KESAH.ID – Ekpedisi Sungai Nusantara yang dilakukan oleh Ecoton di Sungai Mahakam dan anak sungainya melansir data tentang tingginya kandungan mikroplastik di Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus. Temuan yang tidak mengejutkan, karena sampah apung dengan mudah disaksikan disepanjang alirannya.

Beberapa minggu lalu sekelompok mahasiswa meminta saya untuk memberikan kuliah umum kepada siswa-siswi SMA dari berbagai kabupaten/kota yang mengikuti lomba pencinta alam. Tema yang mereka berikan adalah dampak kerusakan lingkungan Sungai Mahakam terhadap Pesut.

Duh, saya bukanlah orang yang paham benar perihal mamalia air tawar khas Sungai Mahakam ini. Lagi pula setiap kali ada yang menyebut pesut, selalu muncul sekelebat rasa bersalah dalam hati.

Ceritanya saat kelas satu SMP saya mengikuti perjalanan wisata, wisata pramuka. Menaiki KA Sawungalih dari Stasiun Kutoarjo, kami serombongan pergi ke Jakarta. Selama di Jakarta, saya dan teman-teman menginap di Gedung Kwartir Nasional.

Selama di Jakarta salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Taman Impian Jaya Ancol. Di wahana Gelanggang Samudera, saya menyaksikan pentas dan peragaan aneka satwa. Salah satu yang dipertunjukkan adalah pesut yang diperkenalkan sebagai lumba-lumba air tawar.

Ingatan pada pertunjukkan pesut itu terus menjadi kebanggaan, saya ceritakan kemana-mana hingga kemudian saya pindah dan menetap di Kalimantan Timur. Menetap di Samarinda, pengalaman yang membanggakan karena menyaksikan pentas pesut berubah menjadi kegetiran. Di tepian Sungai Mahakam saya hanya bisa menyaksikan patung pesut. Sudah lama pesutnya menghilang.

Setelah kurang lebih 17 tahun tinggal di Kalimantan Timur akhirnya sayapun melihat pesut di habitatnya untuk pertama kali. Di Sungai Pela, anak sungai yang menghubungkan antara Sungai Mahakam dengan Danau Semayang.

Dejavu. Ternyata pesut yang dahulu saya saksikan di Gelanggang Samudera Ancol berasal dari Pela. Ceritanya di tahun 1974, ada 6 ekor pesut ditangkap di Sungai Pela dan kemudian diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat Dakota.

Terbang ribuan kilometer, 3 selamat dan 3 mati. Yang selamat dipelihara di akuarium, selain untuk pertunjukan juga untuk konservasi. Berusaha dianakpinakkan. Tapi gagal, pesut tak bisa berkembang biak di akuarium.

Jangankan di habitat buatan, di habitat aslinya saja pesut juga semakin susah untuk beranak pinak. Jumlahnya makin lama makin menurun, sekarang mungkin hanya tersisa seratusan ekor. Terancam punah, karena kematian lebih besar dari kelahiran.

Melindungi yang tersisa di habitat alaminya juga tak kalah susah. Daerah Aliran Sungai Mahakam adalah salah satu kawasan yang menjadi pusat ekploitasi sumber daya alam, penopang ekonomi Kalimantan Timur.

Mulai dari awal tahun 70-an, ekploitasi besar-besaran Sumber Daya Alam dilakukan. Bermula dari merobohkan kayu di hutan alam. Sungai Mahakam yang berlimpah dengan air kemudian menjadi penuh dengan rakit kayu gelondongan.

Masa jaya raya kayu hutan dikenang dengan istilah banjir kap.

Penistaan terhadap DAS Mahakam terus berlanjut, setelah hutannya ditebangi kemudian tanahnya dikeruk dan digali untuk diambil batubaranya. Pemandangan berubah dari rakit kayu menjadi hilir mudik ponton dengan gunungan hitam.

