KESAH.ID – Ada banyak kasus yang membuat kita mengelus dada, seorang pemerkosa dibela matian-matian dan dilindungi bak orang suci. Seolah seseorang yang saleh, punya ilmu agama yang mumpuni dan mempunyai banyak pengikut dianggap selalu bisa mengendalikan nafsunya serta tak mengambil untung dari kedudukannya.
Generasi baby boomers dan generasi X awal pasti akrab dengan istilah hitam putih. Gambar hitam putih, foto hitam putih dan televisi hitam putih.
Dunia memang belum berwarna waktu itu. Di sekolah belum dikenal white board yang bisa dicorat-coret dengan board marker warna-warni. Papan tulis di dalam kelas adalah kayu bercat hitam yang dicorat coret dengan batang kapur putih.
Setiap hari murid-murid mendapat giliran untuk menghapus papan tulis itu. Bagi yang punya alergi debu, menghapus papan tulis bisa menjadi bencana karena debunya bakal memicu bersin-bersin seharian.
Untuk generasi milenial istilah hitam putih menjadi akrab lewat gelar wicara yang diampu oleh Deddy Corbuzier dan ditayangkan melalui Trans 7. Hitam Putih merupakan sebuah acara yang mengangkat tema-tema inspiratif namun dibawakan secara santai. Hanya saja narasumber yang dihadirkan kerap kali mati kutu dengan pertanyaan atau sanggahan kritis dari Deddy Corbuzier.
Tentang hitam putih belum lama ini masyarakat digemparkan dengan binary option. Sebuah model imbal hasil yang dikemas dalam baju investasi. Ada banyak aplikasi yang sesungguhnya berbasis opsi biner, namun yang ternama adalah Binomo yang salah satu endorsernya adalah Indra ‘Crazy Rich’ Kenz.
Anak muda yang suka mengucapkan ‘murah banget’ ini kemudian dijadikan tersangka oleh Polisi karena terbukti melakukan penipuan, apa yang dipromosikan olehnya sebagai investasi ternyata merupakan permainan uang yang lebih menjurus ke perjudian.
Aplikasi Binomo ternyata berbassi opsi biner. ‘Investor’ hanya punya dua kemungkinan dalam menebak. Kalau benar akan dapat uang namun kalau salah uang akan hilang, tak ada pilihan lain.
Pilihannya hanya menang atau kalah. Yang menang akan dapat semuanya, sementara yang kalah akan kehilangan semuanya. Tidak ada untung, rugi atau impas, yang ada dapat atau hilang.
Binary atau biner sebenarnya merupakan sistem bilangan yang berbasis pada dua simbol yakni 0 dan 1. Ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad 17. Sistem ini kemudian menjadi dasar dari semua sistem bilangan yang berbasis digital.
Kode biner ini kemudian diterapkan salah satunya di komputer untuk membangun rancang bangunnya sehingga komputer bisa bekerja sendiri. Pengelompokkan biner dalam komputer disebut dengan byte.
Kode biner juga diterapkan dalam sistem komunikasi digital modern. Data ditransmisikan dalam bentuk bit-bit biner. Foto, suara, video, teks dan lainnya ditransmisika dengan diubah menjadi kode ini dan kemudian diterima lalu dikonversi sehingga oleh penerimanya kembali akan diterima sebagaimana wujud pertamanya.
Dalam sistem komunikasi digital dan hal-hal lainnya yang terkait kode biner ini amat berguna serta terbukti efektifitasnya. Namun model biner yang hanya terdiri dari dua pilihanan ini kemudian menjadi bermasalah apabila dipakai sebagai model berpikir atau cara pandang terhadap realitas.
Model berpikir biner atau populernya sebagai cara berpikir hitam putih kemudian hanya menyediakan pilihan benar atau salah. Dan kemudian benar serta salah yang sebenarnya netral saja kemudian diberi nilai sebagai baik dan buruk. Dengan cara berpikir seperti ini yang ada kemudian hanya kawan atau lawan.
BACA JUGA : Kenapa Alfamart dan Indomaret Suka Nempel Kayak Perangko?
Seorang guru saya pernah mengatakan “Hidup itu bukan matematika, walau dalam hidup banyak perhitungan,”
Saya yang tidak terlalu suka matematika tentu saja senang dengan ucapan guru itu walau sebenarnya saya tak mengerti apa yang diucapkannya.
