KESAH.IDNormalisasi sungai masih menjadi pilihan favorit untuk mengatasi banjir di perkotaan. Akibatnya pendekatan pada banjir kerap melupakan masalah sesungguhnya yakni persoalan tata guna lahan dan ruang pada Daerah Aliran Sungai. Alih-alih membuat sungai menjadi normal, proyek normalisasi justru mematikan fungsi sungai alami hingga terdegradasi menjadi kanal atau saluran air belaka.

Dengan menggunakan data kejadian banjir dan longsor dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana {BNPB} mulai tahun 2013 hingga 2022 yang dikombinasikan dengan peta Daerah Aliran Sungai, studi dari Harian Kompas menyimpulkan “Sungai-sungai di Indonesia semakin membahayakan.”

Tercatat dalam 10 tahun terakhir ada 10.150 kejadian banjir dan 7.574 longsor. Kedua bencana itu mengakibatkan 3.255 orang kehilangan jiwa, 6.220 luka-luka dan 576 orang hilang.

Adapun kerusakan atau kerugian material yang ditimbulkan meliputi 5,780,553 rumah terendam, 276,924 rumah rusak dan 22,173 bangunan fasilitas umum rusak.

Sungai-sungai disebut semakin membahayakan karena indeks bencana dari 839 DAS yang selama 10 tahun terakhir mengalami banjir dan longsor menunjukkan trend peningkatan kejadian bencananya.

Adapun DAS yang mempunyai indeks bencana tertinggi antara lain DAS Citarum, DAS Barito, Das Bengawan Solo, DAS Cisadane, DAS Brantas, DAS Sentani, DAS Citanduy, DAS Cimanuk, DAS Musi, DAS Kali Bekasi dan DAS Kapuas.

Yang disebut dengan DAS bukan hanya badan sungai, daerah di kanan kiri sungai melainkan seluruh daratan dengan sistem sungainya dalam suatu cekungan bumi. Sungai adalah bagian dari DAS, dan air sungai merupakan produk dari DAS.

Sehat tidaknya sebuah DAS akan terlihat dari wajah sungainya. Karena sungai merupakan muara dari segala sesuatu yang mengalir atau dialirkan dari DAS. Sebuah DAS dinyatakan sehat apabila kondisi dan kesimbangan hidrologis sungainya terjaga, sungai tidak berada dalam kondisi ekstrim yakni banjir di musim penghujan dan kering di musim kemarau.

Faktor yang paling menentukan kesehatan DAS adalah kesesuaian penggunaan lahannya pada air. DAS sehat jika pemanfaatan ruangnya tidak menganggu fungsi lahan sebagai daerah atau wilayah tangkapan dan resapan air.

Fungsi DAS optimal ketika bisa menangkap dan menyimpan air untuk menghasilkan sumber air tanah bagi bagian tengah dan hilir sungai. Dengan demikian ketika musim penghujan air liaran yang dihasilkan tidak besar karena sebagian ditangkap dan disimpan, dan nanti akan dipanen pada saat musim kemarau.

Sungai-sungai yang langsung banjir atau kelebihan air begitu hujan turun menandakan koefisensi air permukaan {run off} tinggi, artinya sebagian besar air hujan tidak tertahan, tersimpan atau terserap. Sungai seperti ini jika hujan tidak turun dalam beberapa hari, permukaan airnya akan segera turun drastis.

Keseimbangan air pada DAS akan terjaga selama wilayah hulu sebagai wilayah tangkapan air, lahannya tidak dialihfungsikan untuk pertanian intensif, tambang dan permukiman. Pembukaan atau konversi lahan besar-besaran di hulu akan menghilangkan hutan atau tutupan vegetasi sehingga kehilangan fungsi sebagai wilayah tangkapan air.

Air hujan yang langsung jatuh ke permukaan tanpa tutupan vegetasi pada wilayah hulu berpotensi besar untuk mentransportasi permukaan lahan sehingga menghasilkan sedimen yang tinggi untuk badan sungai.

Pemanfaatan lahan untuk perekonomian dan permukiman mestinya di bagian tengah, bagian yang landai dengan mempertahankan wilayah-wilayah genangan air alamiah, entah rawa, danau atau situ. Sehingga limpahan air dari hulu akan tetap tertahan dan tidak mengenangi wilayah yang tidak semestinya.

