Malam minggu lalu beredar foto di media sosial yang menunjukkan kemacetan di atas jembatan Mahakam. Sebagian komentar menduga adanya ‘panic picnic’ karena masyarakat beramai-ramai keluar rumah di malam minggu setelah sebelumnya terkungkung di rumah akibat pembatasan sosial selama masa pandemi.
Dugaan eforia bermalam minggu ketika status pembatasan sosial mulai dilonggarkan bisa dipahami. Apalagi pemerintahpun sudah mulai berani menggelar festival offline. Salah satunya adalah Pemerintah Kota Samarinda yang menyelenggarakan Festival Mahakam 2021 secara offline dengan mengambil lokasi di Taman Bebaya.
Pada saat yang sama juga beredar gambar kemacetan di beberapa ruas jalan karena jalanan terendam air cukup tinggi. Darimana datangnya air tersebut?
Ternyata sedang terjadi air pasang di sungai Mahakam.
Dari media sosial tertangkap berbagai macam pernyataan dari masyarakat yang menyebut naiknya air pasang memang tinggi. Daerah-daerah yang biasanya tidak didatangi air kini tergenang.
Kejadian kemacetan panjang diatas jembatan Mahakam terjawab, eforia masyarakat untuk malam mingguan ternyata harus melewati genangan air di Jalan Slamet Riyadi, selepas jembatan Mahakam. Alhasil lalulintas menjadi tidak lancar sehingga terjadi penumpukan kendaraan diatas jembatan.
Samarinda memang Kota Air. Genangan air kerap terjadi bukan hanya karena hujan melainkan juga karena pasang air Sungai Mahakam yang terpengaruh oleh pasang surut laut yang terhubung dengannya.
Kondisi genangan yang terjadi sejak semula membuat daerah ini dinamai Samarinda, berasal dari kata sama rendah yang mengambarkan dataran perlembahannya sama tinggi dan rendahnya dengan permukaan air Sungai Mahakam.
Perkembangan dari hari ke hari, menjadikan genangan alami menjadi gangguan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah genangan itu. Genangan kemudian disebut banjir.
Semakin sering terjadi dan semakin dalam, kini genangan itu kemudian disebut sebagai bencana.
BACA JUGA : Meretas Kemanusiaan
Di seluruh dunia terutama di negara-negara kepulauan memang sedang terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.
Secara global, berbagai penelitian menunjukkan permukaan air laut naik setinggi 21 – 24 cm sejak tahun 1880 akibat mencairnya es di Arktik dan Antartika karena meningkatnya suhu permukaan bumi atau pemanasan global.
Badan Riset dan Inovasi Nasional {BRIN} memprediksi sekitar 115 pulau kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam. Dan ada ratusan pulau lain yang juga berpotensi untuk terkena dampak naiknya permukaan air laut sekaligus juga karena penurunan muka tanah.
Wilayah pantai utara Jawa adalah salah satu yang akan terdampak dengan kenaikan tinggi air laut satu meter saja. Sebab wilayah itu kemiringan daratannya sangat kecil, kurang dari 20 derajad.
Naiknya permukaan air laut akan berakibat pada makin besarnya gelombang. Paparan gelombang pada daratan pesisir berpotensi untuk merubah wajah garis pantai. Lapisan sedimen di pantai akan luruh terbawa ke laut, menimbulkan erosi yang akan membuat genangan pada area yang tererosi. Dampak dari erosi akam membuat luasan wilayah menyusut dan lama kelamaan akan menenggelamkan wilayah tersebut.
Sebuah penelitian yang dilakukan mulai dari tahun 1993 hingga 2009 di Pulau Rondo, ujung barat selat Malaka, Aceh, menunjukkan luas daratannya berkurang 1,856 m2 setiap tahun. Hal itu dikarenakan adanya kenaikan air laut setinggi 1,30 mm per tahun.
Tren kenaikan air laut juga terjadi di Pulau Berhala, kawasan perairan Provinsi Riau sebelah timur. Dengan kenaikan sebesar 2,46 mm per tahun di Pulau Berhala dan 3,48 mm per tahun di Pulau Nipah, Kepulauan Riau, dalam periode antara 1993 hingga 2009, Pulau Berhala kehilangan daratannya sebesar 3,178 m2 per tahun. Sementara itu Pulau Nipah kehilangan daratannya 3,409 m2 per tahun.
