KESAH.ID – Kabar bohong atau kabar palsu adalah persoalan jaman. Tidak bisa dipungkiri pada suatu masa mengatakan yang tidak sebenarnya membantu proses evolusi dan permbentukan peradaban. Namun di masa sekarang ini dimana setiap orang bisa menjadi pemroduksi informasi kabar bohong atau palsu menjadi persoalan besar yang bisa menganggu ketentraman dan kenyamanan hidup bersama.
Peran terpenting dari jurnalistik adalah memberi kabar atau penyebar informasi. Adanya kegiatan jurnalistik membuat masyarakat memperoleh informasi penting, terbaru dan faktual mengenai segala sesuatu yang telah dan tengah terjadi.
Dengan demikian jurnalistik merupakan kegiatan pencarian, pengolahan, penulisan dan penyebaran informasi kepada masyarakat lewat media massa.
Hari ini produk informasi yang diklaim sebagai produk jurnalistik bertebaran di internet, dipublikasikan lewat media-media online, disebar linknya melalui media sosial dan aplikasi messenger lainnya.
Sebagian besar merupakan berita buruk, berita yang tidak penting atau bahkan menyesatkan. Dengan dan lewat internet, seseorang atau sekelompok orang mampu memproduksi berita tanpa melakukan kegiatan jurnalistik. Berita ditulis dengan cara mengkloning, mengkopi pemberitaan media lain dengan melakukan ubahan disana-sini agar tidak dikenali sebagai berita jiplakan.
Maka menjadi penting saat ini untuk mendedah sebuah informasi apakah itu merupakan sebuah karya dari kegiatan jurnalistik atau produk kerja dari para content creator.
Cara kerja jurnalis dan content creator berbeda, sebab jurnalis terikat oleh standard penulisan berita yang telah dirumuskan berdasarkan praktek jurnalisme yang tua. Jurnalis bukanlah pembuat berita, apa yang dituliskan selalu berdasarkan fakta yang disampaikan oleh sumber berita.
Sementara seorang conten creator bekerja tidak dengan cara seperti itu. Apa yang dituliskan olehnya tidak selalu berdasarkan wawancara dengan sumber berita, melainkan dari pikirannya sendiri, pengetahuan sendiri atau sumber-sumber yang tidak langsung dihubungi olehnya.
Bisa jadi seorang jurnalis juga merupakan seorang content creator, atau content creator berlatar belakang jurnalis. Namun tetap saja produk informasinya mesti dibedakan dan tidak bisa dicampur adukkan.
Jurnalistik menjadi sangat kuat ketika saluran publikasi masih terbatas. Namun ketika platform untuk mempublikasikan informasi menjadi terbuka, bisa diakses oleh semua orang dengan mudahnya jurnalisme berada di tepi jurang.
Dengan modal tak terlalu besar atau bisa dikatakan nol, kini seseorang atau sekelompok orang dengan mudahnya bisa membuat media online, media pemberitaan. Beberapa diantaranya berhasil membesar dan bisa menghasilkan banyak uang dengan memproduksi berita atau informasi yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip jurnalistik.
Memahami cara kerja mesin pencari dan algoritma media sosial, media-media semacam ini berani melabrak kemestian dalam jurnalistik demi menghasilkan konten yang viral, menyenangkan bagi banyak orang, memancing jari-jari pembacanya untuk menyebarkan link kepada orang lainnya.
Informasi akan dikemas dengan cara yang bombastis, sejak awal ditaburi dengan kontroversi agar kabar terus bergulir dengan rangkaian klarifikasi.
Mereka yang bekerja untuk menghasilkan informasi dengan cara seperti ini seakan kebal kritik, sebab mereka bukan jurnalis sehingga tidak bisa dikritik dengan idealisme jurnalistik.
Amat jarang content creator bekerja dengan kaidah-kaidah jurnalistik walau mereka paham. Tapi sebaliknya para jurnalis atau lembaga publikasi kemudian kerap tergoda bekerja ala-ala Conten Creator agar tidak kehilangan audience, pembaca atau ekposure.
Kini banyak media massa {online} dan elektronik atau digital menjadikan postingan di media sosial sebagai sumber berita. Informasi dipenuhi dengan kisah, tingkah dan polah para selebgram, tiktoker, youtuber serta lainnya.
