Sekali melewati melalui sungai dalam perjalanan dari Pela ke Kahala dan sekali melihat jalan masuknya dalam perjalanan Samarinda ke Tabang, akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di desa Tubuhan.

Namanya sudah menarik perhatian saya sejak awal. Dan seperti biasa ketika menginjakkan kaki di sebuah tempat maka yang pertama saya cari adalah apa arti dan muasal nama itu.

Hanya saja dengan waktu yang terbatas pada akhirnya saya tak sempat mendapat jawaban yang memuaskan atas tanya itu.

Untungnya saya sempat berkeliling menyusuri sungai dan danau dengan longboat bersama 5 pemuda Tubuhan, 4 laki-laki dan 1 perempuan. Dari cerita sambil lalu sepanjang perjalanan menyusuri sungai dan danau akhirnya muncul duga-duga bahwa tubuhan berhubungan dengan tabuhan.

Ada dua sarang besar tabuhan yang saya lihat mengantung di ujung dahan. Dua-duanya berada di ujung permukiman sehingga cukup jauh dari keramaian.

Tabuhan adalah serangga penyengat yang mirip dengan tawon dan lebah. Tabuhan mirip tawon karena badannya tidak berbulu. Namun ukurannya lebih besar dan gemuk sedikit. Diluar koloninya tabuhan bersikap lebih pasif ketimbang tawon dan lebah.

Tabuhan dan tawon sama-sama membangun sarang yang sekilas seperti kertas berwarna kecoklatan atau abu-abu. Sedangkan lebah berbeda karena biasa akan kelihatan berkerumun di sekitar sarangnya.

Meski berbahaya jika menyerang dan menyengat namun baik tawon, lebah dan tabuhan secara teknis berguna untuk lingkungan. Kehadiran mereka amat membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman.

Mungkin saja dulu di kawasan ini banyak tabuhan dan kemudian dari tabuhan itu muncul nama tubuhan.

Tapi itu hanya kira-kira saja, sebab sering kali penamaan sebuah daerah, kawasan, kampung atau desa riwayatnya selain dari peristiwa sejarah, tokoh yang dulu hidup disitu, kondisi geografis, daerah asal, sering kali juga berdasarkan jenis vegetasi yang dominan atau jenis binatang tertentu yang banyak hidup disitu.

Jakarta, ibukota negara kita sekalipun sampai hari ini masih mempunyai daerah-daerah yang proses penamaannya seperti itu. Ada banyak daerah yang terkenal berasal dari nama pohon seperti Gambir, Kebun Kopi, Bambu Apus, Pondok Bambu, Ketapang dan lain-lain. Sementara yang berasal dari nama binatang salah satunya adalah Gondangdia. Gondang adalah nama sejenis binatang air, yaitu keong besar.

-000-

Ketika berada di danau, salah seorang dari antara pemuda yang menemani saya mengatakan bahwa di hutan sebelah danau arah matahari tenggelam banyak sarang lebah. Lebah madu hutan katanya.

Saya melihat pohonnya tidak terlalu tinggi-tinggi. Dan memang menurut penuturannya lebah itu tidak bersarang di pohon-pohon yang amat tinggi.

Biasanya di hutan-hutan, lebah madu hutan atau apis dorsata kerap bersarang di dahan-dahan yang tinggi. Pada hutan-hutan yang masih tersisa di Kabupaten Berau, lebah ini biasanya bersarang pada pohon bangeris. Bentuk sarangnya yang setengah lingkaran akan kelihatan dari kejauhan.

Bisa jadi pilihan bersarang di pohon yang tinggi dan berkulit licin itu adalah mekanisme pertahanan dari para lebah dari serangan predator. Salah satu yang suka memakan madu lebah hutan itu adalah Beruang Madu. Dengan bersarang pada pohon bangeris, kemungkinan serangan Beruang Madu akan berkurang.

Tapi memang tak selamanya apis dorsata bersarang pada pohon-pohon yang tinggi. Di Danau Sentarum, Kalimantan Barat, koloni apis dorsata yang bersarang pada pohon rendah bisa diketemukan. Disana bahkan apis dorsata mau bersarang pada dahan buatan yang sengaja dipasang oleh para petani madu hutan. Tikung, begitu sebutan untuk sarang buatan yang berbahan dari kayu Tembesu yang sudah mati.

Selain agar masyarakat tidak menebang pohon, lebah memang tidak suka hinggap pada dahan yang bergetah.