Untunglah kemudian guru itu memberi contoh untuk menerangkannya.
Guru saya memberikan contoh tentang dua keluarga, yang satu adalah keluarga pegawai yang punya gaji tetap, terdiri dari bapak, ibu dan dua anak. Lalu ada keluarga lain, keluarga buruh tani yang tak punya gaji tetap dan pendapatannya lebih kecil. Sama sama terdiri dari bapak, ibu dan dua anak ternyata keluarga buruh tani anaknya bisa tetap sekolah.
“Coba dihitung dengan matematika, harusnya anak buruh tani pasti tidak bisa sekolah” ujar guru saya.
Dan mulailah kami menghitung, mulai dari kebutuhan rumah tangga dari dapur yang butuh beras, minyak tanah, minyak goreng, gula, teh, kopi dan lain-lain.
Dan jelas pendapatan buruh tani ternyata tak cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Apalagi ditambah rokok, baju, jajan, dan lain-lain.
“Benar juga, hidup memang bukan matematika,” ujar saya dalam hati.
Dan kelak ketika saya mulai dewasa, saya juga menemukan kenyataan bahwa teman-teman yang tak terlalu matematis ternyata lebih mempunyai keberanian untuk menikah. Sementara yang berhitung soal kebutuhannya harus cukup dulu dan baru kemudian memutuskan untuk menikah, ternyata tidak menikah-menikah atau kemudian terpaksa mesti menikah.
Realitas memang tidak hitam putih atau benar salah seperti halnya matematika. Realitas adalah sebuah spektrum, walau terdiri dari dua sisi namun ada realitas antara dikedua sisinya.
Memang ada realitas umum, seperti kelamin misalnya. Yang umum adalah Laki-Laki atau Perempuan. Namun tidak hanya itu ternyata ada realitas lain diantara Laki-Laki dan Perempuan.
Hanya saja jumlah mereka yang sulit untuk dikategorikan sebagai Laki-Laki atau Perempuan tidak terlalu banyak jumlahnya, maka mereka yang tidak termasuk dalam realitas pada umumnya ini kemudian sering disebut sebagai tidak normal atau malah dianggap sebagai menyimpang.
Dalam ilmu biologi yang disebut tidak normal atau menyimpang sebenarnya hal yang biasa, hanya dianggap sebagai sebuah fenomena tidak umum. Ketidaknormalan atau penyimpangan dalam biologi adalah alamiah.
Hnaya saja dalam realitas kehidupan bersama, cara berpikir masyarakat, yang disebut dengan ketidaknormalan atau penyimpangan sebagai bernilai negatif. Yang positif adalah yang normal. Menyimpang selalu tidak baik, dulu bahkan dianggap sebagai kutukan.
Padahal yang disebut dengan positif atau negatif adalah konsekwensi, bukan tafsir. Kalau seorang laki-laki lalu hanya tertarik secara seksual kepada laki-laki, konsekwensinya dia tidak akan punya anak. Dia akan punah.
Pun demikian jika laki-laki ingin jadi perempuan, lalu melakukan operasi kelamin dan operasi plastik lainnya sehingga nampak sebagaimana perempuan pada umumnya. Kemudian menikah dengan laki-laki lalu berhubungan seksual, tetap saja tidak akan punya anak. Dia juga akan punah, karena tidak punya keturunan.
Sebenarnya yang disebut normal itu hanyalah hal yang pada umumnya saja atau generalisasi. Dan sejatinya kenyataan tidak bisa digeneralisir, selalu ada hal-hal yang unik dan tidak umum.
Namun cara berpikir kita kerap kali tidak menerima hal itu. Kita hanya membagi kenyataan dalam dua sisi, layaknya kode biner yang hanya ada 0 dan 1.
BACA JUGA : Semua Akan Tik Tok Pada Waktunya.
Kalau suatu saat saya memberi pujian kepada Presiden Jokowi, akan ada yang menyebut saya Cebong. Dan ketika tiba masanya saya mengkritisinya maka akan ada yang meneriaki saya Kadrun. Lebih dari itu kemudian ada yang jeli, menganggap saya plin-plan, karena lain kali memuji namun kali lainnya mengkritisi.
Baik yang menyebut saya Cebong, Kadrun atau Plin Plan, ketiganya sama saja kurang ‘ngopi’ alias malas ngolah pikiran.