Kita banyak disuguhi oleh produk jurnalistik yang buruk, informasi yang penuh dengan kabar buruk bukan kisahnya tapi mutunya.
BACA JUGA : Paradigma Cara Makan Terbaik
Kabar buruk itu kisah lama, sama tuanya dengan penguasaan manusia pada simbol-simbol bahasa. Bahkan ada yang mengatakan ketrampilan pertama berbahasa manusia adalan menyampaikan kabar yang tidak sebenarnya.
Apakah kabar yang tidak sebenarnya selalu berdampak buruk?. Membandingkan dengan temuan-temuan sains terkini, sebenarnya menjadi jelas bahwa peradaban manusia secara umum dibangun atas dasar informasi yang tidak sesungguhnya.
Entah itu disengaja atau karena belum tahu.
Informasi yang tidak sebenarnya atau kabar bohong menjadi buruk bila disertai oleh intensi yang buruk. Dan menjadi semakin buruk apabila dilakukan oleh orang yang berkuasa untuk melanggengkan kekuasaannya atau ingin berkuasa dan menggunakan segala cara untuk meraihnya.
Maka bisa dipahami jika beberapa waktu terakhir ini mulai banyak kelompok masyarakat yang cawe-cawe, giat berkampanye sekaligus meningkatkan ketrampilan publik untuk menangkal hoax.
Pasalnya kita kini tengah memasuki tahun-tahun politik untuk menghadapi pemilu 2024.
Dan pengalaman dua pemilu sebelumnya terutama pemilu presiden, kabar atau informasi yang tidak sebenarnya mempunyai pengaruh yang kuat hingga lama sesudah pemilu berlalu. Masyarakat bukan cenderung terbelah melainkan sengaja dibelah oleh kabar-kabar bohong, berita-berita yang menyesatkan.
Apakah mungkin mengikis habis kabar bohong atau hoax yang disebarluaskan melalui media sosial?. Tidak mungkin.
Yang paling masuk akal adalah membatasi agar kabar atau berita bohong tidak menjadi berita utama yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu masyarakat perlu diberi imunitas, kekebalan atas hoax sehingga informasi bohong yang tersebar tidak berdampak besar untuk masyarakat.
Memang sulit terutama jika itu berkaitan dengan politik dalam arti seluas-luasnya. Sebab menjadikan perbincangan politik menjadi rasional tidaklah mudah. Politik selalu berkaitan dengan emosi, suka tidak suka.
Walau semenjak reformasi banyak pihak bergiat melakukan pendidikan politik agar pemilih berpolitik secara cerdas namun terbukti isu-isu primordial lebih mengerakkan pilihan ketimbang rekam jejak, visi misi, agenda dan program yang ditawarkan.
Syukur ada banyak kelompok yang sadar dan kemudian berjuang melawan hal ini.
Hanya saja di tahun politik, para pemroduksi kabar bohong juga tumbuh bak cendawan, baik yang bertujuan untuk mencari cuan maupun tidak.
Yang bayaran tentu saja tidak terlalu masalah, mereka hanya maju tak gentar membela yang bayar. Begitu tak ada yang membayar lagi mereka akan berhenti. Tapi yang sukarela apalagi yang merasa tindakannya itu mulia bakal lebih radikal. Menyebar kabar bohong atau hoax bisa dianggap perjuangan oleh mereka.
Secara teknis kabar bohong bisa dibongkar, caranya bisa dipelajari. Aktivis informasi penting untuk mengasah dan melatih diri.
Namun untuk masyarakat umum terutama mereka yang gemar mengudar kabar, ada baiknya belajar dasar-dasar jurnalistik. Meski tidak punya keinginan menjadi reporter atau wartawan, pada dasarnya pemakai media sosial sadar atau tidak kerap melakukan kerja-kerja jurnalistik.
Maka memahami fungsi dan peran jurnalistik dalam arus informasi akan publik untuk meningkatkan mutu jurnalistik yang oleh banyak pihak berada di ambang kematian.
BACA JUGA : Murid Rossi Membawa Ducati Ke Tahta Juara
Benarkah jurnalisme tengah mengalami senjakala, berada di pinggir tubir kematian?. Sebagai sebuah peringatan mungkin iya, namun faktanya pernyataan itu merupakan kenyataan yang dibesar-besarkan.
