Menemukan perangko lama itu seperti mendapatkan harta karun yang serasa membuat diri menjadi ‘kaya’ mendadak. Tapi itu cerita masa lalu, puluhan tahun lampau sewaktu saya masih kanak-kanak hingga remaja.
Saat itu istilah filateli amat terkenal. Secara populer filateli dipahami sebagai kegiatan untuk mengoleksi perangko.
Perangko sendiri adalah label atau carik, teraan diatas kertas dengan bentuk dan ukuran tertentu. Perangko bisa bergambar maupun tidak bergambar dan didalamnya memuat negara penerbitnya dengan menyertakan nilai nominalnya.
Perangko adalah alat bayar atas jasa pengiriman. Surat akan ditempeli perangko oleh pengirimnya sehingga penerimanya tidak lagi membayar.
Mendapat surat dengan perangko sungguh menyenangkan. Maka banyak orang kemudian suka melakukan kegiatan surat menyurat. Mencari teman korespodensi yang kemudian disebut sebagai sahabat pena.
Keakraban saya dengan surat menyurat itu bermula dari kebiasaan Simbah tetangga rumah yang kerap minta tolong saya untuk membacakan surat dari anak dan cucunya. Setelah membaca Simbah kemudian akan menuturkan balasan, saya menyimak dan menuliskan di atas kertas sebagai surat balasan.
Jangan bandingkan dengan keadaan sekarang, model berkabaran dengan surat menyurat pada waktu itu jadi mirip kura-kura yang menantang kuda balap untuk lomba lari.
Surat menyurat waktu itu jelas cara paling mudah, murah dan cepat untuk berkomunikasi. Memang sudah ada telepon namun se-kecamatan hanya ada satu pesawat, suaranya juga kresak-kresek. Ada juga telegram hanya tak bisa bercerita panjang lebar.
Soal cepat atau tidaknya, pengiriman mempunyai beberapa kategori. Ada surat biasa, surat cepat dan surat kilat, kalau tidak salah ada juga kilat khusus.
PT Pos Indonesia pada waktu itu menjadi perusahaan paling relevan karena jasa yang disediakan olehnya menjawab kebutuhan masyarakat.
Relevansi itu ditunjukkan dengan keberadaan kantor dan pusat layanan yang tersebar hingga ke kecamatan, bahkan pedesaan. Pak Pos yang datang menaiki sepeda dan kemudian sepeda motor menjadi orang yang paling ditunggu-tunggu.
Apapun yang dikirimkan melalui PT. Pos Indonesia asal disertai dengan alamat penerima yang jelas dan tepat pasti akan sampai sebab PT. Pos Indonesia terikat konvensi untuk mengirimkan segala sesuatu sampai tujuan dalam keadaan apapun.
BACA JUGA : The Hallway ‘Hidden Place’ di Pasar Kosambi
Buku cerita PT. Pos Indonesia tebal sekali lebih tebal dari Kitab Suci. Cerita itu bermula dari dua ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Kantor Pos pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1746 di Batavia oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Di jaman Belanda bernama PTT atau Post Telegraph Telephone. Di masa kemerdekaan berubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi.
Melihat perkembangan kemudian berubah lagi menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro. Dan kemudian di tahun 1978 menjadi Perusahaan Umum Pos dan Giro dengan mandat menjadi badan usaha tunggal yang menyelenggarakan dinas pos dan giro pos untuk dalam dan luar negeri.
Tujuh belas tahun kemudian tepatnya di tahun 1995 berubah menjadi PT Pos Indonesia.
Kini PT Pos Indonesia mempunyai 24 ribu titik layanan, 100 persen menjangkau kota dan kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 43 persen kelurahan/desa/kampung. Semua itu dilayani lewat kurang lebih 3.800 kantor pos online dan electronic mobile pos di kota-kota besar.
Puluhan tahun PT Pos Indonesia melenggang tanpa saingan. Petaka mulai datang bukan karena kemunculan usaha sejenis melainkan karena teknologi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mulai mengikis peran PT Pos Indonesia sebagai pembawa dan pengirim pesan. Kemunculan surat elektronik membuat surat-suratan secara fisik perlahan-lahan menjadi tidak relevan.
Sebenarnya PT Pos Indonesia yang juga pernah punya bank ini tidak terlambat bergerak. Saya ingat persis ketika pertama mengenal internet, provider yang saya pakai adalah wasantara net, itu adalah ISP milik PT Pos Indonesia.
Dan waktu pertama-pertama muncul warung internet, warnet favorit yang saya kunjungi adalah yang berada di kantor pos besar.