Adalah aneh kalau saya suka kopi kemudian dianggap nggak suka teh. Atau ketika membela kebebasan Papua kemudian dianggap tidak mencintai NKRI. Bersimpati pada China otomatis benci Amerika dan seterusnya.
Seolah-olah tak boleh atau tak mungkin buat saya untuk menyukai Jokowi dan Prabowo. Bersimpati pada Ukranina sekaligus menghormati Rusia. Menggilai kopi namun juga doyan teh.
Aneh sekali.
Para pujangga jauh lebih baik cara berpikirnya, mereka terbuka pada realitas bahwa dibalik benci terkadang ada rindu. Makanya orang tua yang bijaksana selalu berpesan, jangan terlalu membenci sesuatu, salah-salah malah bisa jatuh cinta.
Adalah biasa bagi kita untuk mengkategorikan realitas di dunia ini menjadi dua kategori yang kontras dan jelas. Seperti hitam putih, langit bumi, hidup mati, siang malam, baik buruk, bagus jelek dan banyak lagi.
Model pengkategorian ini disebut sebagai oposisi biner. Pola pikir ini penting terutama dalam dunia ilmu pengetahuan dan penelitian terutama agar para peneliti mengambil jarak dari obyek penelitian.
Maka menjadi masalah apabila paradigma berpikir oposisi biner ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, realitas sosial yang begitu luas. Berpikir dengan pola opisisi biner, bakal melahirkan kesesatan pikiran.
Realitas sosial dan kehidupan adalah kenyataan yang berada dalam spektrum yang amat luas. Bagaimana mungkin sebuah spektrum kemudian hanya dimampatkan dalam pilihan A atau B. Model berpikir semacam ini jelas akan mereduksi kenyataan, menyederhanakan realitas dan membatasi keluasan wawasan.
Mempraktekkan cara berpikir opisisi biner dalam kehidupan sehari-hari, bisa diibaratkan seperti kita berjalan di padang rumput dengan memakai kacamata kuda, ada banyak sisi yang kemudian tidak terlihat.
Cancel culture yang berkembang di jagad media sosial, acap kali menjadi bukti dari praktek berpikir opisisi biner. Para pemuja tokoh tertentu kemudian memboikot sang idola karena melakukan kesalahan tertentu. Seolah seseorang yang dijadikan panutan atau teladan tidak boleh salah.
Sebaliknya juga ada yang maju tak gentar dalam membela tokoh tertentu. Mereka yang ditokohkan terutama dengan label agama seolah dianggap suci. Sehingga ketika melakukan kesalahan tetap dibela mati-matian. Sang tokoh dianggap tidak bisa salah, nggak mungkin tokoh agama tak bisa menjaga nafsu, jadi kalau ada yang melaporkan dia memperkosa maka itu adalah fitnah untuk membusukkan namanya.
Ajaib dan ajib bukan.
Hampir semua orang Indonesia sudah sekolah, dididik sejak anak. Bahkan ketika sudah bekerja berbagai macam pelatihan dan bimbingan terus diberikan. Hampir semua organisasi pemerintah baik nasional maupun daerah agenda terbesarnya adalah pelatihan, bimbingan teknik, studi banding dan seterusnya.
Tapi kesalahan berpikir dengan oposisi biner masih terus subur. Kenapa?
Pada dasarnya pola hubungan kita dalam masyarakat memang lebih cenderung kepada pola kekuasaan. Masyarakat sipil, masyarakat umum kerap kali ditempatkan sebagai obyek untuk meraih kekuasaan, bukan hanya kuasa politik melainkan kuasa sosial, budaya, ekonomi, religius dan sebagainya.
Maka masyarakat selalu dikotak-kotakkan agar dengan mudah dimobilisir untuk mendukung atau menolak sesuatu. Masyarakat tidak pernah diajak berpikir secara luas, hanya dijejali dengan apa yang ingin dipercaya atau disukai.
Sebenarnya tak sulit untuk mengikis cara berpikir opisisi biner ini. Jalannya lewat pendidikan dan literasi.
Tapi dengan syarat para pelaku dan pengiat pendidikan serta literasi tidak boleh baperan dan berstandar ganda. Nah, ini yang sulit. Tak semua pendidik dan penggerak literasi kita benar-benar inklusif.








