KESAH.IDPada dasarnya kita sulit memahami cara hidup orang yang berlainan dengan kita atau pilihan hidup yang tidak kita jalani. Namun sering kali kita tanpa pengetahuan yang dalam berani melakukan penilaian, menyerang dengan argumen yang tidak berhubungan hingga lahirlah sesat pikir. Adalah bias akita tanpa malu-malu mengungkapkan berbagai hal yang menyiratkan seakan kita paling tahu kehidupan orang lain yang dia sendiri tidak berpikir seperti itu.

Urip iku mung sak dermo nglampahi atau hidup itu sekedar menjalani. Arti atau filosofi tentang hidup yang berkembang dalam kebudayaan Jawa ini memandang hidup dan segala sesuatu tentangnya sudah ada yang mengatur. Karena sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa, manusia tinggal menjalaninya.

“Yen sithik ojo ditampik, yen okeh yo disyukuri,” begitu tulis seorang teman yang melayani pemesanan makanan di status facebooknya mempraktekkan filosofi Jawa tentang hidup.

Apa dan bagaimana kehidupan memang telah menjadi refleksi panjang dalam berbagai kebudayaan dan peradaban. Sehingga memunculkan berbagai macam filosofis tentangnya lewat berbagai ungkapan, pitutur, ajaran tentang arti dan makna kehidupan.

Selain ajaran yang bersifat kolektif setiap orang juga mempunyai arti dan makna sendiri tentang kehidupannya. Setiap orang bebas menyuarakan apa itu arti dan tujuan hidup menurutnya.

Apa itu hidup?.

Sesuatu disebut sebagai hidup jika ada gerak, tumbuh dan berkembang hingga kemudian mati. Hidup selalu ada awal dan ada akhir. Maka sebuah kehidupan akan terus berlanjut jika melahirkan kehidupan baru, ada penerus.

Oleh karenanya setiap mahkluk hidup kemudian mempunyai mekanisme untuk meneruskan keturunan agar kehidupan tak berakhir. Mekanismenya beda-beda ada yang vegetative, generatif, membelah dan lain-lain.

Manusia dan binatang lain pada umumnya meneruskan keturunan secara seksual sehingga ada laki-laki dan perempuan. Laki-laki mempunyai sel sperma dan perempuan mempunyai sel telur. Pertemuan antara sel sprema dan sel telur dalam rahim perempuan akan menghasilkan bakal calon generasi baru, janin yang dikandung untuk dilahirkan menjadi bayi.

Kelak ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang, proses ini bisa dilakukan secara non alamiah. Teknologi in vitro ini dikenal dengan istilah bayi tabung karena sel sperma dan sel telur dipertemukan dalam gelas di laboratorium. Namun bakal bayi harus tetap dikandung dalam rahim seorang ibu, entah ibunya sendiri atau ibu sewaan.

Teknologi reproduksi kemudian lebih berkembang. Mahkluk baru bisa dihasilkan tanpa proses mempertemukan sel sperma dan sel telur. Mahkluk duplikat dikembangkan dengan DNA dari induknya. Tidak ada perkawinan disini, baik perkawinan antara laki-laki dan perempuan maupun perkawinan di laboratorium.

Terhadap tumbuhan, teknologi pengembangbiakkan bahkan lebih maju. Lewat kultur jaringan bisa dihasilkan banyak tanaman baru secara massal yang sifat, ciri dan segala sesuatunya tidak berbeda dengan induknya.

Dengan semua temuan teknologi ini proses pembiakan secara alami telah di hack. Kepunahan bukan lagi ancaman. Bahkan dengan teknik rekayasa genetik, secara teknologi kita bisa menghasilkan mahkluk, generasi penerus yang lebih baik. Kalaupun sekarang belum terwujud, itu lebih dikarenakan alasan etik dan moralitas.

Semenjak manusia mampu membudidayakan tanaman, hidup manusia tidak lagi tergantung pada apa yang dihasilkan oleh tumbuhan pangan alam. Dengan bercocok tanam, memfokuskan pada menghasilkan pangan untuk pertama dalam sejarah manusia surplus pangan. Ancaman kepunahan karena makanan relatif menurun.

Paceklik pangan akan terjadi ketika ada serangan hama, bencana alam, kemarau panjang dan lainnya, namun hal itu tidak terjadi secara seragam di seluruh muka bumi. Sehingga masyarakat dari belahan bumi lainnya yang berkelimpahan bisa membantu.

Ancaman kepunahan karena penyakit juga semakin menurun. Wabah kini relatif cepat bisa diatasi karena kemajuan teknologi dalam bidang kesehatan.

Pun demikian dengan perang. Perang yang membabi-buta dan membumi hangguskan wilayah lawan semakin tidak populer. Jika terpaksa harus perang, kini dilakukan dengan cara yang selektif.

