Ketika mulai bisa mengendalikan api, komunitas manusia maju selangkah meninggalkan komunitas hewan. Dengan api, manusia bisa membuat makanan yang jauh lebih enak daripada makanan hewan yang apa adanya.
Makan yang tadinya adalah kerja keras, kemudian menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukan hanya untuk kenyang tapi juga untuk nikmat. Dengan makanan yang lebih baik, mudah dikunyah, manusia jadi mempunyai waktu luang yang lebih panjang. Waktu yang kemudian mengantar pada kemampuan kemampuan berpikir dan mengungkapkan pikiran dengan bahasa verbal.
Kemampuan berbahasa semakin membuat langkah manusia meninggalkan dunia hewan bertambah jauh dan cepat. Jarak semakin tak terkejar ketika manusia mulai membangun permukiman yang menetap sebagai konsekwensi dari domestifikasi {budidaya} tanaman pangan dan ternak sebagai sumber protein.
Dengan menetap, melakukan budidaya, ketersediaan pangan mulai berlebih. Manusia mulai menabung atau membuat lumpung. Keamanan pangan kemudian terjaga bahkan hingga setahun. Ketersediaana waktu untuk meningkatkan kapasitas dirinya menjadi semakin besar.
Perkembangan komunitas atau aktivitas sosial kemudian mulai keluar dari kelompoknya, berhubungan dengan kelompok lainnya. Hubungan dengan kelompok lain kemudian mendorong tumbuhnya aktifitas produktif. Membuat atau menghasilkan sesuatu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kelompok melainkan juga kelompok yang lainnya. Terjadilah aktifitas transaksional, pertukaran komoditi atau hal lainnya.
Lama kelamaan muncul alat tukar yang kini dikenal sebagai uang. Dan uang kemudian berkembang menjadi segala-galanya. Semua ukuran keberhasilan berujung pada uang atau ekonomi. Ukuran ini tidak hanya berlaku untuk orang per orang melainkan juga negara. Negara disebut besar dan maju juga diukur dari uang atau produktifitas ekonominya.
Namun kemudian ditemukan kenyataan bahwa negara yang makmur ternyata tidak selalu identik dengan rakyatnya. Pendapatan negara boleh besar, perputaran ekonomi boleh tinggi namun ternyata hanya terkonsetrasi pada orang atau kelompok tertentu.
Persoalan semakin parah apabila orang atau sekelompok orang itu kemudian bersekutu dengan penguasa dan birokrasi negara. Yang disebut pemerataan semakin menjadi jauh. Hingga kemudian muncul ungkapan yang kaya makin kaya, yang miskin makin menderita.
Dalam kondisi seperti ini tentu saja mereka yang kaya akan mempertahankan kekayaannya lewat bermacam cara. Menguasai asset-aset penting untuk mencegah munculnya kekuatan baru, memakai alat negara atau bahkan menguasai politik pemerintahan baik langsung maupun tidak langsung. Termasuk juga memakai kekuatan elite masyarakat lain seperti intelektual, kelas menengah, tokoh agama dan lainnya. Dan diujung-unjungnya selalu ada kekerasan.
Kesejahteraan umum kerap kali mewujud sebagai hadiah dari mereka yang menguasai politik dan ekonomi. Agar rakyat senang, kepadanya diberi berbagai hadiah seperti bantuan langsung tunai, santunan bencana, bansos, proyek padat karya, CSR dan lain sebagainya.
Pada negeri-negeri seperti ini pemimpinnya gemar membeber berapa besar angka-angka uang negara yang dikucurkan untuk masyarakatnya. Semakin besar semakin baik karena akan bisa membuatnya kembali berkuasa pada pemilu berikutnya.
Kesenjangan menjadi persoalan abadi yang dihadapi oleh pemerintahan di berbagai penjuru dunia. Kesenjangan ekonomi ini kemudian melahirkan berbagai isme untuk menghadapinya atau ditawarkan sebagai jalan keluar. Sosialisme, komunisme dan liberalism adalah beberapa diantaranya yang terkemuka.
