KESAH.ID – Selama hampir 20 tahun ini persaingan antara Messi dan Ronaldo mendominasi atmosfir sepakbola dunia. Ada banyak pesepakbola yang lahir dalam periode ini namun selalu berada di bawah bayang-bayang mereka berdua. Kini ada sosok baru yang mungkin saja akan menggantikan kedigdayaan mereka berdua yakni Klylian Mbappe.
Kalau saja tahun 1986 sudah ada VAR mungkin tidak akan lahir gol “Tangan Tuhan’ dari Maradona kala Argentina bersua dengan Inggris di perempat final. Gol kotroversi itu kemudian menjadi sejarah karena melekat sebagai julukan untuk Maradona.
Cerita mungkin akan berbeda jika Ali Bennaceur asal Tunisa dibantu oleh wasit VAR untuk mengesahkan sebuah gol. Maradona memang mencetak satu gol lagi hingga mengakhiri laga 2-1 untuk Argentina.
Di final Argentina berhasil memukul Jerman, yang waktu itu masih disebut Jerman Barat dengan skor 3 -2. Argentina menjadi juara dunia untuk kedua kalinya, Maradona meraih gelar sebagai Pemain Terbaik, namun anugerah pencetak gol terbanyak diraih oleh Gary Lineker, bintang sepakbola dari Inggris.
Kontroversi dan sejarah yang dicatat oleh Maradona kemudian mengintimidasi Lionel Messi, bintang Argentina pada sepanjang kariernya.
Tercatat sebagai pemain aktif yang paling banyak memainkan laga di piala dunia, Messi terus berusaha melepas kutuk, bertabur piala Messi terus gagal meraih kemenangan trofi piala dunia.
Piala Dunia Qatar mengakhiri jalan panjang Messi yang selalu dibanding-bandingkan dengan Maradona. Messi akhirnya bisa menyanyikan “Ojo Dibanding-Bandingke” sebab dengan trofi Piala Dunia yang berhasil diangkatnya serta dua kali gelar sebagai Pemain Terbaik FIFA, Messi telah melebihi Maradona.
Pada kesempatan final yang mengulang Maradona ketika Messi berhadapan dengan Tim Jerman, bayang-bayang piala lebur karena dibuyarkan oleh gol Mario Goetze di menit-menit akhir.
Messi merana dan hampir putus asa meski waktu itu dirinya diganjar dengan penghargaan sebagai Pemain Terbaik FIFA.
Soal piala dunia, Messi tak peduli soal gelar pemain terbaik atau pencetak gol terbanyak. Yang terpenting olehnya adalah menang dan juara.
Kesempatan kedua datang. Di penghujung kariernya, saat sudah berusia 35 tahun, usia yang sudah lagi tak produktif untuk seorang penyerang, Messi tampil beda. Tetap rajin mencetak gol namun juga piawai memberi umpan matang dan cantik untuk pengedor gawang.
Messi membawa Argentina masuk babak final, berhadapan dengan Mbappe dan Tim Nasional Perancis di babak final Piala Dunia Qatar.
Now or never, sekarang atau tak akan pernah lagi. Messi harus menang.
Masuk final Messi membawa modal sebagai pencetak gol terbanyak dengan jumlah yang sama dengan Mbappe sebagai lawannya. Di bawahnya ada Julian Alvares yang juga sama-sama mencetak 4 gol bersama Oliver Giroud.
Seru perebutan gelar sebagai pencetak gol terbanyak. Namun untuk pemain terbaik, Messi menyimpan lebih banyak amunisi karena telah meraih penghargaan Man of The Macth sebanyak 4 kali.
Perancis menjadi lawan terkuat yang harus ditahklukkan oleh Argentina untuk mewujudkan mimpi Messi.
Perjalanan Perancis di Piala Dunia Qatar memang paling meyakinkan. Hanya satu kalah di babak group ketika sudah memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos dari babak group.
