Ketika masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dikenal sebagai gubernur yang suka blusukan. Kebiasaan itu tentu sulit untuk diteruskan ketika menjadi presiden. Gerak presiden tidak sebebas dengan Gubernur, Bupati, Walikota dan Wakil Rakyat ketika berhadapan dengan masyarakat.
Dulu, Presiden Suharto pernah melakukan kunjungan diam-diam ke berbagai daerah untuk melihat berbagai perkembangan pembangunan. Blusukan presiden saat itu bernuansa penyamaran. Suharto dan rombongan kecilnya biasa memakai jip yang tidak menampakkan ciri kendaraan kepresidenan.
Situasi saat itu memungkinkan untuk presiden menyamar sebagai orang biasa dan kemudian tidak dikenali. Ataupun jika kemudian dikenali tidak akan menimbulkan kehebohan sebagaimana saat ini dimana alat komunikasi sudah sedemikian pesat perkembangannya.
Kunjungan yang dirahasiakan ini bahkan tidak diketahui oleh menterinya. Ismael Saleh yang merupakan Menteri Sekretaris Kabinet ketika tahu kemudian memanggil seorang wartawan yang kerap mengikuti blusukan presiden yaitu Pattiradjawane.
Ismael Saleh yang juga merupakan Pemimpin LKBN Antara marah karena tidak diberi tahu oleh wartawannya.
Seperti Suharto, Jokowi juga dikenal sebagai presiden yang rajin berkunjung ke berbagai pelosok negeri. Kunjungan yang terutama untuk melihat perkembangan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah.
Dan Selasa, 24 Agustus 2021, Presiden Jokowi disertai Menteri Perahanan dan Menteri PUPR berkunjung ke Samarinda. Presiden datang dengan pesawat kepresidenan yang telah diperbaharui catnya menjadi merah putih. Presiden mendarat di Bandara APT Pranoto Samarinda.
Presiden selain meninjau kegiatan vaksinasi juga mencoba jalur tol Samarinda – Balikpapan yang telah selesai pembangunannya. Presiden kemudian kembali ke Jakarta dari Bandara SAMS Balikpapan.
{ baca juga : Yang Luput Diucapkan Dalam Pidato Kenegaraan }
Orang Samarinda Berharap Hujan
Minggu-minggu belakangan ini Samarinda kerap diguyur hujan. Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu beberapa titik kota di Kota Samarinda terendam karena diguyur hujan pagi-pagi sekali.
Jadi rasanya ditengah situasi pandemi, status PPKM yang terus diulur-ulur seperti karet yang direndam dalam minyak tanah, tidak ada warga Samarinda yang berharap akan turunnya hujan.
Apakah warga Samarinda senang kebanjiran?
Usut punya usut harapan agar hujan turun menguyur Kota Samarinda menjelang kedatangan Presiden Jokowi adalah agar presiden bisa melihat keadaan Kota Samarinda yang sebenarnya.
Sebab jika hujan, bisa dipastikan mobil yang membawa Presiden Jokowi dari Bandara APT Pranoto, Sungai Siring pasti harus menerobos banjir untuk masuk ke pusat Kota Samarinda.
Di media sosial memang beredar keheranan sekaligus kegeraman banyak warga Samarinda perihal tampilan jalan yang tiba-tiba saja mulus bak kulit yang rajin memakai skincare.
Karena presiden akan datang, semua bertindak gesit untuk menutupi lubang di jalanan atau apa-apa saja yang kelihatan kurang di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh presiden.
Meski ada beberapa aksi yang membentang spanduk menolak kedatangan presiden, namun banyak warga meminta presiden sering-sering ke Kota Samarinda agar jalanan dan fasilitas lainnya baik terpelihara, jika rusak cepat diperbaiki.
Dengan kunjungan yang sekejap memang teramat sulit bagi presiden dan para menteri yang menemani akan melihat realitas sesungguhnya dari daerah yang dikunjungi.
Dalam perjumpaan dengan masyarakat, di acara-acara yang telah dijadwalkan siapa dan apa yang hendak disampaikan juga sudah ditentukan. Kunjungan akan selalu bersifat seremoni maka yang kerap terungkap hanya puja-puji, bukan suara hati.
{ baca juga : Presiden Kurus Karena Mikirin Kamu }
Presiden Pulang Banjir Datang
Siapa yang diuntungkan dengan kedatangan presiden?
Entah benar atau tidak, namun dari bisik-bisik yang beredar di masyarakat ialah pawang.
Ada dugaan tentang dikerahkannya rombongan pawang untuk mengeser atau memindah hujan. Samarinda sejak sehari sebelum kedatangan presiden sudah cenderung mendung.
Pun pagi-pagi pada hari kedatangan presiden, langit juga tidak cerah-cerah amat.
Entahlah itu hasil kerja pawang atau memang demikian dinamika alam. Pun jika ada pawang yang dibayar tentu saja tidak akan jadi pemberitaan. Sebab membayar pawang hujan tentu akan sulit dipertanggungjawabkan baik secara nalar maupun moral apalagi religius.
Sesaat setelah presiden dan rombongan meninggalkan Kota Samarinda, pertahanan langit jebol, hujan turun. DI sebagian wilayah memang tidak deras, namun di perbatasan Kota Samarinda dan Kutai Kartanegara, kearah Bontang, hujan nampaknya sangat deras.
Dan sekitar jam 4 atau jam 5 sore di media sosial beredar video rekaman langsung dari pemakai jalan di daerah Tanah Datar, yang tidak jauh dari Bandara APT Pranoto Sungai Siring, pemakai jalan terlihat mengular, karena harus menempuh perjalanan dengan menerobos banjir di jalanan.
Pantauan di media sosial terutama IG yang biasa dengan cepat mengabarkan banjir, semuanya sepi-sepi saja. Mungkin kebanyakan akun itu masih punya stock gambar yang belum diupload perihal kunjungan presiden. Termasuk salah satunya adalah euforia warga yang mendapat kaos Special Edition dari Presiden Jokowi.
Tapi percayalah andai malam ini atau dini hari nanti hujan deras menguyur sebagian besar wilayah kota Samarinda, pasti esok pagi akun-akun IG akan bertaburan dengan gambar yang mengabsen wilayah-wilayah Kota Samarinda yang langganan kebanjiran.
Andai besok atau hari-hari kemudian terjadi banjir niscaya semua tambalan yang membuat jalanan mulus ketika dilalui oleh Presiden Jokowi, niscaya akan berantakan lagi.
Jadi, kunjungan Presiden Jokowi ke Kota Samarinda menyisakan apa?
note : sumber gambar – CNBC Indonesia








