Selama hampir 20 tahun tinggal di Samarinda, saya menyaksikan berbagai perubahan dan pertumbuhan serta perkembangan landskap, penataan ruang dan bangunan-bangunan di kota ini.

Memutar kembali kenangan sesaat setelah menjejakkan kaki di Samarinda, yang tertanam dibenak adalah bentang lebar sungai Mahakam yang bak lautan. Pemandangan yang sangat menarik terutama untuk saya yang lebih sering melihat pantai dan lautan serta sungai-sungai yang tak terlalu lebar.

Segera terasa bahwa sungai, terutama sungai Mahakam adalah titik pusat atau arah hadap hidup dari kota Samarinda.

Sore harinya saya mendekat ke sungai Mahakam, mengunjungi kawasan tepiannya. Sinar mentari yang tak lagi menyengat dan pantulannya tak lagi tegak lurus di permukaan air sungai membuat pemandangan menjadi tidak bias.

Tepian Mahakam mulai dari depan kantor Gubernur hingga Jembatan Mahakam Kota dari puluhan tahun lalu memang diimpikan menjadi ruang publik atau bahkan menjadi destinasi wisata unggulan.

Waktu itu memang tak seterang benderang seperti sekarang. Di tepian Mahakam malah tercium aroma mesum seiring hari semakin malam. Ada deretan kafe kagetan yang bersaing mengaet pelanggan dengan sound system yang bisa dipakai untuk berkaraoke. Pengunjung bisa menghabiskan malam dengan ditemani ‘ladies’ dan minuman bersoda yang harganya jauh diatas warung-warung biasa.  Sesekali terlihat di bawah meja di atas rerumputan ada botol minuman yang bisa memabukkan.

Berkali-kali tepian Mahakam ditertibkan dan dibenahi hanya saja sampai sekarang belum menghasilkan penataan yang patut untuk dipuji. Yang kerap terjadi justru ‘keanehan-keanehan’, seperti sekali waktu, Tepian Mahakam pernah gemerlap karena dihiasi aneka lampion.

Indah memang di malam hari, tapi siangnya lanskap tepian Mahakam itu terasa aneh dengan kehadiran figur-figur buatan yang entah asal usulnya dari mana. Dan lampion yang terbuat dari bahan yang tak tahan lama itupun menjadi kusam, penutupnya robek disana-sini, lampu didalamnya mati. Hiasan itu menjadi ‘sampah berdiri’.

Kelak menjelang akhir masa jabatan keduanya, Syahrie Jaang giat membangun taman kota. Ada Taman Cerdas, Taman Segiri, Taman Sejati, Taman Lampion Teluk Lerong, Taman Samarendah, Taman Ekologis Anang Hasyim, Taman Odah Bekesah dan Taman Bebaya.

Jujur saja semua taman itu tak membuat saya terpikat untuk singgah, kalah dengan Taman Rekreasi Buatan yang dibuat oleh para pengusaha wisata di Kota Samarinda.

Taman kota merupakan kebutuhan vital bagi lingkungan perkotaan. Taman kota adalah bagian dari ruang terbuka hijau dalam bentuk hutan kota baik yang bersifat publik maupun privat. Dengan demikian taman kota mempunyai fungsi ekologis dan sosial.

Kehadiran taman kota bertujuan untuk menciptakan kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi.

Saya tak mendalami persis masing-masing taman di Kota Samarinda, sebagian hanya saya lihat sekilas ketika lewat atau berada di taman itu di taman itu karena mengikuti sebuah aksi.

Dengan penilaian sekilas dan cepat menurut saya kehadiran taman-taman kota di Kota Samarinda belum cukup kuat untuk menopang tujuan ekologisnya. Sebagai kota yang kerap digenangi air saat hujan, Kota Samarinda belum mempunyai kesadaran untuk membuat Taman Hujan, taman yang siap atau disiapkan untuk digenangi oleh air hujan.

