Sepuluh atau lima belas tahun lalu rasanya keren kalau bangun pagi, duduk di teras lalu menikmati kopi atau teh sambil membaca koran. Sadar atau tidak masa itu telah berlalu.
Kini untuk memperoleh informasi, orang tak perlu lagi perlu bangkit dari tempat tidur. Begitu membuka mata tangan langsung meraih smartphone yang tak pernah dimatikan.
Sekali pencet di layar akan muncul notifikasi, perihal apa yang kita perlu atau suka untuk diketahui.
Internet dan sosial media telah merubah kebiasaan dalam mengakses informasi. Sumber informasi juga berubah. Berita di koran, radio dan televisi tak lagi yang utama. Apa yang mendesak untuk diketahui adalah apa yang dibagi oleh teman-teman ‘sepergaulan’ kita. Apa yang mendesak untuk kita perbincangkan adalah apa yang ada di dalam percakapan baik personal maupun group perpesanan kita.
Sosial media dalam arti seluas-luasnya menjadi media baru, bukan hanya sebagai tempat mengkonsumsi informasi melainkan juga tempat untuk memproduksi informasi. Kita menjadi konsumen sekaligus produsen informasi.
Kebebasan untuk mengembangkan kreasi dan konten di internet atau media sosial membuat tidak semua informasi yang beredar di internet adalah benar.
Informasi yang tidak benar tentu saja sudah ada sejak manusia bisa saling berkomunikasi secara verbal. Kemampuan manusia manusia berabstraksi dan berimajinasi memungkinkan untuk membuat cerita-cerita bohong.
Namun kebohongan juga terjadi karena kesengajaan dengan berbagai tujuan.
Bohong atau tidak benar juga bisa saja muncul karena kekurangan pengetahuan, ketergesa-gesaan dalam menyimpulkan yang mengakibatkan timbulnya sesat pikir.
Berkembangnya internet dan berbagai platform media sosial kemudian membuat informasi bohong atau tidak benar semakin mudah berkembang. Beberapa penelitian menyatakan informasi yang tidak benar, bohong dan sesat berkembang 60 persen lebih banyak ketimbang jaman sebelum internet.
Ekosistem media sosial menjadi ruang yang cocok untuk berkembangnya informasi yang tidak benar, bohong dan sesat karena secara alamiah manusia mencerna informasi pertama-tama berdasarkan kesukaan. Apa yang disukai itu yang akan dibaca, dilihat, didengar dan diperhatikan.
Salah satu jenis informasi yang amat disukai adalah yang bersifat konspiratif. Informasi konspiratif akan lebih meyakinkan karena mempersuasi dibanding informasi konfirmatif yang kerap membuat lelah ketika mencernanya.
{ baca juga : Akankah Kita Mengibarkan Bendera Putih? }
Pandemi Covid 19 yang terjadi di jaman internet ibarat pisau bermata dua. Pada satu sisi kita diuntungkan karena dengan internet of thing dan internet of everything kehidupan kita bisa sangat terbantu.
Karena internet berbagai pembatasan bisa tetap membuat masyarakat berniaga atau memenuhi kebutuhannya lewat dagang dan belanja online. Para pekerja tetap bisa bekerja secara online dari rumah. Sementara pelajar dan mahasiswa bisa tetap menuntut ilmu, mengikuti kelas dan pelajaran dalam jaringan.
Mereka yang terpapar atau sakit dan melakukan perawatan mandiri di rumah bisa tetap berkonsultasi pada dokter atau tenaga kesehatan melalui berbagai platform komunikasi. Ada banyak aplikasi yang dikembangkan untuk layanan kesehatan.
Internet menjadi nafas dan nyawa baru di masa pandemi. Peningkatan penggunaan dan pemakaian internet dibernarkan oleh laporan yang dikeluarkan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia. Laporan itu menunjukkan adanya peningkatan penggunaan internet di permukiman antara 3- – 40 persen.
Menurut laporan itu saat ini penetrasi internet sudah mencapai 73,7 persen atau 196,71 pengguna. Adapun pola penggunaannya yang terbesar untuk berkomunikasi, disusul bersosial media kemudian hiburan dan layanan publik dan belanja online.
Namun penggunaan internet yang kemudian menjadi pola baru tidak selalu berdampak positif. Penggunaan media sosial sebagai sumber informasi kerap kali justru melahirkan kekhawatiran, ketakutan atau ketidak seimbangan emosi lainnya.
Informasi yang beredar di media sosial tidak bisa dijamin kebenarannya.