Sekarang ini yang terancam punah adalah berbagai jenis binatang maupun tumbuhan karena ekosistem atau habitat mereka semakin terbatas. Mengantungkan kehidupan pada alam membuat mereka sulit untuk bertahan. Gajah, Pesut, Harimau, Singa, Badak, Komodo dan lain-lain masa depannya suram. Dan makin suram lagi karena mereka tidak rajin nge-seks seperti halnya manusia.

BACA JUGA : Semua Akan NU Pada Waktunya

Dulu ketika saya kecil sering mendengar orang mengatakan “Banyak anak banyak rejeki.”

Dan benar waktu itu rata-rata keluarga mempunyai anak paling kurang 5. Anak-anak tunggal selalu dikasihani oleh tetangganya karena dianggap tak punya teman atau saudara di rumah.

Menikah dan tak punya anak bisa dianggap sebagai orang sial karena anak dianggap sebagai rejeki. Tidak dikaruniai anak berarti tak diberi rejeki oleh Yang Maha Kuasa.

Pun demikian dengan mereka yang tidak segera menikah padahal sudah cukup umur. Orang-orang akan bilang “Nggak laku.”.  Yang perempuan akan disebut perawan tua dan yang laki-laki dijuluki bujang lapuk.

Kehadiran banyak anak pada waktu itu memang bisa membantu. Anak-anak bisa menjadi sumber daya untuk membantu pekerjaan di sawah atau kebun, menjaga ternak, mencari kayu bakar, mengambil air dan lain sebagainya.

Namun lama kelamaan ketika peradaban mulai bicara soal kualitas hidup, over populasi dianggap tidak ideal. Pemerintah orde baru kemudian memperkenalkan model pembatasan kelahiran yang disebut dengan Keluarga Berencana.

Slogannya “Dua anak cukup, laki-laki dan perempuan sama saja.”

Perkawinan tetap dianggap sebagai cara untuk meneruskan keturunan namun lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Jumlah anak dibatasi agar orang tua bisa mengasuh dan merawat anaknya dengan baik, memenuhi kebutuhan hidup baik sandang, papan, pangan dan pendidikan serta kesehatan dengan prima.

Berkeluarga tetap penting bahkan jadi tujuan utama namun disertai tugas untuk menghasilkan keturunan yang bermutu, generasi muda masa depan yang gemilang. Karena berkaitan dengan kemampuan ekonomi tak mungkin setiap keluarga, ayah dan ibu membesarkan banyak anak dengan baik dan bijaksana.

Over populasi berhasil dikendalikan di Indonesia. Program Keluarga Berencana terbilang sukses. Namun di banyak negara lainnya terjadi situasi yang lebih ekstrim. Pertumbuhan populasinya mencapai nol dan dikhawatirkan dalam masa kedepannya menjadi minus.

Jepang misalnya mulai mengalami kemandekan pertumbuhan populasi. Secara demografis ada kecenderungan jumlah orang tua membesar dan jumlah anak-anak menurun. Generasi mudanya tidak mau menikah dan punya anak. Pertumbuhan atau pergantian generasi terhenti.

Pemerintah Jepang dan beberapa negara lainnya harus mengiming-imingi agar yang muda-muda mau menikah dan kemudian punya anak lebih dari satu.

Di banyak negara mulai biasa orang hidup membujang. Pertanyaan “Kapan nikah.” mulai hilang dari basa-basi dan percakapan sehari-hari. Ada yang selibat atau tidak menikah sekaligus tak aktif secara seksual, namun kebanyakan dari mereka yang tak menikah tetap aktif secara seksual.

Diantara mereka yang tidak menikah itu masih ada yang ingin punya anak. Entah anak sendiri, anak asuh atau anak adopsi.

Model pilihan hidup terus membujang untuk kebanyakan orang Indonesia masih jadi kontroversi. Kecuali Pastor, Bruder atau Suster, hidup membujang, tidak menikah dan tak punya anak pasti dianggap melawan kodrat.

BACA JUGA : Terpujilah Anak Anak Muda

Gita Savitri Dewi atau lebih dikenal dengan panggilan Gitsav adalah seorang konten kreator dari Indonesia yang tinggal di Jerman. Selain gemar mengupload konten di Youtube dan Instagram, Gita juga dikenal sebagai seorang penulis. Karya tulisnya pernah difilmkan. Gita juga dikenal suka menyanyi dan pernah menelurkan single lagu karyanya sendiri.

Sebagai seorang influencer, Gita Savitri mempunyai cukup banyak pengikut. Channel Youtubenya mempunyai subscriber kurang lebih 1,3 juta orang. Sementara itu akun Instagramnya diikuti oleh 965 ribu pengikut.

Perempuan yang cerdas, bicaranya bernas dan bahasa Inggrisnya bagus ini dikenal oleh para pengikutnya kerap melontarkan komen yang nada dan isinya berbeda dengan kebanyakan orang. Beberapa diantaranya menimbulkan kontroversi dan melebar kemana-mana karena ditafsir dan dikomentari oleh orang lainnya dengan banyak bumbu.