Lanskap dan desain taman kotanya juga cenderung menghadirkan ‘kegenitan’ desain yang kemudian menghadirkan pemandangan yang ‘patah’ hubungannya dengan kesekitaran. Estetikanya kemudian terasa aneh baik secara visual maupun fungsional.

Taman Bebaya misalnya mengulangi kembali bangunan berbentuk buah-buahan yang difungsikan sebagai WC seperti halnya di Taman Segiri {Taman di samping Taman Makan Pahlawan}. Saya lupa persis buah apa saja namun kehadirannya dengan figur lainnya di Taman Bebaya tak menunjukkan sama sekali koneksinya dengan Sungai Mahakam.

Pun demikian juga dengan Taman Samarendah, taman yang menguburkan sebagian sejarah Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Samarinda. Berada di simpangan salah satu jalan utama, jalanannya dibangun dengan paving block yang jelas-jelas tak cocok sebagai materi jalan raya untuk daerah yang daratannya terbentuk dari tanah endapan.

Belum lagi kehadiran elemen hiasnya berupa patung kuda dan menara berlampu yang ragam dan lagaknya tak selaras dengan elemen-elemen hias lainnya di tembok pondasi yang menjadi pembatas antara taman dan jalan yang mengelilinginya.

Menara itu dimalam hari ketika lampunya putihnya menyala dari ujung atas hingga pangkal bawah dari kejauhan akan terlihat seperti Pocong raksasa.

BACA JUGA : Anak Anak Yang Tak Lagi Belajar Dari Orangtuanya

Sebagai kota bandar, Samarinda pernah mendapat pujian internasional untuk landskap dan bangunan kawasan ekonomi.

Kawasan Citra Niaga yang diganjar dengan penghargaan Aga Khan Awards pada tahun 1989 seperti namanya berhasil menjadi citra penanda pencapaian peradaban Kota Samarinda dalam pembangunan kawasan perkotaan.

Pusat perniagaan yang berhasil memoles wajah kumuh dan buruk Taman Hiburan Gelora yang justru kumuh di masa keemasan ekonomi Kota Samarinda karena ekplotasi kayu bulat, jaman yang dikenal sebagai banjir kap.

Roda ekonomi yang saat itu bergerak kencang membuat kawasan THG marak dengan lapak pedagang kaki lima, lapak judi, lapak barang bekas/penadah barang curian, tempat hiburan malam hingga warung remang-remang.

Kawasan itu kemudian lebih dikenal oleh warga sebagai ‘Texas’ nya Kota Samarinda.

Tahun 1985 kawasan itu mulai ditata dengan desain yang dihasilkan oleh dua orang arsitek yakni Didik Soewandi dan Antonio Ismael Ristianto. Tentu saja ada banyak orang lain yang berjasa besar sehingga desain itu lolos dan mendapat persetujuan untuk diimplementasikan.

Setahun kemudian pembangunan kawasan itu bisa diselesaikan menjadi kawasan niaga yang mewadahi semua pelaku ekonomi mulai dari yang besar sampai kecil. Ada kawasan ruko untuk pengusaha besar dan petak-petak kios untuk usahawan kecil.

Kawasan itu menyisakan ruang terbuka yang cukup luas dan lega, ada tempat pertunjukan, bale-bale dan area pejalan kaki serta fasilitas lainnya seperti musala, toilet dan area parkir.

Secara keseluruhan corak bangunannya merepresentasikan rumah adat Kutai dan ornamen Dayak.

Citra Niaga kemudian menjadi titik pusat keramaian baru yang tertata. Yang eksis bukan hanya pedagang melainkan juga seniman. Panggung hiburannya ramai disetiap akhir pekan, penyanyi dan pemusik dari berbagai group dan genre akan ‘dianggap’ jika telah tampil di panggung Citra Niaga.

Namun masa keemasan Citra Niaga tak lama, sama seperti banjir kap yang kemudian juga cepat berlalu. Trend baru pusat perniagaan di kota-kota besar bergeser menuju pasar modern yang disebut pasar swalayan dan mall.