Entah kenapa seiring dengan perkembangan dunia TIK, wasantara net dan warnet-warnet PT Pos Indonesia justru tumbang.
Terbiasa dengan cerita sejarah tentang keuntungan, besarnya aset yang dipunyai mungkin saja membuat PT Pos Indonesia tak cukup sabar untuk menulis sejarah esok hari, ketika harus melalui hari-hari mencoba paradigma usaha baru namun belum memberikan hasil yang besar.
Itulah watak sebuah badan yang telah lama berdiri dan mengeluti usaha tertentu sehingga telah mempunyai budaya korporasi yang mapan. Usaha baru yang sama sekali tak pernah dipikirkan sebelumnya selain menuntut banyak investasi juga bisa membuat lingkungan besar menjadi gelisah. Mereka belum siap untuk berubah.
Dan perlahan-lahan PT Pos Indonesia dilupakan.
Pada sisi lain masyarakat kemudian lebih mengenal tiki, jne, j&t, si cepat dan lain-lain. Perusahaan kurir yang melayani pengiriman dan pengantaran dokumen serta barang, sama seperti PT Pos Indonesia.
Perkembangan e-commerce yang kemudian makin menggila dan relevan karena pandemi, ternyata tak membuat PT Pos Indonesia kebagian rejeki melimpah. Perusahaan kurir dan logistik lain berkembang namun PT Pos Indonesia justru semakin tenggelam.
Sejauh pengalaman saya melihat pesanan online yang dikirim melalui jasa kurir, belum ada satupun yang datang melalui PT Pos Indonesia.
Perusahaan yang umurnya bisa dikategorikan sebagai heritage itu nampaknya belum cukup punya energi untuk bergerak lincah sebagai mana perusahaan kurir dan logistik lainnya. Perusahaan yang isinya banyak anak-anak muda, perusahaan yang sebagian diantaranya dikategorikan sebagai start up.
BACA JUGA : Belajar dari M Bloc untuk Menghidupkan Aset Usang
Sejauh saya tahu PT. Pos Indonesia adalah perusahaan yang mempunyai aset prima. Tanah yang luas dan gedung yang besar di pusat-pusat kota. Lokasi mereka selalu merupakan lokasi premium. Beberapa diantaranya bahkan menjadi ikon sebuah kota, seperti Kantor Pos Yogyakarta yang berada di seberang ujung Malioboro ke arah alun-alun utara Kraton Yogyakarta.
Di masa lalu aset semacam itu adalah kebanggaan, modal yang bisa dipakai untuk menutupi aneka kegagalan. Namun di hari ini aset besar yang tidak bisa di monetisasi adalah sebuah beban. Maka untuk hari esok, aset semacam itu menjadi tidak relevan.
Lihat saja Garuda Indonesia, yang selalu dibangga-banggakan adalah jumlah amardanya yang banyak, harga tiket yang mahal namun tetap dibeli karena kebanggaan penumpangnya. Namun ternyata itu tak mampu menutupi kenyataan sebenarnya, aset yang besar itu tak mampu mendatangkan cukup uang untuk menanggung beban.
Maka meski masih terbang, secara teknis Garuda Indonesia sebenarnya sudah bangkrut. Sebab beban utangnya sangat besar dan kondisi sekarang hingga 2 atau 3 tahun ke depan amatlah sulit untuk memperoleh pendapatan yang cukup guna membayar cicilan hutang.
Adakah PT Pos Indonesia, perusahaan kebanggaan dan melegenda juga akan bangkrut?
Sepertinya tidak, karena upaya untuk menata kembali PT Pos Indonesia telah dilakukan. Orientasi bisnis kemudian juga sudah diarahkan pada jalur logistik.
Yang diperlukan kini adalah kesabaran untuk menunggu sisa-sisa yang mengagungkan catatan lama habis tak tersisa. Dan mulai menumbuhkan mereka-mereka yang mempercayai bahwa sejarah itu adalah hari esok.
Para pemegang arah dan penentu kebijakan PT Pos Indonesia hari ini akan berhasil apabila mau belajar dari model dan perilaku bisnis saat ini, pelaku-pelaku yang umumnya masih muda. Tanpa ikatan dengan sejarah masa lalu, orang-orang muda ini lebih fleksibel dalam bergerak, tidak terjebak dalam prosedur, standar dan kepatutan-kepatutan yang tidak lagi relevan dengan jaman ini.
Tugas para pembesar PT Pos Indonesia tentu saja berat, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk membuat Gajah Tua itu mampu kembali berlari.








