KESAH.IDFungsi utama trotoar adalah jalur untuk pejalan kaki. Namun tidak tertutup kemungkinan untuk fungsi dan nilai lainnya, seperti keindahan ruang jalanan, kesehatan dan ruang sosial. Kebijakan atas penggunaan trotoar tidak boleh memakai kaca mata kuda terkait fungsi dan nilainya.

“Negara maju bukanlah tempat dimana orang miskin memiliki mobil. Itu tempat orang kaya menggunakan transportasi umum,” kata Enrique Penalosa, mantan walikota Bogota, Kolombia.

Bogota sampai dengan tahun 90-an dijuluki sebagai The Worst City on The Planet. Kota dengan jumlah penduduk kurang lebih 8 juta jiwa itu mengerikan, dikuasai oleh mafia dan kartel narkoba. Kehidupan sungguh tak beradab, setiap harinya banyak nyawa menghilang sia-sia.

Tahun 1994, Andreas Escobar, bek tengah timnas Columbia yang membuat gol bunuh diri dalam Piala Dunia 1994, dibunuh oleh mafia judi ketika menginjakkan kaki di Bogota.

Bogota kemudian berubah dimulai ketika Antanas Mockus terpilih menjadi walikota. Dia sebelumnya adalah rektor di Universitas Nacional of Bogota.

Kesal pada kerusakan moral yang melanda masyarakat Bogota, Mockus dalam sebuah kuliah umum memelorotkan celanannya dan kemudian memantati mahasiswanya. Pamer pantat itu dilakukan sebagai aksi protesnya.

Dia meminta maaf atas peristiwa itu dan kemudian mengundurkan diri dari kedudukan sebagai rektor. Lalu maju sebagai calon walikota Bogota dan menang.

Mockus lewat programnya yang agak aneh seperti Every one can be a police, membekali warga dengan kartu merah dan putih layaknya wasit sepakbola. Dengan kartu itu warga akan mengacungkan kartu merah jika melihat warga lain melanggar, dan kartu putih jika melihat warga lain melakukan perbuatan baik.

Kontrol sosial antar warga yang dianggap Mockus sebagai hal fundamental dalam pembangunan berhasil ditumbuhkan olehnya.

Perlahan Bogota mulai beradab, masyarakat semakin sehat secara sosial. Namun belum selesai jabatannya Mockus mengundurkan diri, warga marah karena merasa dikhianati. Antanas Mockus mengundurkan diri untuk maju dalam pencalonan sebagai Presiden Kolombia.

Antanas Mockus kemudian digantikan oleh Enrique Penalosa, seorang arsitek yang suka blusukan.

Sejak menduduki jabatan di tahun 1998, Enrique memfokuskan diri pada pembenahan infrastruktur perkotaan.

Enrique menginisiasi jalur sepeda, membangun taman kota, lapangan olahraga, taman bermain dan proyek angkutan umum yang dinamakan Transmillenio.

Kelak keberhasilan Transmillenio kemudian diadaptasi oleh Jakarta dengan membangun busway untuk dilewati oleh bus Transjakarta.

Saat berkunjung ke Jakarta, ketika keluar dari hotel tempat menginapnya di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Enrique melontarkan kritiknya.

“Harusnya dengan gedung-gedung setinggi itu {sambil menunjuk hotel dan apartemen yang tinggi}, masak trotoar lebarnya hanya segini,” ujarnya sambil merentangkan tangan seukuran setengah meter.

Sesaat setelah terpilih dalam pidatonya di depan parlemen, Enrique Penalosa menyampaikan bahwa membangun kota tak melulu untuk bisnis, investor dan kendaraan. Menurutnya kota adalah tempat untuk anak-anak, orang muda dan juga orang tua.

Maka bukan hanya transportasi umum yang diperbaiki olehnya melainkan juga jalur pejalan kaki, jalur sepeda. Tiang-tiang reklame di pinggir jalan dirobohkan dan diganti dengan pepohonan.

Enrique memang terobsesi oleh keinginan untuk menjadikan kota sebagai ruang publik, ruang pertemuan bagi warganya secara inklusif.

“Kota yang dimana-mana berdiri mall adalah kota yang sakit,” ujarnya.

Bagi dia mall adalah ruang publik yang tidak setara, karena disana ada jurang antara orang kaya dan miskin. Orang miskin tidak akan merasa nyaman di mall.

Ruang publik seperti taman kota, trotoar dan jalur sepeda adalah bukti bahwa pemerintahnya menghargai setiap warganya secara sama. Yang berjalan kaki sama pentingnya dengan mereka yang mengendarai Lamborghini.