Pemerintah nampaknya juga terobsesi untuk membangun kota dengan citra modernitas. Hingga kemudian lebih berpihak untuk mengurusi geliat ekonomi yang lebih modern. Seiring dengan kemunculan pusat perbelanjaan modern di Kota Samarinda, Citra Niaga kembali terpuruk, label ‘Texas’ nya Samarinda kembali muncul.

Samarinda mulai awal tahun 90-an mulai ditumbuhi oleh pusat-pusat perbelanjaan. Disusul oleh ruko-ruko hingga di kawasan jalan yang bukan merupakan jalan utama perkotaan. Hotel juga bertumbuh. Ada banyak penanda perniagaan modern yang dibangun tanpa memperhatikan kesesuaian lahan. Ruko dan hotel serta pusat perbelanjaan lainnya yang tak menyediakan ruang parkir dan ruang terbuka yang memadai.

Ada harga yang harus dibayar oleh pertumbuhan bangunan niaga di Kota Samarinda yakni perkerasan lahan yang amat massif. Sehingga dimusim hujan sebagaian air hujan menjadi air permukaan, air liaran karena tak punya tempat untuk meresap ke dalam tanah.

Pertumbuhan bangunan dengan lanskap dan arsitektur yang bertujuan mendapat ruang usaha sebesar mungkin dan abai pada kenyamanan pihak lainnya membuat Kota Samarinda seperti tumbuh tanpa konsep penataan yang kuat. Kota yang pertumbuhannya amat organik, sesuai dengan keinginan yang punya bangunan atau kawasan.

Ruang publik seperti jalanan menjadi ruang yang paling banyak dikorbankan, diokupasi untuk kepentingan pribadi. Got, saluran air bahkan anak sungai dirampas, jadi menyempit bahkan hilang. Beberapa jalan penghubung juga hilang menjadi ruang usaha.

Samarinda kemudian hanya menyisakan sedikit ruang publik, jalanan yang membuat orang tidak penat ketika melaluinya.

Jalanan yang luaspun menjadi terasa sempit, trotoar yang seharusnya menghadirkan nuansa lega malah menjadi sumber keruwetan. Pemerintah Kota memang berupaya membersihkannya, menjadikan trotoar kembali lega.

Sayangnya untuk menjaga kelegaan itu justru memunculkan keanehan lainnya. Trotoar yang tak lagi menjadi ruang pedestrian atau pejalan kaki, dipercantik dan diberi tiang-tiang penghalang agar tak dilewati kendaraan atau menjadi tempat parkir.

Tiangnya cukup cantik, seolah-olah berdiri kokoh. Padahal ternyata tidak demikian, diterpa angin kencang, disenggol orang lewat atau diisengi oleh anak-anak dengan sepakan atau tendangan ala karateka sudah cukup untuk membuat tiang itu miring.

Di beberapa titik jalan, trotoar juga dihiasi dengan bangku. Bangku yang nampaknya merana karena tidak ada yang mendudukinya. Mirip dengan halte yang dibangun beberapa tahun lalu, halte yang sama merananya karena tak pernah dijadikan tempat menunggu kendaraan angkutan umum oleh calon penumpangnya.

Mungkin benar tenggara seorang kawan soal kota autopilot ini. Diantara banyak pihak yang ‘berdosa’, para arsitek dan desainer ternyata turut serta. Arsitektur dan desain meski bernuansa teknis pada dasarnya adalah seni.

Namun di Kota Samarinda, seni itu kurang kita lihat. Pelakunya mungkin gagal mengedukasi dan menegosiasikan ‘harkat dan martabat’ seni pada pemangku kepentingannya. Bermodal uang besar para pembangun kota ini sulit untuk dipengaruhi agar bangunan atau kawasan yang hendak dikembangkan mesti berkesesuaian dengan kaidah alam, lingkungan dan kebudayaan. Uang adalah kuasa yang menjadi senjata untuk hanya menuruti kemauan mereka sendiri.

