Yang disebut hidup itu berhubungan dengan gerak. Mesti tak bisa berpindah-pindah, tumbuhan disebut hidup karena bertumbuh, dari biji, memecah jadi kecambah, muncul daun, batang, cabang, ranting dan terus meninggi.
Dunia dianggap hidup karena ada berbagai kerajaan kehidupan di dalamnya. Mulai dari kerajaan binatang {animalia}, kerajaan tumbuhan {plantae}, kerajaan jamur {fungi}, kerajaan bakteri dan alga {monera} dan kerajaan mahkluk bersel satu atau banyak serta mempunyai membran inti {protista}.
Dunia manusia yang termasuk dalam kingdom of animalia menjadi dunia yang paling dinamis. Selain digerakkan oleh dirinya sendiri manusia digerakkan oleh banyak hal lainnya. Kelompok dan kepentingan merupakan salah satu energi yang paling mengerakkan.
Pada banyak kejadian, unsur SARA {suku, agama, ras dan aliran} menjadi yang paling mengerakkan. Dunia menjadi sangat dinamis karenanya.
Kini di masa manusia terhubung satu sama lain melampaui ruang geografi yang disebut dengan gaya hidup kemudian menjadi salah satu unsur yang paling mengerakkan. Industri gaya hidup yang sebenarnya maya menjadi salah satu pusat dari pusaran ekonomi dan uang dunia.
Industri gaya hidup jika disarikan akan bermuara pada satu hal yang sederhana saja, soal up to date dan nggak up to date, soal keren dan nggak keren.
Soal menjadi keren ini, akhir minggu lalu saya diminta untuk memberi paparan soal pers rilis pada sebuah kelas yang diselenggarakan oleh salah satu kelompok aksi yang keren di Kota Samarinda.
Meski suka menulis namun saya sama sekali tak ahli soal rilis, maka agar apa yang saya bawakan tidak ngarang-ngarang, maka apa yang saya sampaikan bukan soal bagaimana membuat rilis melainkan bagaimana mengisahkan sebuah aksi.
Titik berangkat saya adalah soal kenyataan bahwa orang sekarang lebih suka cerita ketimbang berita. Cerita terbukti lebih mengerakkan ketimbang berita, maka yang berpengaruh saat ini bukanlah media massa melainkan influencer yang doyan mengisahkan apa saja soal diri mereka dan kesehariannya.
Berita oleh masyarakat hanya akan dicari pada media-media yang terpercaya, sementara cerita tidak. Cerita siapapun akan menarik selama mampu menghadirkan hal yang nyata, mengejutkan, membangkitkan emosi dan lugas atau sederhana.
Alasan saya menganti tema rilis dengan menulis kisah karena diberitakan oleh media massa saat ini tak lagi keren. Yang keren itu cerita di publikasikan sendiri dan kemudian di repost oleh banyak orang lainnya, menyebar seperti virus sehingga menjadi viral.
BACA JUGA : Cemumur; Cepat, Mudah dan Murah
Untuk sebagian besar masyarakat yang disebut dengan aksi tak lagi dipandang sebagai hal yang keren. Masalahnya aksi kerap kali membuat lalu lintas tersendat. Banyak kelompok aksi yang kemudian meninggalkan sampah karena bubar begitu saja atau dibubarkan oleh polisi.
Namun untuk kebanyakan anak muda, aksi dalam berbagai bentuk selalu terbilang keren. Dan memang dalam diri anak-anak muda selalu ada darah perlawanan, darah pemberontakan yang akan menjadi energi untuk melakukan aksi.
Spektrum aksi sendiri tentu saja sangat luas. Ada aksi yang panas, ada yang dingin dan menghibur. Aksi panas terbilang heroik, semangat perlawanan tidak hanya dikobarkan lewat kata-kata melainkan juga perbuatan, menerobos barikade, merobohkan atau menjebol gerbang, terus maju meski dilempar gas air mata atau disemprot dengan water canon.
Aksi semacam ini dengan mudah akan menarik perhatian media massa untuk memberitakannya. Sebab bagaimanapun adagium bad news is good news masih menjadi mantra. Semakin brutal sebuah aksi akan semakin banyak bahan berita. Kalau perlu jadi berita bersambung atau bahkan liputan khusus.
