Setiap musim, rumah-rumah mode ternama akan menunjukkan koleksi-koleksi terbarunya di hadapan publik. Ajang itu kemudian dikenal sebagai fashion week.
Pergelaran busana pertama digelar di New York oleh Eleanor Lambert untuk memperkenalkan karya-karya para desainer dari rumah-rumah mode ternama di Amerika Serikat pada tahun 1943.
Namun Paris masih menjadi kiblat bagi pebisnis dan pecinta mode Amerika Serikat. Masyarakat fashion Amerika Serikat secara rutin pergi ke Paris, setahun dua kali untuk melihat koleksi busana terbaru dari rumah mode disana.
Eleanor Lamber pada tahun 1945 kemudian menyelenggarakan Press Week, yang kemudian dikenal sebagai Paris Fashion Week di Paris.
Paris Fashion week kemudian berkembang menjadi ajang peragaan busana terbesar di dunia dan menjadi patokan bagi trend busana dalam tahun berjalan. Paris memang dikenal sebagai kota mode dunia, masyarakat juga modis, sehingga tanpa pegelaran khusus sekalipun menyaksikan orang lalu lalang di jalanan {pedestrian} akan tersaji pertunjukan street fashion.
Selain Paris Fashion Week, dikenal 3 ajang pergelaran busana besar lainnya yakni : New York Fashion Week, London Fashion Week dan Milan Fashion Week.
New York Fashion Week merupakan ajang dua tahunan sekali yang diselenggarakan pada bulan Februari dan September di Kota New York. New York menjadi tempat para produsen pakaian Amerika Serikat memperkenalkan produk-produk terbarunya. Amerika Serikat sendiri dikenal sebagai gudang pakaian industrial dengan merek-merek ternama seperti GAP, Nike, Supreme, Levi’s, J Crew, Under Armour, Tommy Hilfiger, Calvin Klein, Van, Banana Republic dan lain-lain.
Sedangkan London Fashion Week adalah ajang yang terutama untuk memperkenalkan produk dan desain dari desainer-desainer muda dari sekolah-sekolah mode terkenal di Inggris. Beberapa sekolah mode ternama dari Inggris antara lain Central Saint Martin, University of Westminster, Nottingham Trent University, Kingston University dan lain-lain. London Fashion Week juga menjadi tempat para pencari bakat untuk merekrut atau berkolaborasi dengan desainer-desainer berbakat.
Sementara itu Milan Fashion Week merupakan kesempatan untuk memperkenalkan karya dan produk desainer, rumah mode dan produsen pakaian Italia. Seperti halnya Paris, Milan juga dikenal sebagai kota kiblat mode dunia. Diselenggarakan sejak tahun 1958, Milan Fashion Week terlah membuat rumah mode dan brand seperti Dolce Gabbana, Gucci, Moncler, Bottega Veneta, Versace, Armani, Prada, Fendi, Bvlgari dan lain-lain ternama di dunia juga di Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan ajang pergelaran busana terbesar dunia ini, brand, desainer atau peraga dari Indonesia turut serta memeriahkannya. Pada Paris Fashion Week 2022 ini ada dua brand asal Indonesia yang diundang. Mereka adalah Jewel Rock dan Shean Sheila.
Keduanya tidak akan tampil dalam runway, melainkan dipertunjukkan dalam ruang pameran yang digelar dari tanggal 4 hingga 7 Maret 2022.
Dan diatas panggung atau runway tampil seorang model pria asal Surabaya, Indonesia bernama Rizal Rama. Model yang go internasional ini sebelum juga pernah tampil dalam Milan Fashion Week dan London Fashion Week.
BACA JUGA : Robohnya Super dan Hypermarket Kami
Buat generasi pengemar instagram, youtube dan tik tok nama Wanda Hamidah mungkin tidak dikenal.
Wanda Hamidah adalah seorang politisi yang memulai karir politik setelah sebelumnya aktif dalam dunia model dan seni peran. Tahun 90-an, wajah Wanda Hamidah banyak menghiasi cover-cover majalah.
Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti, tahun 2006 Wanda bergabung dengan Partai Amanat Nasional dan dipercaya sebagai bendahara dalam kepengurusan Sutrisno Bachir. Wanda juga pernah menduduki jabatan Wakil Sekjen Komnas Perlindungan Anak.
Pada pemilu 2009, Wanda Hamidah terpilih sebagai anggota DPRD DKI Jakarta.
Tahun 2013, nama Wanda Hamidah sempat mencuat dalam peristiwa pengamanan atas 17 orang di kediaman Raffi Ahmad atas dugaan pemakaian narkoba. Wanda ikut diamankan namun kemudian dibebaskan karena tidak terbukti memakai narkoba. Konon Wanda berada di rumah Raffi untuk melakukan pembicaraan tentang Bakti Sosial.