BACA JUGA : Lagi Mas Karebet Nggak Boleh Ngombe Dawet

Pagi pagi sekali {25/08/2022} di salah satu WAG yang saya ikuti seorang teman mengirimkan link postingan dari sebuah akun instagram. Feed-nya berisi postingan teks dan suara, perihalnya tentang kajian ulang estetika.

Yang mau lihat dan dengar apa persisnya silahkan buka akun IG igabakarsunaryo.

Lepas dari persoalan yang diungkap lewat postingan di instagram itu, perihal estetika di Kota Samarinda memang menarik untuk dikaji.

Soal estetika, Samarinda memang tidak baik-baik saja.

Secara etimologis, estetika berasal dari bahasa latin ‘aestheticus’ atau dalam bahasa Yunani ‘aestheticos’. Artinya merasa atau hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera manusia.

Dan dalam khasanah filsafat, estetika kemudian masuk sebagai sebuah cabang kajian filsafat yang membahas tenang keindahan khususnya dalam seni dan alam semesta.

Namun dalam pengertian umum ataupun populer, estetika dipahami sebagai keindahan yang merujuk pada proses, hasil, nilai, fungsi maupun kesadaran dan identitas.

Sempat menjadi pusat pemerintahan di masa kolonial Belanda, blue print kota kolonial yang berada di sepanjang tepian sungai tak menyisakan banyak tinggalan yang kentara, sebagaimana Jakarta, Bandung, Semarang dan lainnya yang masih mempunyai kawasan kota tua tinggalan Belanda.

Berkali-kali mengalami booming komoditas, Samarinda kerap mengalami ledakan jumlah pemukim dengan cepat, kotanya kemudian berkembang tanpa rencana. Para ahli tata kota menyebutnya sebagai kota organik, kota yang berkembang sesuai dengan kepentingan mereka yang menghuninya.

Permukiman yang awalnya berada di sekitar tepian Sungai Mahakam kemudian merangsek kearah daratan, menindas rawa-rawa menuju perbukitan. Rawa diuruk, bukit dipangkas atau dimatangkan dan kelak sebagian hilang bahkan meninggalkan lubang karena ditambang batubaranya.

Estetika pertamanya yang merupakan karunia alam dan diadaptasi oleh para penghuni pemula kemudian hilang. Peradabannya sebagai kota air lenyap, karena berkiblat pada pembangunan ala lahan kering yang dibawa oleh orde baru dengan alas repelita.

Liukan sungainya diganti oleh kelok-kelok jalanan. Yang pinggirannya kemudian ditumbuhi oleh rumah-rumah berfondasi, bukan rumah panggung yang sadar atas pasang surut di perlembahan Kota Samarinda dan tanahnya yang tak dengan cepat menyerap air.

Anak-anak sungai menghilang, menjadi parit atau bahkan got dan nama sungainya menjadi nama kawasan, kelurahan atau mungkin jalan. Anak sungai yang tersisa menjadi centang perentang, cermin buruk perkembangan kota autopilot.

Estetika baru kemudian muncul dengan nama revitalisasi, normalisasi dan sasi-sasi yang lain. Dasarnya adalah semen, perkerasan pada hampir semua bidang lahan. Berslogan pembangunan hijau dalam prakteknya pembangunan yang dilakukan berwarna abu-abu.

Tanah lapang, ruang terbuka tempat warga bermain dan berolah raga berganti menjadi bangunan megah yang melahap semen berton-ton. Walau ada taman, ruang terbuka hijau dan pemasangan papan hutan kota, namun semen yang dihambur tak kurang banyaknya.

Tak perlu bertanya pada para ahli, mereka yang bergabung dalam Ikatan Ahli Perencana Pembangunan, Ahli Landscape, Ahli Desain, Ahli Tata Kota dan lainnya, mereka yang awam pun dengan mudah melihat taman dan simbol-simbol estetika lain di Kota Samarinda kehadirannya kerap tak selaras dengan lingkungan sekitarnya.

Ada taman bak pot raksasa, keteduhannya membuat lingkungan sekitarnya tergenang saat banjir. Pun taman di tepian Sungai Mahakam, yang dihiasai lampion. Indah dimalam hari hingga membuat Samarinda menjadi samar indah, terlihat indah ketika mulai gelap karena nyala warna-warni lampunya.

Pun disana sini ada papan peringatan yang dipasang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah, tentang kawasan-kawasan rawan longsor di perbukitan Kota Samarinda. Namun pembangunan rumah-rumah raksasa dipuncak-pucak bukit selalu dibiarkan.

Memang megah dan indah, bak puri dalam cerita dongeng-dongeng Eropa. Namun kemegahan dan keindahan tidak selalu estetis. Keindahan tidak berada dalam dirinya sendiri melainkan ada dalam interaksi dengan kesekitarannya. Tanpa relasi yang erat dengan kesekitaran, kemegahan dan keindahan bisa menjadi teror bahkan horor.