Hal-hal yang tidak benar lalu dipercaya tentu saja akan menimbulkan kekhawatiran bahkan kepanikan. Ada banyak informasi yang tidak benar kemudian mempersuasi masyarakat, seperti beramai mencari ini dan itu sehingga terjadi ‘kericuhan-kericuhan’ di toko, pasar atau tempat belanja lainnya.
Kecepatan pihak yang berkompeten untuk meng-counter informasi yang tidak benar tidak mampu mengimbangi kecepatan persebarannya. Pun informasi yang benar dari pihak yang berkompeten tidak selalu bisa merubah keyakinan yang terlanjur tumbuh dari konsumsi informasi yang sedang viral.
Maka ditengah ledakan atau gelembung informasi yang ada di internet dan menyebar melalui berbagai platform media sosial, kita perlu mempertimbangkan langkah untuk melakukan diet media sosial, sebagai jalan untuk melakukan detoks atas informasi-informasi yang bisa menimbulkan rasa stress, tidak aman, khawatir, marah dan lain-lain.
{ baca juga : Mungkin Kita Berlebihan Sehingga Kelebihan Penyakit }
Ada atau tidak ada pandemi, tanda-tanda penggunaan sosial media yang berlebihan sebenarnya sudah terlihat. Akses internet yang berpindah dari PC ke smartphone dan tablet membuat berbagai konten di internet bisa diakses dari mana saja dan kapan saja.
Tak bisa disangkal bahwa kemudahan mengakses internet kemudian merubah pola kehidupan termasuk emosi meternya.
Studi dari Oxford Academic pada tahun 2017 menemukan bahwa semakin besar waktu yang digunakan untuk ‘bermain’ facebook maka semakin besar pula rasa kekhawatiran dan perasaan tidak tentram, baik secara fisik maupun mental.
Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang doyan nonton youtube cenderung mengkonsumsi makanan yang tidak sehat ‘junk foof’ secara berlebihan. Peningkatan asupan yang berlebihan kalorinya ini tentu akan berbahaya untuk kesehatannya.
Pada infeksi Covid 19, salah satu yang paling berbahaya adalah munculnya penyakit penyerta atau komorbid yang mematikan. Dan kelebihan berat badan atau obesitas bisa dikategorikan sebagai komorbiditas.
Maka menjadi penting ditengah kecenderungan akses internet dan pemakaian sosial media yang berlebihan untuk melakukan pembatasan atau diet.
Diet yang perlu dilakukan adalah diet media sosial, berupa membatasi pemakaian media sosial dalam keseharian.
Sebagaimana diet lain, diet sosial media tentu saja sulit untuk dilakukan. Perlu kedisplinan dan konsistensi agar berhasil.
Lalu bagaimana langkah-langkah untuk melakukan diet sosial media?
Buat jadwal untuk melihat sosial media. Mulailah tentukan waktu dan berapa lama untuk melihat akun sosial media kita. Misalnya satu hari kita beri waktu 20 menit. 5 menit pagi, 10 menit siang dan 5 menit malam.
Bersih-bersih akun yang kita follow. Mulailah lakukan pemilahan terhadap akun-akun yang kita ikuti. Delete, unfollow, unsubscribe dan block akun-akun yang un-faedah atau membuat hidup kita tidak tentram.
Bermain pada waktu yang tepat. Kebosanan memang bisa datang kapan saja. Dan ketika bosan kita akan cenderung mencari kegiatan yang menyenangkan, salah satunya bermain. Segera sadari jika muncul kecenderungan ini dan kemudian lawan. Tetapkan dalam diri bahwa bermain mesti dilakukan di saat kita tidak sedang melakukan aktifitas yang menjadi kewajiban untuk kita lakukan, entah bekerja atau belajar.
Ikuti akun produktifitas atau pengembangan diri. Ada banyak hal yang positif di media sosial. Carilah dan follow akun-akun yang mendukung pengembangan diri, pengetahuan dan ketrampilan. Jadikan media sosial sebagai pendukung perkembangan diri baik untuk pekerjaan, hobby, maupun cita-cita atau impian di masa mendatang.
Makan penting untuk hidup, namun jangan hidup untuk makan. Sebab makan berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Demikian juga dengan media sosial, sama seperti makanan jika berlebihan akan mempengaruhi pola kehidupan. Makanlah sesuai porsi, gunakan sosial media secukupnya.
Selamat mencoba dan rasakan perbedaannya.
note : sumber gambar – herworld.co.id