Yang terbaru adalah soal childfree. Omongan Gita soal childfree sebenarnya obrolan sambil lalu saja. Bermula dari sebuah komentar dari pengikutnya atas video reel di akun instagramnya. Sang follower mengomentari penampilan Gita yang awet muda. Dan Gita menimpali komentar itu dengan balasan bahwa penampilannya yang awet muda itu dikarenakan tidak punya anak.

Gita sendiri memang dikenal sebagai penganut paham Childfree. Dia dan suaminya sepakat untuk tidak ada dalam pernikahan mereka.

Jawaban yang sifatnya personal dan berdasarkan opini pengalaman pribadi itu kemudian menjadi bermasalah. Ditafsir sebagai pernyataan untuk semua orang hingga akhirnya Gita Savitri termasuk suaminya mendapat serangan dari mana-mana. Apa yang berkembang di media sosial semakin melebar karena kemudian menjadi bahan pemberitaan Infotainment di Televisi yang dikenal suka menumbang gelombang apa-apa yang sedang viral di media sosial.

Sebagai masyarakat yang dikenal doyan kepo dan rajin ngomen, sontak apa yang dikemukakan oleh Gita Savitri menjadi bahan bakar, saling komentar di media sosial menjadi ramai. Ada banyak orang merasa harus berkomentar karena opini Gita Savitri dianggap mengancam nilai dan moralitas budaya serta religius masyarakat Indonesia.

Masyarakat yang bersorak-sorai karena Ferdy Sambo dihukum mati kemudian mengalihkan serangannya kepada Gita Savitri. Gitsav didudukkan sebagai public enemy.

Tentu saja Gita salah menyebut tidak punya anak sebagai obat anti aging alami. Tapi berpikiran seperti itu atau merasa begitu tidak ada salahnya sama sekali. Bukankah kebanyakan dari kita juga kerap berlaku seperti itu, meyakini sesuatu yang belum terbukti benar atau bahkan tak terbukti kebenarannya.

Misalnya banyak perempuan tak mau melahirkan secara alamiah, mereka kemudian melakukan operasi cesar karena tak ingin bentuk tubuhnya terutama organ reproduksinya berubah. Atau tak mau menyusui anaknya karena tak ingin payudaranya kendor. Padahal cesar atau tidak tak akan berpengaruh pada perubahan bentuk tubuh, pun dengan menyusui. Tidak menyusui juga tak menjamin payudara tetap kencang.

Sebelumnya saya tak mengenal Gita Savitri Dewi, tak pernah lihat channel Youtube dan akun Instagramnya. Namun karena jadi perbincangan akhirnya saya kepo juga.

Dan setelah menelisik channel Youtube dan akun IG-nya saya tak menemukan apapun yang menunjukkan Gita Savitri ingin menularkan pendiriannya pada orang lain. Sikap dan keputusannya untuk Childfree adalah sikap pribadi yang disetujui oleh pasangannya.

Sebuah pilihan yang harus dihormati dan Gita serta suaminya tahu konsekwensinya.

Pada dasarnya hidup adalah pilihan dengan konsekwensi. Tidak ada pilihan paling baik karena setiap pilihan selalu ada sisi baik dan sisi buruknya.

Bahwa ada pilihan yang diambil oleh banyak orang sehingga menjadi sesuatu yang umum, tidak berarti pilihan umum itu lebih benar dari pilihan yang tidak umum.

Jadi jangan protes kalau ada orang menikah namun tak ingin punya anak. Sebab nggak menikah sekalipun orang bisa saja punya anak. Bahwa tujuan umum orang menikah adalah punya anak itu memang benar, namun bukan berarti menikah dan tidak ingin punya anak tidaklah benar.

Dan kita harus akui, hubungan seks dalam pernikahan {apalagi di luar pernikahan} sebagian besar {99 persen} tidak ditujukan untuk menghasilkan keturunan.

Walau secara alamiah dan biologi, hubungan seks antara laki-laki dan perempuan adalah hukum alam untuk meneruskan keturunan namun dalam alam manusia mesti jujur diakui bahwa hubungan seks lebih didorong oleh keinginan untuk bersenang-senang atau rekreasi.

Seks yang murni untuk kepentingan prokreasi lebih ditemukan di dunia binatang. Kucing, Anjing dan lain-lain tidak bisa berhubungan seks sewaktu-waktu, mereka punya musim kawin.

Tapi manusia dan beberapa jenis binatang utamanya kera besar serta berjalan tegak lebih menyenangi seks untuk ‘enak-enak’, makanya bisa ngeseks dan ingin ngeseks setiap saat.

Maka kebakaran jenggot karena ada seseorang yang punya sikap tak ingin punya anak walau menikah menandakan kita kurang piknik. Atau pikniknya kurang jauh sehingga wawasan pada hidup kurang luas, seperti katak yang tertidur pulas dibalik tempurung.

note : sumber gambar – KLIKHUKUM.ID