Namun karena keterbatasan waktu saya tak sempat untuk mendatangi kawasan rawa hutan itu. Lagipula belum tentu disana ada sarang lebahnya, sebab apis dorsata adalah lebah migran yang kerap datang hanya pada bulan-bulan tertentu.

Sejak semula saya mengira danau yang sedang kami susuri adalah danau semayang. Saya memang berpikiran bahwa sungai Semayang – Tubuhan adalah sungai yang berawal dari danau Semayang dan kemudian berakhir pula di bagian lain dari danau Semayang.

Ternyata bukan.

“Nama danau ini Sepundi,” ujar salah seorang pemuda yang menemani saya diatas longboat.

Dan dia juga menyebut nama danau lainnya yaitu danau Kademba.

Nama Sepundi berasal dari satu titik wilayah yang disebut Tanjung Pundi, sedangkan danau Kademba berasal dari satu titik wilayah yang disebut Teluk Kademba.

Dari penjelasan itu kemudian saya bisa memahami jika kemudian wilayah antara sungai Belayan dan danau Semayang itu secara administratif masuk dalam kecamatan yang dinamai Kenohan. Kenohan dalam bahasa setempat berarti danau. Dan kecamatan Kenohan merepresentasikan sebuah kecamatan yang mempunyai banyak danau.

-000-https://globalpharmacy24.com/drug/super-p-force

Masih menurut cerita yang dikisahkan oleh para pemuda yang menyertai saya, kawasan permukiman di desa Tubuhan sekarang ini adalah hasil dari perpindahan beberapa kali.

Awalnya permukiman desa ini berawal dari sungai Behaur, sungai yang ada di salah satu sisi danau yang diceritakan banyak sarang lebah itu. Sungai ini unik karena buntu.

Saya sempat memasuki sungai itu pada kesempatan yang lalu, sungainya sempit dan dangkal serta terasa wingit atau angker.

Konon disekitar sungai itu masih tertinggal nisan bekas kuburan dari warga kampung di masa lalu.

Dari sungai Behaur, permukiman kemudian pindah ke kawasan lain, kalau tidak salah ke Tanjung Pundi. Dan pada saat itu ada juga yang membangun rumah rakit diatas danau.

Kemudian mereka berpindah lagi, ke bagian hulu dari permukiman saat ini. Daratan itu adalah pulau diantara danau dan sungai Semayang – Tubuhan. Kini area itu sudah ditumbuhi pepohonan yang cukup lebat, sudah kembali menghutan, meski diantara rimbun pepohonan bisa disaksikan pohon-pohon yang dulu ditanam yaitu pohon Karet.

Dan kini permukiman di desa Tubuhan berada pada sisi yang berlawanan dengan permukiman terdahulu. Di seberang sungai sisi permukiman hanya ada beberapa rumah warga dan rumah untuk sarang walet.

Ujung permukiman di bagian hilir berada di seberang percabangan sungai. Sungai yang juga mengarah ke danau. Jalur inilah yang dulu kerap dipakai oleh perahu, kapal atau feri menuju Kahala. Namun kini buntu karena tak lagi pernah dilewati, buntu oleh hamparan napung dan enceng gondok yang tumbuh subur.

Ketika memasuki sungai di jalur ini, di salah satu sisinya terlihat kesibukan warga membuka lahan. Warga mulai bertanam di area yang biasanya digenangi air saat permukaan danau tinggi. Begitu air mulai surut hamparan tanah yang ditinggalkan oleh genangan air menjadi lahan yang subur dan cocok untuk bertanam semangka.

Seorang pemuda yang berada di longboat menceritakan pada panen di musim tanam yang lalu bapaknya bisa membeli motor baru dari hasil penjualan semangka.

Kepada saya dia mengatakan “Kalau seratus hari lagi datang kesini, bisa makan semangka sepuasnya. Semangka disini manis sekali,”.

Dalam hati saya berharap semoga seratus hari kedepan air danau tidak meninggi dan menenggelamkan hamparan semangka yang sedang akan dipanen. Dan ketika musim panen tiba ada yang mengajak saya kembali ke Tubuhan agar bisa menikmati manisnya semangka yang ditanam pada lahan dengan kesuburan alami hasil layanan ekologis hutan tropis dataran rendah pulau Kalimantan.

Note : artikel ini merupakan catatan perjalanan atas fasilitasi dari Yayasan Bioma yang sedang bekerjasama dengan GIZ dalam program “Fasilitasi dan Asistensi Pembangunan Rendah Karbon Berbasis Desa di Kawasan Gambut Kalimantan Timur.