Daerah hilir sungai secara alamiah merupakan daerah luapan. Pada wilayah ini harus ada alokasi lahan yang cukup luas untuk menampung luapan atau menyalurkan luapan dalam banyak outlet menuju area pembuangan, entah itu laut atau sungai yang lebih besar. Muara sungai mesti lebar dan mempunyai banyak saluran untuk membagi volume air yang tiba-tiba naik pada saat-saat tertentu.

BACA JUGA : Sekolah Subuh Cara Ampuh Cetak Siswa Tangguh

Sampai dengan tahun 70-an warga Kota Samarinda memandang banjir sebagai berkah. Masyarakat waktu itu akrab dengan istilah Banjir Kap. Naiknya air sungai artinya uang, karena penebang kayu akan bisa menghanyutkan kayu gelondongan dari dalam hutan lewat saluran air, masuk ke anak sungai lalu dihanyutkan dalam bentuk rakit lewat Sungai Mahakam.

Kini sebagian warga di kawasan Mahakam Tengah juga masih menganggap banjir adalah berkah. Karena ketika banjir masyarakat akan mudah menangkap ikan. Ikan-ikan dari rawa atau danau-danau reservat ikan akan keluar ke sungai karena air berlimpah. Air yang tinggi juga membuat perahu bisa melintas bebas, bisa masuk ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tertutupi semak-semak.

Namun semenjak tahun 90-an, banjir di Samarinda mulai menjadi masalah. Pertumbuhan permukiman semakin pesat, pinggiran sungai makin padat dan daratan hingga perbukitan juga mulai ditumbuhi permukiman.

Wilayah datar di Kota Samarinda yang sebelumnya merupakan penampungan air alami dalam bentuk rawa-rawa mulai diuruk dengan tanah dan batuan yang berasal dari perbukitan yang mengelilingi wilayah Kota Samarinda.

Bukit gundul dan rawa hilang hingga kemudian banjir terbilang.

Meski banjir bukan sesuatu yang asing bagi warga Kota Samarinda, namun banjir setelah tahun 70-an merupakan banjir dengan karakter yang baru. Banjir menjadi bencana karena genangan airnya mulai merambah tempat-tempat yang tidak semestinya.

Di wilayah Mahakam Tengah, masyarakat memitigasi banjir yang makin meninggi dengan cara mendongkrak rumah, tiang tumahnya ditinggikan. Hal itu dimungkinkan karena umumnya rumah disana adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Sementara di Samarinda, rumah pada umumnya dibangun dengan pondasi, bukan rumah kayu. Sehingga ketika banjir yang dinaikkan adalah lantai rumah. Jika tak mungkin lagi dinaikkan, rumah harus dibongkar untuk kemudian dibangun kembali dengan pondasi yang lebih tinggi.

Adalah mudah untuk mengidentifikasi daerah yang rawan banjir di Samarinda karena dengan jelas akan terlihat dari perbedaan tinggi pondasi antara rumah lama dan rumah baru. Pondasi rumah-rumah baru kelihatan tinggi sekali, hampir mencapai sepertiga atau malah setengah dari tinggi rumah-rumah lama. ada banyak kawasan perumahan dimana rumah lama kelihatan seperti tenggelam.

Ya tenggelam karena rumah-rumah kemudian lebih rendah dari lingkungan sekelilingnya termasuk jalan. Jalan yang tergenang umumnya juga akan dinaikkan, dilapisi semen diatasnya. Ada jalan yang semennya sudah tebal sekali karena sudah dilapisi lebih dari dua kali.

Cara memitigasi bencana banjir oleh masyarakat bisa diibaratkan sebagai balapan liar. Balapan antara meninggikan pondasi rumah dan jalanan.

Samarinda, nama yang dideskripsikan dari sungai yang yang airnya sama tinggi dan sama rendah dengan daratan  kemudian dikenal sebagai kota banjir.

BACA JUGA : Briefing Pejabat Tajir Pada Anaknya Yang Suka Flexing

Ketika Samarinda dianggap sebagai Kota Banjir, yang dipilih sebagai tertuduh utamanya adalah anak-anak sungainya. Memang betul anak-anak sungai di Kota Samarinda bermasalah, sungainya menyempit, mendangkal bahkan sebagian menghilang dan tak dikenali lagi keberadaannya sebagai sungai.