Dan hutan yang tersisa masih terus ditebangi, dialihfungsikan untuk perkebunan sawit. Bukah hanya hutan kering melainkan juga hutan rawa yang dikonversi untuk menanam pohon penghasil minyak.

Tekanan pada Sungai Mahakam menjadi semakin berat. Bukan hanya karena penggunaan lahan yang tidak berkesesuaian dengan air di Daerah Aliran Sungainya, melainkan juga ledakan produksi limbah domestik karena pertumbuhan penduduk yang mengadu nasib untuk memperoleh bagian dari kue sumber daya alam yang terkandung di DAS Mahakam.

Samarinda sendiri, kota di bagian hilir Sungai Mahakam beberapa kali mencatatkan booming penduduk yang dipicu oleh booming komoditas yang diektraksi dari alam.

BACA JUGA : Sugar Carving, Ngidam Atau Kecanduan Gula

Asam digunung garam dilaut bertemu di belanga. Guru saya dulu menerangkan arti peribahasa itu sebagai kalau sudah jodoh biarpun berasal dari tempat yang berjauhan tetap akan dipertemukan.

Namun kemudian saya menemukan arti lain, terutama ketika mulai tinggal di Kota yang berada di tepian Sungai Mahakam. Buat saya Sungai Mahakam kemudian mempertemukan antara asam di gunung dan garam di laut.

Pertemuan inilah yang kemudian menghasilkan keberlimpahan di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Seorang teman menerangkan dengan sangat baik lewat kalimat ‘Rimba Untuk Samudera’.

Ini yang menerangkan kenapa hutan penting untuk menghasilkan oksigen. Bukan dari kawasan hutannya melainkan dari lautan.

Dekomposisi material organik dari hutan akan menghasilkan sekresi mikroorganisme yang merupakan sumber nutrisi. Ketika hujan nutrisi ini akan ditransportasi {dierosi} oleh air permukaan sehingga terbawa ke sungai dan kemudian sampai laut.

Di laut nutrisi ini akan menjadi sumber makanan bagi fitoplankton yang merupakan penghasil oksigen terbesar di muka bumi.

Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya adalah lumbung nutrisi karena Daerah Aliran Sungainya sebagian besar berupa hutan. Mulai hutan kering, hutan rawa hingga hutan di tepian sungainya {riparian}.

Sumber pakan berlimpah, bukan hanya dari material organik yang terdekomposisi saja. Melainkan juga dari buah-buahan, larva, serangga dan lainnya. Jika jatuh ke sungai, semua akan menjadi sumber makanan bagi komunitas yang hidup di dalam dan lingkungan sungai.

Maka Sungai Mahakam kemudian menjadi sungai kehidupan yang maha besar karena di lingkungannya hidup berbagai komunitas mahkluk hidup. Mulai dari manusia, binatang, tumbuhan, jamur-jamuran dan lainnya.

Sungai disebut sebagai air kehidupan karena airnya berkelimpahan dengan sumber hidup. Bukan hanya kaya nutrisi melainkan juga terbebas dari polutan. Dan pohon disekitar sungai mempunyai peran penting. Sistem perakarannya selain mampu mempertahankan morfologi sungai juga mempunyai peran dalam mendetok berbagai kandungan berbahaya dalam air.

Beberapa jenis tumbuhan baik yang diair maupun tepian air, akarnya akan menjerap zat-zat berbahaya yang mencemari air.

Maka bisa dipahami jika kemudian ada yang mengartikan Mahakam sebagai kuburan {makam} besar. Tentu saja demikian karena di Mahakam ada banyak mahkluk hidup maka akan banyak pula kematian. Bukan hanya kematian yang tidak dikehendaki melainkan kematian yang menjadi kemestian.

Dan di dalam Sungai Mahakam kematian-kematian itu kemudian menjadi berarti untuk kehidupan di dalamnya. Pohon yang tumbang, roboh ke badan sungai kemudian akan menjadi rumah bagi berbagai macam ikan. Menjadi tempat berkembang biak.