Dilatih oleh Didier Deschamp yang pernah membawa Perancis menjuarai piala dunia episode sebelumnya, Peancis ingin back to back, meraih trofi secara berurutan untuk mencatatkan sejarah besarnya.
Barcelona punya Messi, Perancis juga punya Mbappe, pemain yang sungguh berbahaya jika menguasi bola di depan gawang lawan.
BACA JUGA : Lain Ladang Lain Belalang, Lain Kota Lain Rokoknya
Dalam pertandingan final, saat waktu normal hingga perpanjangan waktu terbukti Mbappe memang sakti.
Argentina memang berhasil menguasai permainan, mampu mematikan Antonie Griezman yang bertindak sebagai pengatur serangan. Angel De Maria yang dimainkan sebagai starter setelah diistirahatkan dalam beberapa pertandingan memang tampil mengejutkan.
Dua gol lahir karena sumbangan Angel De Maria, yang pertama dicetak oleh Messi lahir dari keputusan pinalti karena De Maria dilanggar oleh Dimbele.
Dan goal kedua lahir dari kaki De Maria setelah rangkain umpan satu sentuhan dari beberapa pemain Argentina.
Tertinggal dua gol , Perancis tidak panik. Dua gol di babak pertama belum akan menjadi akhir untuk Perancis, masih ada waktu untuk membalas begitu Argentina lengah.
Paruh pertama babak kedua, Argentina masih perkasa hingga kemudian Angel De Maria ditarik keluar oleh pelatihnya.
Argentina yang dibaca ingin bertahan kemudian digedor oleh Perancis. Dan Mbappe membuktikan kapasitasnya, dalam waktu kurang dari 3 menit mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Peristiwa Argentina dikejar oleh Belanda saat sudah memimpin 2-0 kembali terulang.
Pertarungan strategi antara Lionel Scaloni dan Didier Deschamp lewat pergantian pemain sampai dengan babak kedua berakhir nampak dimenangkan oleh Perancis, yang kemudian berhasil mengejar kedudukan dan memaksa pertandingan berakhir imbang.
Pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu, 2 X 15 menit. Kedua tim bermain menyerang namun hati-hati, tidak ada gol tercipta dalam perpanjangan waktu 15 menit pertama.
Kurang lebih 10 menit sebelum perpanjangan waktu 15 menit kedua berakhir, Messi berhasil menjebol gawang Hugo Lloris. Pertandingan sepertinya akan berakhir dengan kemenangan 3 – 2 untuk Argentina.
Angel De Maria yang duduk di bangku pinggir lapangan mulai berdiri dengan senyum setelah sebelumnya muram karena kemenangan di depan mata ditumpas.
Argentina mulai bertahan dengan keyakinan menang, namun Perancis menolak kalah dan terus mengempur. Sebuah kesalahan yang dilakukan oleh pemain belakang membuat wasit menunjuk titik putih. Mbappe kembali menjebol gawang Emilio Martinez. Kedudukan tetap sama kuat 3 -3 sehingga harus diakhiri dengan adu pinalti.
Pada babak adu pinalti inilah terjadi titik balik. Taktik dan strategi yang diambil oleh Didier Deschamp menyimpan masalah, berhasil mengejar ketinggalan namun tidak dipersiapkan hingga babak adu pinalti.
Pemain muda yang dipersiapkan sebagai penganti mempunyai kecepatan untuk melakukan serangan di lapangan, punya tenaga untuk dengan cepat membantu pertahanan namun belum cukup teruji untuk menjadi penendang dalam adu pinalti.
Sebaliknya Lionel Scalloni melakukan pergantian pemain dengan memasukkan pemain-pemain yang telah terbukti mampu menceploskan bola saat adu pinalti. Argentina lebih siap untuk memenangkan pertandingan dengan adu pinalti.
