Gunung mempunyai kedudukan penting dalam sejarah peradaban manusia. Puncak gunung dengan segala misterinya kerap digambarkan sebagai keagungan. Dalam berbagai cerita, gunung sering dihubungkan dengan sosok tertentu yang bukan hanya sakti namun juga bijaksana. Gunung menjadi tempat para ksatria naik untuk bertapa dan kemudian turun sebagai seorang pandita.

Apakah benar gunung mempunyai kekuatan seperti itu?. Kekuatan gunung sebenarnya adalah keterasingan. Gunung adalah tempat yang sunyi dan sepi. Dan karena berada di ketinggian maka dari gunung orang dapat memandang kesekitaran, dunia yang dibawah sana secara lebih terang juga luas.

Maka gunung merupakan tempat ideal untuk menyepi, mengasingkan diri secara sengaja. Dan dengan memisahkan diri atau menjaga jarak dengan kehidupannya sehari-hari secara sengaja, orang kemudian bisa berpikir lebih dalam, bisa berlatih atau melakukan sesuatu lebih fokus.

Kisah gunung Kawi yang kini lebih dikenal sebagai tempat untuk wisata spiritual dan mencari pesugihan, sebenarnya bermula dari aktifitas tetirah, menyepi atau semedi dari para penyair. Kawi adalah penyair, maka hasil karyanya disebut kakawin.

Jadi sebutan gunung Kawi muncul gunung itu menjadi tempat para penyair untuk menyepi dan menghasilkan karya-karya susastra. Tentu juga bukan hanya para kawi saja melainkan juga para raja dan pembesar lainnya, yang perlu mengambil keputusan secara dalam. Dan gunung kemudian menjadi tempat untuk mengasingkan diri dari kesekitaran agar bisa melahirkan keputusan yang bijaksana.

Kelak kemudian hari pada masyarakat yang gemar mempercayai tahayul, maka tempat para penyair dan raja serta pembesar-pembesar bersemedi dianggap punya tuah, tempat yang bisa dipakai untuk ngalap berkah.

Sampai dengan hari ini gunung masih dekat dengan peradaban. Generasi kekinian pasti mengenal Fiersa Besari, seorang penulis dan juga penyanyi yang dekat dengan gunung. Fiersa menganggap gunung sebagai rumah keduanya yang selalu dirindukan dan memanggil untuk terus didaki. Diakui olehnya gunung memberi inspirasi untuk tulisan dan syair-syair lagunya.

Jauh sebelum itu kita juga mengenal anak muda pemikir yang mati muda, matinya juga di gunung. Dia  bernama So Hok Gie. Untuk Gie gunung menjadi tempat yang membuatnya berpikir bebas. Hasil perenungan dan aktivitasnya di gunung membuat Gie kemudian melakukan aksi-aksi pembebasan agar anak muda tidak terkungkung oleh regim dan sistem di masyarakat atau di tempat pendidikan.

Dari gunung Gie mengingatkan kepada anak-anak muda agar jangan terjebak dalam pragmatism politik praktis. Konon sebelum naik gunung Semeru, Gie mengirimi semua anggota DPR sebuah paket berisi bedak dan liptik. Paket itu adalah sindiran agar teman-teman aktivis yang sudah menjadi anggota DPR yang selalu  berusaha tampil cantik di depan pemerintahan. Gie kecewa teman-temannya melupakan perjuangan.

Masih banyak lagi contoh tokoh-tokoh inspiratif yang dekat dengan gunung, bukan hanya dari Indonesia melainkan dari negara-negara lain di seluruh penjuru dunia.

Namun sebenarnya bukan hanya gunung yang bisa menjadi tempat untuk menimba kesegaran pikiran dan keluasan wawasan. Gunung hanya mewakili salah satu dari berbagai situasi yang disebut sebagai kehidupan alami, kehidupan liar atau alam bebas.

Di gunung ada pertapa, di laut, sungai, padang, ngarai, danau, hutan, dan lainnya ada pengelana, pengembara dan penjelajah. Semuanya mempunyai kesamaan yakni mengasingkan diri secara sengaja, keluar dari keseharian untuk melihat pengalaman baru yang tidak dikenali sebelumnya.