Nama Wanda Hamidah kemudian menjadi perbincangan karena pada tanggal 7 Maret 2022 lewat insta storynya menuliskan “Gagal paham nih sama desainer indonesia yang bawa penontonnya sendiri seabrek-abrek dari Indonesia di paris fashion week.”
Sontak saja apa yang disampaikan oleh Wanda Hamidah kemudian menjadi perbincangan dan pergunjingan para netizen. Perbicangan yang sebagian memunculkan ejekan karena dalam rombongan ‘sirkus’ para pesohor yang mengabarkan ikut meramaikan gelaran Paris Fashion Week 2022 ternyata ada produk ayam geprek.
Bisa dipahami kalau hal ini menimbulkan kelucuan sekaligus gagal paham, sebab apa urusannya ayam geprek ikut membuat ‘pedas’ perhelatan busana dunia itu.
Apa yang disampaikan oleh Wanda Hamidah kemudian disambung oleh Lucky Heng. Dia menuliskan bahwa the official paris fashion week hanya ada satu, diselenggarakan oleh badan resmi dan jadwalnya juga hanya satu. Sisanya ada banyak media dan agency yang memperjualbelikan slot tayang untuk memasukkan jadwal ‘palsu’ ke kalender asli, mengatasnamakan PFW seolah-olah legit
Lucky juga mencantumkan official akun IG PFW dan kemudian menambahkan namanya juga ‘Fashion’ week, brand non fashion tidak pernah eligible masuk ke Paris Fashion Week. Bukan ‘Beauty Week’, atau ‘Culinary Week’. Di website FHCM juga jelas tertera.
Wanda Hamidah dan Lucky Heng sama-sama mempertanyakan keabsahan rombongan besar brand, influencer, komedian dan artis yang berangkat ke Paris yang dalam komunikasi publiknya secara ekplisit menyebut keikutsertaan dalam perhelatan Paris Fashion Week.
Da benar kepergian rombongan besar yang menghebohkan Paris ini bukan atas undangan dan biaya dari penyelenggara Paris Fashion Week melainkan atas biaya sponsor yang adalah brand kuliner, brand pakaian dan brand produk kecantikan. Kegiatan mereka diorganisir oleh Gerakan Ekonomi Kreatif {Gekraf} yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif {Parekraf}.
Dalam posternya, Gekrafs menuliskan Paris Fashion Show at Paris Fashion Week 2022. Selain itu Gekrafs juga menuliskan bahwa acara ini berada diluar acara resmi Paris Fashion Week atau off schedule.
Acara dari Gekrafs ini tidak terafiliasi pada Paris Fashin Week melainkan diakomodir oleh media fashionweekonline.com dan modemonline.com. Dalam pemberitahuan tak lupa juga dicantumkan bahwa tidak ada penggunaan uang negara dalam kegiatan ini, semua murni swadaya dari brand.
Gekrafs juga menyebutkan penggunaan hastag Paris Fashion Week diperbolehkan dengan menambahkan dalam atau selama {during dan at}.
Menjadi jelas bahwa kehadiran rombongan brand dan para pesohor Indonesia di Paris memang bukan merupakan bagian resmi dari Paris Fashion Week. Dan ‘dicitrakan’ atau ‘mencitrakan’ diri sebagai bagian dari Paris Fashion Week kemudian menjadi masalah. Sebagian publik menilai hal semacam ini tak pantas untuk dilakukan. Istilah kerennya adalah pembohongan publik.
BACA JUGA : Perang Antara Dua Pemimpin Yang Akrab Dengan Sandiwara
Inilah jaman dimana ‘popularitas’ menjadi salah satu nilai paling penting. Dalam dunia selebritas popular dengan istilah ‘pansos’ atau panjat sosial. Bergaul atau masuk dalam sirkel para selebritas atau sosialita lalu gencar mempublikasikan agar publik menganggap dirinya bagian dari kaum selebriti atau sosialita.
Dalam dunia yang lain dikenal pula istilah ‘menunggang angin’ atau ikut memanfaatkan kesempatan guna memperoleh keuntungan. Salah satu keuntungan adalah popularitas.
Maka dalam konteks ini, aksi ambil untung dari penyelenggaraan Paris Fashion Week bisa dipahami sebagai cara atau strategi bisnis dan pemasaran untuk mengaet popularitas baik di Indonesia sebagai pasar utama dan syukur-syukur jika kemudian bisa juga terkenal di dunia.
Dalam dunia marketing dikenal istilah ambush marketing. Istilah ini merujuk pada cara sebuah brand untuk mengasosikan diri dengan sebuah peristiwa besar, perhelatan atau event ternama tanpa menjadi sponsor atau peserta resmi.