Alih-alih bersama memberantas kesenjangan, isme-isme ini justru saling bertengkar, menegasi satu sama lain, hingga menyebabkan konflik yang runcing antar isme terutama antara liberalisme versus sosialisme dan komunisme. Pertengkaran menghasilkan penderitaan sehingga menjauhkan manusia dari tujuan utama hidupnya di dunia yaitu untuk bahagia.
Menjadi Manusia Seutuhnya
Tujuan pembangunan Indonesia adalah menjadikan warga negara sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang berkesadaran dan merdeka lahir serta batinnya. Kemerdekaan dari penjajahan {kolonialisme} sudah dituntaskan, tinggal kemerdekaan dari bidang lainnya seperti ekonomi/keuangan, politik dan lain sebagainya.
Hanya saja tugas untuk menjadikan manusia seutuhnya bukan hanya tugas dari negara. Melainkan juga tugas masing-masing pribadi dan berbagai institusi lainnya di dalam masyarakat.
Tugas utama negara adalah memastikan adanya ekosistem yang mendukung terwujudnya manusia seutuhnya lewat konstitusi dan berbagai macam produk hukum serta kebijakan agar ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan, penyingkiran dan pengabaian terhadap warga negara tidak terjadi.
Dengan demikian sejatinya tugas negara adalah mewujudkan masyarakat yang berbahagia di dunia ini, bukan di dunia lain.
Sayangnya sering kali negara menjadi genit dengan ikut-ikutan mengatur soal kebahagiaan di dunia lain itu. Padahal apa yang mesti dilakukan oleh negara untuk membahagiakan warganya, menjadikan warganya sebagai manusia seutuhnya adalah membangun modal dan memupuk modal sosial berupa kepercayaan sosial, pilihan bebas untuk memilih hidup dan jaminan sosial.
Kepercayaan sosial adalah iklim yang dibangun agar ada hubungan sosial yang baik antar warga, saling hormat, saling dengar dan bergaul dengan hangat tanpa membedakan latar belakang apapun. Negara mesti mencegah muncul dan tumbuhnya benih-benih kebencian, dinding pemisah, permusuhan baik antar individu atau kelompok yang membuat ekosistem ruang publik menjadi tidak nyaman.
Berikutnya yang disebut dengan pilihan bebas untuk hidup adalah jaminan bahwa warga bisa menjadi dirinya sendiri, bebas untuk mengekpresikan diri selama tidak bersifat destruktif atau kriminal. Tidak boleh ada satupun kelompok apalagi dengan ‘restu negara’ memaksakan konsep atau tafsir tertentu tentang hidup yang bahagia. Sebab bagaimana mencapai kebahagiaan adalah hak masing-masing individu, apa yang membatasi bukan tafsir baik religi maupun tradisi.
Dan terakhir, yang negara harus lakukan adalah memberi jaminan sosial atau dukungan sosial untuk warga. Adanya jaminan atau dukungan sosial ini akan membuat warga menjadi aman dan nyaman, tidak merasa menderita atau sengsara sendiri. Sebab kepentingan dasar seperti kesehatan, pendidikan dan lainnya diberi jaminan oleh negara lewat berbagai skema. Seperti jaminan kesehatan, beasiswa, bantuan pendidikan dan bantuan permodalan bagi kelompok ekonomi lemah.
Apa yang disebut dengan modal sosial akan menjadi semakin kuat apabila kelompok masyarakat juga terlibat. Mereka yang berlebih, kelompok swasta atau industrial, turut membantu memperkuat modal sosial lewat kepedulian sosial dan lingkungan yang tinggi.
Dengan komitmen dari negara yang kuat dan partisipasi dari masyarakat baik masyarakat umum maupun masyarakat swasta, tujuan pembangunan yakni menjadi manusia seutuhnya, menjadikan warga negara sebagai warga yang bahagia di dunia akan bisa dicapai. Soal menjadi bahagia di dunia lain itu adalah bonus.
sumber foto : Larm Rmah – unsplash.com