BACA JUGA : Opium War Versi Tik Tok

Seingat saya sebelum memungkasi masa jabatannya yang panjang, sepuluh tahun sebagai wakil walikota dan 10 tahun sebagai walikota, Sjahrie Jaang mulai giat menata kota.

Taman-taman kota dibangun, mulai Taman Segiri, Taman Ekologi, Taman Sejati, Taman Samarendah hingga taman yang nantinya dinamakan sebagai Taman Bebaya.

Selain membangun taman, trotoarpun mulai ditata. Kalau tak salah dimulai dari ruas Jalan Basuki Rahmat, trotoar mulai dikeramik biar estetik.

Bertahun yang lalu saya mulai bertanya, untuk apa trotoar dibuat indah dan rapi jali kalau yang melewatinya makin hari makin sedikit. Belum juga terjawab, makin kesini penataan trotoar makin asyik.

Trotoar memang makin hari makin kehilangan fungsi.

Ditelusuri dari asal katanya, trotoar berasal dari kata trottoir dalam bahasa Belanda yang artinya jalur pejalan kaki.

Arti itu dipertahankan dalam pengertian trotoar sebagaimana termaktub dalam keputusan Dirjen Bina Marga N0. 76/KPTS/Db/1999 tertanggal 20 Desember 1999. Dalam keputusan itu yang dimaksud dengan trotoar adalah bagian dari jalan raya yang khusus disediakan untuk pejalan kaki yang terletak didaerah manfaat jalan, yang diberi lapisan permukaan dengan elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan.

Dalam UU Nomor 22 2009, trotoar diartikan sebagai salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas. Trotoar merupakan hak pejalan kaki, sama halnya dengan tempat penyeberangan.

Datang ke Samarinda sekitar tahun 2002, saya jarang melihat trotoar disibuki oleh pejalan kaki. Dan makin tahun trotoar justru ramai menjadi tempat parkir kendaraan. Adalah biasa bagi warga Samarinda untuk membeli mobil lebih dahulu meski tak punya garasi.

Pun juga banyak bangunan kantor dan usaha yang membuat bangunan menutupi semua lahan hingga tak menyisakan ruang untuk parkiran. Padahal menjadi pegawai apalagi kantoran tidak afdol kalau pulang pergi kerja tanpa mengendarai kendaraan roda empat.

Sering menjadi tempat parkir, pada beberapa titik di jalan Basuki Rahmat, Kesuma Bangsa dan Juanda, trotoarnya ditata, diperindah dan dipasangi tiang-tiang bahkan juga bangku yang cukup untuk diduduki 2-3 orang per bangkunya.

Trotoarnya menjadi estetis, pejalan kaki tidak terganggu dan bisa beristirahat di bangku kalau hendak menunggu jemputan.

Namun trotoarnya ternyata sepi, tak ada lalu lalang pejalan kaki. Bangkunya juga merana, terpapar panas, hujan dan debu.

Tiang-tiagnya yang nampak kokoh, sebagian mulai miring karena tak ditanam cukup dalam.

Trotoar akan cukup ramai andai ada yang berjualan di sebelah atau diatasnya. Gerobak, kios atau warung tenda.

Fungsi trotoar dalam konteks ruang sosial yang nampaknya masih bertahan dan relevan.

Mengharap trotoar menjadi tempat lalu lalang pejalan kaki seperti pada kota-kota di Jepang nampaknya sulit untuk diwujudkan.

Di tengah semakin berkurangnya ruang publik, ruang terbuka yang kemudian menjadi ruang terbangun, mempertimbangkan fungsi trotoar sebagai ruang sosial tempat masyarakat bertemu untuk nongkrong melepas penat, menghilangkan dahaga dan lapar sambil menikmati musik jalanan secara nyaman menjadi penting.

Pada titik-titik tertentu, penggunaan trotoar untuk membuka kios, kafe, kedai yang tidak permanen, beraktifitas pada jam tertentu disertai dengan komitmen kuat untuk menjaga ketertiban lalu lintas bukanlah sesuatu yang salah.

Sebagai sebuah sarana, trotoar yang secara definisi diabdikan untuk kepentingan pejalan kaki bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya dengan pengaturan, bukan penggusuran.

Estetikanya pun bisa tetap terjaga, apalagi jika nilai-nilai estetisnya disepakati bersama terkait nilai obyektif dan subyektifnya.

Estetika bukan ruang untuk menunjukkan ekpresi kekuasaan yang banal.

note : sumber gambar – ADAKAH.ID