebes mili, mikul dawet uro-uro, atau naik mercy {orang kaya} berurai air mata, jualan cendol {orang miskin} bernyanyi bahagia; menjadi contoh yang mewakili gagasan terhadap pemujaan ide dan penolakan materi ala Jawa.
Materi dalam pandangan falsafah Jawa dianggap tidak akan mendatangkan ketentraman dan bahkan bisa menganggu harmoni. Makanya ada ungkapan yang mengatakan ora mangan waton ngumpul atau nggak makan nggak apa-apa yang penting berkumpul.
Asketisme model Jawa ini pada ujungya mengajarkan orang untuk hidup sederhana. Konsekwensinya mereka yang mempunyai kedudukan, kekayaan atau kekuasaan yang lebih dibanding kebanyakan orang lainnya harus menahan diri, bahkan mesti menjadi suri tauladan dengan tidak memamerkan kekayaan, kekuasaan, kedudukan, kepintaran dan lain-lainnya.
BACA JUGA : Normalisasi Yang Nggak Normal
Cara hidup yang sederhana di dunia sebenarnya bukan hanya khas etika Jawa. Secara umum, bahkan dalam sistem politik dan pemerintahan paska kemerdekaan, pemimpin dan petinggi negeri berkali-kali mengungkapkan hal itu.
Bisa jadi karena sebagian besar pemimpin dan petingginya orang Jawa, ataupun kalaupun berasal dari latar belakang suku lainnya, mereka telah njawani.
Akibatnya dalam peradaban negeri ini ada semacam suasana ketidaksukaan pada mereka yang suka ‘pamer’ kekuasaan, kekayaan, kepandaian dan lainnya. Orang-orang seperti ini akan dianggap ponggah, mentang-mentang, sok, sombong atau bahkan takabur.
Masyarakat lebih tak suka lagi apabila yang tenggil, atau kelakuannya sombong itu bermodal dari kekayaan bapak ibunya, keluarga atau komplotannya. Yang begini ini bakal disumpahi dan menjadi public enemy.
Sosok terbaru yang kini sedang disumpahi oleh orang seluruh negeri adalah Mario Dandy Satrio. Mario menjadi terkenal karena video aksi kekerasannya pada Christalino David Ozora. Video yang beredar luas di media sosial itu menunjukkan aksi Dandy yang tanpa nurani menghajar habis-habisan David yang usianya lebih muda dan tubuhnya lebih kecil.
Kita tentu saja pantas untuk marah besar melihat aksi penyiksaan itu.
Tapi kemudian terkuak, Mario ternyata anak pejabat di lingkungan dirjen pajak. Dan sebagai pejabat ternyata bapaknya Mario tajir melintir, kekayaannya lebih besar dari atasannya, bahkan mungkin melebihi kekayaan menterinya, Menteri Keuangan RI.
Masyarakat kemudian menyimpulkan kelakuan tenggil Mario itu lebih didorong oleh gede rasanya sebagai anak pejabat, orang yang punya kekuasaan sekaligus kekayaan.
Kelakuan mentang-mentang itu kemudian membuat orang se-Indonesia berguman “Kayak duit bapak loe halal aja.”
Tekanan publik yang kuat membuat Menteri Keuangan RI Indonesia kena getahnya. Bapaknya Mario kemudian dicopot dari jabatannya, dibebastugaskan untuk kemudian diperiksa.
Bapaknya yang hancur lebur karena kelakuan anaknya dengan cepat menyatakan mengundurkan diri dari ASN, namun pengundurannya tidak diterima oleh Menteri Keuangan. Dia harus menjalani pemeriksaan lebih dahulu, KPK pun bergerak cepat menunggang angin kecurigaan atas kekayaan sang pejabat yang LHKPN-nya sebelumnya tidak disoal.
Padahal pejabat yang kekayaannya mencurigakan karena jauh diatas pendapatan dari gaji dan tunjangan adalah soal umum di Indonesia, dianggap biasa saja. Pasti banyak yang mencurigai kekayaan itu berasal dari korupsi dalam arti seluasnya, namun tetap tak bisa diperiksa jika tak kena kasus.
Basuki Tjahaya Purnama dalam urusan ini pernah mengungkapkan perlunya pembuktian terbalik, para pejabat harus melakukan pembuktian dari mana kekayaannya diperoleh. Tapi pembuktian terbalik tidak dikenal dalam sistem hukum kita.
Jadi masyarakat menunggu, mereka yang tajir melintir ditunggu sampai kepleset. Entah dirinya yang kepleset atau anak dan saudara-saudari lainnya.