Di Laut Jawa, Pulau Candikian dan Pulau Gosong, Indramayu, Jawa Barat juga nyaris tenggelam. Luasannya hanya tersisa beberapa meter persegi saja, ketinggian daratan yang tersisa tidak lebih dari dua meter.
Pulau lain yang juga terletak di perairan indramayu yaitu Pulau Biawak, mengalami penurunan luasan sebesar 0,22 km2 per tahun. jika pemukaan air laut naik 0,5 meter saja separuh pulau yang luasnya 120 hektar ini diperkirakan akan tenggelam.
Kejadian yang sama juga terjadi di kawasan timur Indonesia. Pulau Workbondi yang mempunyai luas 1,62 km2 yang terletak di sebelah utara teluk Cendrawasi, Papua juga mengalami penurunan luasan 0,004 km2 per tahunnya.
Sejak Kamis, 4 November 2021, beberapa kawasan di Jakarta tergenang oleh banjir rob, banjir karena pasang air laut. Mestinya banjir semacam ini tidak lama kemudian akan segera hilang seiring surutnya air laut.
Namun di kawasan Jalan Martadinata, banjir dengan ketinggian 50 cm ternyata tetap bertahan selama 3 hari. Posisi yang rendah membuat tidak semua air yang terdorong masuk ke daratan dari laut bisa segera kembali. Air mesti dibuang ke laut dengan cara dipompa.
Jakarta memang sejak lama dikhawatirkan akan tenggelam, musababnya selain karena kenaikan permukaan air laut juga diperparah oleh laju penurunan permukaan tanah.
Kejadian yang sama juga menimpa beberapa daerah di pantai utara Jawa, seperti Pekalongan, Demak, Semarang dan Jepara.
Demak adalah salah satu wilayah yang mengalami abrasi terparah. Pengikisan daratan yang terjadi di Kecamatan Sayung, Demak dianggap sebagai yang terparah di Jawa bahkan Indonesia.
Luas kawasan yang terkena erosi mencapai 2,116,54 hektar. Hal ini menyebabkan garis pantai mundur sepanjang 5,4 km dari garis pantai pada tahun 1994. Dua dusun di Desa Bedono kini telah berubah menjadi lautan.
BACA JUGA : Beliau Ini Menteri Kehutanan atau Pekerjaan Umum?
Seberapa tinggi naiknya genangan air di Kota Samarinda akibat pengaruh pasang laut pada Sungai Mahakam dari tahun ke tahun?.
Pertanyaan seberapa tinggi menjadi tidak penting sebab yang meneliti atau mencatat dengan tekun mungkin memang tidak ada.
Dan belum tentu naiknya ketinggian genangan akibat air pasang dikarenakan kenaikan permukaan air laut. Bisa jadi tingginya genangan justru akibat semakin luasnya daratan Kota Samarinda akibat sedimentasi dan pengurukan sehingga ruang air menjadi sempit.
Dengan semakin menyempitnya ruang air maka air kiriman akibat pasang laut tidak terdistribusi secara meluas, akibatnya ketinggian airnya menjadi naik.
Lagi-lagi itu hanya kira-kira, sebab tak terdengar adanya data yang dipublikasi perihal tambah atau susutnya daratan Kota Samarinda.
Meski kenaikan tingginya genangan akibat pasang Sungai Mahakam dan hujan di Kota Samarinda belum cukup untuk membuat Samarinda tenggelam, namun mestinya semua pihak mulai harus berbesar hati untuk mempertimbangkan kenyataan bahwa dampak perubahan iklim sudah terjadi.
Bagaimanapun juga muka air laut memang telah naik dan tak bisa dihindari. Namun dampaknya bisa dicegah agar tak semakin parah.
Upaya adaptasi untuk mengurangi efek dari perubahan iklim mesti ditempuh. Selain melakukan penanaman untuk mencegah erosi, air juga perlu diberi ruang. Sehingga ketika air datang maka bisa diditribusi secara merata dalam ruang-ruang yang disediakan.
Adalah percuma menghambat dan menahan datangnya air dalam jangka panjang. Pembuatan tanggul, pintu air dan lainnya hanyalah langkah sementara. Karena dalam jangka panjang air bisa saja melampaui tanggul dan sulit kembali sehingga membutuhkan pompa.
Tidak ada kata terlambat untuk memulihkan iklim. Namun semua mesti dimulai dari hari ini, sebab jika kita diam sampai besok bisa jadi kelak kita akan tenggelam.