BACA JUGA : Beli Sekarang Bayar Nanti 

Kabar baiknya Pemerintah Kota Samarinda dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan bahwa berbagai keruwetan yang sudah parah menahun akan berhasil diatasi tahun depan. Komitmen yang patut dipuji dan diyakini sebab pemimpin Kota Samarinda saat ini dikelilingi oleh ahlinya para ahli.

Tapi buat yang tak sabar dan ingin segera punya ‘obat’ ketika penat menyusuri jalanan Kota Samarinda dengan segala kesesakan dan keruwetannya, bisa mengikuti resep seorang kawan pewarta muda nan rajin menulis status di facebooknya.

Sang pewarta muda ini menganjurkan untuk lari sejenak dari keruwetan dengan menyusuri jalanan di kawasan Kampus Unmul Gunung Kelua. “Lengang, adem dan seger,” begitu tulisnya.

Tapi tetap harus hati-hati dan waspada karena menurutnya pelanggar lalinnya tak kalah banyak.

Saya setuju saja tapi sebagai pengemar kopi, saya mempunyai ‘obat’ dan sudut pandang yang berbeda.

Ditengah trend pertumbuhan kedai kopi yang belum berhenti, dua atau tiga tahun terakhir ini muncul trend dari kedai kopi yang menurut saya memberi sumbangsih segar dalam dunia desain dan arsitektur di Kota Samarinda.

Jika sebelumnya kedai kopi umumnya dibangun agar cozy dan instagramable, penuh dengan hiasan serta pendar lampu yang genit, belakangan ini muncul arus lain.

Arus itu adalah kemunculan kedai kopi yang menerapkan konsep unfinished desain, membiarkan material semen, kayu atau besinya terekpos tanpa finishing. Uniknya kedai-kedai ini juga tak memilih tempat yang ramai, konsepnya tempatnya dalam bahasa gaul anak sekarang disebut sebagai hidden gems.

Bangunan utamanya biasanya tak besar, minimalis industrial. Tempat duduknya sederhana dan berada di ruang terbuka. Meski tak luas jadi terasa lega dan yang terpenting selalu disediakan ruang parkir yang cukup luas.

Dengan ruang yang lega, tempat duduk yang kokoh alamiah, nongkrong dan menghabiskan waktu di tempat ini menjadi serasa nyaman. Obrolan juga tak mudah terjeda oleh kesekitaran.

Saya sendiri tak terlalu sering pergi nongkrong menyesap kopi di kedai-kedai semacam ini, sebab kerap muncul rasa tak percaya diri untuk menjejakkan kaki disana. Menjadi yang paling tua ketika berada disana saya seperti merasa tengah tersesat.

Ya tempat itu meski tak menuliskan sebagai creative hub, creative room, work space atau apapun nampak jelas bahwa anak-anak muda yang nongkrong disana sebagian besar diantaranya adalah generasi yang tengah bergelut dalam komunitas kreatif.

Mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, saya bisa tahu bahwa mereka tengah membicarakan proyek-proyek kreatif, bertukar dan menguji argumen dengan landasan pustaka yang mereka baca.

Wow, nampaknya keren. Ada gairah untuk berkarya menghasilkan portofolio dan mungkin juga uang.

Sambil menyesap kopi pelan-pelan, saya punya harapan jika kelak mereka memegang estafet kepemimpinan di kota ini, mereka akan menjadi orang-orang yang menghargai desain dan arsitektur sebagai bukan sebagai pisau bedah melainkan perekat untuk mengukir kehidupan bersama dengan lanskap lingkungan yang mencerminkan peradaban kota nan terpuji.

Semoga mereka kelak tidak menjadi ‘pemuka-pemuka’ yang gemar mematangkan lahan, mengkonversi bentang alam untuk membangun kawasan dengan bangunan besar yang diklaim ikonik namun justru menghadirkan kesesakan dan keruwetan baik di jalanan maupun dalam pandangan dan pikiran.

note : sumber gambar – JD Food Diary