Monyet, buaya, burung, babi hutan dan lain-lain yang mati kemudian akan menjadi makanan bagi berbagai mahkluk. Kematian menjadi rantai pangan, menjaga lingkaran kehidupan. Rantai pangan inilah yang kemudian membuat bio diversitas DAS Mahakam menjadi besar dan terjaga.

Namun demi alasan pertumbuhan ekonomi, Sungai Mahakam kemudian ditikam di jantungnya. Hutan dirambah, ditebangi dan terus dialihfungsikan membuat aliran Sungai Mahakam bukan lagi dipenuhi oleh nutrisi.

Bukaan dan singkapan lahan yang besar tanpa tutupan vegetasi yang rapat membuat hujan membawa lumpur, yang dierosi bukan lagi lapukan hutan tapi permukaan tanah. Sungai menjadi kaya lumpur yang membuat airnya miskin hara.

Air sungai semakin miskin hara karena sebagian alihfungsi atau tutupan lahan kemudian dijadikan permukiman. Permukaan tanah di permukiman diperkeras dengan semen. Sungai kemudian menahan beban air yang berlebihan terutama di musim hujan karena sebagian besar air hujan kemudian menjadi air permukaan.

Baniir tak lagi jadi berkah karena banjir tak lagi menjadi moda alam untuk mendistribusi kesuburan atau nutrisi hutan di daratan perlembahan. Banjir kini diemohi karena membuat lantai halaman, lantai rumah dan lantai jalanan berlumpur.

Bikin susah di saat hujan dan bikin nggak nyaman saat panas karena lumpur kemudian menjadi debu halus yang bertebaran di udara.

Rusaknya hutan, ketidaksesuaian peruntukkan lahan di Daerah Aliran Sungai Mahakam membuat air Sungai Mahakam tak lagi bertuah, tak lagi memanggil orang untuk pulang menikmati kesegarannya.

BACA JUGA : Sepakbola Indonesia, Besar Petaka Dari Prestasi 

Ekpedisi Sungai Nusantara {ESN} yang dilakukan oleh Ecoton, Surabaya menyinggahi Kota Samarinda. Bersama sekelompok mahasiswa dari Universitas Mulawarman, mereka menyusuri sedikit bagian dari Sungai Mahakam dan anak sungainya yakni Sungai Karang Mumus untuk melakukan studi dan pengamatan.

Hasil studi yang difokuskan untuk mengamati kualitas air dengan sampel yang diambil di beberapa titik kemudian dipublikasikan oleh berbagai media baik lokal maupun nasional. Intinya air Sungai Mahakam telah tercemar mikroplastik.

Kandungan terbesarnya berkisar 324 partikel mikroplastik dalam setiap 100 liter airnya.

Mikroplastik sendiri merupakan partikel plastik atau fiber dengan ukuran kecil, kurang dari 5 mm. Ada dua jenis mikroplastik, yakni mikroplastik primer yang sengaja diproduksi untuk produk kecantikan dan mikroplastik sekunder yang merupakan hasil degradasi dari berbagai jenis plastik sekali pakai dan kain.

Temuan mikroplastik di Sungai Mahakam dan Karangmumus sebagian besar tentu saja berasal dari degradasi sampah plastik dan produk mengandung plastik yang terbuang ke sungai.

Jenis mikroplastik yang paling banyak adalah fiber, yang berasal dari benang pakaian yang kemungkinan luruh saat dicuci; filamen yang beradal dari tas kresek, sedotan dan lainnya; fragmen yang berasal dari tutup botol, kemasan makanan, ember dan lain-lain; dan granul yang berasal dari busa sabun, pembersih muka dan produk kecantikan/kesehatan lainnya.

Selain hasil penelitan air, tim peneliti juga merujuk pada penelitian ikan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Mulawarman tahun 2019 lalu. Hasil penelitian itu menyebutkan ikan baung dan ikan gabus/haruan mempunyai kandungan mikroplastik yang tinggi pula. Ikan yang diteliti dibeli dari beberapa pasar di Kota Samarinda.