Atas nama program ‘Mengatasi Banjir’ sungai kemudian menjadi subyek utama untuk diintervensi. Sungai sebagai infrastruktur air alamiah dianggap menjadi penyebab banjir karena menurun daya tampung airnya dan melambat daya alirnya. Akibatnya akan terjadi penumpukan dan luapan air, membanjiri lingkungan permukiman serta fasilitas umum disekitarnya.

Sungai harus dinormalkan lewat proyek bernama normalisasi. Tujuan utamanya adalah meningkatkan daya tampung dan meningkatkan kemampuan sungai untuk dengan cepat mengalirkan air sehingga tidak terjadi banjir.

Daya tampung ditingkatkan dengan cara mengeruk sedimen, memperdalam alur sungai. Sedangkan kecepatan aliran dilakukan dengan cara membersihkan badan sungai dari bangunan, meluruskan aliran sungai dan membeton pinggiran sungai.

Dalam jangka pendek proyek normalisasi umumnya akan berhasil mengatasi banjir, namun beberapa tahun kemudian akan kembali kepada kondisi semula karena sedimentasi terus terjadi. Pengerukan harus dilakukan terus menerus atau rutin.

Dengan demikian normalisasi sungai bukan penyelesaian untuk mengatasi masalah banjir, bahkan dalam artian tertentu berpotensi memperparah banjir. Sebab pinggiran sungai yang dibeton menyebabkan lebar sungai menjadi tidak dinamis. Lebar sungai sudah dipatok menjadi tetap.

Sungai sejatinya adalah korban bukan penyebab. Penyebab banjir harus dilihat dalam konteks DAS dimana terjadi penggunaan atau alih fungsi lahan yang tidak berkesesuaian dengan air. Selama masalah ini tidak diselesaikan maka sungai tak akan mampu menampung limpasan air hujan.

Maka normalisasi sungai baik secara terminology maupun aksi justru bertentangan dengan prinsip-prinsip pemanfaatan dan pengendalian air hujan.

Normalisasi secara terminologi artinya menormalkan kembali, mengembalikan pada kondisi normal. Namun dalam kenyataannya normalisasi justru membuat sungai alami menjadi tidak normal. Karena sungai kemudian dibeton, ekosistem airnya kemudian terpisah dengan ekosistem darat. Betonisasi membuat sungai kehilangan ekosistem antara dan dataran banjirnya.

Normalisasi dalam pengertian umum sekarang ini justru mereduksi sungai hanya sebagai alur untuk mengalirkan air, mengirim air secepat mungkin ke laut. Sungai menjadi infrastruktur pengering atau drainase.

Padahal fungsi essensial sungai bukan hanya sebagai sistem pengaliran melainkan pengairan. Artinya sungai merupakan sumber air bersih, alur sungai juga merupakan infrastruktur transportasi dan sungai juga merupakan habitat atau ruang hidup bagi aneka mahkluk.

Memutus hubungan antara ekosistem air dan ekosistem darat dengan semen membuat sungai kehilangan fungsinya sebagai ruang hidup berbagai mahkluk.

Terlalu memfokuskan proyek untuk mengatasi banjir hanya pada alur sungai akan membuat persoalan DAS menjadi semakin berat dan semakin susah untuk diselesaikan karena pelanggaran terhadap tata ruang akan semakin besar dan massif.

Sekali lagi bicara banjir berarti soal bagaimana mengelola air hujan dalam konteks DAS. Selama sebagian air hujan langsung masuk ke sungai, selama itu pula banjir akan terus terjadi.

Air hujan mestinya dimanfaatkan, ditahan selama mungkin, disimpan sebanyak mungkin agar bisa dipanen di musim kemarau nanti, atau dialirkan ke sungai-sungai lewat sistem air tanah.

Dan itu hanya bisa dimungkinkan jika DAS masih mempunyai kawasan untuk menangkap, meresapkan dan menyimpan air hujan dalam bentuk tutupan lahan, entah berupa hutan, rawa, situ atau danau-danau.

Andai Rencana Tata Ruang Wilayah bisa menjamin hal itu mungkin saja kita akan mempunyai sungai yang indah, sungai yang berkelok-kelok dengan aliran air yang tenang dan kanan kirinya berhiaskan tetumbuhan yang memberikan kesejukan.

Sungai yang dibeton mungkin akan terlihat rapi namun keindahannya tidak abadi dan cenderung membosankan.

note : sumber gambar – KALTIM.PROKAL.CO