Sebab dalam aksi yang brutal biasanya polisi akan bertindak keras lalu ada yang ditangkap atau ada yang mesti dirawat di rumah sakit.
Lain ceritanya dengan aksi langsung yang damai atau non violence direct action {NVDA}. Aksi semacam ini biasanya tak akan menarik perhatian dari lembaga pemberitaan, selain jumlah peserta kecil, kecil pula kemungkinan untuk terjadi chaos.
Sedangkan NVDA umumnya diikuti oleh kelompok kecil, berlangsung cepat, tak banyak bicara/orasi, peran disampaikan lewat poster, spanduk, flyer dan pertunjukan. Aksi mengejutkan bukan karena diikuti oleh banyak orang, ramai dan lainnya melainkan dilakukan secara sporadis di berbagai tempat secara bersamaan.
Akibatnya untuk dituliskan jadi sebuah berita para pewarta harus bekerja ekstra, menggali lebih dalam pesan yang akan disampaikan, beritanya tak bisa dengan cepat dituliskan. Atau jika dipaksa harus jadi berita langsung maka nilai beritanya tak akan tinggi.
Maka untuk memperluas jangkauan aksi, peserta aksi sendirilah yang harus aktif untuk menyebarluaskan pesan. Aksi dinarasikan dan dideskripsikan sendiri untuk kemudian menjadi sebuah pesan yang disebarluaskan setelah aksi.
Oleh karenanya dalam aksi langsung tanpa kekerasan dokumentasi menjadi sangat penting, baik berupa foto maupun video. Fokus dokumentasi adalah pada pesan yang disampaikan dan disampaikan dimana.
Dari dokumentasi ini kemudian dikembangkan narasi, kisah yang akan membuat siapapun yang membaca dan melihat kemudian mempunyai pemahaman atas pesan yang hendak disampaikan.
Narasi atau kisah menjadi penting bukan semata untuk kampanye atau memperluas jangkauan melainkan juga untuk memperpanjang ingatan pelaku aksi, menjadi catatan sejarah, melihat peristiwa dari perspektif berbeda, menemukan jatidiri dan syukur-syukur bisa merubah dunia.
Dengan menuliskan kisah sebuah aksi maka aksi tidak akan berlalu begitu saja, pesan akan bergulir, tersebar makin meluas, menularkan semangat pada yang lainnya. Adalah sayang jika sebuah aksi yang dilakukan dengan berbagai persiapan selama berhari-hari hilang begitu saja.
BACA JUGA : Pro Player
Menulis kisah akan lebih mudah karena apa yang ditulis adalah segala sesuatu yang kita alami, lihat, rasakan dan pikirkan. Peserta aksi pasti mengetahui rencana aksi, bagaimana direncanakan dan bagaimana dilakukan. Kronologi sejak perencanaan hingga selesai dilaksanakan adalah bahan mentahnya.
Agar kronologi menjadi sebuah kisah yang menarik, tak perlu diceritakan secara berurutan. Atur kejadian sesuai dengan kisah yang hendak dibangun, sudut pandang yang akan ditonjolkan atau perspektif yang hendak dibangun.
Berita ditulis dengan prinsip 5 W + 1 H, sementara cerita akan lebih menonjolkan mengapa {why}, bagaimana {how} dan apa {what}. Bangunan narasi dengan mengapa, bagaimana dan apa akan membuat cerita lebih menjual, lebih mempengaruhi emosi dan akan lebih menempel pada ingatan pembacanya.
Ada banyak kisah-kisah di dunia yang sampai sekarang masih punya pengaruh, terus diceritakan dan tetap menginspirasi. Kisah-kisah yang kemudian menjadi abadi.
Jika ditelisik kisah-kisah itu mempunya kesamaan karena selalu mengandung unsur penting berupa narasi yang kongkrit, mengejutkan, emosional dan sederhana.
Aksi itu memang keren tapi akan lebih keren lagi jika terus dikisahkan. Jangan biarkan aksimu hanya tersisa menjadi kumpulan foto tanpa narasi. Sebab foto selalu menghasilkan bias tafsir karena hanya menangkap secuil realita.