Kisah Sidarta Gautama adalah salah satu kisah membuang diri, mengelandang hingga kemudian menemukan keutamaan hidup yang terus bertahan hingga sekarang.

Di Eropa pada abad pertengahan juga dikenal istilah Grand Tour, perjalanan pengembaraan oleh kaum kaya. Berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya ditemani oleh seorang tutor atau mentor. Tujuannya adalah mengenal banyak cara hidup, melatih kepekaan terhadap berbagai situasi di luar dirinya. Menghadapi situasi yang serba tidak rutin dan bahkan tidak terduga sebelumnya. Perjalanan semacam ini selain untuk memperkaya ketrampilan hidup juga bisa menghasilkan cara baru memandang realitas dunia.

Dalam versi bukan orang kaya perjalanan semacam itu muncul dalam budaya Hippies, yang hidup mengelandang dari satu tempat ke tempat lain, berpindah dengan cara nebeng kendaraan, turut bekerja dengan mereka yang ditumpangi dan seterusnya.

Dua hal itulah yang kemudian menjadi cikal bakal dari wisata atau tourism. Yang dalam versi orang kaya tentu saja lebih terencana, punya jadwal, semua diatur termasuk didampingi oleh pemandu tour. Sementara dalam versi yang tidak kaya tetapi punya gelora untuk berkelana lahirlah gaya wisata yang disebut sebagai backpacker.

Namun baik kaya, miskin atau biasa saja, wisata sebenarnya adalah menceburkan diri dalam kehidupan lain untuk menemukan kenyataan bahwa hidup ini indah. Keindahan yang bukan hanya pada pemandangan alam tetapi juga cara hidup orang lain, di tempat lain. Maka di youtube salah satu konten yang digemari adalah perjalanan wisata kuliner. Seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dikenali untuk mereview makanannya.

Dalam dunia tulis menulis, model tulisan yang juga masih digemari adalah karya dari penulis pengelana atau travel blogger. Ada banyak pengetahuan baru, pemahaman yang semakin dalam jika membaca apa yang ditulis oleh para penulis perjalanan ini.

Dari catatan dan video-video mereka kita bisa belajar dan memperoleh momen filosofis soal cara hidup tradisional, cara hidup yang lebih sehat, penghargaan pada alam dan seterusnya yang jauh lebih besar dari apa yang dipidatokan oleh para pejabat ketika menyebut kearifan tradisional, pengetahuan lokal, kepedulian pada alam, pembangunan berkelanjutan, energi bersih dan lain-lain.

Wisata atau tour sebagai perjalanan pengasingan yang disengaja sebenarnya memang merupakan sebuah pencarian kepribadian atau identitas diri. Berhadapan dengan banyak realitas baru, bukan hanya sebuah kesenangan yang dicari melainkan juga situasi atau kondisi yang bisa membalikkan pemahaman dirinya. Sehingga ketika pulang kembali ke rumah akan menjadi pribadi yang baru, seseorang yang lebih terbuka, melihat kenyataan lebih dalam, semakin mengagumi kekayaan alam dan seterusnya.

Semua pengalaman termasuk pengetahuan baru itu akan mengantar pada rekreasi, penciptaan kembali dirinya menjadi yang lebih baik, lebih bugar, lebih kreatif dan lebih bahagia.

Sayangnya dengan perkembangan teknologi visual yang sangat cepat, wisata kini kerap kali tereduksi menjadi perjalanan untuk foto-foto belaka. Alih-alih memandang dengan seksama dan menyelami dengan dalam apa yang kita temui, kita justru lebih sibuk mencari tempat untuk berfoto diri dan kemudian asyik dengan gadget untuk segera memamerkan kemana dan dimana kita pergi kepada seluruh dunia lewat media sosial.

Kesenangan piknik atau wisata bukan lagi karena menemukan pengalaman dan pengetahuan baru melainkan karena banyaknya view, like dan comment di akun media sosial kita. Kesenangan yang bisa jadi hanya membuang waktu, uang dan bahkan umur kita.

sumber gambar : Westwind Air Service – unsplash.com