Tingginya kandungan mikroplastik akan berbahaya untuk masyarakat yang mengkonsumsi ikan dan memakai air Sungai Mahakam sebagai sumber air bersih. Resiko gangguan kesehatan termasuk kesehatan reproduksi menjadi semakin meningkat.

Temuan Ekpedisi Sungai Nusantara ini tentu tak mengejutkan. Sudah lama kita tahu, bahwa air Sungai Mahakam dan anak sungainya seperti Sungai Karang Mumus dan Karang Asam telah memburuk. Dengan modal indera saja kita akan tahu, kalau sungai penuh dengan sampah apung, kerap mengeluarkan bau busuk, berlumpur dan keruh.

Di Samarinda, Pesut sudah memberitahukan sejak puluhan tahun lalu. Mereka menyingkir makin ke arah hulu, ke Mahakam bagian tengah. Yang kini kondisinya juga tak beda jauh dengan alur Sungai Mahakam yang melintas wilayah Kota Samarinda.

Ketika di Samarinda pesut mulai merasa tak nyaman dan aman mereka menyingkir. Kini di Muara Kaman keatas pesutpun juga mulai tak tenang. Anak-anak Sungai Mahakam di wilayah Mahakam Tengah bahkan ramai dilewati oleh ponton pengangkut batubara. Selain harus berjibaku dengan ponton, pesutpun mesti waspada dengan jaring-jaring nelayan disana.

Pesut dan nelayan sama-sama berebut untuk menangkap ikan yang semakin langka karena Sungai Mahakam tak lagi menjadi habitat yang menyenangkan untuk berkembang biak.

Ekpedisi Sungai Nusantara dan Mahasiswa Unmul sudah mengingatkan tentang mikroplastik. Namun bukan hanya mikroplastik yang berbahaya di air Sungai Mahakam. Berbagai polutan lain yang berasal dari tambang batubara misalnya tak kalah berbahaya.

Sungai Mahakam menerima banyak limbah air cucian batubara dan bongkahan batubara yang jatuh saat dimuat dalam ponton dan saat diangkut. Limbah batubara ini akan meningkatkan kandungan mangan, seng, tembaga dan lainnya dalam air. Peningkatan kandungan yang bisa menurunkan PH air Sungai Mahakam sehingga menimbulkan ketidakseimbangan dalam air. Ketidakseimbangan yang menimbulkan resiko kesehatan baik bagi lingkungan maupun komunitas yang hidup di sungai maupun lingkungan sungai serta mereka yang memanfaatkan air sungai.

Untuk warga Kabupaten Mahakam Hulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, air Sungai Mahakam adalah sumber utama untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya.

Memanfaatkan airnya secara langsung jelas berbahaya, bisa berakibat buruk. Sebaliknya menghasilkan air yang berkualitas dari bahan yang buruk jelas butuh cara yang mempunyai konsekwensi anggaran yang besar.  Diolah asal-asalan, asal jernih saja sama artinya dengan bunuh diri. Mesti dipahami jernih tidak berarti sehat.

Padahal kita butuh air yang bersih dan sehat. Dan menghasilkan air yang bersih dan sehat dengan bahan baku air Mahakam akan membuat harga yang harus dibayarkan oleh masyarakat menjadi tinggi.

Kita punya banyak air, air yang terus mengalir sepanjang tahun namun sayang air itu tidak benar-benar kita jaga. Sehingga siapapun yang datang ke Samarinda dan kemudian meminum air Mahakam secara langsung mungkin tak akan kembali lagi datang ke Samarinda karena telah terlebih dahulu berpulang kepada Yang Maha Kuasa.

Air Sungai Mahakam kini tidak lagi memanggil. Lalu apa lagi yang bisa membuat orang kemudian rindu pada Samarinda?.

note : sumber gambar – KALTIMTODAY.COM