Sebagian dari kita pasti akrab dengan istilah contradictio in terminis. Istilah ini merujuk pada jargon {terdiri dari kata-kata} yang saling bertolak belakang. Contradictio in terminis kerap kali ditemukan dalam istilah-istilah hukum seperti saksi ahli. Saksi adalah seseorang yang memberi keterangan berdasarkan apa yang dilihat, sedangkan ahli memberi keterangan berdasarkan opini atas dengan dasar keahliannya.

Contoh lainnya adalah  OTT, operasi tangkap tangan. Operasi adalah kegiatan yang disengaja, direncanakan dengan seksama, sementara tangkap tangan adalah kepergok atau ketika melakukan kejahatan diketahui oleh orang. Maka mestinya tangkap tangan bukanlah operasi yang disengaja. OTT lebih bermakna menjebak.

Konsep contradictio in terminis juga kerap ditemukan dalam bidang retorika. Salah satu yang sering kita dengar adalah sustainable development. Padahal pembangunan sulit untuk menjaga kelestarian, karena pembangunan kebanyakan merubah bentang alam. Istilah lain yang populer adalah revolusi mental. Kita tahu mental susah dirubah atau kalaupun bisa mesti secara bertahap dan latihan panjang. Bagaimana mental bisa direvolusi?.

Pun demikian reformasi, yang adalah membentuk kembali atau melakukan pembaharuan. Sesuatu yang belum jadi kok mau dibentuk atau ditata kembali.

Jika contradictio ini terminis dipakai secara sengaja sebagai gaya bahasa maka disebut sebagai oxymoron. Gaya bahasa semacam ini sering dipakai untuk menciptakan sedikit drama bagi yang mendengar atau membacanya. Membuat orang lain berpikir sejenak, dan kemudian tertawa, tersenyum atau bertanya-tanya.

Oxymoron yang sangat terkenal misalnya rahasia yang diketahui banyak orang. Padahal rahasia kalau sudah diketahui banyak orang ya tidak bisa disebut sebagai rahasia lagi. Contoh lainnya seperti cahaya temaram, perang saudara, kejujuran yang menipu dan lain-lain.

Dalam artian tertentu, contradictio in terminis bisa bernuansa korupsi makna. Seperti misalnya istilah Lembaga Swadaya Masyarakat, yang nyatanya sebagian besar malah tidak berswadaya atau jarang ada yang bisa benar-benar berswadaya.

Kelakuan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, atau seseorang berlaku tidak sesuai dengan omongan atau nilai-nilai yang melekat dalam dirinya sering disebut sebagai tidak berintegritas atau contradiction in actu.

Contradictio ini terminis meski bermasalah namun kemudian kerap diterima sebagai salah kaprah. Arti yang sebenarnya sudah dipahami dan diterima sebagai lazim oleh masyarakat. Seperti misalnya menanak nasi. Walau yang benar adalah menanak beras, namun semua orang paham bahwa menanak nasi artinya memasak beras untuk menjadi nasi. Atau orang Jawa kerap mengatakan nggodog wedang untuk menyebut menjerang air. Wedang adalah air yang siap diminum jadi tidak perlu dimasak lagi.

Lainnya dengan salah kaprah, contradiction in actu tidak bisa diterima, tidak ada kelakuan salah kaprah. Sebab seseorang mesti berlaku sesuai dengan jati dirinya. Berlaku tidak sesuai dengan label, jabatan, kedudukan dan lain-lain yang melekat dalam dirinya bisa menimbulkan kekacauan. Dan sebagian dari kelakuan itu juga merupakan tindakan kejahatan.

Contradictio in actu dalam konteks tertentu bisa diterjemahkan sebagai penyelewengan wewenang, kedudukan, kekuasaan dan status.

BACA JUGA : The Thinker VS The Overthinker

Dalam hidup keseharian kita kerap bertemu dengan orang-orang yang kontradiktif. Kenyataan yang kemudian bisa membuat mulut kita ngedumel, mengumpat dalam hati.