Bapaknya Mario yang awalnya ayem tentrem dan teman-teman lainnya yang tajir juga sehingga bisa mengkoleksi mobil mewah, mobil antik dan bikin klub motor gede akhirnya pontang-panting karena kelakuan Mario.
David menjadi martir, deritanya membongkar banyak aib, kelakuan tidak pantas dari mereka-mereka yang mestinya mengedepankan pengabdian pada negara.
Karena penderitaan David akhirnya terbongkar kelakuan Mario sebelum-belumnya yang suka memamerkan harta kekayaan orang tuanya. Harta yang kemudian dipertanyakan oleh publik hingga kemudian dianggap sebagai skandal.
Kelakuan Mario memang memprihatinkan, namun tidak mengejutkan. Sebelumnya telah ada deretan Mario-Mario lain dan nanti sesudahnya juga masih akan ada Mario-Mario baru lagi.
Sejarah telah mencatat ada banyak anak orang kaya, orang berpengaruh yang kelakuannya bikin geger masyarakat.
BACA JUGA : Sekolah Subuh Cara Ampuh Cetak Siswa Tangguh
Pada jaman serba pamer ini masyarakat kemudian benci pada aksi-aksi pamer, sebutannya flexing.
Sebenarnya bukan pada soal pamernya melainkan pada bohong-bohongannya. Sebab banyak yang memamerkan hal-hal yang bukan miliknya sendiri. Atau pada tujuannya, dimana pamer sering kali ditujukan untuk melakukan penipuan.
Dalam politik dikenal istilah pencitraan, seseorang memamerkan berbagai macam hal untuk menunjukkan kepedulian pada isu tertentu, pada kelompok tertentu dan lain-lain. Disebut pencitraan karena aksi itu dilakukan bukan karena kepedulian namun karena keinginan untuk meraup popularitas yang nantinya akan berpengaruh pada elektabilitas.
Di luar hal-hal negatif tentang pamer, menunjukkan sesuatu kepada orang banyak, pihak lain atau publik sebenarnya merupakan hal yang wajar bahkan keharusan.
Dalam bidang ekonomi, layanan jasa dan hal-hal yang berkaitan dengan industri kreatif, memamerkan karya, produk, layanan dan pencapaian menjadi penting. Dengan memamerkan sesuatu orang, lembaga atau apapun akan mendapat pengakuan, apakah karya, produk, layanan atau prestasinya baik atau tidak.
Makanya sering diselenggarakan berbagai macam event untuk melakukan pameran, sebutannya macam-macam. Ada expo, festival, fair dan lain-lain.
Secara pribadi orang-orang tetentu terutama para pekerja profesional juga mesti rajin pamer agar portofolionya bagus, dikenal oleh publik sehingga akan memperoleh banyak klien yang ingin memanfaatkan jasanya.
Penampilannya akan dijaga, apa yang dipakai atau dipergunakan selalu yang terbaik agar dipercaya atau bonafide.
Pembicara publik, kaum yang disebut sebagai public opinion leader juga mesti pamer gagasan, pemikiran, analisis dan lainnya yang up to date agar relate dengan kondisi saat ini. Jika tidak maka dirinya tak akan lagi jadi narasumber, tak mungkin jadi rujukan untuk diwawancarai oleh lembaga publikasi.
Pun demikian dengan para penghibur, orang-orang yang bekerja di bidang entertainment. Mereka harus selalu pamer, menunjukkan dirinya, aksi dan juga karya-karyanya agar mendapat apresiasi dari masyarakat hingga kemudian diundang mengisi berbagai acara, atau produk serta kayanya menjadi laku di pasaran.
Maka urusan pamer ini tidak bisa di-gebyah uyah sebab tidak semua pamer itu buruk. Soal urusan pamer itu kemudian terasa menjengkelkan, wajah orangnya kelihatan songong, lebay atau apapun ya tidak usah kita terlalu baperan.
Tapi kalau pamer itu kemudian berujung pada tipu-tipu, menyakiti hati maupun fisik orang, menjerumuskan orang dalam penderitaan barulah kita bisa persoalkan. Kalau perlu bahkan mesti diberi hukuman.
Jadi pikir-pikir dulu sebelum pamer. Jangan sampai keinginan pamer yang ditujukan untuk bersenang-senang, iseng atau apapun itu kemudian justru membuat kita terjerembab dalam persoalan.
Lebih repot lagi jika kemudian yang terkena getah persoalan bukan hanya kita sendiri melainkan juga orang-orang disekitar kita bahkan kadang juga mengenai mereka yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kita.
Kalau begitu, pamermu sungguh membawa celaka.
note : sumber gambar – GRIDOTO.COM