Titik balik berhasil dilakukan oleh Perancis, mengejar ketertinggalan hingga menyamakan kedudukan 2 -2 dan mengakhiri dengan 3 – 3. Pertandingan final yang sangat produktif, kejar-kejaran gol antara Messi dan Mbappe yang kemudian dimenangkan oleh Mbappe hingga diberi penghargaan Golden Boot, pencetak gol terbanyak.
Namun titik balik kemudian terhenti, di babak pinalti Emilio Martinez yang piawai dalam babak adu pinalti semenjak Copa America, kembali membuktikan diri dengan membuat dua penendang pinalti dari Perancis gagal menyarangkan bola.
Emi Martinez kemudian juga mendapat gelar sebagai Penjaga Gawang Terbaik.
BACA JUGA : Piala Dunia Qatar Memang Untuk Messi
Sebelum pertandingan Didier Deschamp mengeluhkan betapa semua dukungan nampaknya untuk Messi dan Argentina. Dia menyebut bahkan ada orang-orang Perancis yang lebih membela lawannya.
Tapi Deschamp yakin bisa menghentikan Argentina karena mempunyai Kyllian Mbappe, Antonie Griezman, Oliver Giroud, Varane dan Dimbele.
Yang terbukti hebat memang Kyllian Mbappe. Selain mampu mencetak banyak gol, sehingga Mbappe mampu mencetak hattrick dalam pertandingan final Piala Dunia.
Peristiwa yang sangat langka karena trigol dalam final Piala Dunia yang pertama dicetak oleh Geoff Hurst, saat Inggris berhadapan dengan Jerman di tahun 1966. Mbappe mengulang yang berhasil dilakukan Geoff setelah 56 tahun kemudian.
Mbappe memang bukan pemain kaleng-kaleng. Pada Piala Dunia 2018, Mbappe yang kala itu memperkuat Tim Perancis memenangkan Piala Dunia, diberi penghargaan sebagai Pemain Muda Terbaik, usianya baru 19 tahun.
Dibandingkan dengan Lionel Messi, Mbappe memang lebih banyak mencetak gol, lebih banyak mencetak waktu bermain baik di ajang lokal maupun internasional dalam umurnya sekarang ini, 23 tahun.
Piala Dunia Qatar memang tak berhasil dimenangkannya, namun menjadi penanda transisi dari era Messi – Ronaldo menuju era Mbappe. Masa depannya cerah termasuk pundi-pundinya. Bayaran Mbappe kini sudah melampaui yang diperoleh Messi dan Ronaldo.
Gaya Mbappe memang lebih mirip Ronaldo pun dengan posturnya. Mengandalkan kecepatan saat membawa bola untuk menjeblos gawang lawan. Mbappe bukan penari seperti Messi, sehingga terlihat lebih efisien saat melakukan serangan.
Hanya saja soal penghargaan, Mbappe memang ketinggalan dibanding dengan Messi. Sampai saat ini Mbappe belum berhasil meraih gelar Ballon D’or sekalipun, dia juga belum berhasil membawa klub yang dibelanya menjuarai Liga Champion.
Tapi Mbappe masih muda, masih bisa melanglang buana di klub-klub besar untuk mendulang prestasi dan masih bisa berpartisipasi dalam Piala Dunia, 2 atau 3 kali lagi.
Mbappe memang mengangkat trofi peraih gol terbanyak, namun hanya bisa memandang trofi kejuaraan piala dunia. Hampir mirip dengan Messi ketika meraih trofi sebagai pemain terbaik namun piala juara hanya bisa dipandangi karena diangkat oleh pemain Jerman.
Messi sempat mutung karena hal itu, namun kemudian bangkit dan 8 tahun kemudian berhasil mewujudkan mimpinya.
Semoga Mbappe lebih cepat move on, agar tak terlalu lama menunggu untuk kembali menunjukkan diri sebagai pemain terbaik di dunia setelah era Messi.
note : sumber gambar – INSERTLIVE.COM








