KESAH.ID – Dengan smartphone di tangan menjadi mudah untuk seseorang merekam tindak tanduk orang disekitarnya. Terlebih jika tindak tanduknya berlawanan dengan aturan, nilai atau norma di tempat itu. Dan rekaman semacam itu jika diupload di media sosial selalu akan memperoleh banyak tanggapan, ratingnya tinggi hingga kemudian menjadi viral.
Ada banyak ungkapan yang menunjukkan cultural determinism yang berkembang dalam budaya Jawa. Mengagungkan unggah-ungguh, tata krama, kehalusan kemudian menjadi obsesi. Maka ketika memandang sesamanya yang bersifat dan berperilaku kasar, orang Jawa kerap mengatakan ‘Ora njawani’.
Maka sesiapapun yang sarungan, pakai blangkon dan surjan serta mulai berbicara dengan bahasa Jawa walau blekak-blekuk segera akan dipuji ‘njawani’ atau bahkan diklaim ‘wis jowo’, sudah menjadi orang Jawa.
Dalam artian tertentu orang Jawa memang pintar ‘ngeles’ terutama urusan pencapaian material. Moralitasnya dan spiritualitasnya menjadi seperti anti materi. Orang-orang yang bekerja keras untuk mencari materi dengan slogan kerja-kerja-kerja seperti Jokowi, bakal dianggap ‘uripe kok ngoyo’ hidup kok memaksakan diri, tidak njawani.
‘Ora mangan waton ngumpul’, tidak makan asal bersama kemudian lebih dipilih ketimbang banyak makanan tapi tak bisa menjaga harmoni, ketentraman dan keselarasan bersama orang lain.
Dalam esai berjudul Numpak Mercy Uro Uro, Kang Ahmad Sobari menuliskan ungkapan ‘Numpak Mercy mbrebes mili, mikul dawet uro-uro’. Menurutnya ungkapan ini dengan wujud dari ide atau gagasan anti materi, bahagia itu bukan milik orang kaya, melainkan milik orang sederhana.
Sebenarnya kecenderungan anti materi ada dalam sistem nilai atau moral banyak budaya lainnya. Ajaran serupa juga bisa ditemukan dalam agama-agama. Ungkapan seperti orang kaya lebih sulit masuk surga, lazim terdengar.
Ajaran moral agama misalnya lebih menekankan pada pengikutnya untuk tidak larut dalam kecenderungan di dunia, tidak mengejar yang duniawi melainkan surgawi.
Idealisme agama maupun budaya memang kerap tidak beriringan dengan apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan. Sukses pada masa sekarang ini kerap dengan mudah disamakan dengan kekayaan.
Orang-orang yang berharta, uangnya melimpah ruah akan mendapat banyak privilege, bisa memperoleh pendidikan terbaik, layanan kesehatan terbaik, termasuk layanan publik lainnya.
Kasus di Alfamart yang baru-baru ini viral membuktikan bahwa orang kaya bisa membalikkeadaan. Seorang ibu yang datang belanja dengan mengendarai Mercy kemudian kepergok membawa barang tanpa membayar.
Aksinya direkam oleh salah satu pegawai dan kemudian disebarkan di media sosial.
Tahu video aksinya disebarkan, ibu itu kembali lagi ke gerai Alfamart sambil membawa ‘pengacara’ dan memaksa pegawai Alfamart yang merekamnya untuk melakukan klarifikasi dan minta maaf.
Demi menutup rasa malunya, ibu yang tentu saja kaya karena naik Mercy kemudian menjadikan dirinya sebagai korban. Dan pegawai Alfamart yang melakukan tugasnya, kemudian dijadikan kambing hitam.
Pegawai Alfamart tentu saja melakukan tugas yang diemban dari perusahaannya dengan benar. Tapi kemudian ‘kalah tadah’, jadi ngeper karena didatangi kembali sambil membawa orang lain, yang entah benar pengacara atau ngaku-ngaku untuk melakukan penuntutan dengan laporan pelanggaran UU ITE.
Pegawai yang kalah segala-galanya, kemudian mengalah, tidak bisa bersikukuh bahwa yang dilakukannya benar dan kemudian membuat video pernyataan minta maaf. Entahlah apakah si ibu itu juga minta maaf telah mengambil barang dari gerai tanpa membayar.
BACA JUGA : Kopi – Filosofi, Literasi dan Kontribusi Untuk Kota
Melihat tunggangannya rasanya tidak mungkin ibu itu mengambil dan tidak membayar karena tak punya uang. Buktinya, bisa kembali dan kemudian disertai seseorang yang biasanya mengutip bayaran atas jasa layanannya.
Patut diduga ibu itu mengidap gangguan yakni tidak bisa menahan keinginan untuk mengambil barang milik orang lain. Gangguan mental yang dikenal dengan istilah kleptomania.
Penderita kleptomania biasanya mengambil barang-barang kecil, barang yang tidak terlalu berguna untuknya. Dan kebanyakan penderitanya adalah perempuan.
Dan bukan salah ibu itu kalau dalam dirinya ada kecenderungan semacam itu, keinginan untuk mengambil barang milik orang lain itu ada begitu saja. Sampai sekarang penyebab pasti dari kleptomania belum diketahui.