“Makin tua kok malah tidak bijaksana,” itu terucap ketika kita melihat mereka yang lebih tua, orang dewasa yang seharusnya bijaksana namun kelakuannya ternyata ambyar.

Atau “Dasar moralis tapi tidak bermoral,” andai kita menemukan sosok-sosok penjaga moral yang kemudian melakukan tindakan tak senonoh.

Belum lama ini kita dikejutkan juga oleh omongan seorang akademisi yang tidak mencerminkan tingkat intelektualitas dan kedudukannya dalam bidang akademis. Seorang profesor, doktor yang adalah rektor sebuah institute teknologi, namun omongannya tidak mencerminkan kaidah akademis.

Sang profesor doktor menyimpulkan kwalitas intelektual mahasiswa dan keluasan wawasan berdasarkan apa yang dipakai. Sebuah kesimpulan yang offside dari nalar ilmiah yang seharusnya mengalir dalam darah seorang akademisi.

Sebelumnya juga ada peristiwa yang mengemparkan, Bupati paling muda di Kalimantan Timur ditangkap KPK di Jakarta dengan sekoper uang tunai yang akan dipakai untuk menyuap. Entah menyuap siapa?.

Setelah tertangkap kemudian deret perilaku tak terpuji di daerah yang dipimpinnya mulai terkuak. Citra anak muda yang kreatif dan inovatif sama sekali tak nampak. Hutang proyeknya menggunung, perhatian kepada pegawainya rendah, honor untuk guru honorer belum terbayar, insentif untuk petugas kesehatan juga macet demikian juga untuk para ketua RT.

Konon organisasi pegawai negeri uangnya juga lenyap. Uang hasil iuran itu dipinjam oleh kontraktor atas suruhan sang bupati.

Yang lebih parah, wakil bupati tidak tahu apa-apa yang dikerjakan oleh sang bupati. Jangankan diajak rapat, ditegur saja tidak.

Contoh keganjilan semacam ini masih bisa diperpanjang, sepanjang jalan Tol Balikpapan – Samarinda yang mungkin akan disambung hingga Bontang.  Intinya perilaku tidak berkesadaran padahal mempunyai pengetahuan, tugas dan tanggungjawab atau mandat kerap terjadi disekitar kita.

Orang-orang yang karena kedudukan dan pencapaiannya sehingga layak ditempatkan sebagai tokoh dalam berbagai bidang kehidupan ternyata kelakuannya tidak mencerminkan label yang melekat dalam dirinya. Bukan hanya tak sesuai melainkan bertentangan.

Pada setiap kedudukan atau peran dalam masyarakat selalu ada kode etik. Batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar karena akan menghancurkan citra dirinya.

Hanya saja tidak semua dari mereka yang menduduki peran itu melakukan internalisasi kode etik yang menjadi dasar dari tanggungjawab yang diembannya. Tanpa internalisasi maka seseorang tak akan bisa memberi batasan pada dirinya soal apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan berdasarkan kedudukan serta kewenangannya.

Hasilnya adalah perilaku yang menyimpang, kelakuan yang tidak sesuai dengan omongannya. Bupati yang gemar pidato tentang transparansi, pemerintahan yang bersih ternyata jadi tersangka korupsi.

Guru yang rajin menasehati muridnya untuk berlaku sopan, menghormati orang lain ternyata justru ditangkap polisi karena melakukan pelecehan seksual pada muridnya.

Akademisi yang selalu bicara soal nalar ilmiah ternyata justru bersikap rasis, menilai orang lain bukan berdasarkan indikator ilmiah melainkan busana atau perilaku lainnya.

Inilah yang disebut sebagai contradictio in actu, kelakuan yang bertentangan dengan ucapan atau jatidirinya.