Yang senyatanya terjadi adalah banjir informasi dan informasi yang bermutu bahkan yang disajikan secara menarik sekalipun ternyata tidak berhasil menarik minat publik. Publik lebih suka mengkonsumsi kabar yang menyenangkan egonya.
Media sosial memang didesain berdasarkan algoritma biner. Masyarakat yang kemudian terbelah itu terjadi by design.
Maka yang dilawan oleh jurnalisme bukan hanya kecenderungan manusia yang lebih memilih apa yang disukai tetapi juga teknologi yang didesain untuk memanjakan watak itu.
Informasi adalah pengetahuan dan pengetahuan merupakan pondasi penting dari peradaban. Dalam ekosistem teknologi komunikasi dan informasi saat ini setiap orang bisa menjadi pemroduksi serta pengkonsumsi pengetahuan, prosumer.
Menjadi pembuat dan penyebar informasi berarti bertindak sebagai seorang pendidik di ruang publik.
Dalam konteks ini pemahaman dasar pada jurnalisme menjadi penting. Karena menjadi pendidik di ruang publik dalam kontek jurnalistik adalah menjalankan peran sebagai agen pembaharu. Informasi yang disebarluaskan mesti merangsang, mempengaruhi, mengubah pikiran dan bahkan mengerakkan masyarakat untuk berbuat. Dan sadari bahwa perbuatan itu bisa positif maupun negatif.
Apa yang disampaikan tidak melulu merupakan informasi maupun pengetahuan, status di media sosial bisa jadi berperan sebagai alat kontrol sosial. Artinya apa yang disampaikan berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum. Jurnalistikpun mempunyai tugas demikian, mengingatkan jika ditemui hal-hal yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat umum.
Masyarakat tentu saja butuh hiburan. Maka kabar yang bernilai untuk menghibur, menyenangkan dan membuat masyarakat nyaman juga penting. Hal-hal umum dalam kehidupan sehari-hari yang bisa membuat orang lain tersenyum, bersemangat, merasa aman dan lainnya tetap pantas untuk dikedepankan.
Pada dasarnya setiap orang selalu suka mengawasi orang lain atau situasi di sekitarnya. Manfaatkan kesukaan itu untuk bertindak sebagai pelapor. Jadikan postingan di media sosial atau internet sebagai jalan untuk melaporkan berbagai peristiwa secara apa adanya, tanpa prasangka. Beberkan kronologi sehingga yang disampaikan bersifat netral.
Jurnalisme tidak melulu soal berita. Dengan berbagai data dan informasi yang cukup, seorang jurnalis bisa menafsir atau mengartikan peristiwa, menjelaskan yang terjadi. Dalam jurnalistik dikenal istilah analisis berita dan juga tajuk rencana.
Pengguna media sosial juga bisa melakukan hal yang sama, selama memenuhi kualifikasi tertentu yakni mempunyai perhatian dan pemahaman serta informasi yang cukup atas sebuah masalah. Masyarakat berhak mengomentari sesuatu selama didasari oleh pemahaman, pengetahuan dan juga informasi yang valid, bukan karena prasangka. Skeptis tetap boleh namun sinis jangan.
Atas hal-hal yang berkaitan dengan publik, seorang jurnalis bisa bertindak sebagai wakil publik. Mengkritisi kebijakan pemerintah atau layanan publik. Apa-apa yang dipandang merugikan masyarakat umum bisa disuarakan.
Dengan demikian pada akhirnya seorang jurnalis atau entitas jurnalistik bisa bersikap tidak netral karena melakukan pembelaan, Namun yang dibela adalah kepentingan masyarakat. Keputusan untuk membela harus didasari atas pengamatan yang dalam pada berbagai permasalah sosial yang terjadi.
Maka jurnalis dituntut untuk terus mengasah kepekaan dalam melihat persoalan di tengah masyarakat.
Jika kemudian jurnalis tergoda untuk bertindak dan berlaku sebagaimana kebanyakan netizen yang pendapat atau komentarnya lebih cepat dari pikiran, niscaya kabar buruk bahkan kabar bohong yang akan berebut jemaah untuk mempercayainya.
note : sumber gambar – JABARNEWS.COM