Masalahnya jika itu terjadi di ruang publik, di dalam lingkungan yang tidak mengenali dirinya maka mengambil barang milik orang lain itu akan dianggap sebagai pencurian, sebuah kejahatan.
Tanda-tanda ibu itu mempunyai kecenderungan kleptomania bisa dilihat dari keterangan pihak kepolisian setelah mendapat keterangan dari pihak keluarga.
AKBP Sarly Sollu, Kapolres Tanggerang Selatan menyebut Ibu itu memang ada kebiasaan-kebiasaan yang sedikit unik.
Entahlah apa maksud sedikit unik itu. Tapi bisa jadi merujuk pada ada dorongan besar yang tak bisa dikendalikan dalam dirinya untuk mengambil milik orang lain.
Keluarga dan lingkungan terdekatnya lah yang tahu.
Berangkat dari keterangan Kapolres, nampak jelas kita memang kerap merasa malu terhadap hal-hal bawaan yang tidak normal dibandingkan dengan kebanyakan orang lainnya. Seolah itu sebagai sebuah penyakit.
Padahal keadaan yang disebut kurang sehat atau kurang seimbang secara mental itu adalah bawaan, menyangkut cara kerja otak yang kemudian tidak bekerja sebagaimana umumnya orang lain.
Dan sekali lagi kondisi seperti itu belum semuanya bisa dipecahkan apa penyebabnya. Satu-satunya yang memungkinkan adalah memberikan obat, yang bisa jadi mesti rutin untuk menekan kecenderungan itu.
Keluarga atau lingkungan yang terdekat juga mesti membantu untuk mencegah tindakan itu menjadi bermasalah. Misalnya dengan selalu menemani saat belanja atau berkegiatan lainnya.
Namun jika sesekali ada kejadian, sebaiknya keluarga atau lingkungan terdekatnya juga dengan segera memberitahukan kondisinya terhadap mereka yang mungkin dirugikan. Bukan malah membuat tuntutan atau tindakan lain yang akan semakin membuat runyam.
Beruntung tindakan itu dilakukan di minimarket yang mungkin saja penjaga dan pengunjungnya tidak terlalu garang. Bayangkan jika terjadi di pasar dan kemudian diteriaki ‘maling’, bisa jadi yang bonyok bukan hanya ibu itu melainkan juga mobilnya.
BACA JUGA : Saya Lebih Suka Kisah Rambo Daripada Sambo
Sadar atau tidak, kita sekarang ini telah memasuki era masyarakat yang diawasi. Bukan hanya karena CCTV tersebar dimana-mana, melainkan juga telah terkoneksi dengan berbagai macam aplikasi.
Teknologi pada awalnya diciptakan untuk membantu hidup manusia, namun pada masa kini teknologi bahkan sudah mengatur hidup kita. Semua serba memakai teknologi, manusia terhubung satu sama lainnya karena teknologi.
Keterhubungan ini kemudian berpengaruh terhadap cara pandang kita dengan orang lain, cara pandang kita pada dunia.
Dunia bukan lagi dunia tunggal, semesta yang kita tinggali melainkan juga dunia maya, dunia digital yang tidak lagi berupa tontonan atau imajinasi melainkan menjadi bagian dari hidup kita semenjak bangun tidur hingga kembali tidur lagi.
Teknologi yang telah dilabeli smart karena didalamnya disematkan kecerdasan buatan bahkan juga mesin belajar kemudian menghadirkan realitas lain dalam kehidupan, realitas digital. Realitas digital ini nantinya akan semakin menjadi dalam ketika berbentuk metaverse.
Maka dari sisi peradaban, kita homo sapiens yang tadinya kerap disebut sebagai mahkluk ekonomi, mahkluk pekerja, mahkluk sosial, mahkluk bermain dan lain-lain kini sedang berevolusi menjadi mahkluk digital, homo digitalis.
Modernitas sedang berada di tepi jurang, dititik kematiannya untuk digantikan dengan jaman digital dan virtual. Jaman yang dipenuhi dengan segala sesuatu yang sejak awal berbentuk digital, bukan karena didigitasi.
Berhadapan dengan realitas semacam ini kemudian kita kerap menjadi gagu. Banyaknya orang yang mengancam dengan UU ITE atau dilaporkan dengan dugaan melanggar UU ITE adalah salah satu bentuk kegaguan itu.
Sebagai homo digitalis, frame kita dalam melihat kenyataan masih belum komprehensif. Perilaku kita sudah berevolusi, namun cara berpikir kita masih kerap berada di masa sebelum internet ditemukan.
Homo digitalis yang hidup dalam dunia serba cepat sebagian besar masih berotak lelet. Masih terjebak dalam mitos-mitos dan keyakinan yang salah atas cara kerja otaknya. Masih mudah tersinggung, terlalu sensitif dengan pencemaran nama baik dan mencoba menghapus jejak digital melalui intimidasi.
Padahal sikap semacam itu justru kerap menimbulkan kontroversi. Alih-alih menyelesaikan persoalan yang terjadi justru melebar kemana-mana. Karena dalam viralitas selalu ada penunggang angin.
note : sumber gambar – KOMPAS.COM