Stategi marketing ini awalnya muncul dalam dunia olahraga dimana sebuah event kerap kali menerapkan sponsor tunggal. Penetapan sponsor tunggal membuat perusahaan saingan tidak bisa ikut serta berpartisipasi secara resmi dalam event tersebut. Maka dicari cara yang ‘tidak melanggar hukum’ oleh perusahaan saingan agar memperoleh popularitas dari event tersebut.
Ambush marketing paling terkenal dilakukan oleh Nike yang kalah saingan saat memperebutkan kesempatan menjadi sponsor utama dari Olimpiade Atlanta 1996. Sponsor resmi olimpiade jatuh ke tangan Reebok.
Dengan demikian Nike tak mungkin memasang material apapun di kawasan peneyelenggaraan olimpiade.
Nike tak kehilangan akal untuk memanfaatkan momentum olimpiade itu. Semua papan billboard yang berada di luar kawasan penyelenggaraan olimpiade diborong sewanya oleh Nike.
Lalu Nike mensponsori bintang olimpiade ternama dari Amerika Serikat, Carls Lewis, juga membuat material promosi untuk altet lainnya yaitu Michael Johnson. Johnson dibuatkan sepatu khusus oleh Nike.
Agar lebih kuat imagenya, Nike juga membuat Nike Centre di luar kawasan arena olimpiade. Ada toko besar dan fasilitas olahraga yang bisa dimasuki bebas oleh publik. Disana dipasang videotron untuk mengiklankan seluk beluk Nike.
Tindakan atau strategi pemasaran yang dilakukan oleh Nike tidak bisa dilarang karena mereka tidak melakukan di arena olimpiade dan juga tidak menyebut diri sebagai sponsor olimpiade.
Yang kemudian terjadi, Nike lebih memperoleh ekposure pemberitaan dari media karena bintang yang di sponsori oleh Nike, seperti Johnson dengan sepatu khususnya berhasil mendulang prestasi.
Nike memperoleh image baik dari publik tanpa menjadi sponsor resmi olimpiade atlanta.
Ambush marketing memang lazim dalam olimpiade karena kebijakan penyelenggara soal sponsor tunggal. Pada olimpiade Tokyo, Fuji menjadi sponsor resmi. Kodak saingannya kemudian melakukan ambush marketing dengan membeli hak siar televisi dan mensponsori atlet Amerika Serikat. Kelakuan Kodak yang kemudian menjadi sponsor resmi Olimpiade Seoul, kemudian dibalas oleh Fuji.
Coca Cola menjadi sponsor resmi Piala Dunia 2002. Di Argentina, Pepsi membuat iklan televisi dan media cetak dengan memakai pemain bola terkenal dengan mencantumkan Tokyo 2002. Iklan yang menggunakan figur David Bechkam ditayangkan di seluruh dunia. Masyarakat dunia kemudian menganggap Pepsi sebagai sponsor utama Piala Dunia 2002.
Masih ada banyak contoh yang lain, namun pada dasarnya Ambush Marketing adalah cara sebuah brand menampilkan diri di depan publik agar diasosikan dengan sebuah perhelatan meski bukan merupakan sponsor resmi dari perhelatan tersebut.
Dan cara seperti ini yang kemudian dipraktekkan oleh brand-brand Indonesia yang membawa influencer, key opinion leader yang tersohor ke Paris agar diasosiasikan dengan Paris Fashion Week.
Dalam dunia usaha komersil yang penuh persaingan, tidak bisa masuk dalam event resmi entah karena tidak relevan atau gagal lolos kurasi bukanlah kiamat. Dengan pendekatan kreatif sebuah brand bisa ‘menelikung’ masuk dalam sebuah event yang tidak resmi namun seolah-olah menjadi bagian dari event resmi tersebut.
Namun cara Nike melawan Rebook atau Adidas, Fuji melawan Kodak atau sebaliknya. Pepsi melawan Coca Cola dan Samsung melawan Iphone mungkin bisa dipahami. Sebaliknya ayam geprek dan cream perawatan kulit wajah melawan adi busana nampaknya tidaklah tepat.
Jadi meski merupakan cerminan kreatifitas dan sah-sah saja untuk dilakukan, Ambush Marketing yang berantakan akan menghadirkan pukulan balik, bukan nama dan reputasi yang diperoleh melainkan justru ejekan dan cemoohan, atau bahkan tudingan sebagai tidak etis dan tak punya moral.
Maka berhati-hatilah menunggang angin, walau sebagian besar netizen adalah kaum pemalas baca namun jangan remehkan kekuatan sedikit orang yang suka menyelidik dan mengulik dalam klaim-klaim prestasi atau kehebatan apalagi di tanah orang.