BACA JUGA : Tirakat Ala Stoik

Di jaman Yunani Kuno ada seseorang yang dikenal sebagai orang pintar, namanya Socrates. Tapi dia pernah mengatakan “Satu-satunya hal yang saya ketahui adalah saya tidak mengetahui apa-apa,”.

Berapa abad kemudian kerendahan hati yang serupa ditemukan pada Albert Einstein. Ketika ditanya oleh seseorang bagaimana rasanya menjadi orang paling pintar sedunia, Einstein menjawab “Saya tak tahu bagaimana rasanya, tanyakan saja pada Nikolai Tesla,”

Menjadi pintar itu memang keren, sehingga banyak orang menginginkannya. Seperti banyak warga Yunani Kuno yang ingin Socrates mendirikan sekolah agar anak-anak yang disekolahkan padanya menjadi pintar seperti dirinya.

Namun Socrates menolak, bukan karena tak ingin mengajar namun dia tak ingin mengajar anak-anak yang sebenarnya tidak ingin sekolah padanya. Anak-anak yang sekolah karena disuruh oleh orang tuanya.

Ada banyak cara menjadi keren selain menjadi seorang filosof. Sebab menjadi keren berarti berkembang sesuai dengan potensi alamiahnya. Seorang anak yang ingin menjadi pemusik tidak bisa dipaksa menjadi fisikawan. Atau seorang anak yang menyukai laut pasti tak nyaman jika disuruh pergi ke gunung.

Pendidikan nampaknya menjadi kunci untuk mencegah munculnya orang-orang ganjil dan aneh karena kelakuan yang tidak sesuai dengan pengetahuannya. Mereka yang tidak menjalani pendidikan yang sesuai dengan keinginannya bisa jadi hafal semua yang diterima dalam kelas namun akan gagal menginternalisasikannya sehingga kelakuannya berbeda dengan ilmu yang diterima olehnya.

Pun juga kedudukan, mereka yang menduduki jabatan tertentu karena kepentingan ‘keluarga’ dan lainnya diluar pengabdian pada masyarakat akan hafal mantra-mantra untuk menyenangkan rakyat dalam pidatonya. Namun setelah pidato mereka kemudian mencuri atau mengambil hak rakyat.

Dunia ini panggung sandiwara

Ceritanya mudah berubah

Kisah Mahabarata

Atau tragedi dari Yunani

Lagu Panggung Sandiwara yang merupakan salah satu album dari Duo Kribo ini kemudian lebih dikenal sebagai lagunya God Bless. Secara utuh lagu ini mau mengatakan bahwa di dunia manusia hanya menjalankan peran sesuai dengan statusnya.

Frasa ‘Dunia ini panggung sandiwara’ sebenarnya diutarakan oleh karakter Jaques dalam monolog karya Willian Shakespeare yang berjudul As You Like It.

Shakespeare bermaksud untuk mengatakan bahwa dunia adalah panggung, tempat manusia sebagai aktor memainkan peran berdasarkan episode ceritanya.

Cerita menjadi ambyar ketika yang menjalankan aktor menjalankan peran tidak sesuai dengan arahan sang sutradara. Pun juga dunia, dunia menjadi ambyar ketika manusia berkelakuan tidak sesuai dengan status masing-masing.

Kelakuan yang tidak sesuai status ini kerap menunjukkan bahwa ada banyak orang menduduki jabatan atau kedudukan yang sebenarnya tidak cocok atau tidak sesuai dengan dirinya. Banyak orang memaksa diri untuk bisa menjadi akademisi, artis, konten kreator, kepala daerah, wakil rakyat dan lain-lain tanpa keutamaan dalam menjalankan perannya.

Alhasil mereka menjadi manusia-manusia yang mungkin saja ‘sukses’ tapi minus etika. Sehingga episode sandiwaranya terasa aneh, ganjil dan berakhir secara tragis. Menyisakan rasa malu bukan hanya bagi dirinya melainkan juga meninggalkan beban yang harus dicuci oleh banyak orang lainnya.

note : sumber gambar – Michal Matlon unsplash